Mila Istri Pilot yang kesepian

Foto Saya
Kenalkan namaku Ika Tantri Mila Verania. Teman-teman memanggilku Mila. Banyak yang bertanya, bagaimana rasanya jadi slave? Manusia mana sih yang benar-benar suka atau terlahir untuk diikat? Untuk hal tersebut di atas sebenarnya aku 'menderita', namun sesuatu yang menghiburku adalah ketika aku dalam keadaan seperti itu, memang sakit pegal dan tidak bisa bergerak yang secara fisik kurasakan Namun ada kenikmatan terselubung, dalam ketika berdayaanku yang tangan kaki terikat dan mulut tersumpal, kurasa kenikmatan adalah aku merasa bagai ratu. Karena sang pengikatlah yang harus repot melayani aku. Ketika aku hendak buang air kecil, dibopongnya aku dan diceboknya. Ketika ingin makan aku di suapnya (tidak temasuk kalau dia mesti memasakkan aku sesuatu), dan karena 'derita' ini dilakukan karena ada cinta setidaknya dilakukan dengan suka. Tentunya berbeda jika yang dialami itu penculikan....

Jumat, 20 Agustus 2010

dari Inbox di e-mailku

Aku menerima kisah ini pada bulan April dari Ira temanku


“Ting,... Tong,.....” ku bunyikan bell itu di sebuah hotel berbintang lima di kawasan perempatan Gunung Sahari dan Jalan Angkasa. Aku berdiri di depan pintu kamar 1010, penghuni kamar ini adalah seorang yang berwarga negara Jerman, Pat Sweinsteiger, dia datang jauh-jauh dari Jepang tempatnya bertugas ke Jakarta untuk menemui aku,..
“Good Afternoon, Mr. Sweinsteiger.. may I come in.....?” sapaku ketika pintu telah terbuka
“You are you Miss Ira right,....? sure please come in! sahutnya
“Yes, I am Ira Zaskia, pleased to meet you, Sir “ sahutku sambil berjabat tangan
Aku memberanikan diri datang ke tempatnya menginap untuk sebuah ‘interview’ dan berharap diterima kerja di rumahnya di Tokyo Jepang. Melalui hubungan lewat dunia maya, aku mengenalnya dan mendapat tawaran untuk bekerja di luar negeri. Kedatanganku hari ini, untuk memberikan kepastian dan kesediaan dan mungkin akan menanda tangani sebuah kontrak kerja dengannya.
Belum sempat kami berbicara lebih banyak, Mr, Sweinsteiger, menarik kedua tanganku kebelakang dan melilitkan tali dan mengikat erat kedua tanganku dibelakang, kala benakku masih bertanya-tanya
“This is part of my interview, as you applying for a slave, you will be very used to this condition” ungkapnya
“But you are tying my hand in the back,.. how can I work then?” tanyaku

Sebenarnya aku masih kurang paham kehidupan dan kerja sebagai slave namun aku jalani saja guna mengobati rasa keingin-tahuanku, Pat kemudian mendudukkan aku di kursi dan menyatukan kakiku yang bersepatu hitam tinggi. Kemudian mengikatkan kedua kakiku erat2 dengan tali nylon yang sudah tersedia.
“Your slave life with me in Japan will be like this, your hand and foot will use for work and if it not necessary to use, your wrist will be tied like this in your back also your ankle, so then you will relaxed.” Katanya menyampaikan pekerjaanku jika sudah bersamanya di Jepang.
Malam itu Master mencobai tubuhku, merangsangnya dengan vibrator yang dimasukkannya ke vaginaku, walau dalam keadaan tidak berdaya dengan terikat tanganku ke punggung, aku merasakan suatu perasaan yang aneh, antara ketidak berdayaan dan kenikmatan yang menggelinjang. Selama 3 jam aku diperlakukan seperti itu oleh Pat, kemudian dia melepaskan seluruh tali-tali yang mengikatku dan akupun disuruhnya mandi dan berendam, jika aku mau dengan pola kehidupan ini, 5 hari lagi kami akan berangkat, akupun bersiap menjadi TKW atau lebih tepatnya TKS (Tenaga Kerja Slave).

Aku menerima kontrak kerja selama 6 bulan, di situ tertera pekerjaanku sebagai helper dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga layaknya TKW,... dan bila tidak diperlukan selama hari kerja maka aku akan ‘diistirahatkan’ (tanganku disimpan di belakang diikat dst.) Aku juga berkewajiban memuaskan majikanku yang disebut sebagai Master & Mistrees. Aku bekerja 13 hari berturut-turut dengan2 hari bebas atau diliburkan. Upahku nilainya tidak terkira, menyamai penghasilan artis penyanyi sekali show, aku terkesima; berarti selama 6 bulan aku bisa menabung cukup banyak karena kehidupanku di tanggung. Dengan sadar dan ikhlas serta membayangkan perlakuannya padaku aku menerima kondisi itu dan menanda tangani kontrak itu.

Seminggu lagi aku akan berangkat, meninggalkan tanah air, Mr. Pat Swensteiger akan datang kembali ke Jakarta untuk menjemputku. Aku ini anak tunggal, kedua orang tuaku telah tiada, jadi aku hanya pamit pada saudaraku diluar kota dan teman teman bondageku di dunia maya. Hari keberangkatan tiba, Pat memasuki kamar hotel di mana ku menginap. Dia telah mengurus semua dokumen termasuk pasporku dibuatnya.
Pagi itu aku terbangun dengan tangan dan kakiku yang terasa pegal, Pat membuka pintu kamar yang terhubung dengan kamarnya lalu melepaskan tali-tali yang mengikatku agar aku bisa bersiap-siap dan mandi karena siang itu kami akan berangkat meninggalkan Jakarta. Akupun mandi air hangat untuk memulihkan tangan dan kakiku yang terikat sepanjang malam. Baju-bajuku sudah rapi dalam koperku.
Pat mengetok kamarku dan melihat aku sudah siap berangkat. Aku berpakaian kaus wanita merah dengan celana warna putih dan sepatu putih. Lalu Pat memberikan kerudung (jilbab) warna putih untuk kukenakan. Akupun mengikat rambutku lalu memakai jilbab itu. Jilbab itu bercadar, aku menggunakan baju kurung layaknya toga, yang tidak ada lengannya. Kemudian Pat menarik tanganku kebelakang lalu diikatkannya dengan tali nylon erat.
“ugh.... !” bereaksi spontan walau sebenarnya aku tahu akan diperlakukan begini.
“mmmmppphhhh.....!” mulutku disumpal oleh lakban yang juga berwarna putih dan cadar putih itu menutup mulutku . Kemudian Pat memanggil petugas bell boy kekamar,... aku hanya duduk terikat menunggu dengan cadar yang sudah dipasang menutupi mulutku.
Petuga bellboy hotel datang mengambil barang bawaan kami. Tak lama kemudian kami berangkat meninggalkan hotel itu, menuju Jakarta kemudian penerbangan langsung ke Jepang.

Pesawat yang membawa kami ke Jepang akan segera berangkat. Aku berdiri di terminal F sambil menatap information board yang berganti tulisan menit per menit. Aku memakai jilbab putih, dengan baju kurung putih, tanganku terikat dibelakang, dan mulutku disumpal lakban dan ditutupi oleh cadar yang menutupi sebagian wajahku. Hanya mata dan hidungku yang tidak tertutup.
Hari ini kami akan berangkat ke Jepang, aku pun akan memulai perjalanan hidupku sebagai slave dari Mr. Pat Sweinsteiger. Hmmm.... perjalanan 7 jam ke Jepang akan ku jalani dengan tangan yang terikat dan mulut yang disumpal lakban? Kami berdua boarding, Pat rupanya memesan seat di upperdeck dari pesawat Boeing 747 yang adalah First Class,... wah lumayan juga pikirku, ini penerbangan mewah! Pat duduk disisiku sambil mengenakan sabuk pengaman padaku dan padanya, aku merasa lebih tidak berdaya dengan keadaan terikat lalu ‘diikatkan’ ke kursi seperti begini, kemudian Pat berbaik hati melepaskan cadar dan lakban yang menyumpalku sambil berkata
“You should enjoy this flight so let me ungagged you...!”
“Thank you Master, I am appreciated” jawabku dengan sopan setelah lakbanku yang merekat di mulutku dilepas.
“So our flight will be 7 hours... do you think I can make it?” lanjutku meragukan kondisiku dengan tangan terikat kebelakang selama 7 jam
“As I said before, try to get used to it, in Tokyo this is the most condition you’ll be experienced” sahutnya
Aku pun terdiam walau mulutku sudah tidak disumpal lakban, berusaha menikmati perjalanan panjang selama 7 jam di udara, sesekali Pat membetulkan kerudungku, aku senang dengan perhatiannya sebagai master. Waktu makan tiba, makananpun sudah di sajikan, aku bingung bagaimana makannya dengan tangan yang terikat dibelakang,...
“Master,....?” tanyaku
“Well,..... I’ll feed you now”
Aku disuapinya dengan makanan pesawat yang enak itu, aku merasa sangat menikmati perjalananku ini walaupun dengan tangan terikat kebelakang, namun aku merasa bak ratu yang dilayani oleh Pat, Masterku itu. Singkat cerita pesawat mendarat mulus di Narita International Airport, dan mulailah hari-hari kehidupanku sebagai slave di Jepang, sebelum mendarat Pat kembali menyumpal mulutku dengan lakban dan saputangan berwarna putih.
Kami sampai di sebuah rumah besar di kawasan Naka Meguro, rumah besar itu ternyata dihuni oleh Pat, dan Istrinya yang seorang wanita Jepang namanya Nawako dan putranya yang sudah dewasa namanya James. Aku pun di perkenalkan pada Ibu dan Anak itu.
“Dad, may I use that,...?” tanya James sambil menatapku
“Sure as you wish” jawab Pat
James kemudian melepaskan tali yang mengikatku, kemudian melepaskan pakaianku yang melengket ditubuh, kemudian mengikat tanganku ke depan, demikian juga dengan lutut dan kakiku, namun membiarkan aku tetap bersepatu. Setelah aku tak berdaya, James membopongku dan membawaku sambil menunjukkan ‘kamar’ku yang lebih terlihat sebagai sangkar besar, sebuah ruangan dengan terali sebagai pembatasnya.
“Slave, this is your room,... we will call you out if it is needed!” ujar James

Kehidupan slave ternyata begini, statusku sebagai tenaga kerja. Aku ditugasi memelihara kebersihan di rumah itu. Pada saat seperti itu tangan dan kakiku tidak diikat, aku mengenakan rantai leher (mirip dengan yang digunakan anjing) jika pekerjaan dan waktunya sudah selesai, aku menyodorkan kembali tanganku kepada Master dan keluarganya, maka tanganku akan kembali terikat, kadang mereka memakaikan borgol di kedua pergelangan tanganku, kadang mereka mengikat tanganku dibelakang. Kehidupan serupa ini sesungguhnya sangat aku dambakan,... karena kebanyakan waktu aku sedang terikat, aku beristirahat dan mereka yang memberiku makan selayaknya peliharaan. Jika malam tiba, maka tubuhku yang terikat erat dibopong oleh James kekamarnya,.. dan jadilah aku harus memuaskan nafsu birahi James atau ayahnya.

Sudah dua minggu lebih aku menjalani kehidupan baruku di Jepang, hari-hariku dimulai dengan memasakkan sarapan untuk keluarga Sweinsteiger, membersihkan rumah, jika semua sudah selesai entah James atau Pat memanggilku lalu kembali mengikat tanganku kebelakang atau memborgolnya. Kadang kala aku menyiapkan masakan untuk keluarga dengan tangan yang diborgol ke depan.
Seperti siang ini, aku sedang duduk terikat kaki dan tanganku di dalam sangkarku,... mulutku kembali di sumpal lakban,tubuhku dibiarkan telanjang tak berbusana, sementara Masterku dan keluarganya sedang pergi, jadi aku dibiarkannya ‘bersantai’ di rumahnya.
Rasanya Masterku sudah pergi sejaki pagi hari,..dan ini sudah sore menjelang malam jam di dinding menunjukkan pukul 19.45 menit ketika kudengar pintu depan di buka dengan kunci, terdengar suara yang cukup ramai, oh rupanya ada 2 pasang suami istri yang masuk. Masterku membawa temannya dan istrinya konon mereka datang untuk melihatku. Sungguh aku malu dipertontonkan, aku dalam keadaan terikat dan mulut tersumbat serta tengah meringkuk dalam sangkarku.
“Hi,... you are from Indonesia huh?” tanya si tamu cowok yang tentu saja tak bisa ku jawab
“mmmppphhhh......!!” jawabku sambil menganggukkan kepala.
“And your name is......”
“Ira,.. her name is Aira Zaskiaa” timpal Pat, masterku
Selanjutnya aku dipertontonkan dalam keberadaanku dan mereka berbincang-bincang dengan Bahasa Jerman, tentu saja aku tidak mengerti. Kira-kita satu jam lamanya bertamu, akhirnya mereka pulang.
Setelah tamu-tamu itu pulang, Master Pat mengeluarkanku dari sangkarku, kemudian menggendongku ke sebuah kamar. Tubuhku yang telanjang dan terikat kaki dan tangan ini di lemparkan ke sebuah tempat tidur. Master Pat lalu mengunci pintu kamar itu serta melepaskan tali-tali yang mengikat kakiku yang sengaja di biarkan bersepatu dari tadi.
“Ira oh Ira dear, today you are going to be my tied slave.....!”

Malam itu aku diminta memijit-mijit tubuh Master, dalam keadaan tidak terikat, tapi mulutku tetap di sumpal. Ssetelah usai memijit Masterku, ia bangkit kemudian menarik tanganku kebelakang dan diikatnya kembali tanganku dengan menggunakan tali yang ada di dekatku. Diikatnya tangan dan kaki yang bersepatu ini kembali dalam posisi hogtied, lalu dibopongnya aku ke sangkarku untuk tidur karena sudah larut malam.

Pagi itu aku dibangunkan dan tali-tali yang mengikatku dilepaskan, diganti dengan borgol yang menyatukan tanganku di depan, masih dibiarkannya aku tetap bersepatu yang haknya lumayan tinggi lalu aku disuruh memandikan ke tiga orang atau keluarga yang sudah menjadi Masterku. Usai memandikan mereka aku mempersiapkan sarapan, roti, omelet dan Bratwurst sosis Jerman. Semua aku lakukan dengan tangan yang terborgol ke depan dan dalam keadaan tak berbusana. Sementara mereka sarapan aku membersihkan ke rumah. Keadaan ini mula mula menyulitkanku dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga dalam keadaan di borgol, tapi setelah dua minggu berada di sini aku jadi terbiasa bahkan mahir melakukannya.
Usai mereka sarapan, kini giliranku santap pagi, James anak mereka, mengikat kakiku di bagian lutut dan pergelangan kaki. Aku duduk berlutut di lantai yang berkarpet itu dan makanan disajikan di sebuat mangkok, diletakkan di bawah. Master menyuruhku makan dan hampir di setiap kesempatan aku makan tanpa memakai tanganku, melainkan mulutku langsung mengambil makanan itu seperti seekor anjing.
Selesai makan dan minum Pat memberiku waktu jeda istirahat.Mulutku kembali di sumpalnya dengan ball gag, mataku di tutup dengan kain putih, dan borgol yang membelengguku di lepas dan tanganku kembali diikat ke belakang. Masih banyak lagi tali-tali yang kurasakan melilit di tubuhku, setelah akumerasa tidak berdaya, aku merasa tubuhku terangkat ke atas,.. rupanya aku yang terikat digantungkan ke langit-langit rumah. Pat melepaskan kain yang menutup mataku dan membiarkan aku melihat apa yang dilakukannya terhadapku. Tubuhku tergantung cukup tinggi,.. ini yang sering aku jumpai di internet yang di sebut “suspense”. Rupanya aku diikat gantungkan di kamar Pat, karena di bawahnya ada tempat tidur besar. Aku ingat e-mail Pat dulu, ketika aku menanyakan apa yang akan aku alami jika jadi slavenya.

“I could hang you tied up hogtied above my bed, while I relax, You will be very close but uncomfortably tied up You have to get my attention otherwise I could feel asleep with the nice view above me.”

“Hmm,.... ini tokh maksudnya” batinku
Sepanjang hari aku tergantung di kamar Mr. Pat, ada rasa kekhawatiran akan jatuh dari gantungan ini, tapi rasanya langit langit kamar cukup kuat menanggung beban berat badanku yang imut ini, hanya 45 kg.
Selama seharian terikat gantung begini, aku mengingat-ingat kontrak yang sudah ku tanda tangani ketika itu :

“....... .a 24/7 realtion means the slave is in session for 24/7 meaning always a slave and not only during sessions once in a while.

This means you will change your lifestyle to always be ready to serve your master, dress like he wants, behave the way he wants, do whatever he wants, sleep, eat , drink as requested. etc. This will never happen overnight, this takes time to get perfect in this role. so in the beginning the rules will be less strict because you have to learn but these rules will become more strict as you know then what is expected from you. You will be tied up and down, punished, tickled and get used to the whip. I love a slave girl tied up to sleep. You will be trained in all aspects of being a submissive slave, positions, behavior, how to look, speak, tease on demand, beg, receive, give, blow, stretching, strip, accepting, eating, drinking, sleeping, hanging, cleaning, fucking of course, anal, oral, shaving, obeying, etc. etc.etc. I will train you for different situations e.g. in private, in private with close friends, in public, in public with friends. Lots of fun stuff I can assure you......” demikian janjinya.

Benar juga, baru dapat kurasakan kata-kata di kontrak itu yang sebelumnya sulit kubayangkan. Secara umum aku merasa diperlakukan baik-baik saja oleh mereka, semuanya sesuai dengan apa yang telah tertera dalam kontrak. Pada intinya menjadi slave bukanlah sesuatu penghinaan bagiku atau pengurangan hak-hakku, justru dalam keadaan seperti ini aku dilayani, aku seperti seorang ratu yang dilayani, meski dalam keadaan terikat tak berdaya. Sungguh ini merupakan pengalaman baru bagi hidupku, selama ini hanya sebatas soft bondage yang kukenal dari setiap hubungan sex yang dilakukan, atau sekedar permainan belaka antara pria dan wanita seperti pengalamanku pertama merasakan tangan dan kakiku diikat,...

Ketika itu aku di SLTA, sebenarnya aku mengagumi kakak kelasku yang atletis, pintar dan termasuk tiga besar dikelasnya, Donny namanya. Suatu hari aku diajaknya, katanya mau main petak umpet,.. dia dengan teman mainnya Jack mengajak aku bersembunyi di sebuah ruangan yang di pakai gudang di aula sekolahku,.. aku ikut saja dengan polosnya, setelah kami bersembunyi, tiba-tiba Jack mengikat tanganku kebelakang dengan tali pramuka dan Donny mengikatkan saputangan pramuka ke mulutku, lalu kakiku diikatnya dan aku didudukkannya ke kursi yang ada dalam gudang itu...
“Ira,... Iraaa.... kamu di mana??” kudengar suara Anne mencariku, sambil membuka pintu gudang
“mmmmppphhhh.....!!!” jawabku tentunya tidak terdengar
“Cari siapa Anne,...” sapa Donny menyambut Anne yang mencari-cari diriku
“Gak lihat Ira ya...?” tanyanya
“mmmmppphhhh......!!” sahutku
“Enggak tuh,....” sahut Jack
“Oh ya sudah.... mungkin di kantin kali yaa?” Langkah Anne menjauh meninggalkan aku yang disekap di gudang.
“Ira, maaf ya...., ini cuma permainan...” kata Donny, sementara Jack sibuk mengambil gambarku dengan camera digital yang lagi tren saat itu.
“mmmmpppphhhhh...?”
“Jujur sejak pertama kali kamu masuk sekolah ini aku naksir sama kamu....” hatiku berbunga-bunga dan tidak kuhiraukan lagi kesemutan yang kurasakan akibat tali-tali yang mengikatku.
Kemudian Donny menunjukkan sebuah majalah, kulihat gambar-gambar wanita yang sedang terikat tangan dan kakinya. Donny menjelaskan padaku betapa cantik di matanya bila seorang perempuan diikat kaki dan tangannya. Demikianlah selama kurang lebih 90 menit aku ‘diculik’ oleh pria yang kukagumi, kami akhirnya pacaran, walau cuma selama 5 tahun.. memang selama pacaran dan setiap kesempatan sedang berduaan, di bioskop atau dalam perjalanan di mobilnya, Donny selalu menyempatkan diri untuk mengikat tangan dan kakiku.
Berawal dari peristiwa itulah aku jadi ‘ketagihan’ untuk merasakan soft bondage. Hingga kini kuberanikan mengambil lowongan kerja sebagai slave,.. tidak sengeri yang dibayangkan, aku bisa jalani kehidupan ini...

Tak kusadari hari menjelang malam, Pat dan keluarganya belum juga pulang, sementara aku masih terikat erat dan tergantung seperti ini di kamar mereka. Hanya ada rasa pegal, namun aku tertantang , seberapa lama aku tahan dalam keadaan begini, aku pasti akan menyenangkan masterku. Lelah menanti dalam keadaan terikat dan digantung, aku pun tertidur.....
****
Hari sudah menjelang subuh ketika aku terbangun, pemandangan yang tidak biasa terlihat,.. oh Pat rupanya sedang melakukan hubungan sex dengan istrinya,.. keadaannya tidak jauh berbeda karena ibu Nawako sedang dalam keadaan terikat erat dalam bentuk shibari shinju, terlanjang tanpa busana kini sedang mendesah-desah nikmat dalam lilitan tali dan dalam pelukan suaminya.
“mmmmppphhhhhh.......!” suaraku. Aku menyaksikan mereka, jadi kepingin atau terangsang...”
Sebelum dilanjutkan, Pat bangkit dan menyelipkan vibrator di antara pahaku yang agak rapat, karena kakiku juga terikat, lalu menyalakannya. Pat melanjutkan hubungannya dengan istrinya, sementara aku menderita dalam kenikmatan dan tergantung di atas mereka. Lama bergantungan dan akhirnya aku terlelap.

Cttaaarrr..... ctaaaarrrr.....!! rasa sakit ini menghujam tubuhku yang tak berdaya ini.
Cambukan lembut Pat dan anaknya James membangunkan tidurku. Kurasakan ada tangan-tangan yang meremas-remas payudaraku. Aku dapati diriku terbaring dan tidak lagi bergantungan di atas pasangan suami istri. Di antara sakit karena cambukan mereka, terasa ada sensasi yang mengalir dalam darahku ketika aku terikat dan terbaring dala, ketidak berdayaan ini. Kemudian Pat meniduri aku dan kami melakukan hubungan sex kemudian setelah Pat kini giliran anaknya James, sementara Ibu Nawako siaga dengan memegang cambuk yang siap menghujam di tubuhku.

Rasanya sudah 4 bulan, aku menjalani kehudupan slave seperti ini, sebuah pengalaman yang tak terlupakan, melayani majikan layaknya master, memakan makanan tanpa menggunakan tangan, memuaskan hasrat para majikan dan memuaskan rasa penasaranku juga. 2 bulan lagi akan habis kontrakku walau ada opsi memperpanjang kontrak.
Hampir tiap hari aku dalam keadaan terbelenggu, oleh tali ataupun oleh brogol dan rantai binatang, semua pengalaman kudapatkan meyakinkan aku bahwa aku memang terlahir untuk menikmati kehidupan seperti ini.

Selasa, 17 Agustus 2010

Slave Lesson Ambang kepada Ida

Kepergian Ambang ke luar negeri selama 1 bulan karena tugas kantor kemarin telah membuat kehidupan sex pasangan Ambang dan Ida berubah. Sebelumnya selama 3 tahun perkawinan mereka tidak ada yang istimewa dalam melakukan hubungan sex. Seperti biasanya bila pulang dari bepergian, Ambang selalu membelikan oleh-oleh baju dan aksesoris buat butik Ida. kali ini Ambang juga membawa beberapa oleh-oleh. Langsung saja Ida membuka bungkusan-bungkusan itu.
"Eh, bungkusan yang itu jangan dibuka!" kata Ambang ketika melihat Ida mengambil sebuah bungkusan paling bawah..
"Apa sih isinya? Bikin penasaran saja.." tanya Ida.
"Itu surprise buat kamu nanti. Pokoknya kalau sudah waktunya kamu akan tahu...." jawab Ambang. Idapun mengurungkan niatnya. Tidak biasanya Ambang menyembunyikan sesuatu darinya.
Hari-hari berlalu. Semakin lama Ida merasakan perubahan pada Ambang, terutama ketika mereka melakukan hubungan badan. Meskipun tetap mampu melayani nafsu Ida yang besar, tapi Ida merasa Ambang kurang menikmati setiap permainan yang diinginkan Ida dalam berhubungan sex. Ida takut Ares mempunyai wanita lain selain dirinya. Berbagai macam cara telah dilakukan untuk memuaskan Ambang, tapi kurang membuahkan hasil. Setelah berkonsultasi dengan psikolog, Ida disarankan untuk membicarakan langsung dengan Ambang.
Akhirnya suatu malam Ida minta penjelasan Ambang mengenai semua hal yang menjadi ganjalan bagi hubungan mereka.
"Ya.. aku rasa sudah saatnya kamu tahu semuanya".
"Apa ada wanita lain?" tanya Ida kuatir. Ambang menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Lalu?" tanya Ida tak sabar.
"Kamu pernah dengar istilah BDSM?"
Ida mengangguk kebingungan. Sebenarnya dia belum sepenuhnya mengetahui apa itu BDSM. Yang dia tahu BDSM itu kelainan sex.
"Sebenarnya sejak dulu aku menyukai BDSM. Aku bergairah dan terangsang kalau melihat wanita diikat dan disiksa. Ketika bertemu dan menikahi kamu, aku berusaha menghilangkan kelainan itu. Dan hampir berhasil. Aku sangat sayang kamu, tidak sampai hati kalau aku harus mengikat atau menyiksamu".
Ida diam saja mendengar penjelasan Ambang, "Hingga ketika kemarin pergi ke luar negeri. Disana aku diajak teman pergi kesebuah klub, ternyata itu adalah sebuah klub BDSM. Entah kenapa keinginanku akan BDSM muncul lagi. Fantasi-fantasi yang dulu telah aku kubur seakan jadi kenyataan. Aku bisa mengikat, menyiksa dan menjadikan wanita sebagai budakku".
"Nah, sekarang terserah kamu menyikapi semua ini. Aku juga mau kalau seandainya kamu menginginkan untuk ke psikiater menyembuhkan kelainan ini". lanjut Ambang. Ida termangu mendengar penjelasan dari Ambang, dia tidak bisa memutuskan malam itu juga tindakan terbaik.

Keesokan hari setelah Ambang berangkat kantor, Ida kembali memikirkan hal semalam. Disamping rasa kecewa, dia juga sangat menghargai kejujuran dan kesetiaan Ambang. Lalu ia menuju komputer dan mancari tahu tentang BDSM lewat internet. Mula-mula ia ngeri melihat gambar-gambar wanita yang diikat dan disiksa. Namun lama kelamaan Ida bisa menerima bahkan mulai menikmatinya. Dia membayangkan bila ketika melakukan sex dirinya dalam keadaan terikat dan disiksa. Rasa penasaran itu menjadikan gairah dan rangsangan tersendiri yang belum pernah dirasakannya. Ida memutuskan untuk mencoba hal ini, "Aku akan membuat kejutan buat Ambang".
Malam itu sebelum Ambang pulang, Ida menyiapkan segalanya. Dia memakai baju yang seksi dan mengambil beberapa scarf, stagen juga stocking untuk rencananya. Kemudian dia memanggil Bi Ijah, satu-satunya pembantunya yang polos dan sudah tua.
"Ada apa nyonya?" tanya Bi Ijah.
"Bibi mau bantu saya ya? Tolong bibi ikat dengan erat kaki dan tanganku pake scarf, stagen, dan stocking itu".
"Maksud nyonya?" Bi Ijah bingung.
"Bibi tenang saja, ini cuma maen-maen kok. Aku mau buat kejutan buat Mas Ambang". jelas Yessy.
Sambil geleng-geleng Bi Ijah lalu mengikat kaki dan kedua tangan Ida kebelakang. "Sudah Nyah, trus ngapain lagi?" tanya BI Ijah.
"Nanti kalau Bapak datang,langsung suruh kekamar ya…?" Bi Ijah meninggalkan Ida dikamar masih dengan bingung.
Sementara itu, Ida yang terikat merasakan sensasi yang menimbulkan gairah tersendiri. Beberapa saat kemudian, Ambang pulang langsung menuju ke kamar. Ketika masuk, alangkah kagetnya dia melihat Ida terikat tak berdaya di atas tempat tidur.
"Ida, ada apa? Kamu tidak apa apa.. ?" tanya Ambang bingung.
"Bukankah kamu suka melihat seperti ini? Aku ingin mencobanya dan merasakannya sendiri".
"Tapi…"
"Aku melakukannya dengan senang hati kok. Ternyata aku bisa menikmatinya dan aku ingin menjadi bagian dari BDSM ini".
"Maksudmu?"
"Mulai sekarang kamu boleh mengikat dan menyiksaku. Aku bersedia jadi tawananmu.." kata Ida sambil tersenyum.
"Ida, kamu sungguh-sungguh?" tanya Ambang masih tak percaya. Ida mengangguk mantap. Ambang berkata," Kalau kamu sudah mantap, aku bisa menjadikan mu budak sex. Tapi ada konsekuensi dan peraturan-peraturan yang harus kamu sanggupi. dan pertama-tama aku akan mengirimkan kamu ke suatu tempat dimana kamu akan diajari menjadi seorang slave, bagaimana?".
"Aku akan menyanggupi semua hal itu. Lalu siapa yang akan mengajariku?
Mengapa tidak kamu sendiri saja?" tanya Ida.
"Aku belum mampu untuk langsung menjadikanmu slave. Orang yang akan mengajari boleh kamu pilih, wanita atau lelaki?"
"Kurasa aku akan lebih suka diajari oleh wanita" kata Ida.
"Baik, kalau begitu besok malam kita berangkat ke sana. Oh ya..urusan butik kamu serahkan ke assistenmu dulu."
"Memang berapa lama kita disana?" tanya Ida.
"Itu tergantung dari misstress, kalau dia sudah menganggap kamu mampu ya kamu boleh pulang", jelas Ambang di malam menjelang keberangkatan mereka. Malam itu Ambang membiarkan Ida istrinya tidur dengan keadaan terikat.

Pagi-pagi Ambang bangun bersiap-siap ke kantor, sambil melepaskan ikatan yang mengikat Ida.

Keesokan harinya ketika Ambang masih dikantor. Ida terlihat gelisah antar perasaan takut dan penasaran. Tiba-tiba telepon berbunyi. "Halo sayang, ini Ambang. Sudah siap?"
"Ya, aku sudah tidak sabar nih." jawab Ida manja.
"Sabar dong, aku baru saja membuat janji dengan Misstress, namanya Tina" kata Ambang. "Sekarang buka bungkusan yang dulu aku bawa dari Luar Negeri itu, masih ingat khan? Kamu pakai ya.." lanjut Ambang.

++++++

Selagi Ida membereskan dapur, dia merasa ada sosok mendekati tubuhnya lalu

“mmmmppphhhh....!!!” mulutnya di bekap dan dengan cepat lakban telah membungkam mulutnya

Ida tak sadarkan diri....


Byur..!!!
"Bangun pemalas..!!" teriak Tina sambil mengguyur air ke Ida yang langsung terkejut bukan main akibat guyuran air dingin secara tiba-tiba itu. Dilihatnya seorang wanita berdiri disampingnya dengan muka sadis sambil membawa ember. Sejenak ia bingung, tapi akhirnya sadar juga kalau sekarang ia berada di suatu rumah tempat ia menjadi slave bagi Tina. Tali yang mengikatnya semalaman telah dilepas, Hood dan Ballgag yang membungkamnya juga sudah tidak ada lagi. Hanya bekas-bekas ikatan dileher, pergelangan dan payudaranya meninggalkan rasa nyeri, sedang mulutnya terasa pegal akibat memakai ballgag semalaman.
"Eee..malah bengong, cepat turun dari ranjang dan buka bajumu!" perintah Tina.
"Baik Misstress." jawab Ida patuh. Secepatnya ia bangun dan membuka pakaiannya hingga telanjang bulat. Tina lalu memasang kembali rantai di Collar yang tetap membelit leher Ida.
"Sekarang kita mandi dulu." kata Tina sambil menarik rantai. Ida otomatis mengikutinya.
Tapi Tina langsung menghardiknya, "Siapa yang suruh kamu untuk berjalan? Ayo merangkak!" kata Tina, " Hari ini kamu jadi anjing piaraanku, tidak boleh berdiri dan kalau bicara harus dengan gonggongan, mengerti?!!"
"Mengerti Mis..eh guk…guk…" jawab Ida. Ia menurut karena tidak ingin lagi dicambuk Tina.
"Bagus…, bagus…, kurasa kamu sudah mulai bisa jadi slave." kata Tina senang.
Untung lantai di rumah itu dilapisi karpet tebal, jadi lutut Ida tidak terlalu sakit ketika harus berjalan merangkak. Mereka menuju ke halaman belakang dimana terdapat sebuah kolam renang. Sepanjang lorong menuju kesana, Ida memperhatikan terdapat beberapa kamar yang tertutup di kanan kirinya. Setiap kamar itu di jaga oleh seorang penjaga. Ida sedikit penasaran ingin tahu kamar-kamar tersebut. Ketika melewati sebuah kamar, pintu terbuka dan Ida melihat Ambang keluar dari dalamnya.
“mBang.....???" tanpa sadar Ida memanggil suaminya itu. Tindakannya itu membuat Tina marah dan langsung mencambuk punggung Ida.
"Sudah dibilang jangan bicara!" bentak Tina. Ida terdiam tidak berani lagi melawan.
"Tina, bagaimana perkembangan slave itu?" tanya Ambang pada Tina. Ida yang mendengar Ambang menyebut dirinya slave bahkan mengabaikannya membuat ia ingin menangis.
"Bagus sekali, dia cepat menerima pelajaranku, benar begitu anjing?" tanya Tina pada Ida.
"Guk..guk.." jawab Ida tak berani membantah.
“Lihat walaupun sedikit bandel tapi kujamin tidak lama lagi dia sudah bisa kamu gunakan." lanjut Tina.
"Terima kasih, silahkan kamu lanjutkan." kata Ambang. Kemudian Ambang kembali masuk ke kamar. Ketika itu Ida melihat di dalam kamar ada seorang wanita telanjang yang sedang terikat erat di sebuah kursi. Di badannya terlihat memar-memar akibat cambukan. Sebelum Tina kembali membawanya, Ida sekilas sempat melihat Ambang mengambil cambuk dan mencambuki wanita itu. Rupanya Ambang disitu sedang menyiksa seorang slave lain.
Sampai di kolam renang, Tina berkata, "Aku akan berenang, kamu sekarang berjemur dulu…"
Ida mengikuti Tina menuju pinggir kolam. Ternyata disana terdapat sebuah kerangkeng kandang anjing yang kecil ukurannya. Bila manusia yang masuk ke dalamnya pasti akan kesulitan untuk bergerak. Ida yang mengetahui maksud Tina memasukkan dirinya ke kandang itu sempat berontak. "Guk…guk…" sambil menggelengkan kepalanya tanda tidak mau.
Tina tetap saja memasukkan Ida kedalamnya. Tidak itu saja, rantai lehernya diikatkan pada jeruji bagian atas membuatnya untuk tetap sedikit mendongak. Tangan dan kaki Ida di borgol dengan jeruji bagian bawah. Tentu saja Ida tidak bisa meluruskan kakinya dan harus ditekuk.
"Anjing..! Buka mulutmu! aku sedang tidak ingin mendengar suaramu." perintah Tina bermaksud memasang ballgag dimulut Ida. Tanpa kesulitan berarti, ballgag terpasang dengan erat. Pintu kandang lalu digembok dari luar dan Tinapun kemudian berenang. Hampir 2 jam Tina berenang, sementara itu Ida mulai merasa badannya kepanasan terkena matahari. Tubuhnya terlihat lemas karena kepanasan dan lapar. Akhirnya Tina selesai juga. Ida terlihat lega, berharap dirinya segera dikeluarkan dari kandang sempit itu.
Ternyata Tina mempunyai rencana lain. Ia mengambil sebuah alat katrol untuk
mengangkat dan memindahkan benda-benda berat, ujung rantai katrol dikaitkan pada jeruji kerangkeng. Tina menarik sebuah tuas, membuat kerangkeng beserta Ida di dalamnya terangkat keatas dan lalu diarahkan tepat ke atas kolam renang.
"Anjingku..sekarang giliran kamu yang mandi….." kata Tina sambil menggerakkan kandang ke bawah.
Ida menyadari dirinya akan ditenggelamkan ke air menjadi panik. "emmmmppphhhhh…..mmmmppphhhh…" teriak Ida ketakutan sambil menangis.
Tina tak bergeming dan tetap melaksanakan niatnya. Begitu masuk ke air, mau tak mau Ida harus menahan napasnya. 15 detik diangkat lagi lalu ditenggelamkan lagi. Berulang-ulang hingga napas Ida tersenggal-senggal. Tidak sedikit air yang sempat masuk lewat hidungnya. Setelah 5 kali, Tina berhenti. Dibiarkannya Ida tetap menggantung di atas kolam dan pergi meninggalkan masuk ke rumah. Di dalam kerangkeng, Ida sudah tidak kuat lagi hingga akhirnya pingsan.
Ketika siuman, Ida telah berada di kamarnya tadi malam. Diperhatikan dirinya sudah tidak telanjang lagi. Korset hitam telah dikenakannya dengan sangat ketat membuat perut dan pinggangnya tampak ramping. Korset itu tidak menutupi payudaranya, hanya berfungsi menyangga sehingga payudaranya terdesak membusung kencang. Dia juga mengenakan Crotchless-panty yang terbuka pada bagian selangkangannya dan sepasang stocking hitam bersepatu warna merah. Lehernya masih terdapat Collar beserta rantai yang tertambat di kaki meja. Dihadapannya tersedia nasi dan air putih. Walaupun sudah sangat lapar, tapi Ida tidak berani memakannya sebelum diperintah Tina. Baru setelah Tina datang dan menyuruh makan, Ida langsung menyantap nasi itu, tentu saja tanpa menggunakan tangannya.
Selesai makan, Ida dibawa keluar menuju sebuah kamar lain. Di dalam kamar itu ternyata sudah menunggu Ambang dan sepasang suami istri. Kali ini Yessy tidak berani untuk memanggil Ambang. Dia hanya bisa bertanya dalam hati rencana apalagi yang di buat Ambang dan Tina untuk dirinya.
"Apa dia sudah siap Tina?" tanya Ambang.
"Kurasa sudah, silahkan kalian melihatnya." kata Tina.
Lalu suami istri itu menghampiri Ida yang duduk dilantai. Mereka mengamati dan memeriksa Ida seperti layaknya orang yang akan membeli binatang. Ida sebetulnya sangat risih, tapi dia tidak mampu berbuat banyak selain diam dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ya.. sangat cantik dan bagus. Kami akan mengambilnya." kata sang suami.
Ida sangat terkejut mendengar hal itu. Apa Ambang akan menjual dirinya pada pasangan itu? Permainan apalagi ini?
"Nah..anjing hari ini kamu akan dibawa dan dirawat oleh mereka." kata Ambang pada Ida.
"Apa kamu gila? Aku ini istri kamu.. Pokoknya aku tidak mau ikut mereka. Kita akhiri saja permainan ini dan pulang..!!!" kata Ida sambil berdiri.
"Tina, lepaskan rantai ini!" lanjut Ida sambil mencoba menarik rantai Collar di lehernya dari tangan Tina. Begitu rantai itu terlepas dari tangan Tina, segera Iday berlari menuju pintu. Tapi belum sempat Ida berhasil membukanya, 2 orang penjaga menangkap dan membawanya kembali.
"Lepaskan..! mBang tolong aku..…" teriak Ida minta bantuan.
Ternyata Ambang tidak menolongnya, malah dia berkata, "Maaf sayang, aku tidak bisa menolongmu. Kamu tidak bisa membatalkan perjanjian semula. Aku tidak punya kuasa atas dirimu, hanya Tina yang bisa melepaskan kamu."
Ida hanya bisa menangis mendengar ucapan Ambang. "Maafkan slave ini..maklum dia baru belajar." kata Ambang pada pasangan suami istri itu.
"Tidak apa-apa, kami malah senang dengan slave yang sedikit liar kok. Bukan begitu pa..?" jawab si istri.
"Tenang ya, kami hanya merawatmu untuk sementara saja. Begitu selesai kamu akan bertemu lagi sama suamimu itu." lanjutnya sambil mengelus kepala Ida.
"Kalau begitu silahkan kalian membawanya." kata Tina.
Tina lalu memerintahkan penjaga untuk mengikat Ida. Meskipun tetap berontak, para penjaga berhasil mengikat tangan dan kaki Ida.
"Tol..mmmmppphhhh…mmmmppphhhh…" belum sempat menyelesaikan ucapannya, mulut Ida cepat-cepat di bungkam kain dan dilakban. Sebelum dimasukkan ke dalam kotak kayu sempit, mata Ida ditutup bandana.
Samar-samar Ida mendengar suara Ambang berbisik, "Selamat bersenang-senang slave…"
Kotak itu di masukkan ke bagasi mobil dan suami istri itu lalu pergi menuju rumahnya. Beberapa lama kemudian Ida merasakan mobil itu berhenti. Ida dikeluarkan dari dalam kotak lalu ditempatkan pada sebuah kamar.
"Ikatanmu akan aku lepaskan, jangan coba-coba bertindak bodah atau melarikan diri. Mengerti?" kata sang suami. Ida mengangguk. Setelah semua ikatan dan kain yang menutup mulut juga mata dibuka, pria itu mengikatkan rantai Collar ke ranjang.
"Istirahatlah dulu." katanya sambil keluar dan mengunci pintu kamar. Ida memperhatikan keadaan kamar. Ia tidak bisa menduga dimana tempat ia disekap saat ini. Kamar itu tanpa jendela dengan pintu dari besi, terdapat sebuah ranjang dan lampu kecil sebagai penerangan. Dan dipojok atas ada sebuah televisi. Seperti kamar penjara bawah tanah. Suasananya sangat sepi, tidak tahu waktu saat ini, apakah siang, sore atau sudah malam. Pada pintu ada sebuah lubang kecil yang bisa di tutup dan di buka, Ida ingin melihat keadaan di luar kamar. Ternyata rantai Collar itu panjangnya tidak memungkinkan Ida mendekati lubang tersebut.
Pintu terbuka, suami dan istri masuk kedalam. "Ida…aku Melanie dan ini Beno suamiku, kami adalah Tuan dan Nyonyamu saat ini. Jadilah slave yang patuh dan kami akan memperlakukanmu dengan baik. Mengerti?" kata Melanie.
"Mengerti Nyonya." jawab Ida.
"Baik… kamu makan dan istirahatlah dulu." katanya lagi sambil memberikan makanan yang lezat. Mereka lalu keluar dan mengunci pintu kamar. Melihat makanan yang enak itu Ida langsung saja makan dengan lahap, tanpa tangan yang terikat tentunya.
Selesai makan, Ida merasa ngantuk, mungkin sudah malam pikirnya. Sambil rebahan di ranjang, ia memikirkan Nyonya barunya ini yang terlihat baik hati lain dengan Tina yang sadis dan galak. Memikirkan hal itu, Ida jadi teringat perlakuan Tina yang mengikat dan menyiksa dirinya sepanjang malam. Melihat keadaan saat ini yang bisa dikatakan bebas, Ida malah merasa kurang nyaman sebagai slave. Muncul keinginannya untuk kembali diikat dan disiksa lagi, ingin dia merasakan lagi sebuah sensasi yang ternyata menimbulkan gairah yang mengasikkan. Sampai-sampai ia berharap akan mengalaminya secepatnya.
Dia sudah siap diperlakukan sebagai slave oleh pasangan ini. Tapi ternyata keinginan Ida belum terwujud dengan cepat. Kira-kira sudah 2 hari, menurut perhitungan Ida, dia berada di tempat itu. Dan selama itu, ia diperlakukan biasa saja. Setiap hari diberi makan yang enak 3 kali, di beri air untuk mandi dan membersihkan diri. Hanya rantai Collar tidak pernah dilepas sekalipun. Televisi di kamar itu setiap saat menyala menayangkan film-film BF tentang BDSM. Semua itu membuat Ida tersiksa gairahnya. Dan untuk menyalurkannya ia sering bermasturbasi sambil membayangkan adegan-adegan dalam film tersebut. Tanpa Ida ketahui ternyata semua tingkah lakunya direkam oleh kamera tersembunyi. Pasangan itu ingin tahu sampai sejauh mana keinginan Ida mengenai perbudakan. Setelah dirasakan bahwa Ida sudah bisa menerima BDSM sebagai bagian hidupnya, baru pasangan itu menjadikan Ida sebagai budak mereka.
Pintu kamar kembali di buka, seperti biasanya Ida menduga akan di beri makan. Tapi kali ini lain, Melanie tidak membawa makanan. Yang di bawanya adalah cambuk dan gulungan tali. Pakaiannya seperti yang dikenakan Tina. Mungkin kini saatnya mereka akan melakukannya, begitu pikir Ida. Hatinya berdesir menahan gairah.
Tanpa banyak bicara, Melanie mengikat tangan Ida kebelakang dan mengikat kakinya dengan menyisakan jarak untuk berjalan. Setelah melepas rantai dari ranjang, Melanie membawa Ida keluar kamar. Kini walaupun tetap kesulitan ketika berjalan dengan kaki terikat Ida tidak mengeluh. Benar perkiraannya, kamar itu berada di bawah tanah, sehingga untuk naik keatas Ida sedikit kesulitan juga. Melanie kadang juga mencambuk Ida bila berjalan pelan. Mereka memasuki sebuah ruangan. Di sebuah kursi ada seorang pria yang hanya mengenakan celana dalam dan bersepatu lengkap. Kedua tangannya terikat kebelakang sedang wajahnya tertutup Hood. Walaupun begitu Ida bisa mengetahui kalau dia adalah Beno.
"Budak, tugas pertamamu adalah lepaskan sepatu dan kaos kakinya." perintah Melanie.
"Baik Nyonya." jawab Ida. Dengan menggunakan mulutnya, Ida berusaha melaksanakan perintah Melanie.
Sementara itu Melanie mengawasi sambil merekam semua kejadian itu dengan handycam. Lalu disuruhnya Ida menjilati seluruh kaki Beno. Terdengar suara mendesis keenakan dari mulut Beno. Setelah itu giliran celana dalam yang harus di lepaskan.
"Kulum dan mainkan penis itu, sampai Tuanmu itu puas!" kata Melanie.
Ida sedikit terkejut mendengar perintah Melanie. Apalagi melihat penis Beno yang tergolong besar itu. Sedikit ragu-ragu ia mulai mengulum penis Beno. Dulu ia juga sering berbuat oral dengan Ambang, tapi kini ia melakukannya dengan orang lain bahkan disaksikan oleh istrinya. Melanie sendiri ternyata ikut menikmati permainan ini. Sambil terus merekam, ia juga berusaha merangsang dirinya sendiri lewat remasan-remasan pada payudara dan vaginanya. Semakin lama Ida terangsang juga, tidak hanya penis yang dia oral seluruh tubuh Beno dijilatinya tanpa sungkan lagi. Benopun menjadi sangat terangsang.
Tiba-tiba Melanie menarik rantai Collar menghentikan perbuatan Ida. Rantai itu di gantung keatas membuat Yessy berdiri. "Cukup budak! Kamu diam jangan bergerak." katanya. Dan selanjutnya tanpa melepaskan ikatan Beno, Melanie langsung memeluk dan bercinta dengan liar. Ida hanya bisa melihatnya sambil menahan birahinya. Ada keinginan untuk ikut, tapi tidak mungkin melepaskan ikatan dan rantai. Kakinya hampir tidak kuat untuk berdiri lagi menahan tubuhnya yang tegang. Andai rantai Collarnya tidak tergantung, pasti dia sudah jatuh. Terlihat kepuasan di wajah Melanie begitu mereka mencapai klimaks. Sambil tersenyum dia memandang Ida yang tetap berdiri terikat.
"Kamu juga menginginkannya?" tanya Melanie pada Ida.
"Ya Nyonya, aku sudah tidak tahan lagi." jawab Ida.
Melanie lalu menarik rantai dan membawa Ida mendekati ranjang. Beno dan Melanie duduk di bibir ranjang dengan kaki terbuka. Disuruhnya Ida membersihkan cairan sperma yang masih ada di vaginanya juga pada penis Beno. Langsung saja kepala Ida ditarik dan dibenamkan ke selangkangannya.
"Cepat jilati sampai bersih!". Pada penis Beno Ida juga melakukan hal tersebut. Setelah bersih, masih dengan mulutnya Ida diperintahkan membuka ikatan dan Hood Beno. Setelah itu Melanie dan Beno mandi lalu membawa Ida ke kamarnya di bawah tanah. Kembali rantai ditambatkan ke tiang ranjang. Ida menyantap makanan yang di sediakan dengan mulut karena tangannya masih terikat lalu istirahat menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pagi hari, Beno kembali datang. Ida di bawa keatas tanpa diikat. Sampai diatas ternyata Melanie telah berada di sana menjadi slave seperti dirinya. Baju yang dikenakan sama seperti Ida, lehernya juga terdapat Collar dan rantainya. Dia sedang makan dilantai dengan memakai mulut. Rupanya kali ini Beno menginginkan Ida dan Melanie menjadi anjing.
Beno membungkus jari-jari tangan Ida jadi satu dengan sarung dari karet, sehingga jarinya tidak bisa direnggangkan. Lalu pergelangan tangan di belenggu rantai sepanjang 20 cm, juga pada pergelangan kaki. Beralih ke payudara Ida yang tak tertutup korset, Beno memasang jepitan kertas pada putingnya. Ida tidak terlalu kaget karena pernah mengalami sehingga bisa memperkirakan rasa sakitnya. Lalu diambilnya lagi sebuah jepitan dan dipasang pada klitoris Ida. Kali ini Ida menjerit kesakitan. Tanpa mempedulikannya, Beno lalu menjalin jepitan-jepitan itu dengan benang nilon. Kemudian Beno mengambil Ring-Gag dan memasangkan di mulut Ida. Sebenarnya Ida sangat tidak nyaman memakai itu. Kerasnya besi dari Ring-Gag itu sedikit mengganggunya, selain itu alat tersebut memaksa mulutnya untuk selalu terbuka. Air liurnya sedikit demi sedikit keluar tanpa bisa ditahannya. Penyiksaan Ida tidak sampai di situ. Setelah dalam posisi merangkak, Beno memasangkan sebuah pengait kecil di hidung Ida dan mengikatnya di belakang kepala pada ikatan Ring-gag. Kemudian Beno melakukan hal yang sama pada Melanie. Hanya bedanya Melanie kelihatan nyaman dengan penyiksaan ini.
"Mari anjing-anjingku kita jalan-jalan." kata Beno sambil menarik rantai Melanie dan Ida. Disuruhnya mereka berdua merangkak di depan Beno, sehingga dengan leluasa Beno mencambuki pantat mereka secara bergantian.
"Ah..ah..!" hanya suara mengaduh yang terdengar dari mulut Ida dan Melanie. Akhirnya Beno membawa mereka berdua ke sebuah ruang.
"Bagaimana kalau kalian berdua saling berlomba? Dan yang kalah tentu saja akan mendapat hukuman." kata Beno.
Dia masuk ke kamar mandi, ketika keluar dia membawa 2 buah ember penuh berisi air. "Kalian dorong ember ini keliling ruang, siapa yang kalah atau menumpahkan air tentu akan dapat hukuman." Kata Beno tersenyum. Dengan menggunakan kepala, Ida dan Melanie mulai mendorong ember mengelilingi ruangan. hati-hati sekali mereka melakukannya agar air tidak tumpah sampai kembali ke tempat Beno. Mengetahui Ida dan Melanie berhasil, Beno kurang puas.
"Kurasa itu terlalu mudah buat kalian." Katanya sambil mengambil tali. Lalu masing-masing pergelangan kaki Ida dan Melanie diikat menyatu dengan paha mereka sendiri, sehingga kini mereka hanya bertumpu pada tempurung kaki dan tangan. Hal itu membuat sakit ketika merangkak.
"kita ulangi lagi permainannya!" kata Beno. Ida dan Melanie kembali mendorong ember-ember itu lagi. Dan kali ini, Ida menumpahkan sedikit air. " eit.. berhenti dulu, ada yang harus diberi hukuman dulu neh.." kata Beno senang. Diambilnya sebuah bandul pemberat dari besi dan diikatkan pada benang nilon tadi.
"Aagghh…agghh…uuhh…uuhh…" teriak Ida kesakitan. Dia meggeleng-gelengkan kepala menolak hal itu sambil berusaha menghilangkan rasa sakitnya. Namun gelengen itu semakin menambah goyangan pada bandul menjadikan puting dan klitorisnya semakin sakit. Terlihat air matanya keluar menahan rasa sakit yang sangat. Sambil terisak, ia seakan minta Beno untuk melepas bandul dan mengurangi penderitaan. Isakan yang juga semakin membuat hidungnya lebih sakit. Tanpa menunjukkan rasa kasihan sedikitpun Beno memerintahkan Ida melanjutkan permainan ini. Sementara Melanie masih tetap merangkak tanpa melakukan kesalahan.
Dengan keadaanya kini Ida semakin sulit merangkak. Walaupun berusaha tenang dan berjalan sangat pelan juga hati-hati, bandul itu tetap saja ikut bergoyang bila dirinya bergerak.
" oh.. ada lagi yang perlu di hukum ya.." kata Beno ketika Meta menumpahkan air. Benopun juga meletakkan bandul di benang nilon pada payudara Melanie. Meskipun terlihat menahan sakit juga, tapi Melanie tidak banyak mengeluh. Sepertinya ia sudah biasa melakukannya. Dan tetap melanjutkan permainan. Tidak seperti Ida yang baru pertama kali ini di siksa. Semakin lama Ida kelelahan sehingga kembali menumpahkan air.
"Kita akhiri permainan ini. Dan yang kalah tetap harus dihukum..!" Beno melepaskan semua alat penyiksaan pada Melanie membawanya ke ranjang dan mengikat tangan juga kaki Melanie pada ujung-ujung ranjang secara terpisah. Habis itu Beno membawa Ida ke lantai yang telah di lapisi kasur tipis. Kemudian pada anus dan vagina Ida, Beno memasukkan vibrator yang dilengkapi sabuk penyangga agar tidak terlepas.
"aahhh…aahhh…." Vibrator itu membuat rangsangan yang hebat pada diri Ida.
Beno membiarkan Ida, ia kembali ke Melanie yang terikat di ranjang dan mulai menyiksa dengan cambuk dan tetesan lilin panas. Selama Beno bercinta dengan Melanie, Ida berusaha keras memuaskan nafsunya dengan bantuan vibrator itu. Di goyang-goyangkan tubuhnya untuk mencapai klimaks tidak dihiraukan lagi rasa sakit akibat bandul pemberat yang menarik payudaranya. Tindakannya kurang berhasil. Lama-lama Ida merasa putus asa dan jengkel sendiri. Akhirnya Ida menyerah, ia diam ditempat menahan sakit. keringat keluar dari seluruh tubuhnya membasahi korset dan stockingnya. Payudaranya dirasakan semakin sakit dan perih. Lecet yang ditimbulkan jepitan itu terkena keringat dari tubuhnya sendiri. Kedua kaki dan tangannya gemetaran dan nafasnya tersenggal-senggal.
"aagghh..aagghh..holong…leh askan saya…" kata Ida sambil menangis tak jelas meminta pada Beno. Beno menghentikan siksaannya pada Melanie dan menuju Ida. Juga dengan menggunakan cambuk dan lilin, Beno menyiksa Ida. Vibrator itu oleh Beno di gerakkan keluar masuk ke vagina dan anus Ida bervariasi.
"nnggghh…nngghh… tteeuuss…" erangan Ida menunjukkan kenikmatan. Tapi Beno menghentikan itu, sebelum Ida mencapai puncak. Dan mulai melepas ikatan dan alat siksaan di tubuh Ida.
Beno memerintahkan Ida ke atas ranjang. Melanie sendiri masih terikat di sana dengan tubuh penuh lelehan lilin dan memar akibat cambukan. Beno mengambil lagi alat pembungkam mulut dari kulit. Baru pertama kali ini Ida melihat gag yang cukup aneh itu. Ada 2 benjolan berbentuk penis di masing-masing sisinya. Di sisi luar ukurannya lebih besar dan lebih panjang dari penis di sisi dalam.
"Buka mulutmu..!" perintah Beno ke Ida. Begitu mulutnya terbuka Beno langsung memasangkan gag dan mengekang di kepala belakang dengan erat. Penis yang lebih pendek masuk ke mulut Ida, sedang yang panjang terlihat keluar dari mulutnya. Dalam hati Ida merasa geli melihat itu. Beno juga membungkam mulut Melanie dengan alat yang sama. Ida lalu disuruh meniduri Melanie dengan posisi 69, dan mengikat tangan dan kakinya terpentang pada ujung-ujung ranjang. Kini mulutnya yang terpasang Penis-Gag tepat berada di vagina Meta, juga sebaliknya Penis-Gag Meta tepat di vagina Ida. Beno juga mengikat tubuh Ida dan Melanie menjadi satu.
"Tugas kalian adalah saling merangsang satu sama lain. Siapa yang tidak kuat dan mencapai orgasme lebih dulu harus tidur diluar malam ini." kata Beno.
Melanie dan Ida lalu memasukkan penis di mulutnya ke vagina di depannya. Mereka saling merangsang satu sama lain.
"Mmpphh…mmpphh…" terdengar suara dari mulut mereka. Tubuh mereka juga terlihat menegang, merasakan kenikmatan juga sekaligus menahan selama mungkin agar tidak keluar. Akhirnya Melanie kalah tidak bisa menahan orgasme. Dan sesuai perjanjian semula, Melanie malam ini tidur di luar. Tanpa mengenakan baju, Melanie di masukkan ke dalam kerangkeng sempit dan diletakkan di halaman belakang. Sementara Ida dalam keadaan terikat tidur di kamar bersama Beno. Tanpa memikirkan suami dan istrinya masing-masing, Beno dan Ida melanjutkan bercinta memuaskan nafsunya.
Keesokan pagi, setelah melepaskan Melanie. Mereka semua sarapan bersama-sama.
"Ida, sewamu habis hari ini. Nanti siang kami akan antar kamu ke tempat Tina dan menemui suamimu kembali. Terima kasih telah memuaskan kami." kata Beno.
"Saya juga terima kasih telah di ajari semua tentang perbudakan dan penyiksaan."
"Apa kami telah kelewatan dalam menyiksamu?" tanya Melanie.
Ida menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Bahkan kalau kalian menghendakinya lagi, aku masih mau di siksa, tentu atas ijin Ambang dulu."
Siang hari seperti yang sudah dikatakan Beno. Ida akan diantar ke tempat Tina lagi. "Silahkan masuk, Ida… ?" kata Melanie mempersilahkan Ida masuk ke mobil.
"Sebentar,..... kalau boleh aku ingin kalian ikat aku dan perlakukan aku seperti ketika aku di bawa kesini." pinta Ida.
Melanie dan Beno saling berpandangan, kemudian menyetujui usul Ida. Rantai Collar lalu di pasang di leher, kedua tangan dan kaki Ida juga diikat kembali. Tidak lupa Beno dan Melanie menyumbat mulut dan menutup mata Ida. Setelah itu memasukkannya ke kotak kayu kecil, dan diletakkan di bagasi mobil. Diperlakukan seperti itu, Ida tidak berontak dan menikmati semua ketidakberdayaannya. Sampai di tempat Tina, Beno dan Melanie menyerahkan Ida pada Tina.
"Bagaimana? Apa kalian puas dengan pelayanannya?" tanya Tina.
"Kami sangat puas. Dia sekarang sudah bisa jadi seorang slave. Aku jamin itu." kata Beno.
Setelah Melanie dan Beno pulang, Ida di bawa ke kamarnya dulu. Tina lalu melepaskan semua ikatan dan berkata, "Kamu mandi dan bersihkan diri. Sebentar lagi Ambang akan menjemputmu."
Selesai mandi, Ambang datang untuk menjemputnya. Tina sudah membolehkan Ida pulang setelah mendengar rekomendasi Beno dan Melanie.
"Ayo kita pulang sayang. Aku sudah tidak sabar ingin bermain-main denganmu." kata Ambang.
“Mas, ikat aku dong.....” jawab Ida manja. Lalu Ambang mengikat tangan dan dada Ida memakai stagen yang kebetulan dibawanya, kaki yang diikat dengan stocking serta saputangan yang mengikat di mulutnya Ida tersenyum penuh arti dalam sumpalannya, di dalam hatinya kini ada gairah untuk memulai kehidupannya yang baru. Kehidupan sebagai seorang submissive.