Mila Istri Pilot yang kesepian

Foto Saya
Kenalkan namaku Ika Tantri Mila Verania. Teman-teman memanggilku Mila. Banyak yang bertanya, bagaimana rasanya jadi slave? Manusia mana sih yang benar-benar suka atau terlahir untuk diikat? Untuk hal tersebut di atas sebenarnya aku 'menderita', namun sesuatu yang menghiburku adalah ketika aku dalam keadaan seperti itu, memang sakit pegal dan tidak bisa bergerak yang secara fisik kurasakan Namun ada kenikmatan terselubung, dalam ketika berdayaanku yang tangan kaki terikat dan mulut tersumpal, kurasa kenikmatan adalah aku merasa bagai ratu. Karena sang pengikatlah yang harus repot melayani aku. Ketika aku hendak buang air kecil, dibopongnya aku dan diceboknya. Ketika ingin makan aku di suapnya (tidak temasuk kalau dia mesti memasakkan aku sesuatu), dan karena 'derita' ini dilakukan karena ada cinta setidaknya dilakukan dengan suka. Tentunya berbeda jika yang dialami itu penculikan....

Jumat, 25 Juni 2010

Pemuas


Sejak liburan akhir pekan yang aku lewati bersama Diah, Novi dan Susan aku mulai memasuki dunia baru yang belum pernah aku rasakan. Kalau sebelumnya perilaku sexku normal, mangukai lawan jenis, sekarang aku mulai menjadi pecinta hubungan sesama jenis. Aku menikmati hubungan ini, entah karena hubungan ini adalah hal yang baru bagiku atau karena memang aku ditakdirkan menjadi seorang lesbian. Aku juga menyukai hubungan ini karena tidak ada resiko kehamilan. Selain dunia lesbian aku juga mengenal, tepatnya mempraktekkan bondage dalam hubung an seksual yang aku lakukan. Kadang bondage yang aku lakukan tidak diikuti dengan sex, jadi aku hanya diikat-ikat saja, dibuat dalam keadaan tidak berdaya. Aku adalah orang yang selalu diikat karena aku adalah bondage slave, istilah Diah, Novi dan Susan kepadaku. Aku sich tidak ada masalah karena aku memang senang sekali diikat, ditambah lagi pada saat diikat begitu aku mesti ‘dikerjain’, gimana tidak enak tuch? Akhir minggu sekarang lebih sering aku gunakan dengan bergaul dengan teman-temanku itu. Dan menurutku yang diikat adalah bosnya karena si pengikat harus melakukan apa saja yang tidak bisa dilakukan oleh yang diikat.
“Mil, lagi ngapain?” Tanya Diah melalui handphone.
“Gak ngapa-ngapain. Bengong aja di kost.”
“Besok akhir minggu ada acara nggak?”
“Gak ada. Lha kan biasanya akhir minggu bareng kamu jadi budakmu, hehehe. Ada apa sich?”
“Nggak… Gini lho, besok ada temenku dari Jakarta mau dateng, dia minta ditemeni. Aku mikir gimana kalau kamu aja yang nemeni dia?”
“Dia cewek atau cowok?”
“Ceweklah! Kan aku mikir kamu masih dibilang fresh, jadi harga jualnya masih mahal, hahaha!”
“Dasar....!”
“Beneran lho Mil, mau gak kamu nemeni temenku?”
“Cantik gak orangnya?”
“Te o pe, be ge te. Servisnya juga sip lho. Dan dia juga seneng ngikat-ngikat lho. Cocok kan sama kamu.”
“Hehehe,... tau aja kamu. Gimana ya, aku belum sreg ye, aku rada canggung, kan aku belum kenal, belum pernah ketemu sama dia.”
“Ya besok kita ketemuan dulu. Kan dia juga pingin liat kamu, cocok gak.”
“Mmm… Ya dech. Itung-itung variasi, hehehe.”
“Kan sambil menyelam minum air. Sudah dapet kenikmatan dapet uang saku lagi.”
“Hahahaha…... Iya dech.”

Petualangan apa lagi yang akan kualami? Hubungan sesama jenis dan bondage saja sudah seperti anugerah buat aku karena selama ini hanya ada dalam imajinasiku. Eh, sekarang malah dapat tawaran jadi escort lady, hahahaha.
Aku dan Diah saat ini sedang nongkrong di satu café, tepatnya warung kopi berlisensi dari luar negeri yang ada di salah satu Mall terkenal di Yogyakarta. Kita sedang menunggu teman Diah yang akan ‘membooking’ku selama akhir pekan. Nama teman Diah itu Silvi dan saat ini dia sedang dalam perjalanan untuk menemui kita.
“Kamu sering nongkrong disini Di?” Tanyaku.
“Yach, tergantung keuangan. Kalo pas ada duit ya kesini.”
“Emang enaknya apa sich? Kan kopinya sama aja.”
“Yeee… Gaul dong Non! Lagian kan bergengsi kalo bisa nongkrong disini.”
Aku cuma tersenyum. Aku mungkin termasuk cewek yang kuper karena jarang untuk nongkrong di tempat-tempat seperti ini. Sayang duitnya, mosok untuk secangkir kopi uang dua puluh ribu gak cukup?

“Halo Diah, gimana kabarnya? Sudah nunggu lama ya? Maaf ya, jalanan tadi macet.”
Tiba-tiba terdengar suara wanita ramah menyapa Diah. Aku menoleh ke sumber suara tadi, kulihat wanita yang aku penampilannya aku bilang sempurna. Tingginya paling tidak 175 centimeter belum ditambah high-heelnya berbis karet yang menghubungi kedua mata kakinya, mirip dengan sepatu yang kupakai, dengan berat badan ideal, pokoknya tinggi semampai. Dia memakai setelan rok pendek berwarna hitam, pakaian yang identik dengan wanita karier. Yang membuat pandanganku tertarik adalah ada scarf lebar warna putih yang dikalungkan di lehernya. Wajah putihnya mencerminkan kalau dia selalu memperhatikan perawatan wajahnya, masalah badan bagian dalam sebentar malem juga akan ketauan, hehehe. Rambutnya panjang sebahu dicat berwarna coklat.
“Eh, Mbak Vivi. Belum lama kok. Ini kenalin temenku yang aku ceritain itu.” Kata Diah.
Aku berdiri, bersalaman dan memperkenalkan diri.
“Ada apa nich Mbak? Tumben balik ke Jogja. Cuman liburan akhir minggu atau ada kerjaan?”
“Dua-duanya. Ada meeting regional di Jogja besok siang. Karena cuma sehari, kan sisanya bisa buat liburan. “ Jawab Silvi atau biasa dipanggil Vivi sambil mengerlingkan matanya pada Diah dan menatapku penuh arti, pandangan nakal.
“Gimana Mbak, sudah liat orangnya kan? Ya ini yang namanya Mila. Orangnya cantik kan, imut lagi.” Kata Diah.
Aku tersenyum tersipu-sipu.
“Penampilan sich OK, kita lihat saja performanya didalam kamar.” Kata Vivi kemudian. Sekali lagi dia manatapku penuh arti.
Aku diam saja. Agak dag dig dug, maklum ini kan pengalaman pertamaku ‘menjual diri’.
“Jadi, cocok? Kalau memang cocok ya sudah dibungkus saja.” Canda Diah.
Vivi tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Kalian sudah makan? Makan yuk, dari tadi perutku baru kemasukan roti dari pesawat nich.”
Kita keluar dari café itu dan menuju 1 restoran yang ada di Mall itu. Kita makan malam sambil ngobrol ngalor ngidul. Aku jadi tahu kalo Vivi ini dulu kuliah di Jogja juga. Vivi ini mistress Diah, dia yang mengajarkan Diah tentang hubungan sesama jenis dan bondage. Aku juga mengetahui kalau profesinya sekarang ini adalah salah satu top manager perusahaan multi produk di Indonesia.
Selesai makan kita langsung keluar dan menuju mobil yang dibawa oleh Vivi.
“Kamu sewa dari hotel ya?” Tanya Diah.
“Iya, males kemana-mana naik taxi. Kita kemana nich sekarang? Langsung ke hotel?”
“Aku belum bawa baju ganti Mbak.” Kataku. Aku memang tidak mengira kalau akan langsung diajak ke hotel.
“Ngapain bawa baju ganti, lagian memang kamu di hotel ntar pake baju?” Jawab Diah sambil tertawa, Vivi pun ikut tertawa.
“Iya dech.” Untuk diketahui aku memakai baju berkerah shang hai berwarna coklat muda dengan kancing-kancing yang berjejer rapih dari leher sampai ke pusar, dipasangkan dengan rok mini warna coklat tua dan bersepatu warna krem.
“Ini nganter aku pulang aja Mbak, abis itu silakan ngicipin mainan barumu.” Kata Diah.
Mobil keluar dan menuju ke rumah Diah. Aku yang duduk di belakang hanya diam saja, membayangkan apa yang nanti akan aku alami. Sudah gak sabar nich…
“Tunggu aku sebentar ya…” Kata Diah sambil keluar dari mobil sesampainya di rumahnya.
“Kok diem aja Mil? Grogi, takut atau mungkin kamu belum bisa ngobrol sama aku karena belum begitu kenal?” tanya Vivi sepeninggal Diah.
“Nggak papa kok. Rada grogi sich.”
“Tenang aja, aku gak nggigit. Kalau mungkin kamu bertanya-tanya tipe seperti apa aku, aku ini hampir setipe dengan Diah, mungkin agak keras sedikit. Tapi tenang aja aku nggak mungkin nyiksa kamu sampe berdarah-darah gitu.”
Terlihat Diah keluar dari rumahnya. Diserahkannya satu tas kepada Vivi.
“Itu sudah semua. Termasuk yang panjang milikmu dulu itu lho. Sana berangkat, sudah gak sabar kan?”
Vivi hanya tersenyum
Aku pamitan kepada Diah setelah sebelumnya pindah duduk di depan, di samping Vivi. Aku melihat tas yang diberikan Diah. “Itu kan tas yang isinya ‘alat-alat permainan’ milik Diah?” Kataku dalam hati.
Mobil kembali berjalan. Aku tidak tahu dimana Vivi menginap karena dari tadi dia tidak menyebutkannya. Mobil kembali menuju ke dalam kota. Jam menunjukkan pukul delapan lewat sedikit. Beberapa saat kemudian hotel masuk ke pelataran parkir sebuah hotel berbintang lima di jalan yang terkenal di Jogja.
“Wow… Nginepnya disini tho?” Kataku lagi dalam hati.
“Yuk… Sudah nyampe.” Kata Vivi kepadaku sambil keluar dari mobil. “Jangan lupa tasnya dibawa.”
Aku ikut keluar dari mobil sambil membawa tas milik Diah. Aku ikuti langkah Vivi dan sekarang kita sudah ada di lobby hotel. Masuk lift dan kita sampai di lantai paling atas.
“Yuk, masuk. Kamu mau minum apa ambil aja di kulkas.”
Aku masuk ke kamar yang menurutku amat sangat megah. Entah berapa tarif kamar ini. Aku melangkah sambil masih terkagum-kagum.
“Ooii, jangan bengong gitu. Tenang aja, nanti kamu akan biasa disini. Kan waktu kita bersama masih 2 malam.” Kata Vivi lagi.
Aku duduk di sofa masih sambil memandang sekelilingku. Luas sekali ukuran kamar ini. Ternyata aku duduk di ruang tamu kamar ini. Di ruang sebelahnya aku bisa memandang meja makan. Aku mencari-cari dimana tempat tidur yang tidak terlihat. Hanya ada tangga memutar di dekat ruang makan. Vivi terlihat keluar dari ruang makan sambil membawa 2 kaleng minuman ringan.
“Gimana? Enak gak kelihatannya?”
“Iya… Bagus banget. Cuma tempat tidurnya dimana Mbak?” Tanyaku.
Vivi tersenyum. “Ruang tidurnya ya diatas. Lewat tangga itu.”
Gilaaa, kamar hotel ada lantai duanya!
“Mau liat kamarnya?” Vivi berdiri dan mengajakku naik ke atas.
Sesampainya di atas aku melihat tempat tidur yang tidak kalah megahnya dengan perabotan di bawah. Sebuah tempat tidur king size dengan model ranjang klasik, ada 4 tiang kayu yang menjulang di tiap sudutnya dan di tiap tiang itu ada kain yang menjuntai, terikat di tiangnya. Sepertinya fungsi kain itu untuk menutupi tempat tidur dan memberikan kesan romantis kamar. Seluruh tempat tidur tertutup bed cover berwarna pink polos. Ada jendela besar yang kordennya tertutup separuh. Aku melangkah ke jendela dan melihat pemandangan kota Jogja di malam hari.
“Aku tinggal mandi dulu ya. Kalau mau keliling-keliling kamar dulu lho, hehehe.” Kata Vivi. Sama dengan Diah yang tidak pernah mau mandi bareng, beda dengan Susan atau Novi yang pasti mandi plus. Tau artinya kan?
Aku duduk di ranjang yang tidak kalah empuknya dengan sofa di bawah. Aku mengelus bed cover yang halus sekali kainnya, dari satin. Kain penutup berwarna putih motif bunga-bunga terbuat dari satin juga. Aku kemudian menghidupkan TV yang ada di depan ranjang, menunggu Vivi selesai mandi.
“Gantian sana mandi, biar bersih dan wangi.” Vivi keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan bathrobe. Make up sudah hilang dari wajahnya tapi dia tetap terlihat cantik. Kakinya yang jenjang juga sekarang terlihat karena bathrobe yang digunakan panjangnya hanya diatas lutut.
Akupun kemudian mandi, membersihkan diri. Selesai mandi aku mengenakan bathrobe seperti yang dipakai oleh Vivi. Keluar dari kamar kulihat Vivi sedang duduk di lantai hotel yang semuanya dilapisi karpet. Dia sedang membongkar tas milik Diah. Isinya barang-barang yang sudah aku kenal dan sudah aku coba semuanya, kecuali satu yaitu gulungan tali yang kalau dilihat sangat panjang.
“Sudah selesai Mil? Seger gak?”
“Iya Mbak.”
“Sini duduk, temeni aku.”
Aku duduk di sebelah Vivi.
“Kamu sukanya diikat model seperti apa Mil?”
“Terserah deh, pokoknya yang membuat aku dalam posisi tidak berdaya. Selain itu aku juga suka dijadiin mumi.”
“Oya? Wah, menarik tuch untuk dicoba. Dulu Diah gak mau kalau digituin lho.”
“Masak sich? Tempo hari dia dijadiin mumi lho.”
“Emang kamu pake apa kalo main mumi-mumian gitu?”
“Aku digulung pake selimut atau bed cover Mbak.”
“Ooo. Ya coba dech besok dicoba.”
Vivi sedang sibuk menguraikan tali panjang tadi.
“Sini say, ta tutup dulu matamu.” Kata Vivi kepadaku sambil mengambil satu kain panjang di tas Diah.
Aku diam saja ditutup matanya.. rasa tidak berdaya itu mulai menghampiri diriku
Kemudian Vivi menyuruhku untuk berdiri dan menanggalkan bathrobe yang aku kenakan.
“Tubuh kamu mungil tapi proporsional. Bikin aku tambah gemes aja.”
Aku diam saja. Jantungku sekarang mulai dag dig dug.
Aku merasakan tanganku ditarik ke belakang, dijadikan satu di punggung. Posisinya mirip kalau kamu menyilangkan tangan, berbentuk X hanya saja ini di pinggang. Tanganku sebenarnya agak sakit karena tertekuk, tapi aku diam saja. Kan rasa sakit dan rasa nikmat itu tipis sekali perbedaannya?
Vivi mulai sibuk mengikat tanganku ke belakang, kemudian melingkarkan tali di dadaku dan mengencangkannya. Dadaku terjepit yang membuatnya menjadi tegang. Entah berapa kali dia melingkarkan tali itu di dada atau di tanganku. Awalnya aku merasakan ikatan tidak begitu erat tapi karena dilakukan berkali-kali akhirnya membuatku tidak bisa menggerakkan tanganku sama sekali. Ikatan teman-temanku tidak pernah seerat ini rasanya.
“Gimana Mil? Nikmat gak?”
“Lumayan,...” sahutku mengganggukkan kepala.
Ternyata Vivi belum selesai dengan ikatannya. Dia kembali melingkarkan tali di dadaku, menyimpulnya tepat di antara buah dadaku, kemudian menariknya ke bawah.
“Aahh!”
Aku yang tidak dapat melihat apapun sangat terkejut ketika tali itu dilewatkan di selangkanganku dan ditarik ke belakang. Ada rasa nikmat yang aneh. Ujung tali kemudian diikatkan ke tanganku. Tambah dag dig dug aku dalam posisi seperti ini.
“Buka mulutmu Mil, selebar yang kamu bisa ya.”
“Aaaaaa.......!” aku membuka mulutku lebar-lebar, seperti yang kulakukan apabila Diah atau teman lainnya akan memasukkan celana dalam ke dalam mulutku. Tiba-tiba ada sesuatu yang dimasukkan ke mulutku. Dari kesimpulanku barang ini berbentuk bulat dan bahannya dari plastik atau karet. Ada semacam di kedua ujungnya yang menahannya supaya tidak keluar dari mulut. Pengekang itu diikatkan ke belakang kepalaku.
“Gimana sekarang rasanya Mil?”
“Aaammpphhhhh!” Hanya itu suara yang bisa keluar dari mulutku. Mulutku terbuka lebar tapi tidak dapat berbicara karena lidahku tertahan oleh bola yang ada di mulutku sekarang ini.
Silvi menuntunku beberapa langkah kemudian membuka mataku. Aku ternyata berdiri didepan kaca besar. Aku melihat diriku sekarang ini dalam keadaan terikat, benar-benar terikat. Aku katakan benar-benar terikat karena tali yang ada di badanku membuatku tidak bisa bergerak sama sekali. Dadaku membusung dan menegang. Aku tidak percaya aku diikat seperti ini karena selama ini ikatan model seperti yang aku alami saat ini hanya kulihat di internet, khususnya dari situs-situs Jepang, kalau tidak salah namanya Shibari. Dan di mulutku terpasang apa yang disebut ball gag. Melihat keadaanku sekarang ini aku menjadi tambah terangsang, libidoku meningkat. Yang tidak bisa ku tahan adalah air liur yang terus keluar dari mulutku yang menganga, menetes melalui lubang-lubang kecil yang ada di bola karet di mulutku.
Vivi mendorongku yang membuatku jatuh di atas tempat tidur.
“Gak ada ciuman bibir malam ini Say. Yang ada hanya penderitaan.”
Dia kemudian mengambil seutas tali dan mengikat kaki kananku di tiang ranjang. Sedangkan kaki kiriku ditekuk kemudian diikat sehingga membuat telapak kakiku menyentuh pantat.
“Gimana Say, sudah merasa tidak berdaya?”
Aku menggelengkan kepala, menantang mistress Silvi.
Dia tersenyum dan mengambil sesuatu dari tas Diah. Aku melihat di tangannya ada penjepit jemuran. Aku membelalakkan mata dan mengelengkan kepalaku karena aku sepertinya tahu apa yang akan dilakukannya dengan penjepit jemuran itu.
Vivi hanya tersenyum dan mulai mendekatiku kemudian tanpa komando dia menjepit puting susuku dengan jepitan tadi, sebelah kiri kemudian sebelah kanan. Aku berteriak karena terkejut dengan rasa yang aku alami sekarang, campuran rasa nikmat dan rasa sakit. Teriakanku kelihatannya malah membuat Vivi makin kesetanan. Masih ada beberapa penjepit yang kemudian dijepitkannya dengan membabi buta ke payudaraku. Jeritanku makin menjadi-jadi karenanya. Kakiku mengejang karena rasa sakit ini. Tidak terasa ada air mata yang keluar dari mataku.
Vivi sekarang sibuk menjilati kakiku yang terikat di tiang. Campur aduk, itu kata yang tepat dengan rasa yang aku rasakan sekarang ini. Ada rasa sakit, rasa nikmat dan ada rasa geli. Jilatan dan ciumannya sekarang bersarang di selangkanganku, di liang kenikmatanku. Tangannya sekarang memegang dildo, entah kapan dia mengambilnya. Setelah puas menjilati vaginaku, dia memasukkan dildo itu ke vaginaku, mengaturnya pada keluatan maksimal dan menggoyang-goyangkannya. Makin kelojotan aku dibuatnya. Sambil terus memainkan dildo itu, memasukkan dan mengeluarkan dildo di vaginaku, seperti pada tahap penetrasi, dia merubah posisinya menjadi duduk. Dia sekarang duduk di sampingku, memandangi wajahku yang tidak karuan karena siksaannya. Sambil terus tersenyum dia terus memainkan dildo itu. Vaginaku lama-lama terasa panas, entah sudah berapa kali aku ‘dapat’. Aku berusaha mengatakan ‘sudah, cukup’ tapi tidak bisa karena ada ballgag yang menghalangi mulutku mengeluarkan kata-kata yang jelas untuk didengarkan, hanya erangan-erangan saja yang keluar. Aku juga berusaha merapatkan kakiku biar tidak bisa dimasuki dildo, tapi ditahan oleh tangan Vivi; malah kemudian kakiku yang tertekuk itu diikat juga ke tiang tempat tidur sehingga mau tidak mau kakiku membuka lebar.
Sekarang Vivi mulai melepas penjepit di dadaku satu persatu sambil tetap memainkan dildonya. Setiap kali penjepit dilepaskan, ada rasa sakit yang luar biasa yang aku rasakan di bagian yang tadi terjepit yang disebabkan karena darah yang kembali mengalir di daerah itu. Hanya erangan sebagai tanda protes yang bisa aku keluarkan. Entah berapa lama Vivi tetap saja memainkan dildo, menyiksaku.
Aku sudah tidak ingat ketika dia mulai melepaskan ikatan di kakiku dan mengganti ballgag itu dengan lakban. Ketika sadar posisiku sudah tiduran di sampingnya di dalam selimut, tangan tetap terikat. Kain penutup tempat tidur sudah diturunkan sehingga aku tidak bisa melihat jelas keluar. Suasana remang-remang. Silvi yang juga ada di dalam selimut membelai-belai rambutku.
“Kamu benar-benar luar biasa seperti apa yang dikatakan Diah. Kamu bisa menikmatinya ya?”
Aku hanya diam. Pandangan mataku mengatakan iya.
Vivi mencium pipi kiri dan kananku. “Besok masih ada siksaan lain, masih mau kan?”
Aku terlalu lelah untuk menjawab, terlalu lelah juga untuk membuka mataku. Kupejamkan mataku. Samar-samar masih kurasakan belaian di kepalaku sebelum aku benar-benar terlelap.

Pagi itu, Silvi membuka matanya. Diregangkan tubuhnya. Dilihatnya teman tidur di sebelahnya, aku, masih di sampingnya masih dalam posisi yang sama, tangan terikat dan mulutnya tertutup. Ditariknya selimut untuk menutupi dadaku yang terbuka. Dia kemudian beranjak keluar dari selimut, berdiri dan mengenakan bathrobe yang tegeletak di lantai. Membuka korden jendela, membiarkan cahaya matahari masuk ke kamar. Silvi melangkah turun ke lantai bawah, menuju meja kerja. Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikannya untuk meeting nanti siang.
“House Keeping.....”
Silvi mendengar ketukan di pintu kamarnya. Dia beranjak dan membukakan pintu. Tiap pagi merupakan pelayanan dari hotel untuk merapikan kamar. Seorang wanita dengan kisaran usia 20 tahun masuk dan memberikan salam kepada Silvi. Setelah itu dia mulai merapikan lantai dasar kamar. Silvi berhenti dari pekerjaannya, sibuk memandangi petugas room attendant.
“Manis juga anak ini. Bisa dicoba nich…” Katanya dalam hati. Ada satu ide yang keluar di benaknya.
“Lantai dasar sudah selesai Bu. Ruang tidurnya apa perlu saya bereskan juga?” Tanya wanita petugas hotel itu kepada Silvi.
“Oya, ruang tidur dibereskan juga, terutama tempat tidurnya tolong dibereskan ya.” Jawab Silvi.
Wanita itu melangkah menaiki tangga diikuti Silvi di belakangnya.
Sampai di atas, wanita petugas mulai membereskan ruangan. Dia membuka semua korden penutup jendela sehingga cahaya matahari benar-benar menyinari kamar. Dia masuk ke kamar mandi dan mengambil handuk-handuk yang sudah dipakai dan menggantinya dengan yang masih terlipat rapi.
Aku terbangun dari tidur ketika mendengar seperti suara jendela dibuka. Ada angin sepoi-sepoi meniup kain penutup ranjang. Aku merasakan tanganku seperti mati rasa, posisi terikat ke belakang. Sakit rasanya. “Berarti aku tidur semalaman dengan posisi terikat begini?” Tanyaku pada diriku sendiri.
Aku melihat dari balik kain penutup ada bayangan manusia yang sedang berjalan mondar-mandir. Suara langkahnya teredam oleh karpet yang melapisi seluruh lantai kamar.
“Kayaknya bukan Vivi. Siapa ya dia?” Kataku dalam hati sambil terus mengamati gerakan bayangan itu. Kain penutup tempat tidur ini memang membuatku tidak bisa melihat dengan jelas apa atau siapa di baliknya.
Lalu aku melihat satu bayangan lagi melintasi tempat tidur, menuju ke arah jendela, kelihatannya keluar menuju balkon kamar. Aku menduga bayangan yang ini adalah Silvi, dilihat dari postur tubuhnya yang tinggi ramping.
“Jangan lupa rapiin tempat tidurnya lho.” Kudengar suara Silvi.
“Iya Bu.” Terdengar suara wanita, suara yang belum pernah aku dengar.
“Gila, apa-apaan nich! Silvi gila! Mosok orang itu disuruh merapikan tempat tidur padahal ada aku disini dalam keadaan terikat kayak begini.”
Aku menjadi panik. Tapi untuk bergerak aku tidak berani. Akhirnya aku memutuskan untuk pasrah saja menerima keadaan.
Lalu kulihat bayangan wanita asing itu mendekat ke tempat tidur, tangannya menarik kain penutup untuk diikatkan kembali ke tiang.
“Ma… Maaf.” Katanya terbata-bata ketika dia melihatku, tepatnya dia melihat kepalaku karena tubuhku dari leher sampai kaki tertutup semua dengan selimut. Dia membelalakkan matanya melihat lakban yang menutupi mulutku.
“Mmmpphhh!” Hanya itu suara yang aku keluarkan. Aku merasa sangat malu tapi tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain pasrah.
“Ada apa Mbak? Kok berhenti merapikan tempat tidurnya?” Terdengar suara Silvi dari arah balkon.
“Nggg…. Nggak Bu. Maaf Bu kalau saya melihat teman Ibu dalam keadaan seperti ini. Sekali lagi saya minta maaf.” Jawab wanita itu dengan terbata-bata.
“Memangnya kenapa?”
Wanita itu tidak menjawab, hanya menundukkan kepalanya. Saat ini aku merasa sangat malu dengan wanita asing yang ada di hadapanku dan marah kepada Silvi.
“Kok diem aja? Pingin liat yang lebih?” Kata Silvi lagi, sekarang dia sudah tampak di samping tempat tidur, berdiri di sebelah wanita asing itu. Tiba-tiba selimut dan bed cover yang menutupi tubuhku ditariknya kuat-kuat, membuat seluruh tubuh telanjangku yang terikat tampak jelas.
“Mmmppphhh!!!!” Aku mengeluarkan suara keras-keras untuk memprotes tindakan Silvi tadi.
Wanita tadi membelalakkan mata lagi dan mulutnya menganga. Di depannya ada pemandangan wanita yang terkapar dengan tangan terikat kebelakang serta mulut yang di sumpal lakban. Silvi yang ada di sebelahnya mulai memegang tangan wanita itu.
“Nama kamu siapa?”
“Na… Nama saya Maya Bu.”
“Baiklah Maya. Gimana komentar kamu dengan pemandangan di depanmu ini?” Tanya Silvi. Tidak diperdulikannya sama sekali protesku.
“Saya nggak tau Bu. Saya nggak tau.”
“Ayolah… Jujur saja. Suka tidak kamu lihat wanita seperti gini?”
Maya tidak menjawab.
Aku berusaha membalikkan tubuhku, berusaha menutupi tubuhku tidak berhasil...
“Halo Maya, kok diem saja sich? Nggak suka ya dengan wanita ini?”
“Nggak Bu.”
“Kalo begitu berarti kamu suka ya wanita ini?”
Dia kembali tidak menjawab.
“Mau gak kamu raba payudaranya? Atau mungkin pahanya?”
Aku membelalakkan mata. Aku sangat malu diperlakukan seperti ini. Maya tetap terdiam.
Silvi mulai membimbing Maya menaiki ranjang dan mendekatiku. Tangan Maya dipegangnya dan diarahkannya ke payudaraku, karena aku berhasil membalikkan tubuh. Sedikit terpaksa Maya mulai memegang buah dadaku. Aku hanya mendesah sebagai tanda protes. Silvi masih memegangi tangan Maya yang sedang dipaksanya membelai-belai bukan hanya dadaku tapi sudah berpindah ke arah perutku.
“Jangan Bu. Saya takut Bu.” Kata Maya.
“Takut atau malu?”
Maya menggelengkan kepalanya. Yang aneh dia tidak benar-benar berusaha menarik tangannya. Makin lama kurasakan juga kalau belaian tangan Maya ini bukan belaian yang dipaksakan. Maya mulai terhanyut. Wajahnya sudah bukan wajah ketakutan lagi, tapi wajah orang yang sedang horny. Saat akhirnya tangan Silvi lepas ternyata Maya tetap membelai-belai tubuhku, penuh nafsu. Silvi tersenyum melihat keadaan ini. Aku akhirnya juga menikmati sentuhan-sentuhan wanita ini.
“Pengen yang lebih selain membelai Maya?”
Maya yang nafasnya mulai tidak teratur menganggukkan kepalanya.
“Silakan kamu apa-apain dia. Lakbannya boleh kamu buka tapi setelah selesai tolong mulutnya dilakban lagi ya. Aku tinggal dulu ke bawah ya.” Kata Silvi sambil turun dari tempat tidur, menurunkan kembali kain penutup.
Kini tinggal aku berdua dengan Maya di atas tempat tidur. Dia segera melepaskan baju seragam kerjanya demikian juga dengan bra warna hitamnya. Rok pendek yang dipakai mulai dilepasnya juga menyisakan celana dalam warna merah maroon yang dipakainya berkaus kaki putih dan masih bersepatu pendek dengan tali melintang diatasnya. Maya lalu menindih tubuhku dan mulai menciumi seluruh wajahku. Dijilatinya telingaku, leherku dan turun ke daerah dada. Aku hanya mengerang-erang merasakan kenikmatan ini.
Awalnya aku merasa jijik untuk berhubungan dengan wanita yang tidak aku kenal ini. Namun serangan-serangannya yang agresif membuat pertahananku runtuh. Sakit di tanganku sudah tidak kurasakan lagi berganti dengan kenikmatan yang semalaman sudah kurasakan.
Kurasakan lakban di mulutku ditarik dengan kasar, kemudian bibirku sudah menyatu dengan bibirnya. Kewalahan aku untuk mengimbangi ciumannya yang benar-benar ganas. Lidahnya masuk kedalam mulutku, bertemu dengan lidahku. Cukup lama kita bercumbu dan tiba-tiba dia menarik kepalanya dan mulai menjilati kakiku. Sekarang desahan yang keluar dari mulutku cukup keras untuk didengar. Maya masih menjilati kakiku dengan penuh perasaan, seperti sedang menjilati es lilin.
Dia kemudian duduk di atas perutku. “Jilati punyaku ya Say…”
Dia merubah posisinya dan kita melakukan gaya 69. Sudah cukup lama aku tidak menjilati vagina seperti saat ini. Kita berdua sambil terus mendesah tetap menjilati vagina lawan main. Tiba-tiba tubuh Maya menegang, dia menghentikan jilatannya dan desahan yang keluar nadanya berbeda, sepertinya dia akan mencapai puncak. Aku menyedot lubang kenikmatannya dengan penuh semangat dan benar saja tiba-tiba tubuh Maya melemas dan menindihi tubuhku.
Beberapa saat kemudian Maya bangkit dan turun dari tempat tidur. Dia mencari pakaiannya yang berserakan di lantai dan mengenakannya. Dia merapikan rambutnya yang acak-acakan dan mulai merapikan tempat tidur, diikatkannya kain-kain penutup ranjang ke tiang.
Dilihatnya gulungan lakban di meja samping, menyobeknya dan menempelkannya di mulutku.
“Seharusnya kamu tadi diginiin, kan aku jadi nggak bisa liat kamu.” Katanya sambil menutupkan selimut ke seluruh tubuhku sampai kepala. Setelah itu dia juga menutupkan bed cover di atas tubuhku sampai ke ujung kepala. Aku tidak bisa melihat apa-apa lagi.
“Makasih yaa sudah ngasih aku.... Aku kerja dulu ya.” Kata Maya kemudian dan aku mendengar langkahnya menuruni tangga.

“Gimana Maya? Sudah puas?” Tanya Silvi ketika dia melihat Maya menuruni tangga.
Maya tersenyum malu dan menganggukkan kepalanya.
“Ini ada sedikit tips buat kamu.” Kata Silvi lagi sambil memberikan selembar uang kertas kepada Maya.
“Terimakasih Bu. Terimakasih buat semuanya. Selamat pagi. Kalau memerlukan sesuatu silakan panggil saya.”
Maya pamit dan keluar dari kamar.
Aku masih dalam posisi tiduran di atas tempat tidur. Aku benar-benar shock dengan kejadian barusan. Nikmat sich tapi ada rasa aneh karena melakukan hubungan dengan orang yang belum aku kenal.
“Mungkin ini resiko jadi escort.” Pikirku dalam hati.
Kudengar suara langkah Silvi mendekati diriku. Dibukanya selimut yang menutupi seluruh tubuhku. Sambil tersenyum manis dia melepaskan lakban di mulutku.
“Gimana Say, enak gak?”
Aku diam saja. Masih ada rasa dongkol di hatiku ats perlakuannya kepadaku tadi.
“Jangan marah dong… Sensasinya beda kan?”
Aku masih diam saja.
Dia kemudian mencium pipiku kemudian mulai melumat bibirku. Awalnya aku berusaha menolak tapi kemudian kupikir karena dia adalah ‘penyewaku’ maka aku harus memuaskannya. Aku membalas ciumannya. Benar-benar pagi yang gila! Ternyata dia hanya mencumbuku, hanya menciumiku dan mengulum puting susuku saja. Setelah itu dia berhenti lalu melepaskan ikatanku. Butuh waktu agak lama untuk melepaskan ikatan di tubuhku. Tanganku yang terikat sepanjang malam terasa begitu lega. Aku melihat ada bilur-bilur di badanku bekas ikatan.
“Sana mandi dulu. Berendam pake air anget ya biar aliran darahnya lancar lagi.” Kata Silvi kemudian. “Aku tunggu di bawah.”
Aku masuk ke kamar mandi dan berendam dengan air hangat di bathub. Sambil berendam aku memikirkan berbagai kemungkinan siksaan atau kenikmatan yang mungkin akan aku alami lagi. Masih ada 2 hari 1 malam menjadi peliharaan Silvi. Benar kata dia kalau style dia lebih ‘keras’ daripada Diah. Memang dia bisa memberikan kepuasan kepadaku tapi disertai dengan rasa sakit.
“Ayo Mil, sarapan dulu.” Kata Vivi yang melihatku turun dari tangga.
Aku tersenyum dan mendekat ke meja makan, duduk di hadapan Silvi. Aku sudah membulatkan tekad untuk tetap bertahan menjadi budak Silvi, itung-itung untuk menambah pengalaman.
“Gimana semalam?”
“Enak Mbak. Terus terang semalam itu pengalaman baru buat saya.”
“Suka digituin?”
“Iya Mbak.”
Aku melahap menu sarapan yang ada di hadapanku. Perutku terasa lapar sekali, mungkin karena ‘kerja keras’ semalam dan tadi pagi.
“Aku ntar jam setengah sepuluh ada meeting, jadi aku tinggal dulu ya. Mungkin sekitar jam enam baru balik. Gak papa kan kamu aku tinggal disini sendirian?”
“Iya Mbak. Lagian disini enak kok, mau ngapain aja di kamar ini sudah tersedia. Mau tidur, mau liat TV, mau berendam bisa.”
Silvi tersenyum dan melanjutkan sarapannya.
Selesai sarapan aku menyibukkan diri membaca surat kabar. Silvi duduk lagi di meja kerjanya membereskan kertas-kertas kerjanya.
“Mila, ke atas sebentar yuk…” Kata Silvi kemudian. Dia melangkah ke tangga, naik ke ruang tidur.
Aku melipat surat kabar dan ikut naik ke atas. “Apa lagi nich?” Pikirku.
Di atas Silvi terlihat sedang memilih-milih baju yang akan dikenakannya untuk menghadiri meeting. Aku duduk di sofa yang ada di samping tempat tidur sambil melihat pemandangan luar lewat jendela.
“Sini Say…” Terdengar suara Silvi.
Aku melihat ada tali di tangannya, tali nilon berwarna putih. “Apa-apaan nich?” Pikirku.
Aku berdiri dan mendekati Silvi.
“Balikin badan. Tangannya letakin di belakang.”
Aku mengikuti apa yang diperintahkannya menyilangkan pergelangan tanganku di belakang pinggang dan merasakan tanganku mulai diikat dengan tali yang dibawa oleh Silvi. Setelah tanganku terikat Silvi mengambil beberapa lembar scarf dari almari pakaian. Dilipatnya scarf pertama menjadi kecil memanjang lalu dia membuat simpul tepat di tengahnya. Dia menyuruhku membuka mulut dan mengikat scarf itu di mulutku. Simpulnya masuk kedalam mulutku, menyumpal mulutku. Ikatan yang erat membuat otomatis aku menggigit scarf itu. Kemudian ada scarf lagi yang diikatkan ke kepala, hanya sekarang menutupi mulut dan bibirku. Lapisan ketiga scarf yang digunakan menutupi semua scarf yang tadi ditambah lagi sekarang menutupi hidungku. Aku sedikit kesulitan bernafas tapi karena kain scarf itu tipis jadi masih bernafas melaluinya. Dan scarf terakhir diikatkan Silvi menutupi seluruh kepalaku, membungkus kepalaku. Sekarang aku hanya bisa melihat warna hijau seperti warna scarf yang dipakai untuk membungkus kepalaku. Silvi kemudian menyuruhku untuk telungkupan di tempat tidur. Dia melebarkan kakiku dan memasukkan sesuatu kedalam vaginaku, dari bentuknya benda ini adalah dildo. Lalu ada sesuatu yang ditempelkan di pahaku dengan menggunakan lakban, yang ternyata adalah controller dildo itu. Setelah itu Silvi mengikat kedua kakiku menjadi satu di pergelangan kaki dan lutut. Erat sekali rasanya. Dildo itu tidak bisa keluar dari vaginaku karena celana dalamku menahannya untuk keluar. Silvi kemudian menekuk kakiku dan mengikatnya dengan seutas tali lagi, menjadikan satu dengan tanganku, model hogtied istilahnya. Ikatan model seperti ini pernah aku praktekkan bareng Novi hanya bedanya ikatan yang dilakukan Silvi lebih kencang, kaki dan tanganku benar-benar menjadi satu. Aku mengerang karena tubuhku yang tertekuk tapi hanya dengusan saja yang bisa keluar dari mulutku.
“Jangan terlalu banyak gerak ya Mila, ntar bisa jatuh dari ranjang lho. Mungkin sekarang terasa agak sakit tapi lama-lama bisa terasa nikmat kok. Ok dech, aku tinggal meeting dulu ya.” Kata Vivi beberapa saat kemudian, setelah dia selesai berdandan dan berganti baju.
Silvi mendekatiku dan menyalakan dildo di vaginaku sehingga membuatku terlonjak dan menggelepar-gelepar. Posisi ikatanku membuat tubuhku tidak bisa banyak bergerak. Terdengar tawa Silvi melihat reaksi tubuhku saat dildo dinyalakan.
“Berharap saja baterainya cepat habis Mil. Aku tinggal dulu ya.”
Silvi keluar meninggalkan kamarnya tak lupa tanda Do Not Disturb sudah digantungnya pada gantungan pintu di luar sejak tadi kami datang. Sudah tidak aku perdulikan suara Silvi, terlalu sibuk merasakan dildo yang bergetar di lubang kenikmatanku. Aku berusaha mengeluarkan dildo itu dari vagina, tapi hanya sia-sia saja. Aku cuma pasrah saja dan berharap batu baterai dildo bisa cepat habis dayanya. Aku menarik napas panjang, sedikit sulit karena hidungku yang tertutup scarf.
“Kirain aku bisa nyantai menikmati tinggal di hotel bagus sambil nunggu Mbak Vivi pulang meeting, ternyata malah disiksa lagi.” gumamku sambil terus merasakan kenikmatan dan siksaan yang sekarang aku alami.

Sore itu sekitar jam 4.00 petugas room maid yang bernama Maya yang tadi pagi membersihkan kamar, datang lagi tidak lama kemudian menyusul Silvi yang kebetulan ke kamar disela-sela break di meetingnya.
Silvi terkejut melihat pintu kamarnya agak terbuka
“Lho kamu,.... ngapain di sini?” sapa Silvi
“Ini... bu, mau mengecek towel dan minibar.....” jawabMaya dengan sedikit gugup
“Lho, kamu nggak lihat yaa.... khan saya pasang Do Not Disturb...., kamu melanggar kode etik perhotelan, kamu saya hukum yach... mau pilih mana, aku komplain ke manajemen atau aku hukum...?” ancam Silvi
Sayup sayup terdengar nada marah di kamar itu rupanya Mbak Vivi sedang berada di kamar
“Jangan bu,...jangan laporkan ke manajemen bu.....” Maya memohon dengan sangat.
Dengan gerak cepat, mulut Maya disumpal lakban lalu kedua tangannya diikat erat kebelakang, Maya didudukkan di kursi tamu, dan kakinya pun diikat jadi satu, mata Maya pun ditutup dengan scarf.
“Sementara ini kamu menjadi tawanan saya, nanti akan kuberi kenikmatan setelah aku selesai meeting” ujar Silvi. Mayapun terikat hogtied karena ikatan di tangannya terhubung sangat pendek dengan kakinya di baringkan di sofa di lantai bawah
Demikian Silvi kembali ke ruang rapat di lantai 2 hotel itu dengan meninggalkan 2 perempuan terkapar terikat tak berdaya di kamar tidurnya
Aku membuka mataku. Hanya warna hijau yang nampak di mataku. Ternyata karena terlalu lelahnya aku tertidur dalam posisi hogtied. Vibrator di vaginaku sudah berhenti bergetar. Entah berapa lama aku tertidur dan berapa lama vibrator itu begetar di lubang kenikmatanku. Tangan dan kakiku terasa tegang, sedikit sakit. Aku juga harus sedikit berusaha bernafas karena scarf yang menutupi hidungku. Bau harum masih kurasakan melalui scarf itu. Aku menggerak-gerakkan tangan dan kakiku, berusaha melepaskan diri. Bukannya aku tidak suka diikat, tapi posisi ini sungguh menyiksaku apalagi dilakukan dalam waktu yang tidak sebentar. Kelihatannya usahaku ini hanya sia-sia saja karena ikatan di tangan dan kakiku tidak mengendur sama sekali. Aku hanya bisa merubah posisiku yang tadi tengkurap menjadi tidur menyamping. Iseng-iseng aku berteriak, membayangkan adegan aku ditawan, ternyata hanya lenguhan saja yang keluar dari mulutku. Aku masih iseng-iseng mencoba melepaskan diri, harapanku paling tidak ikatan yang menyatukan tangan dan kakiku bisa lepas jadi rada lega. Aku hanya bisa menerka-nerka diluar sana sudah malam atau masih siang atau sore. Agak lama aku asyik meronta-ronta berusaha melepaskan diri ketika aku mendengar pintu di bawah dibuka.
“Akhirnya datang juga.” Kataku dalam hati.
Aku lalu diam saja tidak meronta-ronta lagi.
“Eh, sayangku nakal ya. Tadi kan aku tinggal posisinya nggak begini.” Terdengar suara Vivi.
Dia mendekatiku dan tiba-tiba aku rasakan telapak kakiku digelitiknya. Kontan aku meronta-ronta berusaha menjauh darinya sambil berteriak-teriak tertahan. Silvi makin bersemangat menggelitikku, sekarang dia naik ke kakiku dan kemudian pinggangku. Rasa geliku yang aku rasakan makin menjadi sampai puncaknya gak terasa aku pipis di celana.
“Lho??? Kok terus pipis???” Hahahaha!!!” Kata Vivi melihat celana dalamku yang basah. Dia menghentikan gelitikannya karena tertawa melihatku ngompol.
Dia kemudian melepaskan ikatan yang menyatukan tangan dan kakiku. Semua scarf belum dilepaskannya dari kepalaku. Kemudian dia sibuk membuka-buka lemari, mencari sesuatu.
“Wah, gak ada cadangan sprei sama selimut nich. Kamu sich pake ngompol segala, jadi kamu harus dihukum.”
Silvi kemudian menyuruhku berdiri dari tempat tidur, kakiku masih terikat rapat. Dia kemudian menjauh dari aku dan menyuruhku untuk mendekatinya.
“Ayo kesini. Loncat-loncat gitu.”
Aku diam sejenak lalu mulai meloncat-loncat seperti yang diperintahkannya. Menurut perkiraanku aku ada di depan TV.
“Sekarang kamu duduk.”
Kuturuti perintahnya. Lalu aku mendengar suara pintu lemari di bawah TV dibuka. Kalau tidak salah lemari itu ukurannya satu meteran gitu. Tingginya juga kira-kira segitu. Aku merasakan Silvi mengangkat tubuhku sambil mendorong-dorong, berusaha memasukkanku ke dalam lemari. Aku berusaha melawan sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku takut berada di ruang sempit.
“Sudah tho, jangan melawan. Ini akibat dari kesalahanmu.” Kata Silvi sambil terus mendorongku yang sudah separuhnya masuk kedalam lemari.
“Siapa yang salah? Orang kebelet pipis malah digelitikin.” Kataku dalam hati. Akhirnya aku pasrah saja digituin, lagian saat ini kan dia majikanku.
Kudengar lemari ditutup dan sekarang makin pengap rasanya suasana di sekelilingku.
“Oya, kurang satu hal lagi.” Kata Silvi lagi sambil membuka pintu lemari. Diraihnya kotak pengatur vibrator yang masih menancap di selangkanganku dan mengganti baterainya. “Pokoknya harus kamu tahan lho, gak boleh ketauan kalo kamu ada didalam lemari. Aku lagi manggil house keeping untuk mengganti sprei sama selimutnya. Kalo sampe ketauan, kamu akan kupermalukan lagi.”
Sekali lagi kudengar suara pintu lemari ditutup. Posisi badanku sekarang ini tidak lebih enak dibanding posisi hogtied tadi. Kakiku tertekuk dan kepalaku menyentuh lutut. Belum lagi vibrator yang kembali beroperasi dan parahnya lagi aku harus menahannya rasa nikmat yang aku rasakan.

Silvi kembali ke ruang tamu di kamarnya, dilihatnya Maya room maid yang tadi disekapnya masih terikat tak berdaya,..
“Maya,... bangun, sini aku lepaskan ikatanmu,... tolong ganti sprei ini,... dan kamu boleh bebas setelah mengganti spreiku” perintah Silvi sambil melepaskan tali-tali yang mengikat Maya.
“mmmmppphhhh......” erang Maya yang terbangun
Maya bangun dan berdiri usai semua ikatan di tangan dan kakinya dilepas... sambil sesekali memegang pergelangan tangannya yang berbekas tali,.... Maya bergegas mengambil sprei baru dari trolley housekeepingnya yang tertinggal di depan kamar saat dia disekap Silvi.
Aku mendengar langkah manusia, kelihatannya housekeeping yang sedang mengganti sprei. Aku makin berusaha untuk diam, tidak menggerakkan tubuhku sama sekali. Kudengar suara dengungan vibrator karena terkurung dalam lemari kecil ini.
Kudengar suara lemari dibuka. Silvi menarik tubuhku keluar dan dibiarkannya tubuhku yang masih lemas terjatuh di atas karpet. Energi tubuhku benar-benar terkuras habis. Dalam posisi telungkup aku merasakan ikatan di kaki dan tanganku dilepaskan oleh Silvi. Aku hanya pasrah saja. Didiamkannya aku beberapa saat, masih dalam keadaan kepala terbungkus scarf. Aku juga rasanya tidak punya tenaga untuk mengurai atau melepas simpul-simpul di kepalaku ini.
“Ayo bangun pemalas! Pindah ke ranjang lagi.” Kudengar lagi suara Silvi membuyarkan lamunanku.
Aku berdiri dengan malas, masih sedikit lemas badanku. Kupegangi pergelangan tanganku kurasakan ada bekas ikatan di pergelangan ini. Aku naik ke atas tempat tidur lalu duduk di atasnya.
“Tidur telentang aja.”
Aku merubah posisi tubuhku, mengikuti perintah Silvi. Tiba-tiba kurasakan kakinya dinaikkan, ditarik mendekati tanganku yang tadi juga ditarik oleh Silvi. Diikatnya tangan kiriku jadi satu dengan kaki kiriku. Hal yang sama juga dilakukan dengan tangan dan kaki kananku. Aku membayangkan posisiku saat ini sepertinya otomatis mengangkangkan kaki, memperlihatkan vagina yang terbuka lebar.
“Wah, posisi yang bagus. Badan kamu walau kecil tapi proporsional jadi diapa-apain mudah.”
Kemudian aku merasakan badanku digeser-geser oleh Silvi sehingga tepat bagian vaginaku berada di ujung tempat tidur dan dia mulai mejilati vaginaku dengan ganas setelah sebelumnya dia menarik celana dalam yang kupakai sampai robek dan melepaskan vibratornya. Sekali lagi aku hanya pasrah menerima entah apa namanya, kenikmatan atau siksaan. Selangkanganku rasanya sudah mati rasa karena dari pagi entah berapa kali aku sudah ‘dapet’. Aku nikmati saja perlakuan Silvi sekarang ini, kadang aku sengaja berteriak-teriak melalui sumpalan scarf di mulutku supaya Silvi tambah bersemangat. Kan sebagai seorang ‘professional’ aku harus menyenangkan atau memuaskan klien kan?
Tidak tahu berapa lama Silvi menjilatiku lalu aku tidak merasakan lagi jilatan di vaginaku. Aku hanya mendengar desahan Silvi dan suara dengungan. Ternyata Silvi sedang memuaskan dirinya sendiri. Dan sekali lagi aku terlelap kelelahan.

Aku terbangun dan masih seperti tadi scarf masih membungkus kepalaku. Hanya saja sekarang tangan dan kakiku sudah dilepaskan dari ikatan. Diam beberapa saat kemudian aku mulai melepas satu demi satu scarf yang melekat di kepalaku. Aku melihat sekelilingku, hanya cahaya dari lampu kecil di samping tempat tidur yang menyala. Entah memang hari sudah gelap atau karena korden jendela yang sudah diturunkan yang menahan cahaya masuk ke kamar. Jam 8.40 malam? Aku melirik ke jam digital disisi tempat tidur, aku bangun, melangkah ke arah balkon untuk mengintip suasana diluar, ternyata memang sudah malam. Aku kemudian duduk di sofa samping tempat tidur, mencari-cari apa saja yang bisa dipakai untuk menutupi tubuhku ternyata tidak kutemukan sama sekali. Aku mau kembenan memakai selimut rasanya terlalu besar dan berat. Hanya kulihat celana dalamku yang sudah berubah menjadi secarik kain karena sudah sobek di depan televisi. Aku duduk melamun di sofa, masih kurasakan selangkanganku terasa agak panas.
“Sudah selesai belum ya siksaannya? Besok aku baru dilepasin dia.” Pikirku.
Di bawah aku mendengar suara televisi yang menyala. Perutku terasa lapar tapi malas untuk turun ke bawah, takut ‘dikerjain’ lagi. Ternyata saat ini sudah mendekati pukul sembilan malam, berarti aku hampir dua belas jam tidak kemasukan makanan ataupun minuman, pantas saja badanku terasa lemas.
Kudengar pintu dibawah dibuka lalu aku mendengar suara beberapa wanita yang berbicara satu sama lain. Sepertinya aku kenal suara itu. Iya betul, itu suara Diah dan Susan. Beberapa saat mereka terdengar asyik mengobrol lalu kudengar langkah-langkah menaiki tangga dan kemudian lampu besar kamar menyala.
“Halo Sari, lagi ngapain kok bengong aja disitu?” Sapa Susan.
Aku hanya tersenyum, sedikit malu rasanya karena hanya aku yang telanjang di kamar ini sedangkan lainnya masih berpakaian lengkap.
“Makan yuk Sar.” Kata Silvi kemudian. “Pasti kamu lapar dan haus kan?”
Aku menganggukkan kepala. “Tapi aku makan pake apa? Aku malu nich telanjang sendirian.”
“Gitu aja gak papa kok. Kan abis kamu makan bisa langsung kita makan. Lagipula makan kan perlu sendok dan mulut, mana perlu baju...” canda Diah yang diikuti tawa lainnya.
Aku ikut tertawa lalu mengikuti mereka menuruni tangga. Di meja makan sudah tersedia banyak lauk yang langsung aku coba semuanya. Aku benar-benar kelaparan.
“Pelan-pelan aja Bu, kalo kurang ntar aku pesenin lagi.” Kata Silvi yang melihatku makan dengan kesetanan.
“Laper banget nich.” Jawabku.
“Mbak Vi sich, dipake terus tapi gak dikasih makan.” Kata Susan.
Selesai makan aku pamit untuk mandi, membersihkan diri. Memang benar berendam di air hangat membuat badan dan pikiran menjadi relaks seperti yang aku rasakan saat ini.
“Kayaknya masih ada acara lagi malem ini dan keliatannya bisa lebih gila dari semalem dan tadi pagi.” kataku setengah harap dalam hati sebelum membuka pintu kamar mandi.
Kubuka pintu kamar mandi dan kulihat Silvi, Diah dan Susan sedang ngobrol di ruang tidur. Diah duduk di lantai sambil melihat televisi dengan tangan terikat kebelakang, sedangkan Susan dan Silvi duduk di sofa. Pintu balkon terbuka sehingga angin segar yang dingin masuk ke ruang tidur. Ketiganya hanya mengenakan lingerie, Susan memakai lingerie warna putih, Diah memakai warna hitam dan Silvi memakai lingerie transparan berwarna merah maroon.
“Sudah seger Tuan Putri?” canda Silvi.
Aku hanya tersenyum. Aku hanya memakai kemben dari handuk karena tidak ada yang lainnya untuk menutupi tubuhku. Kelihatannya semua baju-baju sengaja disembunyikan Silvi entah dimana.
“Duduk sini dong. Ngobrol-ngobrol bareng kita.”
“Ntar, rambutku abis keramas jadi masih basah.”
“Lah, kenapa mandi besar? Kan habis ini kita masih….....” canda Diah sambil mengerlingkan mata kepada Silvi. Keduanya lalu tersenyum.
“Benar dugaanku. Apa lagi nich habis ini?” Kataku dalam hati.
Aku mendekat ke arah pintu balkon sambil mengibas-ngibaskan rambut mengeringkannya. Sekelebat aku melihat sebuah benda terbuat dari besi mengkilap, bentuknya seperti tongkat ada di atas karpet. Ada juga beberapa batang lilin didekatnya.
“Bagi rokoknya ya. Seharian belum kena rokok nich.” Kataku sambil mengambil rokok di hadapan Silvi. Oya, belum aku kasih tau ya kalau aku merokok? Awalnya biar disebut anak gaul, lama-lama aku malah jadi perokok beneran, hehehe.
Aku menyalakan rokok dan kembali berdiri di depan pintu balkon, merasakan angin sepoi-sepoi yang berhembus. Kulihat Susan memandangiku, entah apa yang ada di benaknya.
“Mil, ngapain sich berdiri terus disitu. Duduk sini dong.” Kata Silvi.
“Apa Mbak?” Jawabku sambil melangkah mendekat, lalu duduk di atas karpet di dekat Silvi.
“Gimana kesan sehari semalam bersamaku?” Tanya Silvi sambil membelai-belai rambutku.
“Hehehe, no comment dech.” Jawabku bercanda.
Kurasakan belaian Silvi mulai turun ke pundakku. Dipijatnya pundakku beberapa saat, enak banget rasanya. Kemudian dia mulai melepas handuk yang kupakai, mulai meraba-raba buah dadaku. Aku diam saja menikmati, lama kelamaan makin nikmat rasanya. Diah dan Susan hanya melihat dari tempat mereka duduk. Mataku terpejam merasakan kenikmatan itu. Badanku mulai pasrah lagi ketika tiba-tiba aku merasakan tanganku ditarik ke belakang dan merasakan ada tali yang mengikatnya menjadi satu. Aku membuka mata dan kulihat ternyata Susan yang mengikat tanganku. Kemudian ballgag dimasukkan dan menyumbat mulutku. Aku dibaringkan di atas karpet dan tanganku diikatkan dengan satu tali lagi di tiang besi kaki tempat tidur. Aku merasakan buah dadaku dikulum entah oleh siapa karena aku memejamkan mataku kembali. Aku membuka mataku kembali ketika merasakan ada sesuatu dipasangkan di kakiku. Kulihat Susan sibuk memasang besi yang tadi kulihat itu di kakiku. Besi tadi pada ujung-ujungnya ada bahan kulit yang diikatkan ke masing-masing kakiku dan setelah terpasang erat membuat kakiku tidak bisa dirapatkan. Mirip dengan leg chain hanya saja rantainya diganti dengan bilah besi.
Yang membuatku sekarang membelalakkan mata adalah ketika kulihat Silvi mulai menyalakan lilin yang ada di tangannya. Sepertinya aku tahu ke arah mana permainan ini. Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil berusaha melepaskan diri dari ikatan. Aku pernah mencoba meneteskan lilin di tubuhku tapi saat itu bukan kenikmatan yang aku peroleh tapi malah rasa panas. Silvi hanya tersenyum dan berjalan mendekatiku.
“San, lakbannya sudah disiapin kan? Kalo teriakannya terlalu keras mulutnya dilakban aja, kalau nggak sekalian ditutup aja pake bantal.” Kata Silvi sambil tersenyum kepadaku.
Tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang panas menetes di kakiku, di daerah tulang keringku. Aku berteriak, terkejut dan kesakitan. Belum hilang rasa itu aku merasakan lagi panas bersarang di pahaku. Aku meraung-raung kesakitan. Suara yang kukeluarkan kayaknya agak keras karena setelah itu Susan menutup mulutku dengan lakban berkali-kali sehingga mulutku benar-benar tertutup, mmmppphhhh........!!! hanya dengusan dari hidungku yang terdengar. Setelah itu Silvi dengan kejamnya menetesi seluruh tubuhku, perut, dada, putingku, lengan. Aku menahan rasa panas itu dengan berteriak-teriak tanpa suara, hanya dengusan di hidungku yang terdengar makin keras. Tidak terasa air mataku menetes dan hidungku penuh dengan ingus karenanya. Puncaknya ketika tetesan lilin bersarang di vaginaku. Benar-benar rasa panas dan sakit yang belum pernah aku rasakan! Aku menggelepar-gelepar dan berteriak sejadi-jadinya. Samar-samar kulihat ada kesan puas di wajah Silvi, Susan dan Diah melihatku seperti ini. Mereka lalu mulai membersihkan lilin yang mengering di tubuhku sambil menjilati kulitku yang terkena tetesan itu. Ada rasa sejuk setiap kali lidah mereka mengenai kulitku yang tadi terasa terbakar. Dan jujur saja walau rasa sakit itu tadi membuatku sampai menangis, aku malah menjadi terangsang. Ada rasa nikmat dibalik rasa sakit.

Tubuhku sekarang benar-benar bersih dari bekas tetesan lilin. Demikian juga dengan besi yang menahan kakiku. Ketiga orang temanku ini masih sibuk menjilati tubuhku. Rasa sakit sekarang berganti menjadi rasa nikmat. Diah yang masih terikat tangannya sekarang menjilati vaginaku dengan penuh perasaan. Susan membuka ikatan tali yang mengikatku di kaki ranjang.
“Karena kamu bintang malam ini, kamu pindah ke atas tempat tidur.” Katanya kemudian.
Dengan tanganku masih terikat ke belakang aku naik ke atas ranjang, tiduran telentang. Susan menyusulku kemudian mulai lagi menjilati tubuhku. Ternyata pasanganku malam ini adalah Susan karena kemudian kulihat Diah dan Silvi sudah bergumul di atas karpet. Sudah tidak ada kain penutup yang melekat di tubuh kita saat ini. Susan menjilati dan meraba seluruh tubuhku terutama bagian tubuhku yang membuatku merasa geli seperti di ketiak, putting, pinggang dan telapak kaki. Lalu Susan turun dari tempat tidur, mengambil sesuatu dari tasnya. Bentuknya seperti alat kelamin lelaki hanya saja ada sabuk di sekitarnya. Kulihat ke arah Diah dan Silvi, mereka ternyata sedang melakukan gaya 69, dengan Diah yang masih dalam keadaan terikat sambil terus mendesah-desah mereka memuaskan satu sama lain. Aku lihat lagi ke arah Susan yang sedang mengencangkan sabuk yang menyatu dengan penis buatan itu. Setelah benar-benar terpasang kulihat di selangkangan Susan ada penis berwarna hitam yang kemudian dimasukkannya ke vaginaku, nafasku tambah memburu karenanya. Saat ini aku dan Susan seperti sepasang pria dan wanita yang melakukan hubungan seks. Susan sebagai pria dan aku wanitanya. Ditusukkannya penis palsu itu ke vaginaku kemudian digoyangnya pinggangnya, membuatku megap-megap. Sejujurnya aku tidak pernah merasakan penis lelaki, karena kini keperawananku hilang oleh sebuah penis palsu. Walaupun penis yang menancap di selangkanganku saat ini bukan penis asli, tapi rasanya berbeda dengan vibrator yang sudah menyiksaku berkali-kali. Entah berapa kali malam ini aku ‘dapet’ karena Susan dengan semangat memompa terus penisnya masuk kedalam vaginaku. Makin aku menggelinjang, makin dia bersemangat menggerakkan pinggangnya maju mundur. Akhirnya dia sepertinya kelelahan dan ambruk di sebelahku.
“Puas Non?” Bisiknya di telingaku.
Aku hanya memandang matanya, pandangan mengatakan iya.
Aku terbaring lemas tapi masih kudengar suara desahan dari mulut Diah dan Silvi yang makin lama makin keras lalu kemudian tiba-tiba senyap. Keduanya sudah mencapai puncak, entah untuk keberapa kalinya, karena mereka memuaskan satu sama lain dengan bantuan vibrator. Tidak ada suara yang terdengar beberapa saat, kayaknya tenaganya sudah pada habis.
“Yuk, dibungkus!” Seru Silvi tiba-tiba.
Susan bangkit dari sebelahku, demikian juga Diah dengan tangan yang masih terikat kebelakang.
Kulihat Silvi melembarkan selimut yang ukurannya cukup lebar di karpet.
“Ayo Mila, sini.” Katanya kemudian.
Aku tau apa yang berikutnya akan dilakukan. Masih dengan tangan terikat dan mulut tertutup ballgag dan lakban aku turun dari ranjang dan duduk di atas selimut yang sudah dilembarkan itu. Kakiku diikat jadi satu kemudian aku disuruh tiduran di atas selimut itu. Aku merasakan selimut mulai menutupi seluruh tubuhku, lama-lama terasa makin tebal karena gulungan yang dilakukan. Kencang sekali rasanya gulungan selimut ini, lebih kencang daripada pengalaman pertamaku bersama Diah, Susan dan Novi. Walaupun sebenarnya aku tidak bisa lepas dari gulungan selimut ini namun kemudian aku merasakan ada tali yang melingkar di sekujur tubuhku, menambah erat gulungan.
“Mila, bisa bernapas gak?”
Aku hanya menggerak-gerakkan badanku, berusaha memberi isyarat jawaban ‘Iya’.
“Baiklah kalo begitu. Met bobo ya…”
Sebenarnya aku agak kesulitan bernafas, harus dengan sedikit usaha. Tapi karena aku senang diperlakukan seperti ini maka aku menjawab iya.
Tak lama kemudian tidak terdengar lagi suara. Selamat tidur Mbak Vivi. Selamat tidur Diah. Selamat tidur Susan.

CHECK OUT

Pagi hari aku terbangun saat ikatan-ikatan di tubuhku dan selimut yang menggulungku semalam dilepaskan. Lega sekarang nafasku.
“Apa nafasmu nggak sesak Mil?” Tanya Silvi.
“Nggak Mbak. Dinikmati aja.” Jawabku agak bercanda.
“Sana mandi, teman-temanmu sudah pada di bawah, sedang sarapan.”

Kita berempat makan pagi di meja makan. Semua makan dengan lahap, kelihatannya semuanya kehabisan tenaga. Selesai makan kita pindah ke ruang tamu.
“Mbak langsung balik Jakarta?” Tanya Diah.
“Iya dong. Nanti naik flight jam 3. Mau ikut?”
“Nggak lah. Lagian aku gak kuat ngelayani Mbak Vivi. Ajak aja Mila tuch, dia kan kuat.”
Aku hanya tersenyum. Semua sudah berpakaian lengkap, bersiap untuk check out dari hotel. Waktu menunjukkan pukul sebelas lebih.
“Mil, kesini sebentar.” Kata Silvi sambil melangkah ke ruang sebelah.
Aku mengikuti langkah-langkahnya.
“Ini buat jajan ya. Makasih buat semuanya ya.” Kata Silvi sambil memberikan sebuah amplop lumayan tebal kepadaku.
“Makasih juga buat semuanya Mbak. Benar-benar pengalaman yang luar biasa.”
“Besok lagi kalau aku ke Jogja aku pasti call kamu, ta suruh nemeni lagi. Mau kan?”
”Iya Mbak, tentu saja.”
“Nanti semua video tentang apa yang sudah kamu lakukan aku kirimin ke alamatmu aja ya? Atau alamat Diah aja?”
“Video apa?”
“Ya semuanya, dari Jumat malam sampe semalem. Aku kan abadikan semua pake handphone. Gak sampe mendetail sich…”
“Terserah Mbak Vivi aja.”
Aku agak terkejut. Berarti tubuhku yang telanjang dan terikat itu direkam oleh Mbak Vivi.
“Jangan disebarin lho Mbak.”
“Tenang aja, itu semua buat koleksi pribadi. Aku juga punya adegan Diah, Susan ataupun Novi kok.” Jawabnya sambil tersenyum.

Jam dua belas kurang sedikit kita berempat keluar dari hotel dan berpisah. Taxi yang dinaiki Silvi langsung menuju airport sedangkan taxi yang kutumpangi bersama Diah dan Susan menuju ke rumah Diah. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulakukan sambil tanganku mengelus-elus pergelangan tangan bekas ikatan,.. aku tidak percaya ternyata aku menjadi seorang pemuas nafsu wanita. Tapi biarlah, hidup hanya sekali kan?

TAMAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar