Mila Istri Pilot yang kesepian

Foto Saya
Kenalkan namaku Ika Tantri Mila Verania. Teman-teman memanggilku Mila. Banyak yang bertanya, bagaimana rasanya jadi slave? Manusia mana sih yang benar-benar suka atau terlahir untuk diikat? Untuk hal tersebut di atas sebenarnya aku 'menderita', namun sesuatu yang menghiburku adalah ketika aku dalam keadaan seperti itu, memang sakit pegal dan tidak bisa bergerak yang secara fisik kurasakan Namun ada kenikmatan terselubung, dalam ketika berdayaanku yang tangan kaki terikat dan mulut tersumpal, kurasa kenikmatan adalah aku merasa bagai ratu. Karena sang pengikatlah yang harus repot melayani aku. Ketika aku hendak buang air kecil, dibopongnya aku dan diceboknya. Ketika ingin makan aku di suapnya (tidak temasuk kalau dia mesti memasakkan aku sesuatu), dan karena 'derita' ini dilakukan karena ada cinta setidaknya dilakukan dengan suka. Tentunya berbeda jika yang dialami itu penculikan....

Senin, 22 Maret 2010

Ira Zaskia, sang Sekretaris

Namaku Ira Zaskia 28 tahun, teman-teman memanggilku Ira, aku tinggal di kawasan Serpong. Aku bekerja sebagai Sekretaris di suatu Perusaan Konstruksi di kawasan Cilincing. Mas Banu, suamiku 37 tahun seorang konsultan mining di Biak Papua. Aku masukkan mobil Jazz merah kesayanganku ke garasi. Aku segera merebahkan diriku yang letih di sofa ruang keluarga sejenak. Dan sebentar lagi aku akan menjemput Tasha, anakku 18 bulan yang kutitipkan di mertuaku behubung baby sitterku lagi pulang kampung. Akupun seolah tak sabar menyambut Sabtu esok kala Mas Banu akan pulang untuk cuti langkanya 1 minggu dari pekerjaannya di Biak, Papua. Aku juga sangat percaya dengan suamiku apalagi selama ini aku tidak pernah men dengar suara miring tentang suamiku. Yah.... santai dulu deh sejenak, paling sebentar lagi aku menjemput anakku Tasha, mengajaknya jalan dengan Anne sahabatku dan anaknya dan kita berceng kerama dengannya dan melupakan bahwa saat ini hasratku sedang memun cak, maklum seminggu lagi aku menstruasi biasalah kalo menjelang menstruasi aku kepingin sekali. Payudaraku terasa keras dan kalau tersenggol atau dipegang apalagi di pilin-pilin rasanya wah, enak sekali, nikmat. Tadi siang waktu di kantor aku sudah membayangkan ML de ngan suamiku besok malam...
Waktu menunjukkan pukul 18.45, dengan malas malasan aku akhirnya kekamar mandi, membersihkan diri. Sembari mandi akupun bermasturbasi.Kuremas remas dan dan kupilin pilin payudaraku sendiri, kugesek gesek vaginaku sambil sesekali kumasukan jari ke vaginaku. Kukocok kocok jariku ke vaginaku, makin lama semakin kencang, sampai puas. Enak juga swalayan, aku merasa agak rileks walaupun belum plong tapi lumayanlah. Sehabis mandi. Kukenakan tank top dan rok pendek sambil bersiap-siap menjemput Tasha. Aku duduk santai di sofa ruang keluarga, kupencet pencet remote TV mencari program yang menarik untuk acara prime time jam 19.00 tapi aku tidak mendapatkannya, lalu aku memakai sepatu higheel putih pemberian suamiku yang ada ban yang seperti mengitari pergelangan kakiku lalu aku mencari kunci mobil dan tiba tiba,
“mmmppphhhhh........mmmppphhhh.... ......” ada yang membekap mulutku dari belakang. Seketika aku memberontak sekuat tenaga dan berusaha berteriak bahkan tangan yang menutup mulutku sempat aku gigit. Orang yang berusaha menyekapku tampaknya kesulitan menghadapiku seketika dia mengeluarkan senjata tajam dari balik bajunya dia tempelkan senjata itu di leherku sembari mengancam membentak.
“Diam,..! Diam atau aku tusuk kamu,... Mau !!??” Rasa dingin dari ujung senjata itu dan ancamannya seketika menyurut kan hatiku, aku sangat takut sekali waktu itu. Keadaan tersebut segera di manfaatkan orang itu secepat kilat tubuhku ditelungkupkan, kedua tanganku ditelikung kebelakang dan “ugh....!” dengan cepat tanganku sudah terikat erat dengan tali rafia. Sempat kulihat orang itu bertubuh kekar tapi seluruh kepalanya tertutup kain masker seperti yang dipakai polisi anti teror, dia juga memakai kacamata hitam praktis aku sama sekali tidak bisa mengenalinya. Kejadiannya berlangsung sekejap mata dia terus menghunus pisaunya keleherku sambil terus mengancam,
“Kalau kamu menurut, kamu selamat! Tidak aku apa-apain, tapi kalau kamu teriak pisau ini akan mengoyakkan tubuh sexy mu, juga si Anne,... sebentar lagi menyusul menemanimu (dia menyebut nama sahabatku juga alamat nya)!!” mendengar itu tubuhku tambah lemas, tak berdaya.
“Iii...iya...iya....!! sahutku gemetar dengan tangan yang sudah terikat kebelakang. Orang itu mengambil sesu atu dari saku celananya tampaknya kain. Segera dia tekan kedua pipiku supaya mulutku terbuka dijejalkan kain tsb kemulutku lalu dengan cekatan dia menyumpal mulutku dengan kain lainnya diikatkan kain tsb kebe lakang leherku kencang sekali. Aku kesakitan, tapi dia tidak peduli tampaknya.
“mmmppphhhhh........mmmppphhhh.... ......MMMPPPHHHH....!!! suaraku tertahan. Aku semakin tak berda ya rasa takut turut membelenguku hingga aku menangis. Mataku ditutupnya dengan kain kemudian kurasa kan leherku dipasangi sesuatu kurasakan seperti ban/sabuk.entah apa pula maksudnya.
Oh...! ternyata dia mengaitkan sesuatu antara tali yang mengikat tanganku dengan sabuk di leherku sehing ga kedua tanganku yang sudah terikat tak berdaya ke belakang tertarik keatas.
Dadakupun membusung tegak karena kalaulah aku membungkuk sedikit aja sabuk yang melingkar di leherku terasa mencekikku. Aku sekarang benar benar tak bisa apa2, aku takut sekali entah apa yang akan dilakukannya kemudian.
Orang itu kembali mengeluarkan kata kata ancaman..
“Keselamatan nyawamu ada padaku, dan tergantung sekali dengan sikap kamu untuk bekerja sama, tapi nanti jika Mas Banumu pulang dan sanggup menebusmu dengan uang 1 millyar yang kami perlukan, kamu akan baik-baik saja!”
“Ayo,.. kamu akan kubawa pergi” Aku merasa kakiku diikat erat erat, kemudian membopongku di pundaknya kurasakan dia membuka pintu mobilku, aku didorongnya masuk
“BERBARING !!” bentaknya
“DIBAWAH.......”
Aku terbaring telungkup di bawah, terjepit diantara jok. Aku rasa ada kain yang menutupi tubuhku. Mobil melaju kencang sampai cukup lama aku tidak tahu akan dibawa kemana. Mataku tertutup, mulutku tersumpal, tangan kakiku terikat lengkap sudah penderitaanku dan ketidak berdayaanku juga terbaring di lantai mobilku sendiri. Perasaan takut, marah, sedih semua bercampur jadi satu apalagi selama perjalanan orang itu terus mengeluarkan kata kata ancaman, aku diculik!!
Mobil akhirnya berhenti entah dimana. Orang itu membuka pintu dan turun sementara mesin tetap menyala kelihatannya dia mengisi bensin. Aku teringat bahwa aku akan sekalian mengisi bensin ketika menjemput Tasha,.. dan ketakutankupun semakin menjadi jadi. Tak lama kemudian orang itu kembali masuk mobil dan menjalankannya lagi. Kemudian mobil berhenti, aku dibopong keluar mobil cara menarikku keluarpun lebih lembut, berbeda dengan waktu aku dimasukan mobil tadi aku didorong kasar aku merasakan orang yang berbeda. Seketika udara dingin menyergap tubuhku yang hanya berbalut tank top tipis udara pegunungan, aku bisa pastikan aku di daerah pegunungan. Aku dibopongnya kesebuah ruangan/rumah aku tidak tahu, hanya saja udara lebih hangat sekarang. Dalam keadaan tubuhku terikat erat, aku direbahkan di kasur kurasakan orang itu pergi keluar.
”Akan kulepaskan sumpal mulutmu tapi ingat percuma kamu teriak karena tidak ada yang akan dengar. Juga kamu harus nurut atau kamu dan keluargamu menderita......!!” kata orang itu,tak lama setelah kurasakan kehadirannya. Aku mengangguk dan berharap sumpal di mulutku segera dilepasnya karena mulutku rasanya sakit sekali ikatan sumpal itu terlalu kencang, mulutku terasa mau robek. Setelah melepas sumpal mulutku kurasakan orang itu keluar ruangan. Hanya sumpal mulutku yang dilepasnya mataku tetap tertutup. Ketika aku merasakan ada orang disekitarku,
“Mas, boleh kan aku ke toilet, mau pipis nih....!” aku pikir aku akan dilepaskan, namun kemudian kurasakan tubuhku dibopongnya ke kamar mandi yang tampaknya ada diruangan ini juga. Celana dalamku diplorotkan nya sampai lutut aku didudukan di kloset, tali yang mengikat pergelangan kakikupun dilepaskannya. Setelah selesai, aku dicebokin Gila! rasanya risih sekali apalagi waktu cebokin seperti juga sengaja yang diraba raba vaginaku. Aku mulai merasakan sakit pada tanganku yang ditelikung dan terikat erat ke belakang pegal, kaku dan sedikit mati rasa.
“Mas, lepasin dong ,..... sakiiitt...!!” keluhku tapi tidak ada suara tanggapan sama sekali.
Aku dibimbing supaya aku berlutut bertumpu lututku diganjal sesuatu sepertinya bantal baik juga orang ini pikirku dalam hati. Entah maksudnya apa aku disuruh berlutut. Kemudian kurasakan ada sesuatu benda yang berusaha dima sukkan ke mulutku. Oh, ternyata itu adalah Penis !!
Orang itu menghendakiku supaya aku mengoral penisnya. Seketika aku menolak dan memberontak tapi orang itu terus memaksaku dan penisnya terus dijejalkan ke mulutku. Aku teringat ancamannya, aku kembali takut dengan sangat terpaksa aku turuti kemauannya sambil mengulum penisnya, aku berlinangan air mata kurasakan penutup mataku basah. Aku merasa tidak asing dengan penis orang itu aroma maupun size-nya seperti sudah biasa kunikmati. Benar benar tidak asing. “Oh Mas Banu,.....!” aku teringat suamiku,”Ampuni aku Maas, aku dipaksa....”
Aku terpaksa terus mengulumnya mau muntah rasanya. Aku mengulum diujungnya saja, aku jijik! Dia bukan suamiku. Tampaknya orang itu tidak puas kalo aku mengulum penisnya di ujung aja dipegangnya kepalaku kemudian ditancapkan dalam dalam penisnya masuk ke mulutku sampai rasanya menyentuh tenggorokan, aku berulang kali tersedak dan mau muntah tapi tidak diperdulikannya. Keluar suara mendesis-desis dari mulutnya tampaknya orang itu keenakan tapi tak keluar satu patah katapun dari mulutnya. Orang itu sema kin lama semakin kencang memaju mundurkan kepalaku sampai suatu saat dibenamkan penisnya dalam dalam ke mulutku dan kurasakan meyembur kan cairan sperma masuk dalam kemulutku. Segera aku berusaha menarik mulutku tapi orang itu justru semakin menekan kepalaku. Penisnya terbenam lama dimulutku, spermanya berusaha aku keluarkan bersama air liurku walaupun sebagian ada yang tertelan. Asin! Rasanya sangat jijik aku dibuatnya aku telah diperbudaknya. Ditariknya penis itu dari mulutku dia mengoles-oleskan ujung penisnya ke pipiku. Seketika pipiku berlepotan sisa2 spermanya. Bau spermapun menyergap hidungku amis! seperti bau putih telur.
“Hoek....hoek....hoek.....!!” ingin muntah rasanya. Bau amis sperma menusuk hidungku.
Aku dibiarkan terkulai lemas di lantai, tanganku yang terikat erat mulai terasa sakit sekali, pegal, kesemutan. Kedua lenganku terasa kaku dan mati rasa.
Cukup lama kemudian kurasakan ada yang menggamit lenganku. Aku dibimbingnya berdiri, lalu aku dibo pong dan dilemparkan ke kasur/ranjang. Kakiku di pentang lebar kemudian kurasakan ada yang meng ikat kedua pergelangan kakiku. Oh apa lagi yang akan dilakukan orang yang menculikku itu. Penculikku mulai melepas tali rafia yang melilit mengikat kedua tanganku, ternyata orang tersebut hanya bermaksud merubah posisi ikatanku aja karena kurasakan kedua tanganku dipentangnya lebar lebar dan pergelangan tanganku kembali terikat. Ganti tali rupanya, sakit di kedua lenganku berkurang karena sekarang lenganku lurus terpentang walaupun masih terikat kuat. Jadi sekarang aku terbaring telentang di ranjang tangan dan kakiku terpentang lebar dan terikat tak berdaya, mataku masih tetap ditutup kain
“Maaas,...... lepasin dong ,...... saakkiiitt....!”aku memohon belas kasihan penculikku supaya aku dilepaskan dan tidak di apa-apakan tapi permohonanku tidak mendapat tanggapan sama sekali, tidak ada sepatah katapun yang terucap dari orang itu. Setelah pikir-pikir memang sia-sia permintaanku, mana ada penculikan yang tidak mengikat orang yang diculiknya yach...!? Bahkan sebaliknya mulutku malah disumpal kain tapi cara menyumpal yang berbeda. Sekarang ini hanya kain yang dililitkan. menyumpal mulutku dan diikatkan cukup erat ke belakang leherku walaupun tidak seerat yang pertama tadi dan tidak ada kain yang dijejalkan ke dalam mulutku. Tapi sumpalan itu sudah sangat cukup menghalangi kata-kata yang keluar dari mulutku. Selanjutnya kurasakan ada tangan yang meraba celana dalamku. Satu tangan orang itu mengelus daerah klitorisku sementara satu tangan yang lain mengelus pangkal pahaku. Seketika aku menggelinjang gelinjang dan meronta ronta, keluar suara suara tak beraturan dari mulutku yang tersumpal. Orang itu membiarkan aku meronta-ronta dan tampaknya tak peduli kedua tangannya terus bergerilya di daerah kemaluanku yang masih memakai celana dalam. Tak sadar keluar lenguhan dari mulutku yang tersumpal dalam keadaan lelah, takut dan marah akupun lelah untuk meronta-ronta hebat lagi. Sebaliknya aku merasakan ada suatu kenik matan tersendiri menjalar ke seluruh bagian tubuhku bahkan aku menggoyang-goyangkan daerah kemaluan ku. Tampaknya orang yang menculikku tahu kalau aku mulai terangsang, selanjutnya di masukan tangannya ke balik celana dalamku dan klitorisku di pilinnya dengan lembut. Aku semakin menggelinjang hebat, antara geli dan nikmat. Rasanya sudah lama aku tidak merasakan kenikmatan ini.
“Mhh....mmgghh.........mmmmmhhhhh..........mmmmppphhhhh.......”
Kemudian kurasakan celana dalamku disingkap dan kurasakan ada mulut yang mengulum-ngulum klitorisku.
“mmmmppphhhhhhhh............eemmhhh.......emmpphhh.........mmmmppphhhh....”
Aku semakin tak kuasa menahan diriku, aku terangsang hebat klitorisku dikulum disedot sedot.
”wow enak sekali........!” batinku
Kurasakan ada jari tangan di masukan ke lubang vaginaku mencari G-Spot.Klitorisku terus dikulum dan di sedot sedot sementara dua jari tangannya digerakkan keluar masuk liang vaginaku.
“mh.....mh..........mmphh.........mh........mh........ mmmmppphhhh....!!” keluar suara dari mulutku yang tersumpal. Aku semakin menggelinjang hebat, kedua tanganku menarik narik keras tali pengikatnya, meronta dan merasakan betapa tidak berdayanya aku.
Tangannya juga sesekali menyelusup dibalik Bra-ku, meremas payudaraku dan memilin milin payudaraku bergantian kanan-kiri
”eemmpphh.......mmpphhh.............mmmmppphhhhh....!!”
Kemudian orang itu menciumi mulutku yang tersumpal. Juga samar samar kuendus bau parfum yang sangat harum. Tiba tiba orang itu menghentikan aksinya. Dalam hati aku sedikit kecewa bercampur lega kecewa aku belum mencapai klimaks, lega karena aku tidak dipermainkan dan dilecehkan terus menerus. Tapi ternyata penculikku berusaha merubah posisi ikatanku aja. Posisiku di rubahnya sedemikian rupa sehingga sekarang posisiku telungkup di ranjang. Tanganku terikat terpentang lebar. kedua kakiku menapak lantai dan juga terikat terpentang lebar mulutku tetap disumpal, mataku masih ditutup. Kurasakan ada tangan yang menyingkap celana dalamku dan penisnya menusuk liang vaginaku dari belakang. Tampaknya penculikku dalam posisi berdiri dan menyetubuhiku dari belakang. Penisnya terus di kocok kocokkan ke liang vaginaku, kocokan yang berirama, pelan pelan kemudian kencang dan dalam kembali pelan pelan lagi kencang lagi dst. Sambil mengocok ocok, kedua tangannya juga dislusupkan ke balik braku Tangannya meremas lembut kedua payudaraku, sesekali juga memilin milin putingku. Mulutku semakin bersuara tak karuan pantatku juga tanpa sadar berusaha ku-putar putar mengikuti irama kocokannya. Kutarik kencang tali yang mengikat kedua tanganku, tubuhku mulai menegang. kain yang menyumpal mulutku kugigit keras keras tampaknya aku mau mencapai orgasme. Kocokan penis di vaginaku sampai menimbulkan bunyi....plup...plup...plup....pertanda liang vaginaku basah kuyup.
“ eeeemmmmmpppphhhhhh.............!!” sampai akhirnya aku melenguh panjang, aku telah mencapai klimaks orgasme setelah hampir 2 tahun aku tidak pernah mengalaminya akibat ditinggal kerja sangat jauh dan terpaksa mengalaminya dalam keadaan diperkosa. Hampir bersamaan penculikku mengeluarkan suara desisan panjang dan kurasakan ada cairan hangat menyemprot ke liang vaginaku. Penculiikku telah menca pai ejakulasi rupanya. Sumpal mulutku ditarik ke leherku sehingga sekarang mulutku bebas tapi mulutku langsung di jejali penisnya yang baru saja dibuat ngocok vaginaku. Kurasakan sisa sisa sperma dimulutku, sperma kedua tidak sebanyak dan sekental yang pertama tadi. Penculikku tampaknya menghen daki aku mengulum dan menjilati penisnya sampai bersih dari sisa sperma dan cairan vaginaku persis dengan yang sering dilakukan oleh suamiku selama ini. Dalam hati aku semakin curiga dan bertanya tanya. Selang beberapa saat, kurasakan ada yang mengelap wajah dan mulutku dengan lap dan air hangat. Daerah kemalu ankupun di lap dan dibersihkan dengan air hangat. Celana dalamku juga dirapikan. Klitoris & vaginaku terasa 'ngilu' ketika tersentuh lap. Lingerie yang membalut tubuhku juga dirapikannya tali lingerie yang melorot ke lenganku kembali di naikkan ke bahu. Bra juga dirapikan dan dikembalikan ke posisi semula. Penculik kembali merubah posisi ikatanku. Tanganku kembali diikat ke belakang hanya saja sekarang tanganku di luruskan, tidak ditelikung 90' menyiku seperti yang pertama tadi. Cukup nyaman mengurangi pegal di tanganku. Tetap ada tali yang disambung antara tali di pergelangan tangan dan tengkuk. Penculikku rupanya menjaga supaya aku tidak bisa memindahkan tanganku ke depan lewat kaki. Mataku masih ditutup kain tapi sumpal di mulutku sudah dibuka,
“Maas,... lepasin dong mas,... sakiiitt....!” aku manfaatkan untuk memohon belas kasihannya supaya aku dibebaskan walaupun pada kenyataannya tidak ditanggapi sama sekali. Lenganku digamit & aku dibimbing berjalan aku merasa keluar ruangan karena ada suara pintu dibuka tutup. Aku merasakan dibawa ke suatu ruangan lain, aku didudukan dilantai kemudian kedua kakiku yang masih bersepatu sedari tadi diikatkannya menjadi satu lalu aku merasa ditinggal sendiri. Sebentar saja penculikku datang lagi, penutup mataku dibuka. Aku mengerjapkan mata sebentar menyesuaikan Aku lihat sosok orang yang menculikku, sama seperti adanya mengenakan masker atau penutup kepala dan kacamata hitam, sama sekali kau tidak mengenalinya. Tetapi yang membuatku lebih terkejut...
Astaga! ternyata ada wanita lain diruangan ini. Keadaanya kurang lebih sama denganku memakai baju bermodel kerah shanghai berwarna biru, sama sama tangannya terikat erat kebelakang terduduk di sebuah kursi. Hanya saja cewek itu matanya masih di tutup dan mulutnya juga tersumpal ball gag. Kemudian aku diletakkannya di lantai. Penerangan juga temaram, lampu bohlam 5 watt di dinding terpampang jam dinding, waktu menunjukkan pukul 2.25 dini hari. Pintu tertutup & di kunci. Kuperhatikan lebih seksama cewek di depanku kira kami seumuran tubuhnya juga langsing, rambut yang panjang sepunggung, kulit putih bersih terawat memakai lingerie warna merah transparant & stocking warna senada bersepatu putih. Sayang, wajahnya kurang jelas karena matanya ditutup mulutnya juga tersumpal Ball Gag ada air liur keluar dan menetes dari sela sela mulutnya, namun sepertinya aku mengenal cewek itu. Cewek itu diam aja sama sekali terlihat lemas tidak meronta tampak tubuhnya kelelahan sekali wajahnya tertunduk dalam. Kuamati lebih teliti dan astaga! ada bilur2 biru bekas pukulan seperti pukulan rotan di pangkal pahanya yang mulus. Kasihan sekali, pasti sakit sekali, perih.
“Mbak,.....!? kucoba mengajaknya bicara,cewek itu mendongak sebentar,
“mmmppphhhh...... mmmppphhhh..... mmmppphhhhh! mengeluarkan kata kata yang tidak jelas namun seolah ingin menyatakan sesuatu, sambil meronta-ronta karena mulutnya tersumpal kemudian kembali tertunduk. Percuma saja bicara padanya. Aku merasa sangat lelah sekali, kejamnya penculikku itu setelah puas menikmati tubuh kami, masih juga menyiksa kami dengan cara yang lain lagi. Sudah dari awal cewek yang dihadapanku cuma tertunduk, tidak ada gerakan yang berarti. Sebaliknya aku kadang meronta berusaha melepaskan ikatan yang melilit di pergelangan tanganku tapi akhirnya aku merasa percuma saja, sia sia. Aku merenungkan kejadian demi kejadian dari awal penculik anku, aku berkesimpulan penculik masuk rumahku sebelum aku pulang, bisa jadi penculik itu sudah menung gu kedatanganku. Aku harus berpikir cepat dan memutuskan apapun resikonya. Aku tidak mau menjadi bulan bulanan penculikku dan menjadi tawanan terus menerus. Penculikku tadi sudah merasakan tubuhku, entah apa yang akan di lakukannya lagi ? Ketika jam dinding menunjukkan pukul 4 dini hari, aku yang tertidur terkantuk-kantuk terbangun oleh suara di ruangan itu, aku melihat tali yang tersambung dengan leher kami dan teralis dilepas, aku melihat cewek sesama tawanan, dibopong keluar oleh seseorang. Penculikku kembali menutup mataku dengan kain hitam, dan menyumpal mulutku dengan kain lalu dibungkamnya dengan lakban erat-erat, dalam ketidak berdayaanku aku merasa tubuhku terangkat, akupun dibopong keluar. Lalu aku merasakan tubuhku terduduk di jok mobil,
“mmmpphhhh..... mmmpphhhh........!” aku rasakan cewek sesama tawanan itu ada disisiku, kuketahui melalui suara itu. Kemudian kurasakan mobil bergerak, entah kemana lagi kami akan dibawa pergi ? Lama sekali perjalanan itu kurasa, hingga akhirnya mobil itu berhenti di suatu tempat, akupun dibopongnya masuk, kedalam sebuah ruangan, lalu aku rasakan tubuhku diikatkan erat ke sebuah tiang,... lalu penutup kedua mataku dilepas,aku memejamkan mataku menyesuaikan dengan cahaya ruangan yang cukup terang,.... setelah mataku dapat melihat dengan sempurna, terkejutlah aku.. oh ternyata cewek sesama tawanan itu aku kenal,.. dialah Anne sahabatku. Anne sedang terikat erat di sebuah kursi, penculik telah membuktikan ancamannya padaku; dia juga menculik Anne!
“mmmmppphhhh.......! mmmmppphhhh.......!!!” seru Anne ketika mengetahui aku jadi tawanan juga.
“mmmmppphhhh.......! mmmmppphhhh.......!!!” sahutku tak kalah terkejut dengan keadaannya.
Anne terlihat sangat sexy dengan pakaiannya, berblus model kerah shanghai warna biru muda dipadukan dengan rok selutut berwarna abu-abu, bersepatu hitam mengkilat yang ada tali yang seolah menghubungkan kedua mata kakinya. Anne berambut panjang fisiknya lebih muda dari umurnya lalu aku lihat tali-tali yang mengikat Anne ke kursi dilepaskan kemudian Anne dibopong ke tempat tidur yang ada di ruangan itu. Kulihat kaki Anne di pentang lebar kemudian kemudian diiikat ke kaki tempat tidur besi itu. Jadi sekarang Mila terlihat terbaring telentang di ranjang dengan tangan tetap terikat erat dipunggung dan kakinya yang juga masih bersepatu terpentang lebar dan terikat tak berdaya, mulutnya disumpal dan matanyapun ditutup kain.
“mmmmppphhhh.......! mmmmppphhhh.......!!!” seruku berusaha mengalihkan perhatian penculik dan mencegah Anne menjadi korban perkosaan juga, selanjutnya aku tidak tahu apa-apa karena mataku ditutup. Penculik lalu melepaskan aku dari tiang dan membopong ku menjauh dari suara-suara Anne yang terdengar sedang meronta-ronta karena diperkosa. Kembali aku dibaringkan di sebuah tempat tidur, dengan keadaaan yang tidak jauh berbeda, hanya sumpalan di mulutku yang dilepaskan. Aku terbaring pasrah, seperti menung gu apa lagi yang akan diperbuat penculikku kepadaku. Lama rasanya aku dibiarkan terbaring telanjang di sini, sayup-sayup diluar sana terdengar suara adzan menandakan hari sudah subuh, aku masih terkapar tak berda ya tak berpakaian disini. Rupanya Penculik masih sibuk memperkosa Anne, karena sayup-sayup dari ruangan sana terdengar suara “mmmmppphhhh.......! uugghhh..... mmmmppphhhh.......!!!”
“Anne,......!” batinku. Tak lama aku merasa mulut dan hidungku dibekap saputangan, dan tercium bau asing yang melemahkan syaraf itu dan aku tak sadarkan diri.
Aku tersadarkan diri, dalam keadaan masih terikat terlentang di tempat tidur, si Penculik dengan murah hati memakaikan celana dalam padaku, mungkin selama ku tak sadarkan diri, dia melepas ikatanku di kaki kemudian memakaikan celana dalamku, namun kini aku terikat erat lagi. Mataku tidak ditutupnya namun mulutku di sumpal lakban. Aku masih telanjang, hanya celana dalam saja yang dipakaikan padaku. Aku tidak melihat Anne sahabatku, dimanakah dia disekap ?
Waktu terlihat menunjukkan pukul 15.30 sore, tak terasa lapar menyerangku, penculik itu datang, mengena kan penutup kepala dan berkaca-mata hitam, dengan tubuhnya yang tinggi besar dan kekar. Datang dengan membawa sepiring nasi goreng, “CREETTT...!!” lakban yang menyumpal mulutkupun dilepas
“Mas,...... lepaskan aku, maas..... saaakiiittt....! Mas khan sudah puas memperkosaku, apalagi yang mas mau dariku? Uang tebusan...? Mana mungkin, suamiku cuma seorang karyawan, kami hidup seadanya kog.....!” aku mengiba sambil memohon, namun dia tidak menanggapi apapun, sambil aku disuapinya sesendok penuh. Usai makan, mulutku yang masih mengunyah langsung dilakbannya dan aku ditinggal pergi.
Aku merasa hari sudah mulai malam ketika aku mendapatkan tubuhku masih terkapar terikat dan tak berda ya, entah berapa lama aku akan diculiknya, akupun tidak tahu bagaimana nasib Anne yang juga diculiknya. Berjam-jam bahkan berhari-hari rasanya aku sebagai tawanan si penculik itu, tak sengaja kulihat jam dinding diruangan itu menunjukkan pukul 21.00 malam, berarti sudah enam jam diriku ditinggalkan sendiri dalam keadaan ini. Tangan dan kakiku sudah sangat pegal bahkan mati rasa, mulut dan lidahku kelu dan kering dalam sumpalan tubuhku terasa sangat lelah dan tanpa kusadari aku tertidur.
Ketika aku sadar, kurasakan ada tangan yang meraba celana dalamku. Satu tangan orang itu mengelus dae rah klitorisku sementara satu tangan yang lain mengelus pangkal pahaku. Seketika aku menggelinjang gelinjang dan meronta ronta, keluar suara suara tak beraturan dari mulutku yang tersumpal. Orang itu membiarkan aku meronta-ronta dan tampaknya tak peduli kedua tangannya terus bergerilya di daerah kemaluanku yang masih memakai celana dalam. Tak sadar keluar lenguhan dari mulutku yang tersumpal dalam keadaan lelah, takut dan marah akupun lelah untuk meronta-ronta hebat lagi. Sebaliknya aku merasakan ada suatu kenikmatan tersendiri menjalar ke seluruh bagian tubuhku bahkan aku menggoyang-goyangkan daerah kemaluanku. Tampaknya orang yang menculikku tahu kalau aku mulai terangsang, selanjutnya di masukan tangannya ke balik celana dalamku dan klitorisku di pilinnya dengan lembut. Aku semakin menggelinjang hebat, antara geli dan nikmat .
“emmm....eemmhh.........eeemmmpphhhh..............mmmmppphhhh..........”
Kemudian kurasakan celana dalamku disingkap dan kurasakan ada mulut yang mengulum-ngulum klitorisku.
“mmmmppphhhhhhhh............eemmhhh.......emmpphhh.........mmmmppphhhh....”
Aku semakin tak kuasa menahan diriku, aku terangsang hebat klitorisku dikulum disedot sedot.
”wow enak sekali........!” batinku
Kurasakan ada jari tangan di masukan ke lubang vaginaku mencari G-Spot.Klitorisku terus dikulum dan di sedot sedot sementara dua jari tangannya digerakkan keluar masuk liang vaginaku.
“eemmhhh.......emmpphhh.........mmmmppphhhh....”keluar suara dari mulutku yang tersumpal. Aku semakin menggelinjang hebat, kedua tanganku meronta-ronta keras dan merasakan betapa tidak berdayanya aku.
Tangannya juga sesekali meremas payudaraku dan memilin milin puting susuku bergantian kanan-kiri
”eemmhh....eemm..........emph..........mmmppphhh....!!”
Kemudian orang itu menciumi mulutku yang tersumpal. Juga samar samar kuendus bau parfum yang sangat harum. Tiba tiba orang itu menghentikan aksinya. Dalam hati aku sedikit kecewa bercampur lega kecewa aku belum mencapai klimaks, lega karena aku tidak dipermainkan dan dilecehkan terus menerus. Posisiku di rubahnya sedemikian rupa sehingga sekarang posisiku telungkup di ranjang, tanganku yang terikat dihubungkan dengan kakiku yang terikat, jadi semacam hogtie keadaanku lalu mata dan mulutku tertutup lakban. Selang beberapa saat, kurasakan ada yang mengelap wajah dan mulutku dengan lap dan air hangat. Daerah kemaluankupun di lap dan dibersihkan dengan air hangat. Celana dalamku juga dirapikan. Klitoris dan vaginaku terasa 'ngilu' ketika tersentuh lap. Lingerie pun kembali dipakaikan ke tubuhku juga dirapikannya tali lingerie yang melorot ke lenganku kembali di naikkan ke bahu. Bra juga dirapikan dan dikembalikan ke posisi semula. Tangan dan kakiku sedang dilepaskan namun aku merasa sangat lemas dan tak kuasa melawannya. Penculik kembali mengikatku. Tanganku kembali diikat ke belakang hanya saja sekarang tanganku di luruskan, tidak ditelikung 90' menyiku seperti yang pertama tadi. Cukup nyaman mengurangi pegal di tanganku. Kembali ada tali yang disambung antara tali di pergelangan tangan dan kakiku. Mataku masih ditutup kain tapi sumpal di mulutku sudah dibuka aku dibaringkan di tempat tidur besar dan aku rasa ada tawanan lain disisiku....
“Anne,....?” aku menduga-duga.
“Iraa,.... tolong aku Raa,....” rupanya mulut Anne tidak disumpal
“Aku juga masih terikat begini Ne, kaki dan tanganku diikat menyambung” jelasku karena kuduga kondisi Anne juga serupa denganku.
“Aku juga Ra,... aku terikat disampingmu, persis seperti kamu...”
“Bagaimana kamu bisa diculik?”
“Aku baru pulang kantor, dan lagi assyik on line sama mas Bowo (suaminya) yang menelpon dari Singapore... setelah telpon ditutup aku merasa mulutku dibekap seseorang, dan aku pingsan... Ketika sadar aku sudah di ruangan ini dalam keadaan begini...”
“Hmm, kamu tahukan, aku baru pulang dan besok Mas Banu akan pulang, jadi ketika aku sendirian di rumah, penculik itu diam-diam sudah mmmppphhhh.....!!” belum selesai aku menceritakan keadaanku mulutku kembali disumpal oleh lakban, ternyata penculik itu mendengarkan pembicaraan kami, karena tak lama kemudian suara Anne terdengar
“mmmmppphhhhh.........!!!” lakban di mata kami di buka dan kamipun saling berpandangan, kulihat Anne juga terikat hogtied dengan tangan kebelakang dan disambungkan dengan kedua kakinya, wajahnya sungguh memelas, iba aku melihatnya, tanpa kusadari keadaanku tak jauh beda dengannya. Hingga kemudian orang lain masuk,... rupanya yang menculik kami bukan pria itu seorang, karena kulihat yang datang itu berpakaian hitam-hitam, walau kepalanya ditutup dengan penutup kepala dan tetap berkaca mata gelap, aku pastikan dia wanita, melihat dadanya menyembul dan sepatu highheel yang digunakan. Dan di tangan kanannya, sebuah alat berbentuk lonjong, dengan ujung berbentuk bola. Vibrator. Aku langsung mengenali alat itu, aku juga memiliki satu di rumahku, terkunci dengan aman di salah satu lemari pakaianku. Wanita penculik itu meletakan remote control di sisiku, lalu berjongkok. Dengan tangkas dia menyelipkan vibrator masuk ke dalam celana dalamku , lalu menaruhnya diantara selangkangan, dengan ujung yang berbentuk bola menyentuh bagian vagina. Celana dalamku sudah terasa basah.
'Dasar bitch.. ' maki wanita itu, vibrator itu ia rapihkan posisinya, sehingga ujungnya tepat menyentuh bagian paling sensitif di vaginaku. Setelah itu, untuk memastikan vibrator itu tetap pada tempatnya, Wanita itu mengambil seutas tali, diikat melilit kedua pahaku, membuat vibrator itu terjepit oleh kedua pahaku sendiri. Proses cinching agak lebih sulit karena melawati bagian antara paha yang rapat, tapi wanita itu nampaknya sudah terlatih. Sementara aku mendengus-dengus, berusaha menggeser letak vibrator itu.
'Heh! Dasar bego! Ini kebaikan hati gue, lo bisa nikmatin ini! Ini terakhir kali lo bisa ngerasa nikmat! Abis ini, , ngga boleh muasin diri lo lagi! Ngerti ??!' Wanita itu berubah menjadi garang dan rambutku menjadi sasaran jambakannya. Kemudian wanita penculik kembali berjongkok. Dengan tangkas dia menyelipkan vibrator masuk ke dalam celana dalam Anne yang juga sedang terikat hogtied, lalu menaruhnya diantara selangkang an Anne, dengan ujung yang berbentuk bola menyentuh bagian vagina. Lalu vibrator itu ia rapihkan posi sinya, sehingga ujungnya tepat menyentuh bagian paling sensitif di daerah vagina. Setelah itu, untuk memas tikan vibrator itu tetap pada tempatnya, wanita itu mengambil seutas tali, diikat melilit kedua paha Anne, membuat vibrator itu terjepit oleh kedua pahanya sendiri. Proses clinching agak lebih sulit karena melewati bagian antara paha yang rapat, tapi wanita itu nampaknya sudah terlatih. Sementara Anne terlihat meronta-ronta, berusaha menggeser letak vibrator itu. Penculik wanita itu menarik badanku ke tengah ranjang dan meraba-raba lagi sekujur tubuhku. Remasan di dadaku sangat keras sampai-sampai aku merasa kesakitan. Tangan yang satu miliknya mulai meraba-raba vaginaku dan tanpa menunggu lama dia memasukkan jarinya kedalam lubang. Rasa perih yang tadi belum hilang sekarang muncul lagi. Digerak-gerakkannya jari didalam lubang vaginaku, makin lama rasa perih itu tertutupi oleh rasa nikmat dan akhirnya aku mendapatkan orgasme lagi. Tubuhku menegang dan kakiku kututup erat-erat untuk mendapatkan kenikmatan yang lebih. Setelah aku mendapatkan orgasme dia mencabut jarinya dan berjalan untuk mengambil selendang yang ada di lantai, dia menutup mataku dengan selendang itu di wajahku. Hanya hitam warna yang bisa kulihat saat ini.
“Vibrator ini akan kubiarkan tetap menyala di tubuh kalian,.. selamat menikmati!” kata wanita penculik sambil berlalu meninggalkan ruangan di mana kami disekap, semalaman kami berdua dibiarkan dalam keadaan begitu.
Hingga pagi datang, sekitar pukul 10 siang seperti yang ku lihat di jam dinding, aku dan Anne kembali menjadi korban pelecehan, setelah setiap kali aku diperkosanya berkali-kali dan diapun meninggalkanku dalam keadaan terikat dengan sebuah vibrator yang terus bergetar menambah penderitaanku sepanjang hari itu. Keadaan yang tidak berbeda juga dialami Anne. Sepanjang hari aku terikat erat dan aku dikasih makan roti, aku sangat membencinya, ingin sekali aku membunuhnya, berkali-kali aku meronta-ronta berusaha melepaskan sumpalan dalam mulutku ini dan ingin berteriak “lepaskan aku......!” namun hanya “mmmppphhhh....!!” saja yang terdengar. Penculik itu hanya tertawa kecil dibalik maskernya, melihat aku yang sibuk meronta-ronta, setelah dia melecehkan aku dengan jarinya di vagina ku,... pelan-pelan dia melepaskan celananya, lalu dengan pasti memasukkan penisnya yang sudah menegang ke vaginaku,... aku memelototi nya dan berusaha menahan sakit akibat penetrasi yang dia lakukan,... namun ada kenikmatan yang sulit untuk ditangkal, masuk dengan lembut,.. keluar.. masuk... keluar... masuk...”mmmppphhhh....!!” erang ku lemah. Lalu tubuhku diangkatnya, dan didudukkannya aku di atas pinggangnya saat Penculikku merebahkan dirinya di tempat tidur, digoyang goyangkan tubuhku baik boneka mainan,... sambil penisnya memasuki vaginaku, “mmmmppphhhh.....” Aku diperkosa! Dengan sisa-sisa tenaga aku berusaha melawan tapi tetap tanpa hasil. Badanku bergoyang-goyang, sama dengan gerakan pria yang menindihku ini. Sambil terus ‘memompa’ vaginaku, lidahnya juga menjilati telinga dan leherku. Mulutku yang tertutup lakban diciuminya. Hidungku yang separuhnya tertutup lakban membuatku makin menderita karena aku tidak dapat bernafas dengan lepas. Aku masih melakukan perlawanan, berusaha menghentikan perkosaan ini. Dilema! Di satu sisi, di dalam otakku melakukan penolakan karena ini bukanlah hubungan seksual yang kuinginkan. Ini adalah pemaksaan dan aku tidak bisa menerimanya. Meski sudah 2 tahun aku tidak berhu bungan sex karena suamiku jauh. Di sisi lain tubuhku mulai menerima perlakuan ini. Aku mulai memperoleh rasa nikmat seperti yang biasa aku dapatkan bila sedang melakukan hubungan intim atau masturbasi. Kedua hal itu berkecamuk di pikiranku sampai akhirnya bukanlah dengusan perlawanan yang keluar dari mulutku melainkan desahan kenikmatan. Aku menikmati perkosaan ini! Dan beberapa saat kemudian aku mencapai puncak “urgh....” begitu dilakukannya berulang kali sampai menjelang malam, aku merasa sangat lemas karena terangsang habis dengan perlakuannya.
Kini aku dan Anne terbaring tak berdaya dalam posisi telungkup dengan vibrator yang baru saja dimasukkannya ke dalam vagina kami. Vaginaku terasa sangat ngilu, menerima serangan bertubi-tubi selama aku disekap disini.
Seingatku ini hari Minggu, jam di dinding menunjukkan pukul 20.00 malam berarti sudah 2x24 jam aku disekap sejak aku diculiknya hari Jumat malam. Aku mencemaskan absenku pada hari kerja nanti, tapi apa yang bisa aku lakukan,.... aku dan sahabatku Anne, diculik tak tahu kapan akan dilepaskan, sekilas terbayang malam ini bagaimana jadinya ketika suamiku mas Banu pulang, setelah sekian lama tak pulang,tak mendapatkan aku di rumah menantinya. Rasanya sudah hampir seharian aku dalam keadaan terikat seperti in, keadaanku sekarang hanya tanganku yang terikat kebelakang, dan kakiku tidak terikat sehabis malam sebelumnya aku kembali diperkosa, hanya mulutku yang disumpal lakban,...terpikir olehku untuk melarikan diri, meski aku tidak melihat Anne disekap dekat denganku, entah mungkin dia sedang menjadi bulan-bulanan penculiknya. Aku melihat jendela di ruangan itu sedang terbuka. Dan melihat ketinggiannya, rasanya terjangkau olehku, karena hanya setinggi pinggangku. Timbullah niatku untuk melarikan diri, sekaligus meminta pertolongan untuk membebaskan Anne. Hari memang sudah gelap, aku bangkit dari dudukku karena tubuhku tidak diikat ke kursi, atau tiang seperti yang sudah kualami dalam penculikan ini, akupun melompat.... dan berjalan pelan-pelan agar suara sepatuku tidak terdengar. Melewati sebuah pintu keluar yang tak terkawal,.. lalu aku berlari memasuki taman / hutan dengan pepohonan yang rindang,
“mmmmppphhhh....!!” selamat pikirku. Dengan tangan yang terikat kebelakang dan mulut yang tersumpal lakban, dengan hanya bra dan celana dalam yang membungkus tubuhku aku lari dan tidak memperdulikan keadaanku...
“masa bodo dengan keadaanku, yang penting aku bisa selamat.....!!” pikirku
Aku melewati sebuah gubuk dimana aku melihat ada beberapa pria sedang berkumpul di sana, raguku menyelimuti tubuhku dan aku bermaksud menjauh ketika salah seorang dari mereka berteriak
“Hey,... mau kemana?!” kelihatannya mereka terkejut melihat seorang perempuan dalam keadaan terikat dan hanya memakai bra dan celana dalam berlari menjaui mereka. Dan akupun dikejarnya,... keraguanku atas keselamatanku menjadi kenyataan. Mereka adalah preman yang sedang mangkal di situ. Akupun terkejar, tertangkap dan tubuhku dibopong, dan dibawa kesuatu tempat.
“wah,.. dapet bonus nih, lagi mangkal dapet cewe telanjang dan terikat...” ujar salah satu dari mereka
“biar aku cicipi dulu, karena aku yang melihatnya pertama.” lanjutnya lagi. Ketakutan membelengguku, bermaksud lari membebaskan diri dan menolong Anne, aku malah jatuh ke tangan pria pria brandalan seperti ini, lalu matakupun ditutupnya dengan bandana yang mereka pakai. Kedua kakiku dipegang erat oleh tangan-tangan yang kurasakan kekar.
Aku mencium bau mulut dan bau alkohol menyengat. Tangan mereka kurasakan mengelus leherku, sambil kemudian tangannya bergerak menuju payudara kananku.
"mmmmppphhhh..........", aku melenguh tertahan ketika tangan tersebut meremas dengan kencang payudarku.
"Gile man, kenceng juga nih tete" kata pria tersebut diiringi sahutan tawa yang lainnya.
“mmmmppphhhhh....!!!” aku meronta-ronta. Tak lama, pria tersebut sudah asik meremas remas kedua payudaraku yang memang berukuran besar apabila dibandingkan dengan tubuhnya, sehingga membuat orang orang yang menyekapnya menahan nafas ketika menyaksikan aku yang merintih rintih karena payudaraku diremas remas.
Pelan-pelan kurasakan penis merangsang vaginaku dan masuk dengan paksa kedalamnya. Tak sadar keluar lenguhan dari mulutku yang tersumpal dalam keadaan lelah, takut dan marah akupun meronta-ronta dengan hebat lagi. Sebaliknya aku merasakan ada suatu kenikmatan tersendiri menjalar ke seluruh bagian tubuhku bahkan aku menggoyang-goyangkan daerah kemaluanku. Tampaknya orang yang menculikku tahu kalau aku mulai terangsang, selanjutnya di masukan tangannya ke balik celana dalamku dan klitorisku di pilinnya dengan lembut. Aku semakin menggelinjang hebat, antara geli dan nikmat.
“emm....mmmhhh.........eemmmpphhhh..........eeemmmmppphhhhhh.......”
Kemudian kurasakan celana dalamku disingkap dan kurasakan ada mulut yang mengulum-ngulum klitorisku.
“eemmmppphhhh............emh.......emmpphh.........emmppphhhh....”
Aku semakin tak kuasa menahan diriku, aku terangsang hebat klitorisku dikulum disedot sedot.
Beginilah nasibku, berhasil melarikan diri dari penculikku kini menjadi tawanan preman berandalan disekitar situ, sungguh tidak beruntung.
Tiba tiba, masih dengan tangan yang terikat erat kebelakang, dan mulut disumpal dengan lakban, aku merasakan tangan tangan nakal mulai menjelajahi betis dan pahaku. Aku berusaha untuk berontak dengan menendang nendangkan kakiku. Namun sia sia. Terdengar suara tawa puas dari orang orang yang yang saat ini sedang mengelus elus paha dan betisku, sementara pahanya sedang dielus elus oleh 2 orang. Sedangkan di bagian atas, aku merasakan payudaraku sedang diremas remas oleh 2 orang yang berbeda. Ini membuat ku semakin merana tak berdaya.
“ Oh jika aku tahu akan jadi begini, aku tidak melarikan diri tadi........” sesalku, setidaknya keberadaannya diantara penculik akan terasa lebih baik dari keadaannya dengan pemuda berandalan ini. Aku terus diperko sanya hingga lelah dan aku tidak sadarkan diri.
Aku kaget bukan kepalang saat aku siuman, aku berada di suatu tempat yang lain lagi, seperti sebuah gudang dengan mata yang masih berkunang kunang kulihat puting payudaraku sebelah kiri sedang di kulum dengan buas oleh salah satu orang yang lain lagi dengan kelompok berandalan tadi sementara payudaraku yang sebelah kanan pun tak luput dari remasan tangannya. Posisiku terlentang dengan kedua tangan diikat erat kebelakang, bra ku sudah melorot sebatas perut saat orang itu berusaha menarik celana dalamku.
Brettt.... Celana dalamku berhasil direnggut nya dengan paksa. Aku merasakan tangan pemuda berandalan itu menjamah vaginaku yang berbulu cukup lebat itu dengan penuh nafsu.
Kemudian orang itu membuka kedua kakiku yang aku katupkan sebagai pertahanan terakhir dan mulai mengarahkan batang penisnya ke lubang kemaluanku.
“mmmmppphhhh.....!!” aku meronta-ronta panik sambil kulejang-lejangkan kakiku, tapi itu malah membuat penisnya semakin menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku. Dia tetap memperkosaku, memompa vaginaku dengan ganas sambil mulutnya tak henti hentinya menjilati payudaraku saat tiba-tiba dia berhenti dan mele nguh keras, aku sadar dia akan orgasme di dalam liang vaginaku dia memelukku sekuat-kuatnya saat kurasa kan cairan spermanya memenuhi liang rahimku. Hari itu aku diperkosa lagi. Saat itu aku merasa sangat marah, malu dan terhina.
“mmmmppphhhh......” aku mendesah pelan saat pemerkosaku itu mencabut penisnya dan pergi meninggal kanku begitu saja, aku mencoba bangkit dan berdiri walaupun rasa sakit dan ngilu masih terasa di sekitar selangkanganku, dengan susah payah dalam keadaan tanganku terikat erat kebelakang, Aku mencoba bangkit meski lemas ditambah rasa sakit masih mendera seluruh badanku setelah barusan diperkosa dan dengan terhuyung huyung berjalan menuju pintu yang terkunci, aku mencoba mengintip ke arah luar. Lalu ketika mataku mulai melihat lubang kunci, pintupun terbuka dan akupun terjatuh kedepan. Untungnya mereka menangkap tubuhku kemudian membopongku dan mendudukkanku di sebuah kursi kemudian mengikat kakiku menjadi satu dan tubuh ini terikat erat ke kursi. Aku semakin tidak berdaya terikat disebuah kursi. Aku mencemaskan keberadaanku saat ini, mulutku tetap disumpal sejak tadi melarikan diri, tangan dan kakiku terikat erat dan juga terikat pada kursi, tapi apa yang bisa aku lakukan,.... aku disini diantara para brandalan dan sahabatku Anne, diculik dan kami terpisah kini, tak tahu kapan akan dilepaskan, entah bagai mana juga perasaan Anne mengetahui ak berhasil melarikan diri walau kini terjebak dengan berandalan. Sekilas terbayang malam ini suamiku mas Banu pulang. Bagaimana jadinya ketika mas Bayu pulang, setelah sekian lama tak pulang, tak mendapatkan aku dirumah menantinya. Bahkan mungkin menerima telpon memintanya membayar tebusan karena aku diculik. Dan aku tahu pasti penculik itu tidak dapat mengembali kan aku pada suamiku lagi karena aku disekap akibat ulahku yang melarikan diri dari penculikku.
Sudah beberapa malam rasanya aku disekap oleh berandalan itu dalam gudang ini. Setelah tadi malam aku bagaikan piala bergilir, yang bergantian melayani nafsu para berandalan yang menemukan aku ketika aku melarikan diri. Aku dibiarkan terkulai lemas di lantai, tanganku yang terikat erat mulai terasa sakit sekali, pegal, kesemutan. Kedua lenganku terasa kaku dan mati rasa.
Seperti siang ini, cukup lama kemudian kurasakan ada yang menggamit lenganku. mereka membopong tubuhku yang tak berdaya terlilit tali dan mulut tersumpal ke sebuah kamar, lalu aku dilemparkan ke kasur/ranjang. Kakiku di pentang lebar kemudian kurasakan ada yang meng ikat kedua pergelangan kakiku. Oh apa lagi yang akan dilakukan berandalan itu. Tali rafia yang melilit mengikat kedua tanganku dilepaskan, ternyata mereka hanya bermaksud merubah posisi ikatanku aja karena kurasakan kedua tanganku dipentangnya lebar lebar dan pergelangan tanganku kembali terikat di ujung kiri dan kanan tempat tidur. Ganti tali rupanya, sakit di kedua lenganku berkurang karena sekarang lenganku lurus terpentang walaupun masih terikat kuat. Jadi sekarang aku terbaring telentang di ranjang tangan dan kakiku terpentang lebar dan terikat tak berdaya, kemudian mataku ditutup kain. Aku melihat ada 6 (enam) orang yang mengerubungiku sebelum mataku tertutup.
“Nah, sekarang giliran gue.....!” satu suara kudengar lalu kurasakan tubuh kekar yang menaiki tempat tidur di mana aku terbaring terikat.
“ughh...!” aku merasakan penis yang besar masuk ke vaginaku. Tak sadar keluar lenguhan dari mulutku yang tersumpal dalam keadaan lelah, takut dan marah akupun meronta-ronta dengan hebat lagi. Sebaliknya aku merasakan ada suatu kenikmatan tersendiri menjalar ke seluruh bagian tubuhku bahkan aku menggoyang-goyangkan daerah kemaluanku. Tampaknya orang yang memperkosaku tahu kalau aku mulai terangsang, selanjutnya di masukan tangannya ke balik celana dalamku dan klitorisku di pilinnya dengan lembut. Aku semakin menggelinjang hebat, antara geli dan nikmat.
“emm....mmmhhh.........eemmmpphhhh..........eeemmmmppphhhhhh.......”
Kemudian kurasakan celana dalamku disingkap dan kurasakan ada mulut yang mengulum-ngulum klitorisku.
“eemmmppphhhh............emh.......emmpphh.........emmppphhhh....”
Aku semakin tak kuasa menahan diriku, aku terangsang hebat klitorisku dikulum disedot sedot.
Tiba tiba, masih dengan tangan yang terikat erat kebelakang, dan mulut disumpal dengan lakban, aku merasakan tangan tangan nakal mulai menjelajahi betis dan pahaku. Aku berusaha untuk berontak dengan menendang nendangkan kakiku. Namun sia sia. Terdengar suara tawa puas dari orang orang yang yang saat ini sedang mengelus elus paha dan betisku, sementara pahanya sedang dielus elus oleh 2 orang. Sedangkan di bagian atas, aku merasakan payudaraku sedang diremas remas oleh 2 orang yang berbeda. Ini membuat ku semakin merana tak berdaya.
“Nah, sekarang giliran gue dong........!” satu suara lain kudengar lalu kurasakan tubuh kekar yang menaiki tempat tidur di mana aku terbaring terikat. Kedua tanganku tang terikat ke tempat tidur dilepasnya lalu diikatkannya kembali ke belakang. Kakiku juga dilepaskan ikatannya lalu tubuhk ditelungkupkan dan kakiku diikatkan kembali ke kaki tempat tidur oleh teman-teman berandalnya.
“sekarang bagian sini, pasti lebih sempit...” kata berandalan itu penuh nafsu.
“eemmmppphhhh............!!” aku berusaha menjerit dan menolaknya namun apalah dayaku yang sudah terbelenggu ini.
“emm....mmmhhh.........eemmmpphhhh..........eeemmmmppphhhhhh.......” jeritku merasakan sakit yang amat hebat ketika kurasakan penis masuk dengan susah payah ke lubang anusku. Rasa ngilu yang hebat kurasakan saat berandalan itu mengocok-ngocokkan penisnya di lubang anusku. Lalu aku pun tak sadarkan diri... Sementara pingsan, entah berapa kali aku diperkosa, tentunya aku tidak tahu, karena aku siuman dalam keadaan sedang diperkosa oleh berandalan-berandalan itu. Sejenak mereka membiarkan aku yang lemas dan lelah, mungkin mereka juga kecapaian memperkosaku. Sementara keadaan tubuhku saat ini, telanjang tak berpakaian dan tanganku kembali terikat kebelakang dan kakiku menyati dengan tali seperti ikan duyung dengan mulutku tertutup. Sejenak aku dibiarkan terbaring terkulai lemas tak berdaya sampai akhirnya nafsu berandalan itu kembali muncul dan mereka kembali maju bersamaan. Kali ini aku sudah sangat lemas dan tidak mampu berontak sama sekali, karena sudah tidak mempunyai tenaga lagi. Aku hanya terdiam dan membiarkan tubuhku mengikuti saja gerakan pemerkosanya seperti boneka yang sedang dipermainkan beramai-ramai. Berandalan dan teman-temannya kini ada dua belas orang kembali memperkosa vagina dan anusku yang sudah terasa lebih longgar setelah dimasuki banyak penis berkali-kali. Aku dipaksanya untuk mengulum dan menjilati penis mereka, dan menelan semua sperma yang disemburkan ke dalam mulutnya. Bahkan lebih sadis lagi, aku merasakan diperkosa oleh tiga orang sekaligus yang memasukkan penisnya ke mulut, vagina dan anusku secara bersamaan, “emm....mmmhhh.........eemmmpphhhh..........eeemmmmppphhhhhh.......” jeritku kesakitan sementara dua orang lainnya mempermainkan payudaraku.
Semua posisi yang mungkin dibayangkan dalam hubungan seks sudah dipraktekkan oleh mereka. Aku tidak kuat lagi menahan orgasme, dan aku rasakan orgasme beberapa kali. Setelah kedua belas orang berandalan dan temannya selesai memperkosa aku, aku akhirnya pingsan karena kecapaian dan karena kesakitan yang menyerang seluruh tubuhnya terutama di vagina, anus dan juga kedua buah payudaraku.
Jam 4.30 pagi ketika aku terbangun mendengar suara adzan subuh, aku mendapati diriku terikat ke sebuah pohon dalam keadaan berdiri di sebuah taman tempat tadi aku berlari dan ditangkap oleh berandalan itu. Saat itu keadaan masih gelap dan masih belum ada satupun orang maupun mobil yang datang. Kedua tanganku terikat ke belakang dan kedua kakiku yang masih bersepatu sejak aku diculik juga terikat ke sebuah pohon. Tubuhku telanjang bulat tanpa selembar benang pun hanya tali-tali yang mengikat tangan dan kakiku dan aku tidak dapat bergerak sama sekali. Aku mencoba berteriak, dan menayadari bahwa mulutku disumpal lakban, sehingga tidak dapat mengeluarkan suara sama sekali. Vagina dan kedua payudaraku ditempeli oleh lakban. Ketika kulihat, di dadaku tergantung kertas yang bertuliskan Silakan Nikmati Tubuh Saya. GRATIS. Oh betapa malunya aku kalau nanti orang-orang datang dan melihat keadaan dirinya yang telanjang bulat dan belepotan darah serta sperma kering. Dia bahkan tidak dapat membayangkan bagaimana kalau nanti orang yang datang membaca dan menuruti tulisan di kertas itu, kemudian memperkosa dirinya. Tidak lama kemudian, dia melihat tujuh orang datang. Rupanya mereka satpam yang kebetulan lewat di daerah itu.
“mmmppphhh..... mmmmppphhhhh.........!!!”aku berusaha minta tolong, dengan berteriak dan mereka akhirnya datang menghampiriku. Ada rasa sedikit merasa lega, karena sebentar lagi aku akan bebas dari tali-tali yang mengikatku ini, aku akan pulang ke rumahku mereka akan menolongku pikiran penuh harap sempat menyelubungiku. Namun kekhawatiran dan ketakutanku menjadi kenyataan, karena bukannya bantuan yang diberikan, ketujuh orang itu malah ingin menikmati tubuhku yang terikat di pohon di sebuah taman. Sebelumnya seorang satpam menarik lepas dengan paksa lakban di vagina, payudaraku, “mmmppphhh,...!!!” rasa sakit kembali kurasakan. Dan kini vagina dan payudaraku kembali terbuka dan dapat dilihat oleh orang.
“Gile.., bodinya seksi banget. Gimana kalo kita cicipin aja bodinya sekalian. Liat tuh.., memeknya bersih nggak ada bulunya.”
“Iya nih, kita perkosa aja yuk sekalian.. lagian dia yang minta diperkosa, liat aja tulisan di kertas itu.”
“Ayo cepet kita perkosa aja… Gue belum pernah ngerasain punyanya cewek putih secantik seperti ini....!” ujar mereka sambil melepaskan tali yang mengikat kakinya.
“Tolong Pak, lepaskan saya….. jangan perkosa saya lagi, sudah cukup penderitaan saya...…” ujarku ketika lakban yang menyumpal mulutku dilepas. Namun mereka tidak peduli dan tetap melancarkan aksinya. Mereka tertawa bahagia dan mulai membuka baju dan celananya masing-masing. Aku hanya dapat pasrah dan berharap mereka tidak menyakiti dirinya lagi. Tidak mungkin baginya untuk berteriak minta tolong, karena mulutnya kembali disumbat lakban. Kemudian ku lihatmereka mengambil selang air dan menyemprot tubuhku dengan air dingin sambil menggosok-gosoknya untuk membersihkan tubuh dan wajah ku dari darah dan sperma kering yang menempel. Disemprot air dingin seperti itu, aku menggigil kedinginan. Namun itu tidak lama, karena kemudian dua orang laki-laki segera melepaskan tali yang mengikatku, tubuhku diangkatnya dan mendekapnya dari depan dan belakang. Kini aku terjepit di antara tubuh dua orang laki-laki. Mereka mulai memasukkan penis mereka ke dalam vagina dan anusku secara bersamaan. Aku diperkosa di vagina dan anusku dalam posisi berdiri, rasa sakit yang hebat kembali kurasakan. Sementara itu orang yang berada di depanku menciumi bibirku dengan paksa, dan kurasakan kedua payudaraku diremas-remas dari belakang. Beberapa menit kemudian kedua orang itu mencapai klimaks dan menyemburkan spermanya di dalam vagina dan anusku. Orang yang memperkosa vagina Novy menyemburkan spermanya berkali-kali di dalam vaginaku, kini kurasakan bahwa kini vaginaku telah dibanjiri oleh sperma orang itu yang sangat banyak dan tidak dapat tertampung lagi di dalam vaginaku. Setelah itu, lakban yang menyumpal mulutku dilepas dan aku dipaksa berlutut dan harus berkeliling menjilati semua penis laki-laki yang berdiri mengelilinginya secara bergantian. Dengan terpaksa juga aku menelan sperma semua laki-laki itu satu-persatu. Hiiiiiii....... Setelah menjilati semua penis laki-laki yang ada di situ, kemudian mereka memperkosaku lagi di vagina dan juga anus. Salah seorang diantaranya memiliki penis yang sangat besar dan panjang, sehingga ketika dia memperkosa di anusku, penisnya hanya dapat masuk setengahnya. Namun orang itu terus mendorong penisnya masuk ke dalam lubang anusku dengan paksa, membuat “adduuuhhh.....” jerit batinku meronta-ronta kesakitan.
Selain menyemburkan spermanya di dalam vaginaku dan anusku, mereka juga menyemburkan spermanya di tubuhku. Sungguh aku tidak pernah membayangkan bahkan dalam mimpi terburuknya, bahwa dirinya benar-benar dinikmati oleh banyak orang dalam semalam. Dan kali ini aku tidak dapat lagi menahan orgasme. Setelah berkali-kali mencapai orgasme, mungkin karena satpam-satpam ini lebih berpengalaman dibandingkan berandalan berandalan yang memperkosanya sebelumnya. Setelah ketujuh orang itu kebagian mencicipi vagina, anus dan juga mulutku, tubuhku kembali diikat di sebuah pohon dalam posisi semula, tangan diikat kebelakang, dan kakinya diikat menyatu, dan kembali ditinggalkan seorang diri dalam keadaan telanjang bulat. Tubuhku yang hina ini kembali belepotan oleh sperma dan kulit tubuhku terlihat mengkilat oleh keringatnya sendiri. Sperma dan cairan vaginaku yang tercampur menjadi satu kurasakan menetes keluar perlahan-lahan dari vagina dan lubang anusku. Dari mulutku yang tersumpal juga mengalir keluar sperma yang tidak dapat kutelan lagi. Tubuhku menggigil kedinginan. Namun penderitaanku rupanya belum berakhir sampai di situ. Kembali aku digilir dan diperkosa secara bergantian oleh orang-orang yang lewat, satpam, tukang parkir, mahasiswa ikut memperkosanya. Vagina, anus dan mulutnya dimasuki oleh penis-penis lain, dan kembali aku dipaksa menelan sperma mereka semua. Sebagian meratakan spermanya di seluruh tubuh Nova. Ada yang iseng mencoret-coret tubuhku dengan spidol permanen dengan gambar-gambar dan kata-kata jorok. Bahkan ada preman lain yang terakhir yang memperkosaku memasukkan ranting pohon sepanjang 25 cm ke dalam vagina dan anusku sampai berdarah-darah dan meninggalkannya di situ.
Aku mendapatkan diriku terikat dan tergeletak di tanah dengan tubuh dan wajah yang kembali berlumuran oleh darah serta sperma, dan ranting pohon yang menancap di anus dan vaginaku. Payudara dan vaginaku terasa memar. Bulatan pantatnya juga terlihat memar dan kemerahan. Aku sudah tidak dapat merasakan lagi vagina dan lubang anusnya. Akhirnya aku kembali pingsan tidak sadarkan diri karena kesakitan dan kecapaian.
Aku sadarkan diri, kudapati diriku tergeletak di sebuah ruangan yang gelap dan berdebu.
“Oh dimanakah aku kini??” pikirku. Aku mencoba menggerakkan tubuhku, Tidak Bisa. Aku tidak tahu mengapa diriku tertidur begitu lama yang aku tahu aku kini tidak telanjang, kini setiap aku ingin membuka kelopak mataku,tak bisa dan terhalangi. Secara perlahan dirasakan kedua tanganku, kesemutan, kaku dan terikat di belakang pinggang. Mulutku terasa penuh dengan kain-kain lembut yang menyumpalnya, dan tertutup oleh daya rekat lakban perak yang maha kuat. Kakiku menyatu laksana putri duyung, karena pergelangan kakinya persendian lututku dipenuhi dengan lilitan mahasiswa, aku tak sadarkan diri. Aku mengetahui bahwa posisi itu biasa di sebut hogtied, ujung tali yang mengikat kakiku disambungkan sependek mungkin dengan tanganku yang terikat di daerah pinggang. Lebih jelas lagi lenganku juga terikat erat membuat aku tak dapat bergerak sedikitpun. Semakin gencar aku meronta-ronta, hasilnya akan memburuk yaitu tenagaku terkuras sia sia dan semakin terasa pegal dan mungkin akan lebih sakit. Tetapi naluriku menginginkan diri terbebas dari semua ikatan yang membatasi gerak-gerikku. Pelan pelan aku berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya. Aku digilir dan diperkosa di taman oleh satpam dan mahasiswa, kurang lebih 15 orang dari mereka. Lalu aku tak sadarkan diri. Ini bukan khayalan, ini kenyataan, setelah aku diculik dari rumahku Jumat malam lalu sesaat sebelum menjemput anakku Tasya, aku diperkosa oleh penculikku berkali-kali bertemu si cantik Anne sahabatku yang juga diculik. lalu aku melarikan diri dan akhirnya di tangkap oleh berandalan yang kebetulan melihatnya terikat dan berlari, kemudian setelah diperkosa dan digilir berkali-kali oleh 12 orang berandalan, tubuhku ditinggal dan dibiarkan terikat di sebuah pohon di taman itu, dan aku kembali dikerjai oleh 15 orang yang kebetulan lewat dan mendapati aku terikat erat di pohon. Dan sekarang, betapapun aku menggerakkan kakiku, aku tidak bisa merasakan batas.Tiba-tiba telinganya menangkap suara yang cukup akrab di telinganya, suara pesawat yang sedang mengeluarkan rodanya akan bersiap mendarat.
Aku tiba di negeri yang asing bagiku, lalu aku merasakan minuman jus buah-buahan yang nikmat, setelah sumpalan dimulutku dilepaskan sebelum kembali disumpal lakban. Kurasa sudah berhari-hari tubuhnya tidak dapat bergerak atau melihat, Aku merasa sangat mengantuk dengan mata dan mulut yang tertutup, karena pengaruh obat dan penerbangan panjang yang dialaminya. Satu-satunya kesempatan ketika aku buang air, dan ‘pengasuhku’ meletakkan ember kecil dan aku duduk di atasnya dengan ikatan pada paha yang kurasakan sudah dilonggarkan. Pasrah, dan tidak ada yang kupikirkan selain menjalankan apa yang bisa dijalankan, sementara aku merasakan vaginaku dibersihkan dengan telaten dengan air hangat.
"Tee lang sanuk maak maak". Bahasa yang sangat asing dan tidak dapat ku mengerti, yang aku tahu hanyalah diriku rupanya diculik ketika aku tak sadarkan diri dan kelihatannya kini aku ada di luar negeri, karena bahasa yang tidak ku mengerti. Akupun terkapar di dalam sebuah box van yang kini sedang meluncur entah kemana, mataku ditutup dan mulutku disumpal kain yang mengikat di tengkukku.
Mobil berhenti, kurasa aku sudah di tempat tujuan, Kudengar seseorang mendekati pintu belakang box van. Aku membalikkan tubuhku, membelakangi pintu dan seolah menunjukkan pergelangan tangan yang terikat erat berharap diriku dibebaskan segera.
Memang ternyata kedua tali di pergelangan kakiku dilepaskan, rupanya aku harus berjalan dengan sepatu hak tingginya dengan paha yang tetap terikat.
“Mmmmppphhh......” keluhku dengan tanpa semangat dan sangat lelah, akupun dituntun kesebuah rumah di mana ada seorang gadis yang akan melepaskan ikatan dan sumpalan mulutku. Mataku yang masih tertutup pada akhirnya dilepas, Sejenak aku panik tak bisa menggerak-gerakkan tangan yang sudah tidak diikat berhari-hari, merasakan cahaya memasuki pandangannya. Gadis itu berbicara kata-kata yang tidak ku mengerti, namun kelihatannya dia menyemangatiku sambil tersenyum dan menuntunku ke kamar mandi. Gadis itu melepaskan sepatuku yang terus menempel di kakiku sejak aku diculik kemudian memijit-mijit pundak dan leherku, “aaarrghhhh.......” nikmatku ketika tubuhku tersiramkan air hangat dari shower, sambil menyabuninya. Wow. Ini sangat menyegarkan bagiku setelah hampir seminggu diikat dan sehabis perjalanan panjang, setelah bermandi air hangat, Gadis itu memberikan aku pakaian dalaman merah untuk dikenakan, lalu digamitnya tangan kiriku dan dituntunnya kedalam ruangan dingin dengan ACnya terlihat ada matras terhampar di ruangan ini dengan satu bantal kecil, layaknya ruang pijat ya itu adalah Ruangan Pemijatan. WOW! Aku dapat pijat gratis, aku bersukacita dalam pijatan ala Thailand yang terkenal itu. Karena lelah dengan keberadaannya selama seminggu diculik maka tanpa disadari akupun tertidur menikmati pijatan-pijatan di tubuhku setelah perjalanan yang melelahkan.
****
Ketika aku terbangun, tubuhku seperti berayun-ayun, aku merasakan kembali ketidak berdayaan dengan tali-tali yang membatasi pergerakanku. Bahkan tubuhku sudah tergantung dalam ketinggian 2 meter, Hiii... rasanya aku takut jatuh, bagaimana kalau aku jatuh dalam keadaan terbelenggu seperti ini?
Aku sedang dalam ruangan yang beralaskan matras, dan berkaca besar. Di dalam ruangan aquarium itu ada 2 perempuan lagi yang berkondisi serupa denganku, bule jika melihat wajahnya walaupun berambut hitam. Terikat berbusana lengkap dan bersepatu seperti halnya aku kini berpakaian lengkap dengan sepatu yang setia menempel di tubuhku sejak aku pertama kali di culik. Ada seorang lagi terikat hogtied yaitu tali di kaki dan tangannya disambung pendek, kelihatannya dia orang Asia. Samar-samar kulihat ada bayangan orang yang sedang melihat kedalam ruangan di mana aku terikat. Tak pelak lagi, ruangan itu adalah bak aquarium buat para lelaki menikmati kami di dalamnya. Aku berusaha menyamankan diriku yang terikat tergantung, posisiku tidak lebih baik dari perempuan bule tadi namun serupa dengan perempuan Asia di ruangan ini.
“Iraa,... Ira,... kalau sejak SMA kamu sudah menerima cintaku, kamu pasti bahagia dan tidak jadi begini...” sebuah suara terdengar menyapaku. Aku terkejut mendengar bahasa Indonesia dan lebih terkejut lagi dengan apa yang disampaikannya. Akupun terayun-ayun meronta-ronta mencari asal suara tadi dan hasilnya sungguh mengejutkanku. Itu adalah Paul, teman SMAku yang aku tahu sangat menyukaiku sejak dulu dan dia ada di negeri ini dan menculikku?
“Kamu sudah aku culik dari rumahmu, setelah aku sehari sebelumnya aku menculik sahabatmu Anne. Aku berhasil menyekapmu selama 2 hari, ketika aku mencarimu, ternyata kamu berhasil melarikan diri. Dua hari lamanya aku mencarimu, dan akhirnya aku menemukanmu terikat di sebuah pohon dengan keadaan yang lebih mengenaskan akibat kamu melarikan diri dariku. Tahukah kamu, Mas Bayumu akhirnya hanya bisa mene bus dan membawa Anne pulang, dan ketika aku menemukanmu, aku membawamu ke sini di Bangkok Thai land, karena ada boss besar langgananku ingin menyewamu dan kini akulah yang memilikimu sekarang, ha... ha...ha...haaa....!! Kamu menjadi sex slaveku, dan aku akan untung besar!! Ha ha ha ha haaa..!!!”jelas Paul yang membuat aku semakin takut.
“mmmmppphhhhhhh.....!!!!” aku meronta-ronta dengan hebat, sehebat jantungku yang berdebar-debar kencang ketakutan, dalam ruangan kaca bak aquarium, terikat erat, seperti ikan yang baru ditangkap meron ta-ronta menunggu di eksekusi. waktu berjalan sangat lamban, apalagi Mas Bayu telah berhasil menebus Anne tapi bukan aku, rasa sedih, kecewa dan takut semakin membelengguku karena kini aku jauh di negeri orang, tanpa ada kesempatan lagi bagiku untuk membebaskan diri. Aku ditinggalkan seorang diri di aquarium yang seolah-olah diperuntukkan untukku. Tak jauh dari tempatku digantung ada sebuah laptop dengan speaker, dari sanalah asal suara musik itu sepertinya sebuah lagu Jepang sepertinya diramaikan dengan suara mmmppphhhh dan bahasa Jepang, layaknya sebuah soundtrack film bondage Jepang. Dari komputer itu, ku lihat adegan seorang gadis Jepang, China atau entah Korea sedang digarap oleh seorang Pangeran.
Tak lama kemudian Paul kembali membawa sebuah kamera, kamera digital rupanya dan mengambil beberapa photo diriku dalam keadaan terikat erat, membuat rasa penasaranku tumbuh.
“Apa yang akan Paul lakukan? Dia mengambil photoku, mau menjual photoku? Atau mempublikasikan dan nantinya mengancamku 10 tahun kemudian?” akua curiga. Setelah kurang lebih 50 photo dibuat dalam keadaannya tergantung di langit-langit, akupun diturunkannya dan dipindahkan ke atas matras yang biasa dipakai yoga, kini lebih sering lagi suara kamera yang membidik tubuhku yang terikat diselingi suara protes ku yang terdengar “mmmmppphhhhh....” Paul sibuk mengitari tubuhku yang terikat erat dan terus membidikku dengan kamera digital. Tali yang mengikat tangankupun dihubungkan dengan kakiku, jadilah aku terikat dalam posisi hogtied, namun karen aku rajin latihan yoga, jadi tubuhku secara lentur bisa mengikuti posisi yang kelihatannya diinginkan. Beberapa detik kemudian mataku ditutupnya dengan kain, Kurasakan ada dua langkah yang berbeda dengan langkah Paul,... mereka kelihatannya berbisik-bisik sesuatu,... sedang negosiasi rupanya dan sangat terdengar alot. Aku tidak tahu persis apa yang sedang mereka omongkan. Apakah itu tawar-menawar,... rupanya layaknya tender,... Tender mencapai penawaran tinggi untuk mendapatkan tubuh yang tak berdaya ini menjadi budak nafsu. Ditentukanlah siapa penawaran tertinggi ditandai dengan tawa puas sang pemenang tender. Kurasakan uang berpindah tangan di sekitarku.
“Bagaimana dia menjualku? Aku dijualnya kepada siapa? Siapa sih pembeli yang psycho ini? Kapan aku akan di bawa ? Bagaimana dengan photo photoku yang telah di ambil? Apakah aku akan kembali? Apakah aku bisa mengalami orgasme dengan orang? Atau cuma Vibrator? Apakah aku akan di jual ke Jepang? Bagaimana dengan gadis Jepang yang aku lihat di video dalam komputer itu? Menjadi budak nafsu berkali-kali dalam posisi ikat yang sangat tidak mungkin itu?” Sejuta kecemasan menyelimuti pikiranku dan “MMMMPPPHHHHH!! mmpppphhhhh ermmmmmm ermmmm uurrggghhh!!” tanpa terasa aku mengalami orgasme, aku merasa basah di selangkanganku kala semua kecemasan itu muncul. Mereka tidak boleh tahu kalau aku malah terangsang dengan pikiran pikiranku itu, TIDAK!!
Sementara Paul memainkan perannya dengan baik, sementara aku tidak tahu apa yang terjadi dengan saat ini aku hanya bisa mereka reka. Tercium olehku harum stroberi memenuhi ruangan, Dengan keadaan terikat, mulut tersumpal dan mata tertutup, daya ciumku menjadi sangat sensitif dan dapat mencium bau keringat yang sudah menetes. Sebelum aku benar-benar menyadari sepenuhnya apa yang terjadi, ternyata itu adalah harum kondom yang baru saja di buka. Lalu aku merasakan benda yang besar memasuki vaginaku yang nyaris koyak dan masih terasa nyerinya ketika dimasukkan ranting pohon sebelumnya namun kali ini sebuah penis mungkin milik Paul telah masuk ke vaginaku dengan aroma stroberi, dia kurasa menggoyang-goyangkan pinggangku dengan tubuh lemas tak berdaya ini hanya bisa mengikuti kemauannya dan
“mmmmppphhhhh.....” aku mengerang dan tak bisa ku sembunyikan rasa nikmat tadi meski telah berkali-kali aku diperkosa dan rasanya lebih dari 30 kali aku diperkosa dan menjadi budak nafsu para lelaki, hati ini menolak dan memberontak tetapi tubuhku ini seperti sangat merindukan perlakuan ini.
“AAARRGGGGHHHHHHHHH.......!!!!” suara itu memecah keheningan layaknya monster hijau jelek mengerang puas setelah memperkosa gadis Jepang yang tidak berdaya.
Konon setelah menyaksikan gadis tak berdaya yang telah diperkosa berkali-kali dan terlihat puas, kelihatannya sang pembelipun membayarkan sejumlah uang kepada Paul.
"Satu minggu saja.....dia tidak bisa ngaceng, kamu cuma diikat saja selama di sana" kurasakan bisikan Paul lembut ditelingaku seolah menenangkanku
“Apa,...!!??” “Apa itu berarti aku akan terikat lagi dalam seminggu? Apa cuma diikat, nggak ada apa-apa lagi?”
Aku merasa gelap dengan apa yang akan terjadi satu minggu kedepan.
“Bagaimana dengan kerjaanku? Bagaimana kalau mereka mencari ke rumahku? Tagihanku belum terbayarkan, khususnya tagihan handphoneku, akan membuat aku tak bisa terhubungi,.... kesempatan untuk melarikan diri, bila aku tahu di mana sekarang handpohone Blackberryku?” Teringat aku akan acara televisi favoriteku yang sebelum aku dibawa, aku masih melihat episode sebelumnya. Adegan terakhir yang sempat kulihat adalah adegan penculikan Shireen Sungkar dan sudah memasuki episode menegangkan di akhir minggu ini,... “Bagaimana aku kehilangan episode akhir itu? Bagaimana juga dengan akhir dari penculikanku ini? Bagaimana aku bisa membebaskan diri?” bau yang menyengat dan melemahkan syaraf itu membuat aku tak sadarkan diri....
Satu jam lebih dalam perjalanan ku rasakan dengan kendaraan sejenis jeep sepertinya. Aku sudah sangat lelah dengan perkosaan Paul, ku rasakan kini aku berpakaian dan dalam keadaan mataku yang tertutup sejak pemotretan dan pemerkosaan, kendaraan yang membawaku berhenti dan tubuhku diangkat dibopong keluar dari kendaraan yang membawaku entah sejak kapan kini tanganku terikat kedepan, dan di antara kedua tangan dan kakiku diselipkan bambu besar, dan tangan dan kakinya jadi terikat menggantung di bambu besar itu. Betapa sakit rasanya ikatan di tangan dan kakiku ini ketika tergantung terikat pada tanganku di bambu yang membawaku. Sekilas aku membayangkan diriku seperti korban buruan yang sering dia lihat di film-film Afrika, dengan tangan dan kaki terikat pada bambu, lalu digotong oleh dua orang.
Ketika tiba dalam ruangan yang kelihatannya tertutup aku merasa tubuhku diturunkan,... dan aku dibantu untuk berdiri dan dibersihkan oleh tangan-tangan lembut. Kelihatannya itu tangan seorang gadis. Tali-tali yang mengikat kaki dan tangankupun akhirnya dilepaskan, dan terakhir kain yang menutup mataku dilepas. Tanganku mengusap usap bilur – bilur bekas ikatan tali di pergelangan tanganku. Setelah tubuhku dibersihkan, mereka memakaikan aku pakaian khas Thailand, pakaian pramugari Thai Airways berwarna hijau, hanya memang tanpa selendang yang menempel di tubuhnya, dan kembali kurasakan pijatan enak itu, seolah ingin membantu menghilangkan penat dan lelah di tubuh ini. Seseorang kemudin menghampiriku berbicara Bahasa Inggris kepadaku, ternyata dia adalah Prince Satitpong anggota keluarga Kerajaan yang membeliku sebagai budak nafsunya selama satu minggu.
"Do not even try to escape because it's in a wild place out here - there's no place to escape. There are lots of prostitutes around, and if you're caught by a gangster or pimp, they will keep you as a free prostitute too. Even if you escape, you can't speak Thai.The police are all under my control. So behave and relax because tomorrow you will get tortured by me for one week". demikian peringatan dari Prince Satitpong.
Segera setelah pijatan enak dirasakan, rasanya seperti lulur, dan akpun kembali tertidur karena tubuh yang sangat lelah.
*****
Keesokan paginya, aku terbangun dengan suara-suara yang membangunkanku,
"Ikat Ikat...!!" katanya.
“Wah, mereka menguasai bahasaku sedikit...” tanpa sadar aku tersenyum mungkin sudah lama aku tidak tersenyum sejak diculik diperkosa dan akhirnya tiba di negeri ini. Mereka juga terlihat tersenyum ramah, entah karena mereka senang ungkapan mereka dapat dimengerti atau mereka senyum untuk apa yang akan aku alami setelah ini aku tidak tahu. Mereka memakaikan aku blus putih berkerah Shanghai dengan kancing bungkus yang berbaris dari atas ke bawah, yang cukup ketat di tubuhku yang tidak kurus lagi tanoa memakaikan Bra bahkan panties di tubuhku, “Student Shirt” kata mereka dengan rok mini hitam ketat, sambil ditunjukkannya sebuah photo Gadis Thai berseragam sekolah dan dipakaikan kepadaku, dan dikancingnya dengan rapih dari atas kebawah kemudian menarik tanganku di belakang dan diikat erat dengan tali nylon. Kemudian mereka memakaikan stocking warna kulit di kakiku dan sepatu highhells hitam, sepatu yang ada ban menghubungkan kedua mata kakiku mirip dengan sepatu yang kumiliki. Kemudian mereka mendandani layaknya Gadis sekolahan dari Thailand, serupa dengan photo yang tadi ditunjukkan. Usai dandan, mereka menuntun ke ruangan bawah tanah di mana sayup-sayup terdengar tangisan atau keluhan seorang gadis.
"Jaaangaaan...sakiiittt...! lepaskaaann....!! " suara itu makin jelas dan itu ada orang Indonesia rupanya.
Astaga! Ini adalah bilik dan sel di ruangan bawah tanah. Ada 3 gadis dalam sel bawah tanah ini, yang satu diatas tempat tidur tengah dengan tangan terikat dengan lakban kebelakang sedang berlutut diatas kasur, ada tulisan lipstik dipunggungnya dengan tulisan “MILA” mungkin itu namanya, pikirku, disebelah kirinya, gadis yang dua lagi tergeletak di tempat tidur lain dalam keadaan terikat hogtied, kakinya yang terikat dihubungkan dengan tangannya yang juga terikat dan berbusana lengkap termasuk bersepatu seperti yang kupakai. Mata Mila ditutup dengan kain sutra biru, rambutnya hitam panjang dengan model poni manis yang menutupi dahinya. Dia terlihat cukup sexy berkulit bersih putih dengan lipstik pink seperti buah stroberi yang siap di santap. Milaa mengenakan stocking putih dengan sepatu hitam seperti yang akua pakai pula. Pakaiannya lumayan ketat sehingga payudaranya menyembul keluar.
Prince Satitpong tiba di bilik tersebut, serta merta ingin memuaskan nafsunya kepada Mila di tempat tidur, Prince kelihatannya sangat terangsang dengan keberadaan Mila sambil berkata “rogol rogol mari". Sementara Mila sudah cukup terangsang dan basah, terbukti vibratornya sudah terjatuh di samping tempat tidurnya. Satitpong mendorong Mila ke tempat tidur hingga payudaranya semakin terlihat. Prince kemudian merobek stocking putih Mila, mencium payudara Mila sebelah kiri dengan suara yang nyaring Sllrrupp ssllrruppp... mmm.
Aku dalam keadaan tangan terikat kebelakang hanya duduk menyaksikan sambil berharap dalam hati “rogol dia... sedap mesti rogol habis” bak suporter Prince. Namun tiba-tiba dia gempar dan berteriak marah. Benar kata Paul. Satitpong tidak punya “rogol power” alias dia tidak bisa ‘ngaceng’
Prince Satitpong mengambil cambuk yang terletak disudut tempat tidur dan mulai mencambuki Mila hingga dia teriak “pleaseeee stop”. Mila kelihatannya cukup pengalaman dan menikmati cambukan yang dideranya ditubuhnya yang sintal. Sebagian tubuhnya terlihat nikmat dengan keringatnya berkilau dalam ruangan terang benderang. Tentu mata Mila masih tertutup dan tidak akan tahu bahwa kilaunya memberi rangsangan dan seperti siap diperkosa lagi. Prince memunggut vibrator yang jatuh tadi dan memasukkannya di antara selangkangan Mila, menggetarkannya dengan level tinggi. Mila meronta gemetar seperti ikan kecil dan dimulutnya bergumam suara seperti “ppprrr mrrr... mmhh” pastinya dia merasakan gelinjang yang cukup hebat karena cairan membasah dan mengalir malalui pahanya. Dengan lembut Prince Satitpong mengeringkan cairan yang membaur dengan keringat di sekujur tubuhnya sambil berkata
"Good fuck haa...? Good fuck".
Seakan mendapat rangsangan baru, Prince Satitpong mengambil tubuhku yang juga terikat dengan pakaian seragam sekolah Thailand ke tempat tidur sebelah kanan Mila yang berkilau. Mila sudah terkulai lemas, entah karena lelah melayani Prince Satitpong, atau orgasme, atau kurang tidur, atau kedua-duanya, nikmat dan sakit yang hanya dia yang tahu. Sejenak aku merasa agak iri dengan Mila, dan tanpa sadar bergumam
“Good fuck....” “Ooopss.... APA YANG AKU KATAKAN?!” aku terkejut sendiri. Prince Satitpong tak kalah terkejut dan membelalakkan matanya, Aku tak habis pikir, yang dipikirkanku terungkap dalam kata, maklum selama ini mulutku di sumpal lakban, namun kini keadaannya berbeda.
"Ohh.. you want good fuck. Not like friend Mila. Good fuck using vibrator" lanjut Prince
“You dress as young Thai high school student. Good first fuck. Virgin fuck” satu persatu kancing baju Shanghai yang dikenakanku dilepas, terlihat kulit putihku dengan bra yang sewarna dengan kulit tubuhku.
“Now you will give good suck. Later you get good fuck. So good suck now” kata sang Prince Satitpong. Prince Saitpong menduduki tubuhku yang terbaring di tempat tidur dan memasukkan penisnya ke mulutku,
“ugh......” bagian yang paling tidak kuiinginkan terjadi. Aku menahan aroma yang tidak enak dan terpaksa mulai mengisapnya dan mengisapnya. Prince Satitpongpun terus mengerang, namun aku tak khawatir Prince tidak akan ngaceng jadi dengan terpaksa dan tidak berdaya kuisap terus menerus. Erangan Prince semakin menjadi-jadi, sementara aku dengan dengan tekun mengisapnya dengan kecepatan sedang dan tiba tiba CCRRROOOOTTTT.....!! tumpahlah sperma Prince Satitpong kedalam kerongkonganku tanpa tanda tanda peringatan. Prince Satitpong telah berhasil mengeluarkannya sampai menyebar ke bagian bawah wajahku di pundak dan bagian leherku jadi belepotan.
“Aaaaccchhhh......!” aku menatap ke kananku dengan rasa kesal dan ketidak-puasan, di sisiku ada Prince Satitpong terkulai lemas dan beristirahat disampingku yang dalam keadaan tangan terikat beberapa menit lamanya dalam kepuasan. Satu jam kemudian ku lihat Prince Satitpong terbangun dengan kepuasan maksimal, dengan lembut dia membersihkan bekas sperma yang belepotan di bagian leherku dan pundak atasnya. Kemudian pelayan istana kembali merapihkan pakaianku yang terbuka,.. dengan telaten di kancingnya blus putih yang kupakai, kemudian mulutku kembali disumpal lakban, selangkanganku diselipi vibrator yang tersedia di dalam kamar itu. Kakikupun diikat jadi satu. Dalam keadaan terikat aku didudukan di kursi berroda dan didorong dimasukkan dalam sel bawah tanah tak jauh dari situ dalam keadaan terikat tubuhku diangkat keatas tempat tidur yang ada di dalam sel tersebut.
Siang itu Satitpong kembali dan mengunjungiku dalam sel, menyaksikan aku yang menderita penasaran dengan karena aku tidak mencapai apa-apa. Meringkuklah aku di sel bak tahanan dalam keadaan terikat dan vibrator yang menyala, entah sudah berapa kali aku mengalami orgasme sepenjang siang itu, dibantu vibrator yang tadi dipasangkan. sorenya gadis yang ditugasi melayani budak nafsu seperti Mila, aku dan yang lainnya datang ke sel sel mereka, waktunya makan. Mereka dengan telaten melepaskan stocking yang menyumpal dan mengikat kami para tawanan dan dengan sabarnya mereka menyuapi kami. Di sel seberang sana kulihat Mila juga sedang disuap di beri makan. Tetap dalam keadaan terikat sangatlah cukup pelayan istana maupun gadis-gadis yang ditugasi khusus merawat para tawanan budak seks Prince Satitpong, sehingga tangan kami tidak perlu dilepas. Itulah pengalaman hari pertamaku dalam masa penjualan kepada keluarga Kerajaan Thailand. Malam itu aku tertidur dalam ikatan, tidak seperti hari kedatanganku, ketika aku menikmati istirahat dengan normalnya, kali ini aku harus bisa tidur dalam keadaan tangan yang terikat erat kebelakang, memakai busana seragam Thai student tentunya dengan kaki yang terikat jadi satu. Mulutku tidak disumpal karena toh tidak akan bisa meminta tolong di kerajaan itu.
Pagi itu datanglah gadis gadis pelayan itu kedalam selnya dan melepaskan ikatan-ikatan yang melilit di pergelangan tangan dan kakiku. Lalu aku digamit dan dituntun keluar dari selnya,.. kata mereka “Mandi,...” lagi-lagi aku terkejut dan tersenyum mengetahui mereka menggunakan bahasaku. Mereka melepas semua baju yang menempel di tubuhku, juga sepatu yang dipakaikan padaku sejak kemarin pagi, lalu mengikat tanganku ke atas tali-talinya disambungkan dan dikaitkan ke langit langit kamar mandi. Tersiramlah air hangat membasahi tubuhku. Mandi yang sangat nikmat dan kurasakan sabun dioleskan keseluruh tubuhku dan dia merasakan tangan-tangan gadis-gadis itu memijit tubuhnya yang lelah dan pegal akibat diikat sepanjang pagi dan malam. Sungguh kenikmatan yang sangat saat mandi dan dimandikan, saat keramas aku merasa seperti di creambath karena kepala dan pundaknya mengalami pijatan-pijatan yang menyegarkan.Lalu rambutku dikeringkan dengan hair dryer dan hilang sudah rasa pegal yang kurasakan selama sepanjang hari kemarin terikat erat. Gadis-gadis yang melayaniku datang menghampiriku dengan membawa lagi pakaian seperti seragam pramugari Thai Airways, pakaian yang bertangan setengah panjang, dengan kancing bungkus di muka dan tidak berkerah, kali ini berwarna ungu. Bedanya jika pramugari Thai Airways memakai rok panjang dengan belahan dari paha kebawah, maka aku dipakaikan rok ketat dalam ukuran mini dan tidak dipakaikan selendang seperti layaknya pramugari Thai Airways. Kembali aku harus mengenakan pakaianku untuk hari ini, dibantu gadis-gadis pelayanku, tak lupa sepatu yang kupakai kemarin kembali dipakaikan di kakiku.
"Ikat,... Ikat...?!" kembali mereka mengatakan itu padaku, kali ini aku sudah tidak kaget lagi namun tetap mem berikan senyuman manis sebagai apresiasi terhadap gadis-gadis itu. Lalu aku letakkan tanganku di bela kang, menyilang di pinggangku, kemudian salah satu dari gadis itu mengeluarkan tali nylon dan mengikat nya dengan erat dan kali ini sisa tali di tariknya keatas dan dililitkannya mengitari payudaraku di atas dan di bawahnya.
“uurrghh....!” keluhku sedikit meronta merasakan eratnya ikatan yang dilakukan oleh gadis pelayan tadi. Sekarang tanganku sudah terikat tak berdaya,. aku menyiapkan diri untuk dibawa ke sel tempatnya tadi. Lalu gadis-gadis itu menutup mataku dengan kain hitam dan dituntunnya aku menuju ke suatu tempat. Kurasa aku tidak di bawa ke sel tempatku di sekap melainkan ke sebuah ruangan di mana Prince Satitpong sudah menung gunya. Kain yang menutup matanya dilepaskan. Aku sangat terkejutnya, menyadari aku tidak dibawa ke sel tempatku melainkan di sebuah ruangan dengan tata ruang khas istana Thailand. Aku lihat ada papan / tiang berbentuk Y terbalik dan ada yang berbentuk X. Di tiang yang berbentuk X Mila sudah ada disitu dalam keadan terikat dengan pakaian lingerie warna hitam dan bersepatu. Kemudian gadis-gadis itu membawa Mila ke tiang yang berbentuk huruf Y terbalik itu. Tubuhku yang sudah terikat, diikatkannya lagi ke tiang itu. Kakiku diikatkan mengangkang ke kaki tiang Y terbalik itu.
“uurrghh....!” kurasakan tubuhku tidak dapat digerakkan sama sekali. Lalu pengawal Prince Satitpong membe kap mulutku dengan saputangan sehingga aku tidak dapat bersuara.
“eemmmmppphhhh...... mmmmppphhhhh........!!”
“mmmmppphhhh...... mmmmppphhhhh........!!”jerit Mila ketika dirasakan cambuk telah menghujam tubuhnya, bersahut-sahutan dengan suaraku yang juga menjerit-jerit ketika cambuk mendera tubuhnya. Kira-kira satu jam lamanya Mila & aku menerima cambukan yang penuh rangsangan lalu sejenak mereka berdua ditinggalkan terikat di ruang eksekusi itu. Berjam-jam aku dan Mila dalam keadaan lemas hanya bisa menanti apa yang akan dialami lagi oleh kami. Kelihatannya semalaman kami hanya dibiarkan terikat di tiang itu dan hanya di cambuk. Dan akupun tertidur dalam keadaan seperti itu.
Keesokan harinya mereka membangunkan ku dan kurasakan ikatan di kakiku dilepaskan, dan tanganku masih terikat kebelakang namun nampaknya aku sudah dilepaskan dari tiang, mataku masih ditutup dengan kain hitam dan aku dituntun dibuat berlutut bertumpu lututku diganjal sesuatu sepertinya bantal. Entah apa mak sudnya aku disuruh berlutut. Kemudian kurasakan ada sesuatu benda yang berusaha dimasukkan ke mulutku. itu adalah Penis
Prince Satitpong kelihatannya menghendakiku supaya aku mengoral penisnya. Seketika aku sempat menolak dan memberontak tapi mereka itu terus memaksaku dan penisnya terus dijejalkan ke mulutku. dengan sangat terpaksa aku turuti kemauannya sambil mengulum penisnya, aku berlinangan air mata kurasakan penutup mataku basah. Aku terpaksa terus mengulumnya mau muntah rasanya. Aku mengulum diujungnya saja, aku jijik! Tampaknya Prince Satitpong itu tidak puas kalau aku mengulum penisnya di ujung aja dipegangnya kepalaku kemudian ditancapkan dalam dalam penisnya masuk ke mulutku sampai rasanya menyentuh tenggorokan, aku berulang kali tersedak dan mau muntah tapi tidak diperdulikannya. Keluar suara mendesis-desis dari mulutnya tampaknya Prince Satitpong itu keenakan tapi tak keluar satu patah katapun dari mulutnya. Semakin lama semakin kencang dia memaju mundurkan kepalaku sampai suatu saat dibenam kan penisnya dalam dalam ke mulutku dan kurasakan meyembur kan cairan sperma masuk dalam kemulutku. Segera aku berusaha menarik mulutku tapi justru kepalaku semakin ditekan kepalaku. Penisnya terbenam lama dimulutku, spermanya berusaha aku keluarkan bersama air liurku walaupun sebagian ada yang tertelan. Asin! Rasanya sangat ji jik aku dibuatnya aku telah diperbudaknya. Ditariknya penis itu dari mulutku dia mengoles-oleskan ujung penisnya ke pipiku. Seke tika pipiku berlepotan sisa2 spermanya. Bau spermapun menyergap hidungku amis! seperti bau putih telur.
Aku dibiarkan terkulai lemas di lantai, tanganku yang terikat erat mulai terasa sakit sekali, pegal, kesemutan. Kedua lenganku terasa kaku dan mati rasa.
Cukup lama kemudian kurasakan ada yang menggamit lenganku. Aku dibimbingnya berdiri, lalu aku dibopong dalam perjalanan cukup lama dan berliku lalu tubuhku dilemparkan ke kasur/ranjang. Kakiku di pentang lebar kemudian kurasakan ada yang mengikat kedua pergelangan kakiku. Hari ketiga berlangsung dengan penuh penderitaan bagiku, kembali aku dengan terpaksa menelan sperma yang dimasukkan kemulutku. Oh apa lagi yang akan dilakukan Prince Satitpong, aku menya dari tubuhku sudah menjadi miliknya selama satu minggu karena aku sudah disewakan oleh Paul teman SMA ku. Tali yang melilit mengikat kedua tanganku dilepaskan, ternyata orang tersebut hanya bermaksud merubah posisi ikatanku aja karena kurasakan kedua tanganku dipentangnya lebar lebar dan pergelangan tanganku kembali terikat. Ganti tali rupanya, sakit di kedua lengan ku berkurang karena sekarang lenganku lurus terpentang walaupun masih terikat kuat. Jadi sekarang aku ter baring telentang di ranjang tangan dan kakiku terpentang lebar dan terikat tak berdaya, mataku masih tetap ditutup kain.
“Sleep tied ya not sleeptight....” gurau Prince Satitpong mengakhiri siksaanya padaku hari itu.
Hari keempat aku disewakan oleh Paul ke Prince Satitpong, aku terbangun dengan keadaan agak nyaman dengan kakiku di pentang lebar kemudian kurasakan ada yang mengikat kedua pergelangan kakiku dengan kedua tanganku yang terpentang lebar diikat diujung bagian atas tempat tidur dimana aku dibaringkan, kusa dari mataku sudah tidak tertutup kain hitam lagi dan aku tahu aku memang tidak bisa bergerak karena tali-tali yang mengikatku di tempat tidur itu.
“Mandi,...” kata gadis-gadis itu yang datang membuyarkan lamunanku, aku tersenyum kepada mereka. Kemudian mereka melepaskan tali-tali yang mengikat tanganku ke tempat tidur, lalu aku melepaskan sumpalan di mulutku sementara mereka melepaskan tali-tali yang mengikat di pergelangan kakiku semalaman di tempat tidur. Mereka melepas semua baju yang menempel di tubuhku, juga sepatu yang dipakaikan padaku sejak kemarin pagi, lalu mengikat tanganku ke atas tali-talinya disambungkan dan dikaitkan ke langit langit kamar mandi. Tersiramlah air hangat membasahi tubuhku. Mandi yang sangat nikmat dan kurasakan sabun dioleskan keseluruh tubuhku dan dia merasakan tangan-tangan gadis-gadis itu memijat tubuhku yang lelah dan pegal akibat diikat sepanjang pagi dan malam. Sungguh kenikmatan yang sangat saat mandi setelah kira-kira 2 minggu tangan dan kakiku selalu terikat, sejak aku diculik Paul dari rumahku Jumat malam,...
“Today is Wednesday” ketika kutanyakan kepada Khun Lamai, sambil menyiapkan tali-tali untuk mengikatku. Jika diingat ingat aku diculik Paul hari Jumat malam, dan dua hari aku disekap lalu aku melarikan diri dan jatuh ke tangan berandalan, hingga ditemukan lagi oleh Paul dalam dua hari, lalu aku dibawa ke Thailand dan esoknya aku dijual ke keluarga kerajaan. Sambil melamun aku letakkan tanganku di belakang, menyilang di pinggangku, kemudian Khun Supawan mengeluarkan tali nylon dan mengikatnya dengan erat dan kali ini sisa tali di tariknya keatas dan dililitkannya mengitari payudaraku di atas dan di bawahnya.
“uurrghh....!” keluhku sedikit meronta merasakan eratnya ikatan yang dilakukan oleh gadis pelayan tadi. Sekarang tanganku sudah terikat tak berdaya,.. Kemudian Khun Lamai, memakaikan sepatuku, yang berwarna putih yang kukenakan ketika aku diculik dari rumahku itu, kemudian sebuah vibrator di masukkan ke selangkanganku masuk sedikit ke vaginaku dan akhirnya kedua pergelangan kakiku, paha dan lututku terikat erat. Mulutku dimasukkan bola tennis, kemudian disumpal dengan sapu tangan dan diikat erat-erat ke tengkukku. Sulit rasanya aku untuk tetap berdiri kalau saja Khun Supawan tidak memegangi tubuhku ini.
“mmmmppphhhhh......!!” Khun Supawan mencubitku agar aku bersuara dan mereka mengetes suaraku dalam sumpalan. Kemudian aku dibopong oleh salah satu pengawal istana yang kekar itu, berjalan menuruni tangga jauh ke bawah rupanya aku akan dikembalikan ke sel tempat ku disekap dan menunggu tindakan tindakan yang diinginkannya itu.
“Today will be your break day as Princess have honorary guest from Indonesia” kata Khun Supawan dalam bahasa Inggris. Aku sungguh terkejut, siapakah pejabat Indonesia yang akan mengunjungi istana ini? Bisakah mereka membebaskan aku dan mungkin Mila. Bagaimana aku bisa membuat pejabat itu tahu jika ada dua orang wanita Indonesia yang sedang disekap di sini? Pertanyaan-pertanyaan yang timbul itu membuat diriku meronta-ronta,... untunglah pengawal istana itu cukup kekar membopongku sehingga tidak terjatuh. Ketika tiba di sel, kulihat selnya Mila kosong, di manakah dia, pikirku. Aku kemudian didudukkan di sebuah kursi di dalam selku. Tali-tali tambahan telah meliliti tubuhku menyatu dengan kursi di mana aku didudukkan. “ugh....!!”dan aku merasakan tidak dapat bergerak sedikitpun, kali ini. Khun Supawan, Khun Lamai dan penga wal itu keluar dari selku, mereka menggembok pintu sel itu sehingga tidak ada yang bisa masuk mau pun keluar, karena kunci di pegang oleh Khun Lamai. Sedikit aku merasa lega karena hari ini aku tidak diapa-apakan,... namun dugaan itu salah, Khun Supawan datang dengan seorang pria kerajaan yang besar badannya.
“The Palace Head has the authority from Prince to not let you alone...” kata-kata Khun Supawan mengejutkan ku. Tinggallah aku berdua didalam selku dengan pria yang konon kepala Istana itu. Kepala istana itu melepas kan tubuhku dari tali yang melilit ke kursi dan aku ditelungkupkan di tempat tidur. Tanganku tetap terikat erat di belakang, kakiku dilipat dan diikatkan pada paha dan lututku lalu
“emm....mmmhhh.........eemmmpphhhh..........eeemmmmppphhhhhh.......” jeritku merasakan sakit yang amat hebat ketika kurasakan penis masuk dengan susah payah ke lubang anusku. Rasa ngilu yang hebat kurasakan saat Kepala istana itu mengocok-ngocokkan penisnya di lubang anusku. Lalu aku pun tak sadarkan diri... Sementara pingsan, entah berapa kali aku diperkosa, tentunya aku tidak tahu, karena aku siuman dalam keadaan sedang diperkosa oleh kepala istana dan pengawal-pengawalnya itu. Sejenak mereka membiarkan aku yang lemas dan lelah, mungkin mereka juga kecapaian memperkosaku, sampai akhirnya nafsu para pengawal istana itu kembali muncul dan mereka kembali maju bersamaan. Kali ini aku sudah sangat lemas dan tidak mampu berontak sama sekali, karena sudah tidak mempunyai tenaga lagi. Aku hanya terdiam dan membiarkan tubuhku mengikuti saja gerakan pemerkosanya seperti boneka yang sedang dipermainkan beramai-ramai. Kepala Istana dan para pengawalnya kini ada sepuluh orang kembali memperkosa vagina dan anusku yang sudah terasa lebih longgar setelah dimasuki banyak penis berkali-kali. Aku dipaksanya untuk mengulum dan menjilati penis mereka, dan menelan semua sperma yang disemburkan ke dalam mulutku. Bahkan lebih sadis lagi, aku merasakan diperkosa oleh tiga orang sekaligus yang memasukkan penisnya ke mulut, vagina dan anusku secara bersamaan,Hingga tiba waktunya makan, Khun Lamai membuka selku dan membiarkan para pengawal dan Kepala istana keluar meninggalkan aku yang sudah berantakan, sebelumnya mereka mengangkatku dan kembali mendudukkanku di kursi, dengan keadaanku yang terikat mengangkang, karena betis dan pahaku terikat melipat lututku. Khun Supawan menyusul masuk ke selku kemudian dia merapihkan tubuhku, menyisir rambutku dan memperbaiki make upku dan lipstikku yang meluntur akibat air liur yang menetes terus karena mulutku disumpal menganga memakai bola tenis. Sumpalan bola tenis itu dilepaskan, dengan selembar tissue mereka melap air liur di daguku. Lalu aku disuapinya makanan, sebuah sup tom yang gong yang asam pedas di suapkan padaku. Saat itu aku merasakan kesemutan yang sangat hebat, dan tanganku mulai mati rasa akibat terikat berhari-hari. Seolah tahu apa yang kurasakan Khun Lamai, berinisiatif memijat-pijat pundakku yang terasa amat pegal. Sementara Khun Supawan menyuapiku,.. aahh,... enak rasanya pijatan dan makanan yang kusantap. Keadaan ini jauh lebih baik dari ketika aku di culik Paul maupun ketika aku jatuh ke tangan berandalan-berandalan itu.
Sore itu Prince Satitpong menyempatkan diri mengunjungiku dalam sel, menyaksikan aku yang menderita akibat digarap oleh kepala istana dan para pengawal. Meringkuklah aku di sel bak tahanan dalam keadaan terikat dan vibrator yang menyala, entah sudah berapa kali aku mengalami orgasme sepanjang siang itu, dibantu vibrator yang tadi dipasangkan. Malamnya Khun Lamai yang ditugasi melayani budak nafsu seperti aku datang mengunjungiku, waktunya makan malam. Mereka dengan telaten melepaskan segala yang menyumpal dan mengikat kami para tawanan dan dengan sabarnya mereka menyuapi kami, namun di sel seberang sana tidak kulihat Mila lalu
“Mila...??” saat makan kutanyakan pada Khun Supawan.
“She is free from today!” sahut Khun Supawan.
“Ooohh....?” ujarku heran bercampur iri
Malam itu kembali aku tidur dengan tangan yang terikat kebelakang. Dan kaki yang terlipat, dengan lutut yang terikat erat, aku harus bisa tidur dalam keadaan tangan yang terikat erat kebelakang, memakai busana seragam Pramugari Thai Airways dengan kaki yang terikat. Mulutku tidak disumpal karena toh tidak akan bisa meminta tolong di kerajaan itu. Aku membayangkan Mila yang sudah dibebaskan, entah di mana dia sekarang?
Memasuki hari kelima aku disewakan oleh Paul ke Prince Satitpong, aku terbangun dengan keadaan agak pegal-pegal dan kaku di tangan, pundak, dan kakiku dan aku tahu aku memang tidak bisa bergerak karena tali-tali yang mengikatku di tempat tidur itu.
“Mandi,...” Khun Supawan menyapaku dan membuyarkan lamunanku, aku tersenyum kepada mereka. Sementara Khun Lamai melepaskan tali-tali yang mengikat tanganku ke tempat tidur, lalu aku melepaskan sumpal an di mulutku sementara mereka melepaskan tali-tali yang mengikat di lutut kakiku semalaman di tempat tidur. Mereka melepas semua baju yang menempel di tubuhku, juga sepatu yang dipakaikan padaku sejak kemarin pagi, dibawanya aku ke kamar mandi disebelah selku lalu Khun Supawan mengikat tanganku ke depan ke tempat shower diletakkan. Tersiramlah air hangat membasahi tubuhku. Mandi yang sangat nikmat dan kurasakan sabun dioleskan keseluruh tubuhku dan aku merasakan tangan-tangan gadis-gadis itu memijat tubuhku yang lelah dan pegal akibat diikat sepanjang pagi dan malam. Sungguh satu-satunya kenikmatan kurasakan saat mandi setelah kira-kira 2 minggu tangan dan kakiku selalu terikat, sejak aku diculik Paul dari rumahku Jumat malam,...
“Today is Prince Kosin’s birthday, and you will be Princess Satitpong birthday gift to his brother” kata Khun Supawan dalam bahasa Inggris sambil memakaikan aku blus putih berkerah Shanghai dengan kancing bungkus yang berbaris dari atas ke bawah, yang cukup ketat di tubuhku yang tidak kurus lagi, “Student Shirt” kata Khun Supawan dengan rok mini hitam ketat, sambil ditunjukkannya sebuah photo Gadis Thai berseragam sekolah dan dipakaikan kepadaku, dan dikancingnya dengan rapih dari atas kebawah kemudian menarik tanganku di belakang dan diikat erat dengan tali nylon. Kemudian mereka kaus kaki putih setinggi lutut di kakiku dan sepatu highhells hitam, sepatu yang pernah kupakai di hari-hari pertamaku di Thailand, ada ban menghubungkan kedua mata kakiku mirip dengan sepatu yang kumiliki. Kemudian mereka mendandani layaknya Gadis sekolahan dari Thailand, serupa dengan photo yang tadi ditunjukkan.
“Ikat....” ujar Khun Lamai, sambil melamun akupun meletakkan tanganku di belakang, menyilang di pinggangku, kemudian Khun Supawan mengeluarkan tali nylon dan mengikatnya dengan erat dan kali ini sisa tali di tariknya keatas dan dililitkannya mengitari payudaraku di atas dan di bawahnya.
“uurrghh....!” keluhku sedikit meronta merasakan eratnya ikatan yang dilakukan oleh Khun Lamai. Sekarang tanganku sudah terikat tak berdaya, mereka kemudian mengikat erat kakiku menjadi satu, dan kini aku laksana putri duyung dengan ketidak berdayaanku. Setelah tubuhku terikat semua dan mulutku di sumpal oleh kain yang mengikat ke tengkukku, kemudian Khun Lamai, membawa pita besar dan mengikatkan nya pada tubuhku,menyerupai sebuah bingkisan kado. Kemudian terakhir mataku ditutup dengan kain hitam dan kurasakan tubuhku diangkat di masukkan ke sebuah box besar yang tadi sempat kuli
hat terletak di depan selku. Gelap dan tak berdaya rasanya dengan mata tertutup, mulut disumpal lakban dan tangan dan kaki yang terikat. Aku merasa box tempatku berada bergerak dan berjalan cukup memakan waktu. Hingga terdengar keramaian layaknya sebuah pesta, box yang membawaku berhenti disuatu tempat. Khun Lamai membuka box itu untuk memberi nafas sedikit padaku. Hingga kemudian seseorang masuk dan melepaskan kain yang menutup mataku. Pandangan mataku tertuju pada seorang Prince yang ganteng serupa dengan aktor Chou Yung Fat, itulah Prince Kosin rupanya. Dengan tenang dia mengangkatku keluar dari dalam box dan meletakkan dengan lembut di tempat tidur yang besar dan mewah. Dibukanya pita yang mengikat di tubuhku, tinggallah tubuhku yang terikat erat menantikan apa yang akan terjadi pada diriku.
“Thai student huh,... how so sweet you are” ucap Prince Kosin memujiku.
“eemmmmppphhhh........!!” sahutku tidak jelas
Pelan-pelan kurasakan penis merangsang vaginaku dan masuk dengan paksa kedalamnya. Rupanya kakiku su dah tidak terikat jadi satu, namun kurasa masih ada tali-tali yang melilit di pergelangan kakiku Tak kusadari keluar lenguhan dari mulutku yang tersumpal dalam keadaan lelah, takut dan marah akupun meronta-ronta dengan hebat lagi. Sebaliknya aku merasakan ada suatu kenikmatan tersendiri menjalar ke seluruh bagian tubuhku bahkan aku menggoyang-goyangkan daerah kemaluanku. Kancing baju seragam “Thai Student” yang dipakaikan padaku sudah terbuka dan payudaraku kelihatannya sudah menantang siapapun yang melihatnya. Tampak nya Princes Kosin yang memperkosaku tahu kalau aku mulai terangsang, selanjutnya di masukan ta ngannya dan klitorisku di pilinnya dengan lembut. Aku semakin menggelinjang hebat, antara geli dan nikmat.
“mmmmppphhhh.....!!” aku meronta-ronta panik sambil kulejang-lejangkan kakiku, tapi itu malah membuat penisnya semakin menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku. Dia tetap memperkosaku, memompa vaginaku dengan ganas sambil mulutnya tak henti hentinya menjilati payudaraku saat tiba-tiba dia berhenti dan mele nguh keras, aku sadar dia akan orgasme di dalam liang vaginaku dia memelukku sekuat-kuatnya saat kurasa kan cairan spermanya memenuhi liang rahimku. Aku masih merasakan penis yang besar keluar masuk keluar masuk keluar masuk di vaginaku. Tak sadar keluar lenguh an dari mulutku yang tersumpal dalam keadaan lelah, takut dan marah akupun meronta-ronta dengan hebat lagi. Sebaliknya aku merasakan ada suatu kenikmatan tersendiri menjalar ke seluruh bagian tubuhku bahkan aku menggoyang-goyangkan daerah kema luanku. Tampaknya orang yang memperkosaku tahu kalau aku mulai terangsang, selanjutnya di masukan ta ngannya ke balik celana dalamku dan klitorisku di pilinnya dengan lembut. Aku semakin menggelinjang hebat, antara geli dan nikmat.
“emm....mmmhhh.........eemmmpphhhh..........eeemmmmppphhhhhh.......”
Prince Kosin rupanya piawai dalam sex, kemudian kurasakan ada mulut yang mengulum-ngulum klitorisku.
“eemmmppphhhh............emh.......emmpphh.........emmppphhhh....”
Aku semakin tak kuasa menahan diriku, aku terangsang hebat klitorisku dikulum disedot sedot. Tiba tiba, masih dengan tangan yang terikat erat kebelakang, dan mulut disumpal dengan lakban, aku merasa kan tangan tangan jahil mulai menjelajahi betis dan pahaku. Aku meronta-ronta melawan rasa nikmat ini yang menjalar di tubuhku. Ini adalah kali pertama aku menikmati sex di lingkungan kerajaan ini. Kemudian kurasakan mulutku dilepaskan sumpalannya dan tubuhku kurasakan diangkat dan dibuat berlutut bertumpu lututku diganjal sesuatu sepertinya bantal. Entah maksudnya apa aku disuruh berlutut. Kemudian kurasakan ada sesuatu benda yang berusaha dimasukkan ke mulutku. dan itu adalah Penis!
Prince Kosin kelihatannya menghendakiku supaya aku mengoral penisnya. Seketika aku sempat memberontak tapi dia itu terus memaksaku dan menjejalkan penisnya ke mulutku. dengan sangat terpaksa aku turuti kemauannya sambil mengulum penisnya, aku berlinangan air mata kurasakan penutup mataku basah. Aku terpaksa terus mengulumnya mau muntah rasany.! Tampaknya Prince Kosin itu tidak puas kalau aku mengu lum penisnya di ujung aja dipegangnya kepalaku kemudian ditancapkan dalam dalam penisnya masuk ke mulutku sampai rasanya menyentuh tenggorokan, aku berulang kali tersedak dan mau muntah tapi tidak diperdulikannya. Keluar suara mendesis-desis dari mulutnya tampaknya Prince Kosin itu keenakan tapi tak keluar satu patah katapun dari mulutnya. Semakin lama semakin kencang dia memaju mundurkan kepalaku sampai suatu saat dibenam kan penisnya dalam dalam ke mulutku dan kurasakan meyembur kan cairan sper ma masuk dalam kemulutku. Segera aku berusaha menarik mulutku tapi justru kepalaku semakin ditekan kepalaku. Penisnya terbenam lama dimulutku, spermanya berusaha aku keluarkan bersama air liurku walau pun sebagian ada yang tertelan. Asin...! Ditariknya penis itu dari mulutku dia mengoles-oleskan ujung penis nya ke pipiku. Seketika pipiku berlepotan sisa2 spermanya. Bau spermapun menyergap hidungku amis! seperti bau putih telur. Serasa aku ingin muntah rasanya. Bau amis sperma menusuk hidungku dan aku dibiarkan terkulai lemas di lantai, tangan ku yang terikat erat mulai terasa sakit sekali, pegal, kesemutan. Kedua lengan ku terasa kaku dan mati rasa.
Hari itu kurasakan hari terbaik dari rententan hal yang terburuk yang sudah kualami, aku diculik dan ternyata oleh Paul, teman SMAku dari rumahku Jumat malam sebelum Mas Bayu pulang, dua hari kira-kira aku disekap bersama Anne sahabatku, dan aku sempat berhasil melarikan diri dalam keadaan tangan terikat dan mulut yang dilakban, lalu jatuh ke tangan pemuda berandalan, di mana aku dijadikan pemuas nafsu mereka, kemu dian ditinggalkan mereka dengan diikat di sebuah pohon di taman, lalu lagi-lagi bukan pertolongan yang kuda pat, aku kembali diperkosa oleh kurang lebih 15 orang dan salah satu dai mereka melukai vaginaku dengan dahan ranting yang dimasukkan kedalam vaginaku, hingga tak kuasa menahan sakit akupun pingsan. Dan kusa dari ketika aku dalam pesawat, aku sudah jatuh ke tangan Paul dan di bawa ke Thailand dan disewakan seba gai budak sex di Kerajaan Thailand. Ditengah lamunan dalam keadaan terikat tak berdaya dan tak dapat meli hat, box tempatku kembali diletakkan oleh Prince Kosin kurasakan kembali bergerak..sementara ada saputa ngan dengan bau yang melemahkan syaraf membuat aku pun tidak sadarkan diri.
Saat siuman saat kurasakan ada tangan-tangan yang memijat-mijat pundak, leher dan punggungku, “aarghh...” rupanya tangan dan kakiku sudah tidak terikat lagi, dan aku merasa dalam ruangan mewah dingin dengan ACnya terlihat ada matras terhampar di ruangan ini dengan satu bantal kecil, layaknya ruang pijat ya itu ada lah Ruangan Pemijatan. WOW! Aku dapat pijat gratis, aku nikmati pijatan Shiatsu yang terkenal itu. Karena lelah dengan ke beradaannya selama hampir dua minggu diculik maka tanpa disadari akupun tertidur sema laman sembari me nikmati pijatan-pijatan di tubuhku setelah segala yang melelahkan telah terjadi padaku.
Pagi itu datang, sebagaimana pagi-pagi yang lalu, menurut hitunganku ini adalah hari ke enam aku disekap di istana kerajaan Thailand. Seperti biasa khun Lamai, membangunkan aku dan bersama dengan Khun Supawan, aku digiringnya ke kamar mandi dan kembali menikmati mandi layaknya Spa dengan air hangat dan pijatan-pijatan yang seolah memperbaiki kondisi tubuhku yang sangat lelah akibat terikat setiap hari. Setelah mandi aku hanya di kenakan bathrobe berbahan handuk tanpa bra maupun panties, sepereti biasanya sejak aku di istana tidak pernah dipakaikan baju dalam, lalu aku dituntun kembali ke selku. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya tanganku tidak lagi diikat ke belakang, mereka memasangkan rantai dan borgol membeleng gu kedua tanganku di depan, kemudian setelah memakaikan sepatuku yang putih, kakikupun dirantainya namun masih bisa berjalan pelan-pelan. Melalui khun Supawan, aku mengetahui bahwa hari ini aku masih dalam kekuasaan Prince Kosin. Siang itu Khun Lamai mendatangi selku dan memberi aku makanan, kembali aku menikmati menu istana untuk para tawanan. Namun sampai hari menjelang sore, aku masih saja meringkuk dalam selku dengan rantai yang meliliti tubuhku dan tanganku yang agak nyaman karena diborgol ke depan, sampai akhir nya khun Supawan di dampingi salah seorang pengawal mendatangi selku. Khun Supawan membawa cukup banyak tali temali, melepaskan bathrobe yang kukenakan dari pagi setelah sebelumnya mendandani aku, memakaikan aku bedak, foundation, eye shadow, lipstick dan lain sebagainya, kemudian kembali tanganku diikat ke belakang menyilang di pinggangku. Tidak ada kostum yang dipakaikan padaku hari ini, aku hanya berbalut tali-tali yang mengikatku. Khun Supawan, di bantu pengawal yang mendampinginya setelah mengikat tanganku ke belakang, lalu melilitkan talinya di bagian bawah payudaraku, lenganku dan bagian atas payudara ku, seolah membentuk tali penopang pagi payudaraku. Ketatnya simpul yang dibuat membuat tanpa sadar “ugh....” aku melenguh karena kurasa ikatan tali hari ini lebih erat dan ketat dari sebe lumnya. CCRREETTT.... ada suara lakban disobek dan kusadari lakban itu telah menempel erat di mulutku
“eeemmmmppphhhh....!!” suaraku setelah dicubit oleh khun Supawan, rupanya dia kembali mengecek hasil sumpalannya. Tubuhkupun dalam keadaan terikat kembali ditutupi bathrobe yang sejak tadi pagi kupakai, dan setelah mereka menutup mataku dengan kain putih, aku digamitnya berjalan keluar dari sel tempatku ditawan.
“Mau dibawa kemana lagi aku....?” pikirku; di dalam ketidak tahuanku aku berjalan menaiki tangga dan sampai disebuah ruangan dan kurasakan ruangan itu cukup ramai. Lalu aku merasa dibaringkan di sebuah dipan yang miring, tubuhkupun diikatkan ke dipan itu, dan kakiku dibuat terbuka dan diikatkan terpisah dan mengangkang. Kurasakan ada cambukan-canbukan kecil di payudaraku dan dipinggangku.
“eemmmppphhhhh.......!! aku mengerang kesakitan. Tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang masuk ke vaginaku, dan aku pastikan itu penis yang masuk keluar masuk keluar merangsang libidoku dan kemudian mengeluarkan spermanya di liang rahimku.. kemudian kurasakan ada penis lain yang masuk ke dalam vaginaku, masuk keluar masuk keluar masuk.... aarghhh... sungguh kurasakan derita dalam kenikmatan terus menerus dan berulang-ulang. Rupanya kembali aku digilir dan diperkosa di dalam istana kerajaan dalam keadaan yang sungguh tak berdaya dan saking lelahnya diperkosa akupun tak sadarkan diri.
****
Ketika aku siuman, aku mendapatkan diriku masih digilir dan diperkosa, entah sudah berapa kali aku diperko sa aku tidak tahu apa lagi selama aku tak sadarkan diri. Rasa ngilu di vaginaku merasuki aku begitu dalam setelah berkali-kali diperkosa sepanjang siang itu dan kembali aku tidak sadarkan diri, tak kuat mena han semua derita yang kurasakan. Hari kelihatannya sudah senja ketika aku sadarkan diri, aku mendapatkan diriku kini berada di sel tempatku di sekap dengan tali-temali yang setia melilit di tubuhku. Mataku sudah dapat melihat, namun mulutku masih disumpal, aku dapati diriku tak berbusana terikat dan telungkup di tempat tidur dengan kaki dan tanganku terhubung dengan tali. Khun Supawan memasuki selku dan memberikan pijatan relaksasi tanpa membuka tali-tali yang mengikatku. Namun pijatan tetaplah pijatan, yang memperbaiki otot-otot pundakku akibat pegal karena tanganku terikat erat kebelakang. Menurut cerita Khun Supawan, tadi itu sebagai bagian dari perayaan ulang tahun Prince Kosin, seluruh kerabat kerajaan menikmati tubuhku dan telah memperkosaku, aku tidak terlalu heran, karena waktuku di istana ini semakin dekat ke akhir masa sewa, mereka pasti ingin menikmati masa-masa terakhirku. Nikmatnya pijatan Khun Lamai membuaiku dan terlelap.
Memasuki hari terakhirku yang disewakan oleh Paul ke Prince Satitpong, aku terbangun dengan keadaan agak pegal-pegal dan kaku di tangan, pundak, dan kakiku dan aku tahu aku memang tidak bisa bergerak karena tali-tali yang mengikatku di tempat tidur itu rasa agak kedinginan karena tadi malam aku tertidur tanpa selembar busanapun aku hanya berbusana tali-tali yang mengikatku.
“Mandi,...” Khun Supawan menyapaku dan membuyarkan lamunanku, aku tersenyum kepada mereka. Sementara Khun Lamai melepaskan tali-tali yang mengikat tanganku ke tempat tidur, lalu aku melepaskan sumpalan di mulutku sementara mereka melepaskan tali-tali yang mengikat di kakiku semalaman di tempat tidur. Mereka melepas sepatu yang dipakaikan padaku sejak kemarin pagi, dibawanya aku ke kamar mandi disebelah selku lalu Khun Supawan mengikat tanganku ke depan ke tempat shower diletakkan. Tersiramlah air hangat membasahi tubuhku. Mandi yang sangat nikmat dan kurasakan sabun dioleskan keseluruh tubuhku dan aku merasakan tangan-tangan gadis-gadis itu memijat tubuhku yang lelah dan pegal akibat diikat sepan jang pagi dan malam. Sungguh satu-satunya kenikmatan besar kurasakan saat mandi setelah kira-kira 2 minggu tangan dan kakiku selalu terikat, sejak aku diculik Paul dari rumahku Jumat malam,... Usai mandi, tubuhku dikeringkan dan tanpa mengenakan apa-apa, tanganku ditarik ke belakang, di pinggang kemudian tali-tali itu melilit diatas dan dibawah payudaraku serta mengikat kedua lenganku rapat dengan tubuhku kemudian mereka memakaikan sepatu putihku yang highheel 5 cm. Sementara Khun Lamai mendandani aku, memakaikan aku bedak, foundation, eye shadow, lipstick dan lain sebagainya lalu menutupi tubuhku yang terikat dengan bathrobe, mataku dan mulutku kembali tertutup dengan kain yang mengikat di kepala dan di tengkuk ku. Aku merasakan diriku berjalan menaiki tangga dan kura sakan aku tiba di sebuah ruangan. Kain yang mengikat dan menutup mataku dilepas, aku meli hat Prince Satitpong menyambutku dengan hangat.
“Sit down here, please” perintah Prince Satitpong kepadaku sambil menunjuk sebuah bangku kayu yang panjangnya mencapai 1 meter tersebut ada benda serupa penis yang menjulang.
“eeemmmmppphhhh......!” sahutku agak enggan namun Khun Supawan dan Khun Lamai telah membimbingku dan pelan-pelan sambil menahan sakit aku duduk dan memasukkan benda serupa penis itu kedalam vaginaku.
“aaawwwhhhh.....!” jeritku tanpa bisa bersuara ketika benda itu mulai masuk pelan-pelan. “CTTAARR!!” tiba-tiba Prince Satitpong mencambuk punggungku, sambil berkata
“Move, up and down quickly,... now!!” takut kena cambukan lagi aku pun dengan susah payah meng gerakkan pinggulku naik-turun sesuai perintah Prince Satitpong. Hampir 2 jam aku diperlakukan begitu oleh Prince Satitpong, kemudian dia memindahkan tubuhku ke kursi bersandaran kayu. Prince Satitpong kemudian mengambil jagung muda yang sudah dikupas (kulitnya), memperlihatkan jagung besar tersebut ke depan mataku sambil tersenyum, dan dengan cepat memasukkannya ke dalam vaginaku melalui tali yang melewatinya. Jagung tersebut diikatkan dengan tali yang melewati vagi naku dan memastikan jagung itu tidak bisa ku keluarkan, lalu pergelangan kakiku diikat menjadi satu. Terakhir, dia mengikatkan ring besar ke mulutku untuk memastikannya terus terbuka lebar. Dia pun meninggalkanku dalam posisi tersebut dengan handycam yang sudah sejak tadi merekam keadaanku. Aku hanya pasrah dan mencoba menahan rasa sakitku.
Sekitar dua jam kemudian, Prinse Satitpong kembali dan mengangkatku dengan kedua tangannya yang besar dan kokoh. Tubuhku dengan mudah diangkat, walaupun berat tubuhku termasuk bongsor bagi seorang wanita. Prince Satitpong mengangkatku ke bagian teras di lantai atas istana dan menaruhku di atas meja makan yang telah disediakannya. Aku pun kembali ditinggalkan. Tidak hanya berusaha menahan rasa sakit, aku juga harus berusaha bertahan ditengah cuaca terik tengah hari tersebut. Teras Istana yang biasa digunakan untuk Raja Bumibhol melihat ke segala penjuru negeri justru kali ini digunakan Prince Satitpong untuk ”menjemurku”. Dua jam, tiga jam, aku terkapar tak berdaya di atas meja makan seorang diri. Keringat di tubuhku telah kering dan bahkan tidak mengeluarkan keringat lagi. Bibirku mulai kering. Menelan ludahpun terasa sulit mengingat mulutku yang selalu dibuat menganga dengan peralatan aneh yang dia lingkarkan di rahangku.
Matahari mulai tenggelam. Sepertinya aku hampir setengah hari dijemur oleh Prince Satitpong.Sang pangeran pun datang. Bukannya membuka ikatan atau membawaku ke tempat yang lebih nyaman, Prince Satitpong justru memasukkan penisnya ke dalam mulutku yang terbuka lebar dan mengeluar kan air seninya. Penisnya masuk terlalu dalam hingga aku tidak ada daya untuk memaksa air seni tersebut keluar. Seluruh air seninya tertelan olehku. Kemudian ia kembali meninggalkanku sambil mengatakan bahwa ikatanku akan dilepaskan di pagi harinya. Seketika aku pun berontak dan berusaha berteriak. Namun sepertinya tidak ada yang mendengarkan. Aku pun terjerebab dari atas meja dengan punggung menimpa lantai teras istana itu. Prince Satitpong justru tertawa dan mening galkanku. Tidak nyaman dengan posisi tersebut, aku pun memutar badan dan bertumpu ke perutku. Celakanya, lantai tersebut penuh dengan semut merah besar. Seketika semut-semut itu mengera yangi tubuh telanjangku dan mulai menggigit. Ada beberapa yang berupaya mengerayangi lubang vagina, dada, mulut, dan telingaku. Aku pun berguling-guling menjauhkan diri dari kumpulan semut tersebut. Untunglah di pojok teras aman dari binatang kecil tersebut. Akupun lemas dan pingsan.
Tengah malam datang khun Supawan dan seorang pengawal bertubuh kekar dan dengan mudah tubuhku diangkat, walaupun tubuhku termasuk bongsor bagi seorang wanita, membawaku ke kamar Prince Satitpong, Tubuhku dibaringkan telungkup, tali-tali yang melilit di pergelangan kakiku dilepaskannya lalu kembali diikatkan terpisah ke ujung kiri dan kanan tempat tidur. Terbaringlah aku telungkup dengan tangan terikat kebelakang dan kaki yang terikat mengangkang.
“eemmmppphhhhh...!! kurasakan sakit di sekitar anusku, rupanya Prince Satitpong memasukkan penis ke dalam anusku. “Ternyata dia bisa ngaceng,...” pikirku merasa dibohongi oleh Paul dan dengan semangat dan nikmatnya anusku di perkosa kemudian tali yang mengikat kakiku terpisah diputuskan lalu kini vaginaku menjadi sasaran vaginanya, dan dengan suksesnya dikeluarkannya semua spermanya ke liang rahimku di saat-saat terakhirku melayaninya sebagai sex slave. Semalaman aku diperkosa oleh Prince Satitpong hingga pagi, ketika tubuhku terasa sangat lemas dan tak berdaya, ia tutup vaginaku dengan lakban berwarna merah kemudian kembali mengikatkan kakiku menjadi satu dan aku digendongnya kedepan kamar tidurnya dan diletakkan begitu saja di lantai sambil kembali menutup mataku dengan kain hitam. Rasanya sudah satu jam lebih aku dibiarkan begitu hingga kurasakan tubuhku terangkat dan aku dibopong entah kemana. Ketika kain hitam dibuka, aku mendapati diriku kembali berada di sel tempatku disekap. Khun Lamai dan Khun Supawan kembali menjengukku dan merawatku seperti biasa. Tali-tali yang mengikatku dilepaskan dan kembali aku akan di mandikan. Sepatu putihkupun dilepas kemudian aku dituntunnya ke kamar mandi dalam selku, kembali air panas menyiramiku disertai pijatan-pijatan yang memberikan relaksa si setelah sepanjang hari tubuhku terikat dan diperkosa. Usai mandi, tubuhku kembali dikeringkan dan mereka memberikan pakaian padaku setelah beberapa hari terakhir ini aku tidak diberi pakaian melainkan tali-tali yang melilit dan mengikatku. Rupanya kembali aku mengenakan pakaian seragam khas pramugari Thai Airways, yang dimodifikasitanpa selendang dan rok yang panjangnya kira-kira 30cm (tepatnya di atas lutut). Kemudian sepatu putihku yang menemaniku selama aku diculik sejak dari rumahpun kembali dipakaikan setelah disemir dengan baik oleh mereka.
“Today is your free day, you will be returned when your master come to pick you up..” ujar Khun Supawan seolah menjelaskan
“But as part of contract we have to keep you bounded” lanjutnya sambil menyiapkan tali-tali untuk mengikat tanganku kembali. Akupun dengan pasrah mengulurkan tanganku untuk diikat, tapi khun Lamai memindahkan tanganku kebelakang, dipinggangku kemudian melilitkan tali nylon ke kedua pergelangan tanganku. Tali sisa yang masih panjang diikatkan kembali seperti biasa melilit ke atas dan bawah payudaraku. Kemudian kembali kakiku yang sudah bersepatu diikat jadi satu dan aku dibiarkan terdudk di tempat tidurku tanpa menyumpal mulutku dengan lakban. Dan aku ditinggalkan di sel tempatku di sekap dalam keadaan terkunci dari luar. Satu jam setelah itu datang Prince Satitpong memasuki selku menjengukku, dia kemudian mengelus pipiku sambil berkata
“Because of you, Ira I’m become normal... after a while I will brought you here again” ujarnya padaku
“You are welcome your Excellency” sahutku bermaksud sopan.
“Your master will be here to pick you up soon!” Lalu Prince Satitpong beranjak meninggalkanku kem bali terkurung dalam selku. Kemudian aku merebahkan diri dalam keadaan terikat dan sejenak beris
tirahat dan tak terasa aku tertidur hingga aku terbangun dan menyadari tubuhku berada dalam sebuah bagasi kendaraan, dan mulutku kembali disumpal oleh kain yang mengikat erat ke tengkukku. “mmmmppphhhhh!! rupanya aku dalam perjalanan meninggalkan istana menuju ketempat penculikku Paul berada, dan akupun pening menguasai kepalaku dan aku pun tak sadarkan diri.
****
“Bangun Ira,ayo bangun” pipiku dipukul-pukul halus oleh Paul yang telah menculikku dan menjualku
Pelan-pelan aku sadarkan diri dan melihat diriku ada di sebuah ruangan besar, set upnya seperti di studio photo
“Sekarang ikuti saya ke tempat duduk tadi”, ungkapnya sambil menarik tali yang mengikat pergelang anku. Kusadari keadaanku, kembali tak berbusana hanya bersepatu putih tadi dan tanganku terikat erat kedepan, lalu aku berjalan ke dekat tempat duduk kayu yang panjangnya mencapai 1 meter tersebut, aku bertanya-tanya, apalagi yah yang akan dia lakukan ke aku?
“Kamu, duduk di tengah-tengah bangku seakan-akan kamu sedang menaiki motor”, perintahnya sambil menarik tali ke arah bangku tersebut. Perlahan, aku duduk, tapi karena tingginya yang hanya setengah meter, aku terpaksa bertumpu pada kedua lutut. Seketika, Paul berjongkok ke arah belakangku dan menarik pergelangan kaki kananku ke arah salah kaki bangku. Dengan kasar dia menempelkan pergelangan kakiku dan melilitkan untaian tali yang lain beberapa kali melingkari pergelanganku. Terakhir, dia juga melilitkan ke sela pergelangan dan kaki bangku beberapa kali dan menariknya dengan kencang dan membuat simpul mati untuk menghentikan pergerakan kakiku. Hal yang sama juga dilakukannya pada pergelangan kaki kiriku.
Aku mencoba menggerakkan pergelanganku, namun upaya tersebut sia-sia. Setiap gerakan yang aku buat, hanya membuat posisi kakiku semakin perih dan sakit. Dengan tiba-tiba, dia telah berada di depanku dan memungut sisa tali yang mengikat pergelangan tanganku. Seketika dia melepasnya, dan dengan kasar menarik tangan kananku ke kaki bangku di ujung yang lain dan mengikatkannya kembali. Kali ini semakin erat, bahkan saking eratnya, aku menjadi susah mengepalkan tanganku. Hal yang sama juga berlaku untuk tangan kiriku. Dengan keadaan tersebut, aku seperti dalam posisi merangkak. Kecuali saat ini kondisi ku dalam keadaan kaku dan tidak bisa digerakkan sedikitpun. Perut dan dadaku menempel dengan bangku. Aku mencoba meronta,
“Ahhh,.. mas, sakit mass… jangan terlalu erat begini.”
” Please, longgarkan mas. Sakit mass”, rintihku.
Tapi dia seakan tidak menghiraukanku. Bahkan dengan kasar dia mendorong tubuhku hingga benar-benar menempel dengan bangku, dan kemudian melilitkan tali pada bagian perutku. Lilitan demi lilitan aku rasakan semakin erat. Tidak puas dengan kondisi tersebut, dia kembali melilitkan tali pada kedua sikutku yang telah berada di bawah bangku akibat kedua tanganku yang menempel erat pada kedua kaki bangku. Dia mengikatkan sikutku dengan sangat eratnya hingga kedua sikuku hampir menempel satu sama lainnya. Kondisi yang tidak biasa tersebut membuatku berteriak kesakitan. “Aaach…hah,hah,hah…”, teriakku sambil mengatur nafasku agar dapat mengendalikan rasa sakit di sekujur tubuhku. Tanpa dipinta, airmataku mengalir, seakan melampiaskan rasa sakit yang tidak pernah kurasakan.
Tak lama kemudian, dia berhenti dan berdiri di depanku. Untunglah, pikirku. Perlahan aku memiringkan kepalaku dan menyandarkannya ke bangku sambil mengambil nafas. Hhhh, akhirnya berhenti, pikirku. Paul pun beranjak keluar kamar dan meninggalkanku. Lima menit kemudian, dia kembali dan membawa sesuatu di tangannya.
“Kamu teriaknya kenceng juga yah?”, katanya sambil tersenyum. Lalu dia mengeluakan besi stainless berbentuk O yang memiliki pengikat seperti ikat pinggang di kedua sisinya.
“Buka mulutmu lebar-lebar”, perintahnya.
Dengan sedikit ragu, aku membuka mulutku. Dia pun memasukkan besi O tersebut ke mulutku, dan mengencangkan pengikatnya ke belakang kepalaku. Seketika mulutku dipenuhi oleh besi tersebut, sehingga menghalangi usahaku untuk menutup mulut.
“Ahh, ahh,…” Dengan susah payah, aku menelan air ludahku, tapi justru malah mengalirkan liurku dan menetesi bangku kayu tersebut.
“Nah, begini lebih bagus”, ucapnya sambil tersenyum puas.
Kemudian Paul mengambil posisi di depan kamera yang telah terpasang di tripod tidak jauh dari tempatku diikat. Dia mengamatiku dari lensa kameranya sambil memperbaiki fokus lensa dan posisi tripodnya. Mungkin memastikan posisi terbaik bagi foto sesi ini.
Merasa ada yang kurang, dia kembali mendekatiku dan membawa seutas tali. Kemudian meraih belakang ikat mulutku dan mengikatkan tali tersebut. Lalu dengan sedikit dipaksakan, dia menarik ujung tali tersebut ke ikatan yang melingkari perutku hingga kepalaku terdongak ke depan. Dia mengikatkan tali tersebut untuk memastikan bahwa aku tidak menundukkan kepalaku. Tetapi, yang kurasakan justru makin kencangnya desakan besi stainless di mulutku. Yang keluar dari mulutku hanyalah liur dan ungkapan, “Aach, aachh, ahh..”.
Aku mencoba menenangkan diri dan membiasakan diri dalam kondisi tersebut. Akan tetapi yang bisa kurasakan hanyalah perih di seluruh pergelangan kaki dan tangan. Bahkan ujung tanganku terasa kelu dan mati rasa. Kakipun mulai kesemutan. Sekilas aku melirik ke jam dinding di pojok kamar. Ternyata masih menunjukkan pukul 09.30. Ini berarti baru 30 menit aku berada dalam posisi terikat tersebut. Aku nggak tau apakah aku kuat berada dalam posisi ini hingga jam 12 nanti. Pikiranku makin kacau, keringat mulai membasahi badan, karena suhu yang dirasakan seketika menjadi panas. Padahal tadi, dinginnya AC sempat membuatku kedinginan. Tak lama kemudian, klik, klik, beberapa kilatan cahaya lampu mulai menerpa sekujur tubuhku dan menambah panas suhu di sekitarku. Selesai mengambil beberapa gambar sisi depan dan samping, Paul beranjak ke pojok ruangan dan mengambil sesuatu dari dalam tas ransel. Sekilas aku melihat benda yang cukup besar yang tidak asing buat aku. Dildo, ternyata dia memiliki dildo yang cukup besar. Dari bentuknya aku tahu bahwa dildo tersebut dapat bergetar dan memiliki ujung penis yang dapat berputar. Aku mengetahuinya juga karena aku pernah memilikinya dirumahku. Aku sering menggunakannya karena aku sudah lama ditinggal suamiku kerja di Biak.
“Aku pasang ini di vagina kamu yah”, ujar Paul sambil beranjak menuju pantat dan vaginaku yang memang bebas di akses dalam posisiku saat ini. “Achh, ooleehh,…” Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku untuk membiarkan Paul menggunakan dildonya. “Waahh, ternyata udah basah yah.”, godanya ketika mengetahui bahwa vaginaku telah mulai mengeluarkan cairan bening. Aku juga tidak menyangka bahwa dalam posisi terikat erat pun aku bisa sedikit terangsang. Tiba-tiba aku merasakan kejutan di vaginaku. Sesaat perasaanku terangkat, dan secara reflek aku bergumam, “Ahhh…”. ternyata Paul tengah menjilati vaginaku beberapa kali.
“Sengaja, tadi aku ingin mencicipi cairan vaginamu. Ternyata enak yah, tidak ada bau sama sekali”, pujinya. Aku di antara senang dan bingung dengan sensasi yang tengah aku rasakan. Aku memang belum pernah melakukan hal yang seperti ini sebelumnya. Bukannya memuji diri, memang aku rajjin merawat vaginaku dengan baik agar mas Bayu suka menjilatinya. Aku memang paling mudah dirangsang apabila vaginaku dijilat.
“Aku masukin yah”, kata Paul. “Achh…”, gumamku sedikit kesakitan. Maklum, dildo yang dimasukkan cukup panjang bahkan mendekati rahimku. “Achh, achh, ahhh, ….”, aku bereaksi ketika dia menggerakkan dildonya keluar masuk vaginaku. Dan tiba-tiba, brrr,…. Dildo tersebut mengeluarkan bunyi dan seketika pula benda tersebut bergerak berputar dalam vaginaku. Sensasinya sangat luar biasa. Aku tak henti-hentinya mengeluarkan bunyi “ahhh” setiap kali putaran dildo tersebut semakin mendekati G-spot ku. Tidak lama kemudian, aku merasakan Paul mengikatkan dildo tersebut dengan tali melingkari kedua pahaku. Sepertinya dildo tersebut akan cukup lama tertanam dalam vaginaku, pikirku.
Lalu Paul kembali ke aktifitasnya memotret setiap sudut tubuhku yang basah dengan keringat. Termasuk lingkaran dan telapak tangan serta kakiku yang mulai keunguan akibat aliran darahku yang terhambat akibat ikatan yang sangat erat. Setelah sekitar 10 menit Paul mengambil gambar, dia pun beranjak hendak meninggalkan kamar. Sebelum meninggalkan ruangan, dia mendekatiku dan meraih daguku sambil berkata,
“Saya akan pergi selama satu jam untuk membeli perlengkapan foto, kamu disini dulu yah. Dildonya saya biarkan menyala di dalam. Kamu pasti suka kan?”, ujarnya sambil mengerdipkan matanya. Aku yang sudah merasa tidak kuat dalam posisi tersebut, dengan kaki dan tangan yang telah mati rasa, plus dengan dildo yang bergerak bebas dalam vaginaku, mulai meringis dan memohon agar Paul melepaskan dildo dan ikatanku dahulu sebelum meninggalkanku sendirian.
“Aaass, eaain aauu.. aaiiiy aass… iiisss….”, setiap permohonanku seakan hilang akibat ikatan mulut yang mengisi mulutku. Bahkan air liurku pun mulai dirasakan kering mengalir melalui besi stainles. “Apa? Kurang jelas? Kamu minta dilepasin? Yang mana?”, tanya Paul sambil mendekatkan telinganya ke mulutku yang menganga. “Begini deh”, lanjutnya. “Saya lepasin dildo kamu, tapi saya akan menggantikannya dengan penis saya untuk beberapa waktu. Saya tidak akan keluar di dalam. Saya janji. Saya bahkan akan menggunakan kondom agar kamu terhindar dari perasaan khawatir terjangkit penyakit”, tegasnya. Aku tertegun sebentar dan berpikir, mungkin gak ada salahnya.Toh, aku juga ingin melakukan seks dengan pria apa lagi sudah 2 tahun aku disia-siakan Mas Bayu yang lebih senang bekerja di Biak. Yang penting dildo itu disingkirkan dari dalam vaginaku, pikirku dengan pasti. Lalu dengan perlahan aku mencoba menganggukkan kepalaku walaupun sedikit menimbulkan sakit di rahangku akibat ikatannya.
“Good girl”, ujarnya. Dia pun membuka celana panjang hitamnya berikut celana dalam dan kemudian mengumbarkan penisnya di hadapanku. Wow, penisnya ternyata cukup besar, pikirku. Penisnya telah berdiri sempurna, sehingga urat di penisnya cukup terlihat jelas. Ternyata dia nggak tahan melihat tubuhku yang tidak berdaya ini, tawaku dalam hati.Kemudian dari kantong celananya, dia mengeluarkan sebuah kondom dan memasangkannya pada penisnya yang telah menegang. Kondomnya cukup unik karena memiliki gerigi yang meliputi seluruh permukaan kondom. “Kamu siapkan? Saya masuk ya”, ungkapnya sambil menuju belakangku. Perlahan dia melepaskan tali yang mengikat paha dan dildo, serta mencabutnya secara perlahan. Karena dia mencabut masih dalam keadaan menyala, seketika aku berteriak, “Aacchhh…”, sepertinya dildonya mengenai G-spot ku.
Setelah mematikan dildo dan membuangnya ke tumpukan jerami di pojok kamar, dia pun mulai menggesek-gesekkan penisnya ke klistorisku. Perlahan dia memasukkan penisnya hingga tenggelam keseluruhannya. Dalam sensasinya ternyata sama dengan panjangnya dildo yang tdinya sempat ditanamkan di tempat yang sama. Paul pun bergumam, “Aahh..”. Sepertinya dia menikmati sensasi hangatnya vaginaku. Dengan perlahan, dia pun menggerakkan penisnya maju mundur. Perlahan, dan kemudian cepat dan makin cepat. Aku entah kenapa, tidak menikmati penisnya. Mungkin bagian dalam vaginaku telah mati rasa akibat gerakan dildo sebelumnya. Ketika dia mulai mengambil kecepatan, aku pun tersenyum dan segera menjepitkan vaginaku dengan kencang. Paul pun berteriak, “Aahh, ahh, ahhh, ahhh….”. Tiba-tiba dia segera mencabut penisnya dan bergegas ke hadapanku. Ah tidak, jangan-jangan,.. pikiranku menerawang persis seperti yang Mas Bayu sering lakukan. Ternyata benar, Paul langsung mencabut kondomnya dan segera memasukkan penisnya ke dalam mulutku yang terbuka bebas. Aku mencoba berteriak, “Aaaacchhh..”, dan bleb, teriakanku seakan hilang ketika penisnya memenuhi mulutku. Dan seketika cairan hangat mengalir deras ke kerongkonganku. Seketika dia mencabut penisnya dan menggenggam erat kepalaku dengan kedua tangannya serta menengadahkan wajahku makin tinggi untuk memastikan spermanya tertelan. Paksaan yang dilakukannya membuatku tersedak, “Achh!’ dan memuntahkan beberapa cairan spermanya. Paul sang penculikku tersenyum puas, kemudian memakai celananya dan bergegas meninggalkanku.
Lima menit berlalu.. Waktu masih menunjukkan pukul 10.30. Hhh, ternyata masih separuh perjalanan, pikirku. Tubuhku mulai terasa capek dan mati rasa di beberapa tempat, terutama leher, tangan, dan kakiku. Tiba-tiba aku mendengar suara pintu terbuka. Paul telah kembali, tetapi kali ini dia membawa sesuatu, dengan sedikit menoleh aku dapat melihat pipa ledeng dari besi sekitar 1 meter yang dibawanya. Cling, sepertinya dia menaruh besi tersebut dilantai dekat dua tiang di tengah kamar. Kemudian dia mendekatiku dan mulai melepaskan ikatanku satu per satu. Untunglah, pikirku. Akhirnya aku terbebas dari “siksaan” ini.
Setelah itu, dia membantuku berdiri dan mengelap seluruh keringatku dengan handuk putihnya.
“Gimana? Sakit gak?”, tanyanya
“Iya mas, pergelangan aku jadi ngilu. Berrdiripun jadi agak susah.”, jawabku
“Sesinya udahan mas?”, lanjutku.
“Belum, kan Saya masih ada satu posisi lagi”, jelasnya.
“Satu lagi?”, jawabku penuh tanda tanya.
“Tapi jangan kayak tadi ya mas, pegel, sakit”, lanjutku.
“Kali ini agak lebih berani dari tadi Ira. Tapi percaya deh, kamu pasti kuat. Saya tau kamu mampu.”, jawabnya sambil tersenyum.
“Sekarang kamu berbaring di sana”, ujar Paul sambil menunjuk ke arah dua tiang besar di tengah kamar.
Aku hanya menurut dan mengikuti perintahnya berbaring di tengah kamar. Lantai tengah kamar dekat tiang tersebut penuh dengan sisa-sisa jerami, sehingga agak aneh rasanya berbaring ditengah jerami tersebut. Paul mendekatiku sambil membawa pipa besi dan beberapa utas tali.
“Tolong buka kakimu”, perintahnya.
Aku membuka kakiku, sehingga vaginaku yang masih basah terlihat olehnya. Dengan segera, dia menaruh salah satu ujung besi di bawah pergelangan kaki kananku, dan kembali melilitkannya dengan tali seperti sebelumnya. Hal yang sama juga dilakukan pada kaki kiri pada pipa besi sisi lainnya. Aku mencoba merapatkan kakiku, namun upaya tersebut sia-sia. Ikatannya terlalu kuat. Setelah selesai pada kedua kakiku, Paul membuat simpul di tengah pipa besi dan mengencangkannya. Kemudian dia beralih ke belakang salah satu tiang besar di kamar, dan menurunkan sejenis hook (kait) pengangkat barang. Terlihat jelas olehku kait besar yang diberi tali yang menguntai ke langit-langit dan berujung pada tali lain di belakang tiang. Seketika Paul mema sangkan kat tersebut kepada simpul yang dibuatnya di tengah pipa besi yang telah menyatu dengan kedua kakiku.
Tiba-tiba, aku mengerti apa yang akan dilakukan Paul.
“Jangan,... jangan gantung terbalik saya. Saya gak bakal kuat. Saya bisa pusing mas. Please mass..”, pintaku sambil berupaya bangun memohon.
“Gak apa-apa kok. Tenang aja. Ini gak lebih sakit dari tadi kok”, tegasnya.
“Enggak, jangan mas..”, pintaku.
“DIAM!!”, teriak Paul.
“Kamu nurut aja. Kamu khan budak nafsuku Percuma kamu mohon-mohon. Percuma juga kamu teriak-teriak. Kamar ini sound proof.”, tegasnya sambil melingkari mulutku dengan lakban perak yang terletak tidak jauh dari tiang dan kemudian menarik kasar kedua tanganku kebelakang dan kembali mengikatku dengan lakban tadi. “Ugh…ugh.”,aku mencoba berontak walaupun sia-sia.
Paul beralih ke sisi tiang, dan menarik tali tersebut dengan kencang. Badanku pun mulai bergerak. Pantatku terasa sakit bergesekan dengan sisa-sisa jerami di lantai. Dengan sekuat tenaga dia menarik tali hingga aku sepenuhnya tergantung terbalik dengan kaki terikat ke atas dan tangan terikat di belakang. Tubuhku berayun akibat tarikannya yang sangat kuat. Pergelangan kakiku terasa sangat sakit dan terasa hendak lepas. Aku teriak sekuat-kuatnya, namun yang keluar hanyalah gumaman. “Hhmmmmm…”
Paul berusaha menenangkanku.
“Tenang Ira. Semakin kamu berontak, akan semakin sakit ikatannya”
Aku mencoba mengambil nafas dan berusaha menenangkan diri. Denyutan di pergelangan kakiku mulai terasa. Satu jam aku terikat dalam keadaan terbalik aku pun kembali berupaya menenangkan diri dan melihat ke bawah. Sepertinya aku tergantung cukup tinggi. Aku tidak menduga tenaganya sangat kuat mengangkat tubuhku seberat 50 kg ini.
Aku kembali berteriak, namun hanya gumaman yang terdengar. Belum puas “menyiksaku”, Paul mengambil lilin merah besar dari atas meja dan dengan kasar memasukkannya ke dalam vaginaku hingga mendekati rahim.
Aku pun berteriak. “mmmppphhhh.. mmmmppphhh…!!”. Namun hal tersebut hanya membuat Paul bersemangat. Segera dia merogoh lighter dan menyalakan lilin tersebut. Aku merasa ngeri dan mulai menangis. Puas dengan hasilnya, Paul segera memotretku dalam kondisi mengenaskan tersebut. Clik, clik, clik. “Bagus, bagus, ayo nangis.. bagus ayo…”, ujarnya seakan menyemangatiku. Selang lima menit, tetesan lilin mulai mengalir ke selangkanganku. Perih dan panas. Aku pun berontak, namun percuma. Paul kemudian mendekat, dan mencium bagian atas vaginaku. Aku tidak mengerti kenapa dia melakukan hal tersebut. Tiba-tiba, dia mengambil dua jepitan besi yang cukup besar dari atas meja. Ah, tidak, itukan jepitan aki mobil, pikirku. Aku mengetahui itu karena aku sering membantu Mas Bayu memperbaiki mobil. Pinggiran jepitan tersebut cukup tajam untuk memastikan aliran listrik yang stabil bagi mobil. Seketika, dia menjepitkan kedua jepitan tersebut ke masing-ma sing dadaku. Akupun kembali berteriak.. Airmataku pun mulai mengalir. Paul beranjak dan kembali melakukan pemotretan.
Pukul 11, pemotretan selesai. Lilinpun dipadamkan dan dicabut dari vaginaku. Paul kemudian mem bersihkan sisa tetesan lilin di daerah selangkanganku. Akhirnya selesai, pikirku. Namun pikiran tersebut sirna ketika Paul bicara, “Nah, udah bersih.”
“Sekarang aku akan memasukkan dildo yang tadi dan meninggalkanmu disini sampai selesai jam 12 nanti.”
“Itu berarti sejam lagi yah..”
Aku pun tersentak, ah, tidak, satu jam lagi dalam posisi tergantung dan terikat begini? Bahkan aku tidak merasakan kaki dan tanganku lagi saat ini. Tapi, apa boleh buat, aku terpaksa begini aku tak berdaya diculik di negeri orang oleh pria yang dulu mengagumiku
Dildopun dipasang dan dinyalakan di dalam vaginaku. Aku tidak bergeming. Vaginaku kembali mati rasa. Aku hanya bisa memandang sekeliling dan berupaya melupakan sakitnya ikatan-ikatan dan jepitan di dadaku.Paul pun berlalu.
Pikiranku pun menerawang.. tadi setiba dari istana sebagai sex slave, Paul mengatakanbahwa ia akan mengadakan sesi photo-photo diriku untuk promosi di website guna menjualku kembali menjadi sex slave di Thailand. Jika diingat ingat aku diculik Paul hari Jumat malam, dan dua hari aku disekap lalu aku melarikan diri dan jatuh ke tangan berandalan, hingga ditemukan lagi oleh Paul terikat di pohon di sebuah taman dalam dua hari, lalu aku dibawa ke Thailand dan esoknya aku dijual ke kelu arga kerajaan selama seminggu dan kini aku kembali didalam penguasaan Paul.Rasanya sudah ham pir dua minggu aku dalam keadaan terikat erat tak berdaya, dan kini jauh dari keluargaku, anakku Tasya, suamiku Mas Bayu dan sahabatku Anne. Entah akan ke mana lagi aku dijual atau tepatnya disewakan oleh Paul. Sungguh sebuah penderitaan yang tiada akhir entah sampai kapan....

TAMAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar