Mila Istri Pilot yang kesepian

Foto Saya
Kenalkan namaku Ika Tantri Mila Verania. Teman-teman memanggilku Mila. Banyak yang bertanya, bagaimana rasanya jadi slave? Manusia mana sih yang benar-benar suka atau terlahir untuk diikat? Untuk hal tersebut di atas sebenarnya aku 'menderita', namun sesuatu yang menghiburku adalah ketika aku dalam keadaan seperti itu, memang sakit pegal dan tidak bisa bergerak yang secara fisik kurasakan Namun ada kenikmatan terselubung, dalam ketika berdayaanku yang tangan kaki terikat dan mulut tersumpal, kurasa kenikmatan adalah aku merasa bagai ratu. Karena sang pengikatlah yang harus repot melayani aku. Ketika aku hendak buang air kecil, dibopongnya aku dan diceboknya. Ketika ingin makan aku di suapnya (tidak temasuk kalau dia mesti memasakkan aku sesuatu), dan karena 'derita' ini dilakukan karena ada cinta setidaknya dilakukan dengan suka. Tentunya berbeda jika yang dialami itu penculikan....

Selasa, 08 Juni 2010

Perampok

*Ira menginap di rumah Diah*
Malam ini malam minggu. Malam keduaku tidur di rumah Diah karena aku dimintai tolong untuk menjagai rumahnya, dia ada resepsi saudara di luar kota. Diah memang tinggal sendiri di rumahnya, orang tuanya tinggal di luar kota dan dia dibelikan rumah di kota ini, maklum anak orang kaya. Diah juga tidak menyewa pembantu atau tukang kebun untuk menemaninya. Cuman beresin rumah kayak gini sich gak perlu pake pembantu, alasannya tempo hari kenapa dia tidak menyewa pembantu. Jadi mulai Jumat sore aku sudah ada di rumahnya bersamaan dengan Diah. Aku sebenarnya pengen ngajak Susan dan Anne nginep bareng tapi kebetulan banget mereka ada keperluan masing-masing juga jadi terpaksa aku menempati rumah yang aku bilang cukup besar ini sendirian. Rumah Diah ini tidak berada di perumahan jadi tidak ada pengamanan sama sekali.
Jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam lebih sedikit. Di luar masih hujan, tidak begitu deras tapi juga tidak gerimis. Pokoknya hujan yang nanggung, bikin orang males keluar rumah. Demikian juga denganku. Aku barusan mandi dan barusan menutup semua pintu dan jendela. Sambil makan aku melihat televisi yang ada di ruang tengah. Sudah aku rencanakan malem ini aku ingin ‘main gila’ sendiri. Tau kan artinya? Hehe. Sebelum mandi tadi aku membongkar-bongkar lemari pakaian Diah, menyeleksi koleksi baju tidur seksinya dan memilih satu yang menurutku cukup bagus. Belum pernah kulihat Diah memakainya. Kupakai lingerie Diah yang berwarna ungu itu. Model lingerie yang aku sukai karena bahannya tidak transparan, berbahan satin. Selain itu tidak ada hiasan renda atau bulu-bulu sama sekali, simple banget.
Selesai makan aku masuk ke kamar Diah dan langsung menuju tempat tidurnya. Hanya lampu kecil yang kunyalakan jadi suasananya remang-remang. Aku menyalakan televisi di hadapanku dan juga DVD player. Satu film biru kupilih yang menampilkan adegan seks sesama jenis. Aku yang sudah menyusup ke dalam selimut dan bed cover mulai terbawa dengan adegan-adegan di layar televisi. Lama kelamaan aku tidak tahan dan mulai meraba-raba tubuhku sendiri. Tali lingerie di bahu sudah kulepaskan untuk mempermudah aku meraba buah dadaku. Berikutnya dua tanganku sudah sibuk sendiri-sendiri; satu tangan ada di dada dan tangan yang lainnya di vagina. Kurang puas akhirnya aku mengambil ‘tas wasiat’ Diah yang diletakkannya di meja samping tempat tidur. Kukeluarkan 2 vibrator sekaligus, satu yang berbentuk seperti kapsul dan satunya yang mirip penis. Awalnya aku menggunakan yang mirip kapsul untuk merangsang clit-ku dan setelah cukup ‘tinggi’ aku memasukkan penis palsu itu ke lubang kenikmatanku. Adegan di televisi sudah tidak kuperhatikan karena mataku terpejam merasakan kenikmatan seiring dengan mulai bergetarnya vibrator itu di dalam lubang vaginaku. Suasana remang-remang sepertinya mendukung aku mendapatkan orgasmeku yang pertama, kedua, ketiga dan berikutnya. Aku mendapatkan orgasmeku dalam waktu yang begitu cepat. Kalau tidak salah lima kali aku mendapatkan puncak kenikmatanku ketika kemudian aku menghentikan aktivitasku karena badanku rasanya capek banget. Kumasukkan kembali vibrator-vibrator tadi ke tas Diah, kubetulkan lagi lingerieku dan kutarik selimut menutupi tubuhku dan kupejamkan mata untuk tidur.....

Kurasakan ada tangan yang membekap tanganku. Kubuka mataku dan kulihat ada orang dengan tutup wajah di depanku. Tangannya membekapku sehingga aku tidak dapat mengeluarkan suara sama sekali. Aku berontak tapi tenagaku ternyata tidak dapat mengalahkan tenaga orang didepanku ini. Lampu besar sudah menyala jadi suasana terang benderang. Kulihat ada dua orang dengan penutup wajah di kamar ini. Satu orang yang memegangiku dan satu orang lagi sedang mengacak-acak meja rias dan berikutnya lemari pakaian Diah. Dari pengamatanku sepertinya orang yang sedang mengacak-acak itu berjenis kelamin wanita, kelihatan dari postur tubuhnya yang ramping dan dadanya yang menyembul. Aku masih mendengus-dengus dan tanganku berusaha melepaskan tangan yang menutupi mulutku.
“Jangan melawan! Tidak ada gunanya!” Kata orang dengan tutup wajah yang membungkamku. “Gimana Bos, sudah dapet belum hartanya?”
Orang yang satunya hanya menggelengkan kepala sambil terus sibuk mengacak-acak.
“Sini dulu bantu aku. Kita ikat dia dulu baru kemudian kita cari bersama.” Katanya lagi.
Orang kedua mendekatiku.
“Jangan berteriak atau melakukan hal bodoh lainnya! Aku akan mengikatmu biar aku lebih leluasa.”
Dia menyibak selimut yang masih menutupi tubuhku sampai ke bagian dada.
“Wow! Ternyata selain cantik kamu juga seksi juga.” Katanya lagi.
Aku hanya melotot. Dengan cepat aku putuskan untuk bekerja sama dengan orang-orang ini karena aku masih sayang dengan nyawaku. Badanku ditarik dengan kasar dan ditelungkupkan. Tanganku ditarik ke belakang menyilang di sekitar pinggangku dan diikat dengan tali yang sepertinya sudah dipersiapkan. Kudengar suara lakban dan kemudian mulutku sudah ditutupnya dengan lakban. Berikutnya kakiku yang diikatnya. Kemudian dua orang itu meninggalkanku dan mulai sibuk mengacak-acak lemari pakaian lagi.
“Duit atau barang berharga kamu letakkan dimana?” Tanya pria yang mengikatku.
Aku yang mendongakkan kepala dan menggelengkan kepala.
“Kamu pingin mati ya? Lebih sayang dengan hartamu?”
Aku menggelengkan kepala lagi sambil berteriak-teriak tertahan.
Dua orang itu mengeluarkan hampir seluruh isi lemari pakaian Diah. Semuanya berserakan di lantai. Kelihatannya mereka masih tidak menemukan apa yang mereka cari. Satu orang mendekatiku, menjambak rambutku dan menarik lakban yang menutup mulutku.
“Sekali lagi aku tanya, dimana kamu simpan barang berhargamu?!!” bentaknya.
“Aku tidak tahu. Aku bukan yang punya rumah. Aku hanya disuruh jagain rumah ini.”
“Bohong!!”
“Beneran! Ngapain aku bohong?!”
Dia menutup mulutku lagi dengan lakban.
“mmmppphhhh.....!!!” Aku masih berusaha melepaskan ikatan di tangan dan kakiku yang ternyata sia-sia. Tali tali itu telah membelengguku begitu erat. Mereka mulai mengalihkan perhatian ke meja tulis. Semua laci dibuka dan diperiksa, tetap saja hasilnya nihil.

“mmmmmmpppphhhhhhhh.......!! mmmmpppphhhhhhh..........!!!! aku berteriak-teriak untuk menarik perhatian mereka karena saat mulutku ditutup lakban untuk kedua kalinya barusan, lakban itu juga menutupi sebagian hidungku yang membuat pernafasanku tidak bisa bebas.
“Apa lagi? Diam, jangan ribut saja!” Kata perampok itu. Dia menarik selimut dan menutup tubuhku dengan selimut.
Aku makin berontak tapi ternyata tidak dapat menarik perhatian mereka yang masih sibuk memporakporandakan kamar Diah. Sekarang mereka membuka laci meja samping tempat tidur. Nihil! Kudengar suara geram karena tidak ada hasil.
“Mosok kita harus bawa TV ini? Kayak perampok konvensional aja.” Gerutu pria perampok.
Kudengar lagi suara barang-barang yang jatuh ke lantai.
“Jangan-jangan di tas ini…”
Tiba-tiba kepanikan melandaku.
“Wow…. Apaan nich??” Seru pria sambil tertawa.
Sepertinya dia membuka tas wasiat Diah dan menemukan alat-alat bantu seksual di dalamnya.
“Kenapa harus pake alat-alat ini kalau ada aku?” Katanya lagi masih sambil tertawa-tawa mengejek.
“Bro… Kita ke sini mau cari barang berharga, bukan memperkosa!” Kudengar suara wanita. Ternyata benar dugaanku, perampok-perampok ini yang satu pria, yang satu wanita.
“Kayaknya nggak ada barang berharga di rumah ini, yang ada hanya barang yang ini…” Katanya sambil menepuk pantatku.
Aku meronta-ronta lagi berusaha melepaskan diri. Tidak ada firasat akan mengalami hal ini. Tubuhku yang telungkup dibalik, selimut ditarik. Nafasku agak lega. Si perampok pria, kusebut namanya Bro aja biar mudah, berdiri di depanku.
“Karena tidak ada barang berharga yang bisa ditemukan, maka sebagai gantinya aku nikmati tubuhmu aja ya….” Katanya sambil terkekeh.
Mataku melotot mendengar kata-katanya. Tangan dan kakiku terasa sakit karena berontak untuk melepaskan ikatan. Memang aku sering melakukan hubungan seksual dengan keadaan terikat, tapi tidak dengan pemaksaan. Kutendang-tendangkan kakiku ke arahnya yang malah membuatnya tertawa makin keras.
“Bro, jangan! Kita ke sini mau nggarong, bukan memperkosa.”
“Lha kamu sudah nemu belum barang berharganya?”
“Tapi aku gak setuju kalo sampe memperkosa!”
“Kalo kamu mau kamu juga boleh ikut ngerasain cewek ini kok. Aku tau kok kalo kamu senengnya main sama cewek, hehehe…”
“Brengsek!” Kata si wanita. Dia melangkah keluar kamar, mungkin mencari targetnya di luar kamar. Aku sendiri benar-benar tidak tahu di mana Diah menyembunyikan barang-barang berharganya.
Di kamar ini hanya tinggal aku dengan si Bro. Posisi yang tidak menguntungkanku sama sekali; aku terikat di atas tempat tidur dengan pakaian yang sangat minim. Bro mulai meraba-raba dan mengelus pahaku. Vaginaku tidak tertutup karena lingerie yang kupakai ini sekarang tersingkap. Kulihat dia melepas celananya. Berikutnya ikatan di kakiku dibukanya. Aku berontak tapi sekali lagi tanpa hasil. Kakiku dibukanya dan tubuhnya menindihku. Berikutnya aku merasakan ‘barangnya’ masuk ke dalam vaginaku, rasanya sakit sekali karena vaginaku masih kering tapi dipaksakan terus sampai akhirnya bisa masuk diiringi suara jeritan dari mulutku yang masih tertutup lakban.
“mmmmppphhhh.....” Aku diperkosa! Dengan sisa-sisa tenaga aku berusaha melawan tapi tetap tanpa hasil. Badanku bergoyang-goyang, sama dengan gerakan pria yang menindihku ini. Sambil terus ‘memompa’ vaginaku, lidahnya juga menjilati telinga dan leherku. Mulutku yang tertutup lakban diciuminya. Hidungku yang separuhnya tertutup lakban membuatku makin menderita karena aku tidak dapat bernafas dengan lepas.
Aku masih melakukan perlawanan, berusaha menghentikan perkosaan ini. Dilema! Di satu sisi, di dalam otakku melakukan penolakan karena ini bukanlah hubungan seksual yang kuinginkan. Ini adalah pemaksaan dan aku tidak bisa menerimanya. Di sisi lain tubuhku mulai menerima perlakuan ini. Aku mulai memperoleh rasa nikmat seperti yang biasa aku dapatkan bila sedang melakukan hubungan intim atau masturbasi. Kedua hal itu berkecamuk di pikiranku sampai akhirnya bukanlah dengusan perlawanan yang keluar dari mulutku melainkan desahan kenikmatan. Aku menikmati perkosaan ini! Dan beberapa saat kemudian aku mencapai puncak.
“Enak say, hehehe….” Kata Bro sambil terus memompaku.
Aku tidak memperdulikannya. Kupejamkan mataku dan berkonsentrasi menikmati perkosaan ini.
Aku merasakan gerakan Bro makin cepat, sepertinya dia akan keluar. Dan tiba-tiba dia mencabut penisnya dan memuncratkan spermanya di pahaku.
“Walau aku memperkosamu tapi aku tidak mau menghamilimu…” Katanya
Dia melangkah menjauh dariku. Aku masih telentang sambil terengah-engah. Kakiku rasanya kaku. Vaginaku juga masih perih karena proses penetrasi yang dipaksakan tadi.
Kudengar suara langkah masuk ke dalam kamar. Wanita perampok itu masuk ke dalam kamar lagi. Dia memandangiku yang masih telentang.
“Sudah selesai Bro?”
Bro yang dudukan di kursi hanya tersenyum.
“Sudah ketemu target kita?”
“Nggak ada. Cuman rumahnya aja yang besar, nggak ada barang berharga di sini. Kepaksa kita bawa televisi sama laptop nich.”
“Ya udah dech, daripada kecewa mending kamu nikmati cewek ini aja.” Kata Bro lagi.
Wanita yang tadi dipanggil Bos oleh si Bro menengok ke arahku. Dia memandangi seluruh tubuhku. Dia berjalan mendekatiku dan duduk di tempat tidur, di sampingku. Tangannya meraba pahaku yang terbuka. Kesadaranku kembali dan aku menjauhkan kakiku dari tangan wanita disampingku ini. Ada suara senyum dan Bos menaikkan kakinya ke atas ranjang dan makin mendekatiku. Aku berusaha menjauhkan diri darinya tapi badanku tertahan oleh besi tempat tidur; ranjang Diah adalah ranjang besi yang pada sisi atas dan bawahnya terdapat besi tinggi. Sekarang wanita itu sudah memegang buah dadaku dan mulai meremas-remasnya.
“Bro, aku butuh privacy! Gantian kamu di luar sambil cari-cari barang apa yang bisa dibawa.”
Bro melangkah keluar sambil tertawa. Kini hanya aku dan wanita yang dipanggil Bos ini saja yang ada di dalam kamar. Dia menarik badanku ke tengah ranjang dan meraba-raba lagi sekujur tubuhku. Remasan di dadaku sangat keras sampai-sampai aku merasa kesakitan. Tangan yang satu miliknya mulai meraba-raba vaginaku dan tanpa menunggu lama dia memasukkan jarinya kedalam lubang. Rasa perih yang tadi belum hilang sekarang muncul lagi. Digerak-gerakkannya jari didalam lubang vaginaku, makin lama rasa perih itu tertutupi oleh rasa nikmat dan akhirnya aku mendapatkan orgasme lagi. Tubuhku menegang dan kakiku kututup erat-erat untuk mendapatkan kenikmatan yang lebih. Setelah aku mendapatkan orgasme Bos mencabut jarinya dan berjalan untuk mengambil selendang yang ada di lantai, selendang yang biasa digunakan Diah bila menghadiri acara-acara resmi. Dia menutup mataku dengan selendang itu di wajahku. Hanya hitam warna yang bisa kulihat saat ini.
“Enak?”
Aku hanya mendengus-dengus saja. Aku meronta-ronta, masih juga berusaha membebaskan tanganku yang masih terikat.
Kakiku dibuka lagi olehnya. Perlawanan yang kuberikan sudah tidak sekeras tadi. Berikutnya ada sesuatu yang ditusukkan ke lubang vaginaku yang kemudian aku tahu benda itu adalah vibrator yang berbentuk penis. Lalu dia menghidupkan vibrator itu dan badanku mulai mengejang, terangsang oleh vibrator tadi.
“Baru kali ini aku main-main dengan apa nich namanya? Vibrator ya?”
Vibrator itu terus bergetar dan memutar di dalam vaginaku membuatku makin ‘tinggi’. Tidak ada lagi tangan yang menggerayangiku. Beberapa kali lagi aku mendapatkan orgasme.
“Lagi ngapain kamu? Kenapa tutup wajahmu dilepas?” Kudengar suara Bro saat aku mendapatkan orgasmeku yang kesekian.
“Nggak ngapa-ngapain. Lagi ngerjain dia saja. Mata dia sudah kututup jadi aman kalo kamu mau lepas tutup wajahmu itu.”
Kudengar tawa Bro.
“Kerjain bareng-bareng aja yuk. Gimana?”
Kurasakan vibrator dimatikan dan dicabut dari dalam vaginaku. Pahaku diraba-raba sebentar kemudian aku merasakan ada lidah yang menjilati daerah kenikmatanku itu. Dadaku pun merasakan remasan yang kemudian diikuti berikutnya dengan lidah yang membasahi putingku. Ada dua lidah yang bekerja pada waktu yang sama di tempat yang berbeda! Berarti kedua orang ini benar-benar mengerjaiku bersama-sama. Saat ini walaupun aku diperkosa, sebenarnya aku menikmatinya. Gila ya?
Aku merasakan penis lagi-lagi dimasukkan kedalam lubang kenikmatanku. Desahan dari mulutku yang tertutup lakban kembali terdengar. Jilatan di putingku masih terus dilakukan. Sudah tidak ada perlawanan sama sekali yang aku lakukan karena kenikmatan yang kurasakan. Baru kali ini aku melakukan hubungan seks rame-rame yang menyertakan pria.
“Aku akan membuka lakban di mulutmu, jangan berteriak.” Bisik Bos di telingaku sambil lidahnya menjilati daun telingaku.
Aku menganggukkan kepalaku.
Lakban yang melekat di mulutku ditarik dengan kasar. Desahanku sekarang terdengar dengan jelas. Tapi kemudian aku merasakan ada sesuatu di seluruh wajahku! Ternyata si wanita yang dipanggil Bos itu duduk tepat di atas mukaku.
“Jilatin punyaku!” Serunya kepadaku sambil mengangkat sedikit pantatnya yang tadi menduduki mukaku sehingga aku dapat bernafas lagi dan mulai menjilatinya.
Kujilati pantat, lubang pantat dan lubang vaginanya. Kujilati seluruh bagian tubuhnya yang bisa kuraih dengan lidahku. Kini suara desahan dari mulut Bos terdengar menggantikan desahanku yang sekarang sibuk menjilati ‘miliknya’.
Beberapa saat kami bertiga melakukan hal ini sebelum Bro berhenti dan mengangkat badanku dan membalikkan badanku, sekarang posisi badanku menjadi telungkup. Kemudian dia mengangkat bagian pantatku sehingga posisiku berubah jadi menungging. Penisnya dimasukkannya lagi, melakukan doggy style. Bahuku ditariknya jadi kepalaku agak terangkat dan kucium bau khas ada di depanku. Ternyata Bos sudah menunggu untuk kujilati. Dia posisi setengah rebahan. Kujilati lagi vagina milik Bos seperti yang kulakukan tadi. Aku beberapa kali mendapatkan orgasme, entah dengan Bos karena jurus-jurus jilatanku tidak bisa kukeluarkan semua dengan posisiku yang tidak bebas sekarang ini.
Gerakan Bro makin cepat, sepertinya dia akan mencapai puncak. Tidak lama dia menarik lagi penisnya dan punggungnya terasa basah terkena muncratan spermanya. Pegangan di bahuku dilepaskannya dan kepalaku ambruk lagi. Aku yang juga sudah lemas menurunkan pantatku.
“Gimana Bos? Sudah puas?”
“He eh…” Kudengar jawaban pendek dari si wanita.
“Kita istirahat sebentar lalu cabut yuk…”
“Oke. Aku juga lemas semua nich.”
Beberapa saat aku dicuekin. Habis juga seluruh tenagaku. Kudengar suara-suara di sampingku, entah apa yang dilakukan mereka berdua, kalau dari suaranya sich mereka sibuk berpakaian.
“Berdiri!” Suara Bos terdengar.
Aku yang nyaris tertidur karena lemasnya badanku segera tersadar dan berusaha bangkit. Dibantu oleh salah satu orang akhirnya aku bisa berdiri. Ditariknya badanku beberapa langkah dan setelah itu aku disuruh duduk lagi, di lantai. Ada tali yang diikatkan ke dadaku, ternyata aku diikat menjadi satu dengan kaki tempat tidur besi ini. Kakiku juga diikat lagi menjadi satu. Tidak lupa lakban digunakan lagi untuk menutup mulutku.
“Tenang aja, kita tidak mengambil barang apapun milikmu atau siapapun pemilik rumah ini karena kami bukan perampok pada umumnya. Karena kita sudah mendapatkan hal lain yang kita rasa sudah cukup.”
Aku hanya diam saja.
“Selamat malam Say… Selamat tidur.” Kata Bos kepadaku sambil cipika cipiki dan membuka selendang yang menutupi mataku
Lalu kudengar langkah-langkah keluar dari kamar, menjauh dariku. Beberapa saat aku berusaha melepaskan diri tapi ikatan di tanganku terlalu kencang. Akhirnya aku pasrah dan berusaha untuk tidur. Urusan melepaskan diri dipikir besok aja, lagian kan sudah terbiasa tidur dalam keadaan terikat dan dalam posisi yang lebih menyiksa.
Keesokannya keadaanku belum berubah, masih dengan tangan terikat kebelakang, dan juga kakiku terikat erat menjadi satu, mulutkupun masih tersumpal lakban, tubuhku terikat di kaki tempat tidur. Waktu terus berjalan,.. dari pagi ketika aku bangun, dalam keadaan terikat, sesekali aku meronta-ronta berusaha melepaskan tali-tali yang melilitku, datanglah siang, dengan rasa yang lumayan lapar aku masih juga belum bisa melepaskan diri, sore hari aku mulai lemas dan tak kuasa lagi untuk meronta-ronta dan aku tertidur....

“Ra, Ira. Bangun! Ada apa ini?”
Samar-samar kudengar sebuah suara, suara Diah yang baru pulang, dan kulihat hari sudah gelap. Kubuka mataku dan kulihat Diah berlutut di depanku, wajahnya menunjukkan kecemasan. Tangan Diah mendekati mulutku dan menarik lakban yang menutupi mulutku.
“Apa yang terjadi Ra?”
“Mmmm…. Tadi malam rumah ini kemasukan rampok Di.” Jawabku sambil mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi semalam.
“Kamu nggak kenapa-kenapa?”
“Mmmm…. Nggak kok.”
“Nggak di apa-apain?”
“Mmmm…. Nggak kok Di. Cuma diiket aja, Boleh aku minta minum Di?”
“Iya iya. Kamu tunggu disini sebentar ya, aku ambilin dulu air putih.” Kata Diah sambil berdiri dan tergopoh-gopoh keluar dari kamar meninggalkan aku masih dalam keadaan terikat erat.
Aku memutuskan untuk tidak menceritakan apa yang terjadi semalam. Cukup mengerikan sich kejadian semalam tapi aku harus bersyukur karena nyawaku masih betah nongkrong di ragaku, jadi aku pikir ngapain cerita ke Diah, ntar malah kalau lapor polisi segala malah panjang urusannya.
“Ini Ira, diminum dulu.” Diah sudah balik ke kamar dan menyodorkan segelas penuh air putih.
“Ada yang ilang nggak Di barang-barangmu?”
“Nggak tau Rar, belum aku periksa. Aku tadi nyampe sini tadi jam 7 malam, pintu pagar sama pintu depan nggak terkunci. Aku langsung masuk dan aku nemuin kamu dalam keadaan kayak gini. Aku khawatir banget Ra…” jawab Diah akhirnya melepaskan semua tali tali yang mengikat di tubuhku
“Ahh,...Nggak. Aku nggak kenapa-kenapa kok. Cuma agak shock aja, tapi sudah agak berkurang kok sekarang.” jawabku sambil mengusap-usap bilur bekas tali di pergelangan tanganku.
Aku berusaha bangkit, dibantu oleh Diah. Badanku masih pegal semua. Kondisi kamar masih acak-acakan seperti semalam. Aku dan Diah kemudian mulai memeriksa keadaan rumah dan ternyata tidak ada barang-barang miliknya yang hilang. Ternyata perampok-perampok semalam menepati janjinya.
“Emang perhiasan kamu disimpan dimana sich?” Tanyaku ingin tahu karena semalam Bro dan Bos tidak menemukannya, padahal aku tau kalo Diah memiliki perhiasan yang sering dipakainya.
“Kalau aku pergi keluar kota perhiasan dan barang-barang kecil lainnya yang berharga mesti aku titipin di deposit box di bank. Jadi misal terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan aku nggak banyak rugi.”
“Iya, sebagai ganti barang berhargamu adalah tubuhku…” Gerutuku dalam hati.
“Kita lapor polisi aja yuk…”
“Nggak usah Di, ntar malah repot. Lagian gak ada barang hilang kan?”
Diah menggelengkan kepala. Tidak lama kemudian, setelah aku bisa menentramkan hatiku mengingat kejadian semalam, aku mandi untuk membersihkan diri.
“Malam ini kamu bobo sini aja ya, temenin aku. Aku takut nich tidur sendiri... apa lagi semalam ada rampok!” Kata Diah kepadaku setelah aku selesai mandi. “Besok kan kuliah kita sama-sama masuk siang, jadi berangkatnya dari sini aja barengan.”
Aku menganggukkan kepala.
Tambah lagi dech pengalamanku. Sebenernya sich nggak ngarepin tambahnya pengalaman dengan terpaksa, tapi setelah dipikir-pikir rasanya nggak jauh beda kok, malah ada sensasinya, Kusimpan rahasia ini untuk diriku sendiri. Malam sudah larut sudah kira-kira pukul 23 lalu rasa kantuk menyerang kami berdua, dan kamipun tertidur...

Kurasakan ada tangan yang membekap tanganku. Kubuka mataku dan kulihat ada orang dengan tutup wajah di depanku. Tangannya membekapku sehingga aku tidak dapat mengeluarkan suara sama sekali. Aku berontak tapi tenagaku ternyata tidak dapat mengalahkan tenaga orang didepanku ini. Lampu besar sudah menyala jadi suasana terang benderang. Kulihat ada dua orang dengan penutup wajah di kamar ini. Satu orang yang memegangiku dan satu orang lagi sedang mengacak-acak meja rias dan berikutnya lemari pakaian Diah. Aku masih mendengus-dengus dan tanganku berusaha melepaskan tangan yang menutupi mulutku.
“Jangan melawan! Tidak ada gunanya!” Kata orang dengan tutup wajah yang membungkamku. “Gimana Bung, sudah dapet belum hartanya?”
Orang yang satunya hanya menggelengkan kepala sambil terus sibuk mengacak-acak.
“Sini dulu bantu aku. Kita iket dia dulu baru kemudian kita cari bersama.” Katanya lagi.
Orang kedua mendekatiku.
“Jangan berteriak atau melakukan hal bodoh lainnya! Aku akan mengikatmu biar aku lebih leluasa.”
Dia menyibak selimut yang masih menutupi tubuhku sampai ke bagian dada.
“Wow! Ternyata selain cantik kamu juga seksi juga.” Katanya lagi.
Aku hanya melotot. Kuputuskan untuk bekerja sama dengan orang-orang ini karena aku masih sayang dengan nyawaku. Badanku ditarik dengan kasar dan ditelungkupkan. Tanganku ditarik ke belakang dan diikat dengan tali yang sepertinya sudah dipersiapkan. Kudengar suara lakban dan kemudian mulutku sudah ditutupnya dengan lakban. Berikutnya kakiku yang diikatnya. Kemudian dua orang itu meninggalkanku dan mulai sibuk mengacak-acak lemari pakaian lagi.
“Duit atau barang berharga kamu letakkan dimana?” Tanya pria yang mengikatku.
Aku yang mendongakkan kepala dan menggelengkan kepala.
“Kamu pingin mati ya? Lebih sayang dengan hartamu?”
“mmmmppphhhh....!!! aku menggelengkan kepala lagi sambil berteriak-teriak tertahan.

Disudut ruangan aku melihat Diah, duduk terikat erat dikursi. Tangannya terikat kebelakang, kakinya yang masih bersepatupun terikat jadi satu, tubuhnya terlilit tali yang mengikatnya ke kursi, mulut Diah disumpal lakban. Diah terlihat sedang tertidur atau pingsan (?) karena kepalanya menunduk. Apa yang ditakuti Diah terjadi, rumah ini untuk kedua kali didatangi perampok yang mengikatku dan juga Diah.

Dua orang itu mengeluarkan hampir seluruh isi lemari pakaian Diah. Semuanya berserakan di lantai. Kelihatannya mereka masih tidak menemukan apa yang mereka cari. Aku masih berusaha melepaskan ikatan di tangan dan kakiku yang ternyata sia-sia. Tali tali itu telah membelengguku begitu erat. Kulihat juga Diah yang terikat erat di kursi juga meronta-ronta dengan hebatnya. Mereka mulai mengalihkan perhatian ke meja tulis. Semua laci dibuka dan diperiksa, tetap saja hasilnya nihil.

“mmmmmmpppphhhhhhhh.......!! mmmmpppphhhhhhh..........!!!! aku dan Diah berteriak-teriak bersahutan untuk menarik perhatian mereka karena saat mulutku ditutup lakban untuk kedua kalinya barusan, lakban itu juga menutupi sebagian hidungku yang membuat pernafasanku tidak bisa bebas.
“Apa lagi? Diam, jangan ribut saja!” Kata perampok itu. Dia menarik selimut dan menutup kepalaku dengan selimut.
Aku makin berontak tapi ternyata tidak dapat menarik perhatian mereka yang masih sibuk memporakporandakan kamar Diah. Sekarang mereka membuka laci meja samping tempat tidur. Nihil! Kudengar suara geram karena tidak ada hasil.
Kudengar lagi suara barang-barang yang jatuh ke lantai.

“Jangan-jangan di tas ini…”
Tiba-tiba kepanikan melandaku.
“Wow…. Apaan nich??” Seru pria sambil tertawa.
Sepertinya dia membuka tas wasiat Diah dan menemukan alat-alat bantu seksual di dalamnya.
“Kenapa harus pake alat-alat ini kalau ada aku?” Katanya lagi masih sambil tertawa-tawa mengejek.
“Brur… Kita ke sini mau cari barang berharga, bukan memperkosa!” ucap perampok yang satu lagi yang badannya kekar
“Kayaknya nggak ada barang berharga di rumah ini, yang ada hanya barang yang ini…” Katanya sambil menepuk pantatku.
Aku berontak lagi berusaha melepaskan diri. Tidak ada firasat akan mengalami hal ini. Tubuhku yang telungkup dibalik, selimut yang menutupi kepalaku ditarik. Nafasku agak lega. Si perampok, kusebut namanya Brur aja biar mudah, berdiri di depanku.
“Karena tidak ada barang berharga yang bisa ditemukan, maka sebagai gantinya aku nikmati tubuhmu aja ya….” Katanya sambil terkekeh. Mataku melotot mendengar kata-katanya. Tangan dan kakiku terasa sakit karena berontak untuk melepaskan ikatan. Memang aku sering melakukan hubungan seksual dengan keadaan terikat, tapi tidak dengan pemaksaan. Selama menginap di rumah Diah ini adalah ancaman kedua tubuhku akan diperkosa,.... Kutendang-tendangkan kakiku ke arahnya yang malah membuatnya tertawa makin keras.
“Brur, kalau nggak ketemu barang berharga, aku ngerjain yang ini aja deh....” sambut si Kekar bergairah sambil meraba-raba tubuh Diah yang terikat erat
“Lha kamu sudah nemu belum barang berharganya?”
“Barang berharganya ada di dua cewek ini Brur...!”

Di kamar ini hanya tinggal aku dengan si Brur. Sementara Diah tadi diangkut dengan kursi yang mengikat di tubuhnya keluar kamar. Aku tidak tahu pasti dengan apa yang terjadi dengan Diah, namun kurasa Diah mengalami perlakuan yang serupa denganku. Posisi yang tidak menguntungkanku sama sekali; aku terikat di atas tempat tidur dengan pakaian yang sangat minim. Brur mulai meraba-raba dan mengelus pahaku. Vaginaku tidak tertutup karena lingerie yang kupakai ini sekarang tersingkap. Kulihat dia melepas celananya. Berikutnya ikatan di kakiku dibukanya dengan iseng dipakaikannya kakiku dengan sepatuku yang putih. Aku berontak tapi sekali lagi tanpa hasil. Kakiku dibukanya dan tubuhnya menindihku. Berikutnya aku merasakan ‘barangnya’ masuk ke dalam vaginaku, rasanya sakit sekali karena vaginaku masih kering tapi dipaksakan terus sampai akhirnya bisa masuk diiringi suara jeritan dari mulutku yang masih tertutup lakban.
“mmmmppphhhh.....” Aku diperkosa lagi! Dengan sisa-sisa tenaga aku berusaha melawan tapi tetap tanpa hasil. Badanku bergoyang-goyang, sama dengan gerakan pria yang menindihku ini. Sambil terus ‘memompa’ vaginaku, lidahnya juga menjilati telinga dan leherku. Mulutku yang tertutup lakban diciuminya. Hidungku yang separuhnya tertutup lakban membuatku makin menderita karena aku tidak dapat bernafas dengan lepas.
“mmmmppphhhh.......!!” Aku masih melakukan perlawanan, berusaha menghentikan perkosaan ini. Dilema! Di satu sisi, di dalam otakku melakukan penolakan karena ini bukanlah hubungan seksual yang kuinginkan. Ini adalah pemaksaan dan aku tidak bisa menerimanya. Di sisi lain tubuhku mulai menerima perlakuan ini. Aku mulai memperoleh rasa nikmat seperti yang biasa aku dapatkan bila sedang melakukan hubungan intim atau masturbasi. Kedua hal itu berkecamuk di pikiranku sampai akhirnya bukanlah dengusan perlawanan yang keluar dari mulutku melainkan desahan kenikmatan. Aku menikmati perkosaan ini! Dan beberapa saat kemudian aku mencapai puncak.
“Enak yach,….” Kata Brur sambil terus memompaku.
Aku tidak memperdulikannya. Kupejamkan mataku dan berkonsentrasi menikmati perkosaan kedua ini.
Aku merasakan gerakan Brur makin cepat, sepertinya dia akan keluar dan tanpa ragu-ragu spermanya dimuncratkan kedalam vaginaku.
Lelah dan lemas merasuki sekujur tubuhku yang terikat ini, si Brur lalu membopongku dan mengikatkan kakiku dan tubuhku ke kursi lain yang ada di dalam kamar Diah, setelah memastikan aku terikat erat, aku merasakan ada saputangan membekap mulut dan hidungku, bau menyengat mengalir ke tubuhku dan syarafku sehingga aku tak sadarkan diri.

“Ira, Diah,... Bangun! Ada apa ini?”
Samar-samar kudengar sebuah suara, suara Susan yang masuk ke rumah, dan kulihat hari sudah gelap. Kubuka mataku, ku lihat Diah duduk di kursi disampingku masih dalam keadaan terikat erat , serupa dengan keadaanku. Dan kulihat Susan berlutut di depanku, wajahnya menunjukkan kecemasan. Tangan Susan mendekati mulutku dan menarik lakban yang menutupi mulutku dan mulut Diah.
“Apa yang terjadi Ira, Diah?”
“Mmmm…. Tadi malam rumah ini kemasukan rampok yang kedua kali San.” Jawabku sambil mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi semalam.
“Kalian nggak kenapa-kenapa...?”
“Mmmm…. Nggak kok.” Jawab Diah
“Nggak di apa-apain?”
“Mmmm…. Aku diperkosa San... Boleh aku minta minum?” jawab Diah lemas
“Iya iya. Kamu tunggu disini sebentar ya, aku ambilin dulu air putih.” Kata Susan sambil berdiri dan tergopoh-gopoh keluar dari kamar meninggalkan aku dan Diah masih dalam keadaan terikat.
Aku memutuskan untuk tidak menceritakan apa yang terjadi semalam. Cukup mengerikan sich kejadian semalam tapi aku harus bersyukur karena nyawaku masih betah nongkrong di ragaku setelah dua kali mengalami perampokan dan pemerkosaan, entah dengan Diah,... apa yang terjadi dengannya.... ntar malah kalau lapor polisi segala malah panjang urusannya.
“Ini Diah, Ira, diminum dulu.” Susan sudah balik ke kamar dan menyodorkan dua gelas penuh air putih.
“Ada yang ilang nggak Di barang-barangmu? Aku tadi nyampe sini tadi jam 6 sore, aku khawatir karena kalian berdua tidak masuk kuliah,.. begitu tiba, pintu pagar sama pintu depan nggak terkunci. Aku langsung masuk dan aku nemuin kalian dalam keadaan kayak gini. Aku kaget banget…” jawab Susan sambil melepaskan semua ikatan di tubuh Diah, sedangkan aku masih terikat menunggu giliran untuk Susan lepaskan ikatan yang membelengguku.
“Ahh,...Nggak. Aku nggak kenapa-kenapa kok. Cuma agak shock aja, tapi sudah agak berkurang kok sekarang.” Jawab Diah sambil mengusap-usap bilur bekas tali di pergelangan tangannya.
“Aduuuhh nasib,..... bisa sampai dua kali dirampok......” keluhku sambil mengusap-usap bilur bekas tali di pergelangan tanganku setelah tali-tali yang mengikatku dilepaskan
Aku dan Diah berusaha bangkit, dibantu oleh Susan. Badanku masih pegal semua. Kondisi kamar masih acak-acakan seperti semalam. Aku, Diah dan Susan kemudian mulai memeriksa keadaan rumah dan tidak ada barang-barang miliknya yang hilang. Dari cerita Diah, kuketahui Diah diperkosa di anusnya, di ruang tamu, sementara aku mengalami pemerkosaan yang tidak kalah menakutkan di kamar Diah. Ternyata memang tidak ada barang-barang yang diambilnya kecuali kami berdua yang diperkosa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar