Mila Istri Pilot yang kesepian

Foto Saya
Kenalkan namaku Ika Tantri Mila Verania. Teman-teman memanggilku Mila. Banyak yang bertanya, bagaimana rasanya jadi slave? Manusia mana sih yang benar-benar suka atau terlahir untuk diikat? Untuk hal tersebut di atas sebenarnya aku 'menderita', namun sesuatu yang menghiburku adalah ketika aku dalam keadaan seperti itu, memang sakit pegal dan tidak bisa bergerak yang secara fisik kurasakan Namun ada kenikmatan terselubung, dalam ketika berdayaanku yang tangan kaki terikat dan mulut tersumpal, kurasa kenikmatan adalah aku merasa bagai ratu. Karena sang pengikatlah yang harus repot melayani aku. Ketika aku hendak buang air kecil, dibopongnya aku dan diceboknya. Ketika ingin makan aku di suapnya (tidak temasuk kalau dia mesti memasakkan aku sesuatu), dan karena 'derita' ini dilakukan karena ada cinta setidaknya dilakukan dengan suka. Tentunya berbeda jika yang dialami itu penculikan....

Senin, 04 Agustus 2014

Pramugari Laras Melati dalam Pembajakan Pesawat

melayani penerbangan Bangkok-Cairo-Roma. Melati begitu dia akrab disapa sangat bersemangat karena kota Roma adalah favorite. Melati terlihat cantik dan serasi dengan seragam pramugari Thai Airways, sejenis kebaya / pakaian tradisional Thailand. Ini saatnya penumpang boarding atau memasuki pesawat. Melati bertugas menyambut penumpang dan menunjukkan atau mengarahkan penumpang ke nomor kursi yang ditentukan. Melati mengumbar senyum pada para penumpang yang sedang memasuki pesawat. Hari ini adalah program pertukaran pramugari dengan Garuda Indonesia dalam rangka Asian Hospitality yang akan berlangsung selama 10 hari. Selama 10 hari itulah Melati ditugaskan mewakili Garuda Indonesia di Thai Airways. Cantiknya Melati yang sepintas wajahnya mengingatkan akan kecantikan si "Princess" Syahrini mantan pasangan duet Anang Hermansyah itu, mendapatkan section pelayanan di kelas Ekonomi bagian belakang untuk pesawat sejenis Boeing 777-500. Pesawatpun lepas landas, lima jam perjalanan menuju Cairo Mesir sebagai transit pertama. Dua jam setelah lepas landas, Melati sedang sendirian di pantry belakang sedang membereskan alat makan bekas penumpang, dia mendengar,...
Dua orang laki laki menodongkan pistolnya dipunggung Melati, merasa ditodong Melati angkat tangan sambil menegakkan tubuhnya dari membungkuk. Kedua tangan Melati ditarik kebelangkang dan langsung diborgol. Mulutnya disumpal dengan lakban. Melati dalam keadaan tak berdaya digiring ke kursi belakang cabin. Melati yang terikat dijadikan sandera, dibaringkan di kursi penumpang barisan paling belakang dan diawasi oleh seorang pembajak perempuan berpistol..Kemudian setelah melumpuhkan Melati komplotan pembajak pesawat masuk ke kokpit pesawat memerintahkan pesawat mengarah ke Tel Aviv. Kapten Pilot diberitahukan pembajak untuk menurut saja, karena pramugari Melati sudah dijadikan sandera mereka. Pramugari lain disarankan untuk menenangkan para penumpang.
Terbaring dengan posisi menghadap ke sandaran kursi membuat Melati terbatas penglihatannya, tidak tahu apa yang terjadi dalam kabin pesawa t.
Ada sebersit harapan di benak pramugari  Melati sementara terbelenggu dan tertawan, mungkin hanya sementara penerbangan ke Tel Aviv saja dirinya akan terikat seperti ini, nanti setelah mendarat dan pembajak mendapatkan tuntutannya, dirinya pasti dilepaskan, pikirnya berusaha sabar. Lama menanti dalam ketidak berdayaan, akhirnya Melati merasakan pesawat dalam landing position, dan tak lama pesawatpun mendarat mulus di Tel Aviv.  Peristiwa pembajakan pesawat memang berakhir di Tel Aviv dan para pembajak akhirnya secara sukarela meninggalkan pesawat serta mempersilahkan pesawat untuk melanjutkan penerbangan. Tapi dugaan Melati ternyata  salah, ada yang tidak biasa karena ternyata Melati diangkat oleh para pembajak dan dibopong ikut dibawa turun pesawat sebagai sandera. 
"eemmmmppphhhh...........!!" Melati meronta-ronta selama dibopong pembajak, menuruni tangga pesawat.
"Let her go please...!" terdengar suara rekan pramugari sambil menangis. 
"She is just joining us, if you want a hostage, take me" salah seorang pramugari senior dengan berani menawarkan diri, menggantikan Melati menjadi sandera mereka. Namun rupanya terlambat, Melati yang dibopong pembajak telah selesai menuruni tangga pesawat. Dibawanya Melati sebagai sandera akibat tuntutan pembajak yang meminta tahanan politik Israel di Mesir juga belum diluluskan.

Akhirnya Melatipun pasrah tak berdaya di bawa mereka sebagai sandera. Melati yang sejak awal pembajakan tangannya di borgol kebelakang dengan mulut disumpal lakban, dibopong oleh salah satu anggota pembajak yang perempuan dibopong dan terpisah dari rombongan pembajak yang lain di masukkan kedalam bagasi mobil berwarna merah untuk disekap di suatu tempat. Tangannya yang terbelenggu dengan borgol diganti dengan tali yang mengikatnya erat di pergelangan tangan maupun pergelangan kakinya. Melati dibawa kesebuah rumah modern di Israel. 
"eemmmpphhhhh.......!" keluh Melati. Disekap di sebuah ruangan yang penuh pakaian,

seperti ruang ganti lalu Melati dibuat berdiri dan tubuhnya terikat ditiang. Hari-hari Melati dijalani dalam keadaan terikat berdiri pada sebuah tiang, jika lelah Melati berusaha duduk dilantai sebisa mungkin, namun sulitnya karena kakinya juga terikat dan diikatkan ke tiang itu. Kendatipun pramugari Melati sebagai sandera diurus dan dilayani dengan baik oleh pembajak perempuan yang ditugasi mereka mengurus sanderanya.
Sudah hampir seminggu lebih Melati menjadi tawanan kelompok para pembajak, yang sedang diculik atau disekap di Israel. Komplotan pembajak memperlakukannya dengan baik meski tangan kakinya tidak bisa digunakan namun pembajak perempuan pada khususnya bersedia menggantikan tangan dan kakinya, baik makan maupun buang air Melati dilayaninya dengan baik sungguh tidak terasa kalau Melati sudah seminggu lebih menjadi tawanan.
Apakah pramugari Melati akan menikmati kebebasannya suatu hari dan kembali ke tanah air, mampukah Melati mendapatkan kebebasan sehingga bisa di ekstradisi ke tanah air menjadi masalah yang belum bisa terselesaikan. 

Oh Laras Melati nasibmu.... 

Jumat, 01 Agustus 2014

Gita Istiany dan Pertunjukan Gypsy Rope Magic

Gita Istiany adalah kembang kampus, dia cantik dan banyak digandrungi teman prianya, karena ramah dan mudah berteman. Satu yang istimewa dari Gita, dia memiliki suara yang merdu. Teman-temannya menyarankan Gita mengikuti audisi Indonesian Idol namun Gita merendah dan tidak merasa bahwa suaranya sebagus yang dikatakan teman-temannya. Hari ini adalah Dies Natalis di kampusnya, Gita tidak tampil menyanyi karena sedang sibuk dengan tugas-tuga yang harus diselesaikan. Gita dan Merry baru saja menyelesaikan kuliah terakhirnya hari ini.
"Wah ada keramaian di sana, lihat yuk!" ajak Gita pada Merry sahabatnya saat mereka di kampus, mereka kebetulan sering bersama-sama.
Tidak biasanya Gita mengikuti keramaian di kampusnya, konon ada pertunjukan sulap yang meramaikan dies natalis kampusnya.
Banyak petunjukan yang dipertunjukkan mengundang decak kagum pengunjung.
"Saya butuh satu mahasiswi untuk membantu di panggung" kata pesulap. Pilihan ternyata jatuh ke Gita.  Gita pun dijemput sang pesulap untuk naik ke panggung untuk membantu petunjukkan, tanpa ragu Gita pun ikut kepanggung oh ternyata sulap berikutnya menggunakan tali temali.
"Pertunjukan berikutnya adalah Gypsy Rope!!" pembawa acara menyebutkan.
Hari ini Gita berbusana rapi, pantas untuk naik panggung, memakai tanktop kuning dengan sweater berkancing dan rok biru muda selutut dengan sepatu model Mary Jane warna kuning, sejenis pantofel yang ada ban yang melintang dipunggung kakinya.
Pesulap meminta Gita mengangkat tangan kanannya lalu pesulap mengikat tali dan mengunci simpulnya di pergelangan tangan kanannya, lalu Gita di minta putar balik membelakangi penonton. Gita merasa pernah melihat pertunjukan Gypsy Rope berkali kali lewat You Tube maka Gitapun layaknya assisten pesulap secara luwesnya menaruh kedua tangannya di belakang pinggang kemudian pesulap itu menyambungkan tali pendek yang tersisa di pergelangan tangan kanannya diikat ke tangan kirinya maka lengkaplah tangan Gita terikat. Kemudian di ikatkan tali dari leher, bagian atas tubuh, sampai ke kaki. Gitapun memutar tubuhnya kebelakang sebanyak 2 kali ikut menunjukkan dan meyakinkan penonton bahwa dia sudah terikat erat. Dan berikutnya seperti petunjukan Gypsy rope biasanya, ada mahasiswa berkaus oblong diajak naik ke panggung, bersama Gita mahasiswa itu, mereka berdua ditutup dengan kain satin merah, beberapa saat di buka, mahasiswa tadi memakai bra merah Gita diluar kaus oblongnya, Gita merasa branya berpindah di tubuh mahasiswa itu sementara tubuhnya masih terikat erat. Bra pun dilepaskan dan pertunjukan segmen itu diakhiri karena terdengar adzan, waktunya sholat. Pesulap meminta Gita dilepaskan nanti dibelakang panggung, para pementas bersama Gita pun beringsut ke belakang panggung.
Dengan tangan dan kaki terikat, Gita menunggu ikatan tali di tangan dan kakinya dilepaskan.
"Mas, sudah bisa dilepas?" tanya Gita kepada pesulap setibanya di belakang panggung.
Sang pesulap bukannya melepaskan tali-tali yang mengikat Gita, malah menyumpal mulutnya dengan lakban;
"......eemmmmppphhhh!" Gita terkejut namun terlambat karena kaki dan tangannya sudah terikat erat dari tadi lalu mulutnya disumpal lakban, Pesulap langsung membekap hidung Gita dengan sapu tangan yang mengandung chloroform dan bau yang melemahkan syaraf itu membuat Gita tak sadarkan diri. Tubuhnya digendong dan dibawa masuk ke bagasi mobil oleh asisten pesulap. Gita di culik!!  Sementara pesulap masih akan mempertunjukkan sulapnya di panggung mahasiswa. Sementara Merry yang bersama-sama Gita, masih bingung  menunggu Gita kembali dari panggung, diapun kebelakang panggung menanyakan Gita yang dijawab tadi setelah dilepas Gita menerima telpon dan buru-buru pulang. Merrypun tidak menaruh curiga.
Gitapun sadar dan siuman
"Dimana aku berada,.." matanya melihat seisi ruangan..."
"......eemmmmppphhhh!" dalam sebuah gudang, Gita menyadari bahwa tangan kakinya terikat erat dan mulutnya disumpal lakban.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk melepaskan tali tali yang mengikatku ini" batin Gita yang menemukan dirinya terikat dan duduk disebuah kursi. Gita sesekali meronta-ronta siapa tahu tali yang mengikatnya bisa terlepas. Malam semakin larut, Gita masih terikat dikursi disekap di dalam gudang. Malam itupun dilalui tanpa ada seorang pun, entah si pesulap atau para asistennya yang menengok Gita atau bahkan membebaskan dia. Dan Gita yang lelah meronta-ronta lalu tertidur.
+++
Pagi sudah cukup siang, ketika Gita terbangun, di dinding gudang ada sebuah jam dinding menunjukkan pukul 10.35 pagi. Cahaya terang dan terik menyelinap masuk dan memberi penyinaran pada gudang tempat Gita disekap. Belum ada yang mengunjunginya di gudang, entah pesulap maupun asistennya. Harapan itu pupus untuk dikunjungi sang pesulap dan kawan kawan, karena kira-kira sejam kemudian seorang perempuan dan dua laki-laki kekar dan tegap masuk sambil membawa sebuah cambuk ke gudang tempat Gita disekap.
"Hmm..... Seleranya Demian boleh juga, kamu cantik Gita...." sapa perempuan itu di telinga Gita.
"Kamu sudah kubayar mahal, mulai saat ini kamu menjadi tawananku, mengerti......!!" lanjutnya kepada Gita,
"Kamu boleh memanggilku Mistrees Marlyn, OK??!" matanya melotot padaku,
"......eemmmmppphhhh!" jawabku sambil menganggukkan kepala.
"Demian sudah menjual kamu kepadaku....! Cukup mahal, jadi sebagai budak kamu harus patuh!" lanjutnya, Demian adalah pesulap yang telah berhasil menculikku dan menjualku ke Mistrees Marlyn.
"Nah sebentar lagi kamu dikasih makan, biar kuat menghadapi ujian2 selanjutnya" Mistrees Marlyn melanjutkan.
Tiba-tiba tubuhku dibopong di pundak salah satu pria yang mengawal Mistrees Marlyn.
"Αkΰ mau dibawa kemana? pikirku.
BUKK!! Tubuhnya terhempas diatas ranjang di sebuah kamar, kemudian datang seorang pembantu wanita, dia melepaskan lakban yang menyumpalku dan disuapinya makanan, masih dalam pengawasan kedua pria kekar itu.
Sesaat Gita menyesali hal yang terjadi pada dirinya, Kenapa juga αku harus mampir di aula itu? Biasanya αku tidak ambil perhatian terhadap keramaian di kampus.
Kenapa juga αku mau naik keatas panggung dan menjadi obyek pesulap Demian dengan tangan dan kaki diikat? Aku pikir itu hanya permainan sulap biasa yang suka aku lihat di Youtube.
Jika αku tidak mampir ke aula, tentu saat ini αku masih bersama Merry sahabatku di kampus atau di mall.
Sementara di kampus Merry kehilangan sahabat dekatnya Gita; 
"kog aku tidak bertemu dia sehariaan" cemas Merry ditelponnya Gita ke nomor HPnya tidak aktif, di BBM Gitapun tidak delivery. Merry pasrah mungkin Gita sedang tidak mau diganggu pikirnya. Gita memang suka begitu, tahu-tahu telpon sudah berada dengan orang tuanya di Manado. Merry mengambil sikap pasif menunggu saja dihubungi Gita.

Sejam sudah sejak Gita menyantap makanannya, Gita masih terkapar, terikat tak berdaya dan bersepatu didalam kamar itu, hingga

"Gita, kamu dipanggil Mistrees" sapa salah seorang pengawal Mistrees Marlyn sambil membawa kursi roda. Gitapun digendongnya dan diletakkan di atas kursi roda itu. Kursi itu didorongnya, sampailah Gita di kolam renang, Mistrees Marlyn menyambutnya, lalu melepaskan sweater berkancing yang diikatkan dipinggangnya, sepatu mary janenya pun dilepas, lalu Gita diangkat oleh sang pengawal dan dilemparkannya ke kolam renang.
Gita memang mahir berenang, namun dia belum pernah berenang dalam keadaan kaki tangan terikat erat dan mulut tersumpal lakban. Gita secara refleks menggoyang-goyangkan tubuhnya seperti ikan agar bisa berenang, lakbannya terlepas dan Gita kembali bisa mengambil nafas. Gita berusaha keras agar bisa mengambang dengan baik padahal kolam itu dalamnya cuma 1.75 cm.
Setengah jam kemudian sebuah kerek dengan pengait besi berhasil mengangkat Gita yang kecapaian, suasananya seperti pancing besar yang mendapatkan 'ikan' seperti Gita. Tergantunglah Gita sepanjang siang hingga sore dengan pakaian yang basah kuyup akibat dicemplungkan kedalam kolam. Gita menjadi tontonan siang jelang sore itu. Dibawah sana Mistrees Marlyn dengan berkumpul dan menjamu teman teman wanitanya, mendapatkan pertunjukan yang heboh. Ada perempuan muda terikat erat tergantung di atas kolam berenang seperti ikan yang baru dipancing. 
Menjelang matahari terbenam di temaram sunset acara kumpul perempuan dengan Mistress Marlyn pun selesai, para tamu mulai meninggalkan tempat. Gita yang terikat tergantung diatas kolam diturunkan. Pengawal mendudukkan Gita di kursi roda sementara pembantu perempuan membantu memakaikan sepatu mary jane kepunyaan Gita. Tubuh dan pakaian tank top dan rok selutut yang dikenakan Gita kering sendiri akibat lembab dan panasnya siang tadi saat Gita digantung. Pengawal membawa Gita kembali, tidak kekamar tempatnya disekap melainkan ke gudang, tempat Gita pertama kali diserahkan. Gita didudukkan di kursi dan ada seutas tali panjang yang mengikat tubuhnya dengan kursi. Dan Gita pun tertidur kelelahan..
Pagi itu Gita terbangun dan merasakan diri melayang, oh apakah αkΰ sedang pusing atau mual? Gita mendapati tubuhnya yang terikat sedang tergantung di langit-langit gudang dengan posisi hogtied.
"......eemmmmppphhhh!" Gita meronta ronta dan melihat ada tripod dengan video kamera membidik ke arah tubuhnya. Di sudut lain terlihat TV 21inch yang menayangkan keberadaannya saat ini.
Ditempat lain di ruang tamu, Mistrees Marlyn dan beberapa perempuan yang sahabatnya sedang bercengkerama 'nonton bareng' melihat tayangan penderitaan Gita yang terikat, tersumpal dan tergantung.
Menjelang malam Mistrees Marlyn datang bersama kedua pengawalnya, Gita diturunkan dan tali yang mengikat kakinya diganti borgol kaki,
"Gita, sapu dan bersihkan gudang ini,..." perintah Mistrees Marlyn.
"Yang bersih ya awas..."
Gitapun dengan bersusah payah dengan tangan yang terikat kebelakang sejak pertunjukan magic di kampusnya berusaha membersihkan dan menyapu gudang tempat dia disekap.
                                                                                                                                              (Bersambung)

Kamis, 31 Juli 2014

Hari Ulang Tahun Mila

Ika Tantri Mila Verania

Hari ini adalah Ulang Tahunku, aku berangkat ke kantor dan sibuk bekerja seperti biasa. Jam 16 aku dipanggil keluar oleh bossku lalu ke bawah di tunggu di areal parkir, aku pun turun, sesampainya aku di bawah........... dalam seketika tubuhku sudah terikat tak berdaya di sebuah tiang listrik di parkiran, mataku tertutup, tangan terikat erat di balik tiang, kakiku terikat jadi satu ke tiang, ada tali lagi yang meliliti tubuhku ke tiang. Aku berteriak gaduh memberontak sampai mulutku juga akhirnya di bungkam. "eemmmpphhhh.........!!" supaya tidak ribut kata salah satu teman kantorku.
Apa yang terjadi kemudian? Bossku meramaikan 'perayaan' ini dengan memberi aturan dan hadiahnya. Ternyata terjadi lomba melempar telor ke tubuhku bossku menghadiahkan, dengan sasaran wajah dapat Rp 100.000,-  serta sasaran dada/tubuh dapat
Rp 25.000,- dan sasaran kepala mengenai rambut dapat Rp 50.000,- yang disponsori oleh bossku seorang pimpinan di perusahaanku tempatku bekerja sebagai Executive Secretary. Dengan penuh semangat karyawan kantor yang hanya 15 orang menimpukku, Owh! Ternyata terdengar suara Vita assistenku bersorak girang karena lemparannya tepat sasaran
"auww...aduh mengenai wajahku!" batinku
Selain tubuhku, kepalaku juga penuh dilumuri telor. Jam usai kantor tiba, lemparan itu terhenti. Rupanya mereka sudah bubar namun tubuh ini masih terikat erat tak berdaya di tiang listrik, tidak ada yang melepaskan. Aku sibuk meronta-ronta tapi sia-sia. Hari semakin terasa gelap. Aku takut dan cemas dalam keadaan terikat di areal parkiran kantorku.
Areal parkiran dikantorku sudah sangat sepi, cemas mulai membelenggu diri ini hingga waktu yang cukup malam, mungkin sekitar jam 8 ? Saat bossku akan pulang dilepaskannya kaki dan tanganku, sambil diucapkannya "Selamat Ulang Tahun Mila" Aku pun pulang dalam keadaan bau telor dan bergegas mandi.

Sebuah hari yang sangat melelahkan namun mengesankan.

Kamis, 13 Februari 2014

Model -berkepanjangan-

Kisah ini terjadi pada diriku tiga bulan sebelum αkΰ mendapatkan panggilan casting dari sebuah rumah produksi terkenal dalam upaya shooting FTV. (cerita berjudul Casting)
"Melany, besok harap datang di Villa Bunga di Batu Malang untuk sesi pemotretan khusus" demikian bunyi BBM yang kuterima dari teman chatku Bayu.
Namaku Melany mendapatkan panggilan untuk photo model dari sebuah majalah Pria. Profil ku menarik perhatian photografer Bayu Trinadi yang terkenal itu. Konon mereka mendapatkan photo wajahku melalui suatu acara yang pernah αkΰ datangi. Katanya wajahku serupa dengan artis Risty Tagor pemain sinetron cantik itu yang kini berhijab itu. Αkΰ diminta datang agak sore untuk percakapan awal dan esok paginya mengikuti sesi pemotretan dan disediakan kamar penginapan selama sesi pemotretan berlangsung. Tanpa rasa curiga, αkΰ menyanggupi dan mengatur proses kedatanganku ke lokasi di sebuah villa di kawasan Batu Malang. Dengan mengenakan blouse shanghai berwara pink tanpa lengan dengan rok yang berwarna putih dan sepatu Mary Jane sewarna dengan blouseku, αkΰ menyewa taxi jam jaman dan cukup untuk menjangkau lokasi pemotretan di villa tersebut. Setelah sempat mampir di rest area untuk makan. Sampailah αkΰ di villa yang dimaksud. Αkΰ dipersilahkan beristirahat dulu di sebuah kamar yang disiapkan untuk itu. Belum melepas sepatu, berbaring-baringlah αkΰ di kamar bersandar di bantal, hingga saking lelahnya tanpa terasa αkΰ tertidur.
 ****
Αku terbangun dari lelapku, kudapati αku sedang tidak di tempatku tertidur. Tubuh ini kudapati dalam keadaan terduduk tidak dapat kugerakkan, tali tali terlilit di tubuh ini. Kucari tanganku, kurasakan tangan ini terikat erat kebelakang. Kakikupun tak dapat kugerakkan, rupanya terikat menyatu dengan sepatu yang masih terpakai. Ugh,...!! Mengapa keadaanku seperti ini terduduk dan terikat erat?
"......eemmmmppphhhh!" suaraku minta tolong yang terkendala akibat mulut ini disumpal lakban, dan rasanya dalam rongga mulut ini ada kain yang membatasi upaya lidahku. Sementara αkΰ sibuk meronta-ronta atas keberadaanku... "Sesi pemotretan akan segera dimulai, kamu sudah siap Mel....." suara Bayu terdengar menyapaku.
"......eemmmmppphhhh!" keluhku
Αku sungguh tidak mengira kalau αkΰ akan mengikuti sesi pemotretan berlangsung dengan kondisi (gaya =red) seperti ini. Waktu menunjukkan 19.20 malam
"Lama juga αkΰ tertidur" benakku Kamera membidik, tubuh ini seperti bermandikan sinar blitz dan beberapa photopun, yang sebenarnya tak seizinku, terambil dari berbagai sudut dan αkΰ duduk terikat, sesekali kursi diambil dan αkΰ terduduk di lantai, lalu telungkup dengan ikatan ditanganku disambungkan dengan tali yang meliliti dan mengikat kakiku. Kembali kamera membidik, tubuh ini seperti bermandikan sinar blitz dan beberapa photo terambil.
"......eemmmmppphhhh!" akΰ bukan model seperti ini keluhku.
"Ok sesi pertama malam ini selesai, kita lanjut besok pagi.." ujar Bayu mengakhiri sesi ini.
"Ugh! Tenang hati ini, sebentar lagi tali-tali yang meliliti tubuh ini mengikat tangan kakiku akan bebas...." pikirku kemudian kursi menejer yang digunakan untuk sesi pemotretan dimana αkΰ terduduk terikat, didorong, dan masuk ke kamar dimana αkΰ beristirahat tadi. Kursi dihadapkan ke jendela villa yang terbuka tirainya sesampainya di kamar, lalu orang yang mendorong kursi keluar dan menutup pintu meninggalkan αkΰ sendiri duduk terikat.
"......eemmmmppphhhh!...eemmmmppphhhh!!" αkΰ meronta seolah memanggil-manggil, minta dilepaskan tali-tali yang mengikat tubuhku. Lama αkΰ memanggil-manggil tak ada yang kunjung datang. Kemudian, masuklah Bayu kekamar dimana αkΰ berada, duduk terikat di kursi menghadap jendela.
"Apa apa, memanggil?"tanya Bayu
"......eemmmmppphhhh!" jawabku
 "Nggak ngerti.....!"sahut Bayu lagi
"...eemmmmppphhhh...eemmmmppphhhh!!!" αkΰ meronta-ronta Bayu mendekat sepertinya ingin melepaskan ikatan di tubuhku, ternyata payudaraku diraba-rabanya dan kemudian diremasnya, lalu tangannya mengelus elus pipiku, kemudian pahaku dan tubuhku yang terikat tak berdaya ini digerayanginya. "......eemmmmppphhhh!!!" kembali αkΰ meronta-ronta geli yang kurasa. Setengah jam lamanya Bayu membuatku geli, lalu diangkatnya tubuhku dan diletakkannya di tempat tidur, membaringkan αkΰ lalu meninggalkan αkΰ dikamar tempat αkΰ tersekap. Lelah αkΰ meronta-ronta dan tertidurlah αkΰ dalam ketidak berdayaan.
 ******
Teriknya sinar matahari membuatku terbangun di pagi itu dan menyadari tubuh masih terikat erat seperti kondisi kemarin.
"Ternyata αkΰ masih terikat erat begini, pagi ini" benakku
Tidak ada yang bisa kulakukan tentu dalam keadaan seperti ini di pagi hari, pikiranku menerawang. Masuklah salah satu kru Bayu, Rina ke kamar ini, lalu melepaskan lakban yang merekat erat di mulut/bibirku,
"Bolehkah αkΰ dilepaskan mbak Rina? Sakit nich...." αkΰ memohon padanya
"Mas Bayu bilang tidak boleh dilepas hingga seluruh sesi pemotretan selesai" ucapan Rina mengejutkanku Kemudian Rina menyuapi αkΰ dengan sepiring sarapan yang disiapkannya, αkΰ menyantapnya karena perut ini terasa lapar, sejak tadi malam belum makan.
"Bagaimana kalau αkΰ mau ke kamar mandi, mbak Rina?" tanyaku
"Biar saya bantu, Mbak Melany" jawabnya
Seusai makan, αkΰ dituntun duduk kembali di kursi menejer kemudian αkΰ didorong menuju kamar mandi. Dituntunnya tubuh terikatku dan didudukkan di ranjang, ketika celana dalamku sudah dilepasnya. Seusainya αkΰ buang air kecil dan air besar, di semprotnya vagina dan anusku dengan air sprinkler yang cukup membasuhku. Lalu αkΰ berdiri dan melompat kecil ke kursi menejer dan didudukan oleh Rina. Di kamar, αkΰ yang masih terikat erat dirias di dandan dengan foundation, bedak, eye shadow, blush on, maskara dan lipstick. Mulut yang tadinya terlakban diganti dan dipakaikan sumpalan, belakangan kuketahui namanya ballgag. Selesai dan rapih setelah disemprotin parfum kursi yang kududuki di dorong keluar ke taman dalam villa itu yang sudah tersetting seperti studio. Tubuhku diangkat ke sebuah pohon dan ada tali tali lagi yang meliliti tubuhku ke pohon itu di kaki dan di tubuhku bagian atas,
Cklik......cklik...... beberapa pose pun diambil, αkΰ terikat di pohon itu. Kemudian Bayu sang photographer, datang mendekat, pelan tapi pasti kancing blouse shanghaiku di lepasnya satu persatu, αkΰ bereaksi dan meronta-ronta, menunjukkan tanda tidak setuju dilepasnya semua busana yang kupakai "......eemmmmppphhhh!" seruku
Dalam sekejab tubuhku hanya dibaluti bra panties dan sepatu Mary Jane yang masih setia menempel di tubuh ini
Cklik......Cklik...... kembali tubuh tak berdaya dan tak berbusana ini diabadikan dengan lensa. Bayu datang kembali lalu mencabut tali bra yang melewati pundakku, sehingga payudaraku terlihat membusung menantang.
"......eemmmmppphhhh!"
"......eemmmmppphhhh!" reaksiku
"tenang Mel, bayaranmu αkΰ naikkan tiga kali lipat deh........" ujar Bayu kemudian kembali menatapku melalui lensa kameranya Cklik.....! Sesi berikutnya membuatku terkejut, tiba-tiba ada selang air hangat yang menyemprot tubuhku, dari kepala dan juga membasahi kakiku, Cklik......Cklik......sementara tubuh terikatku basah kuyup di siram air laksana menyiram pohon, αkΰ merasakan kedinginan akibat terguyur air yang disemprotkan ke tubuhku.
"......eemmmmppphhhh!" αkΰ bereaksi sekenanya.
Cklik......Cklik......rambutku sudah basah kuyup, namun make upku konon tidak luntur karenanya, Bayu terlihat puas dengan hasil bidikannya. Sesi pemotretan pagi itu dinyatakan selesai, lega αkΰ rasanya, karena paling tidak sekarang αkΰ pasti dilepaskan, akibat kondisi tubuhku yang tak berbusana dan terikat erat. Rinapun serta merta mendekat mengeringkan tubuhku dengan handuk dan memakaikan kimono mandi/bathrobe di tubuhku yang terikat. Sambil melompat-lompat kecil karena kaki ini terikat dengan memakai Mary Jane highheel, αkΰpun di dudukkan di kursi menejer kembali. Kemudian kurasakan kursi itu didorong, sampai masuk ke kamar.
"Mbak Rina lepasin dong? sudah mulai pegal nich...." lagi lagi αkΰ memohon padanya sesaat setelah ballgag yang menyumpal mulutku dilepas untuk makan siang.
"kata Mas Bayu belum boleh dilepas mbak.." ucapan Rina
Hati serasa pasrah dengan keadaan seperti ini, memang bukan kehendakku menjadi bondage photo model bahkan keadaan seperti ini tidak pernah kuduga sebelumnya. Teringat beberapa bulan lalu dalam chatting di sosial media, dia tawarkan αkΰ sekali-sekali bersedia jadi model khusus untuk photo majalah Pria, baginya, lama sekali αkΰ tidak menjawab baru akhirnya pertemuan di sini di Batu Malang terlaksana.
"Kog αkΰ diphoto dalam keadaan begini ya mbak?" tanyaku sambil disuapi makanan.
"Lho bukankan mbak sudah tahu?" jawaban Rina mengejutkanku.
"Mas Bayu pernah bilang kalau dia akhirnya mendapatkan model untuk project ini, lalu kami mencari lokasi" lanjut Rina
"Owh.....!" jawabku merasa terperangkap
"Sudah selesai, αkΰ mesti menyiapkanmu untuk sesi pemotretan berikut, " lalu Rina mengambil satu stel blouse dan rok panjang serta sebuah pasmina. Rina dibantu 2 orang perempuan kemudian melepas tali yang mengikat tubuhku bagian atas, selesai dan kedua rekan Rina memakaikan blouse tadi padaku. Rupanya kedua pergelangan tanganku masih terliliti dengan tali tapi tangan ini tidak menyatu dan setiap ujung tali dipegangi sambil dipakaikan blouse. Blouse terpakai dan Rina mengancing blouse itu didepanku, sebuah blouse tanpa kerah dengan kancing bungkus dari atas kebawah, serupa dengan pakaian pramugari Thai Airways yang pernah kulihat di internet. Usai memakai blouse itu kedua rekan Rina menyatukan kembali kedua ujung tali dari kedua tanganku, dari kiri dan kanan. Tanganku disilangnya berbentuk x kemudian tali-tali itu kembali membelenggu kedua tangan ini. Kemudian dengan mudahnya rok panjang itu dipakaikan karena kakiku masih terikat erat. Jadilah αkΰ laksana pramugari Thai Airways berpakaian dan berselempang, dengan posisi tangan terikat kebelakang dan kaki yang terikat menyatu dengan mulut yang tersumpal ballgag siap dijadikan model photography oleh Bayu sang kamerawan. Tak terasa dilangit-langit kamar ini tergantung sejenis roda yang biasa dipakai untuk menimba air sumur yang dalam. Αkΰ belum paham fungsinya. Tak lama Bayu mendatangi αkΰ dan memberi instruksi kepada Rina dan 2 rekanannya untuk mempersiapkan sesi berikutnya. Roda yang menempel di langit-langit kamar di kaitkan dengan sebuah tambang dengan 3 ujung tambang. Ujung pertama tambang itu terkait dengan tali yang mengikat payudaraku, meliliti di atas dan bawah payudara. Ujung yang kedua terkaitkan dengan tali yang melilit dan mengikat kedua lututku. Ujung keyiga berada di tangan Bayu. Perlahan-lahan tubuhku terangkat ke atas dan semakin mendekat dengan langit-langit kamar, berarti pandanganku semakin jauh dengan lantai yang seyogyanya kakiku berpijak.
"......eemmmmppphhhh!" posisi apa lagi yang menjadi materi di majalah itu, pikirku melihat tubuh ini perlahan tergantung di atas. Αkΰ meronta-ronta takut dan terayun-ayun karenanya.
"Jangan bergerak Mel...." Bayu tengah berrsiap dan mengarahkan lensanya membidik tubuhku.
Cklik... Cklik..Cklik... Cklik..... Bunyi itu kembali mendominasi suasana sesi pemotretan.
"Pramugari Thai Airways, terbang...." gumam Bayu seraya membidik tubuhku berkali-kali. Semalaman αkΰ tergantung dia langit langit kamar yang disiapkan untukku. Malam berganti pagi dan selanjutnya berulang dan hari berganti hari, tak ada lagi sesi entah apa yang terjadi dengan mereka tim photographer, apakah mereka melupakan keberadaanku? apakah aku ditinggal sendiri di villa ini dalam keadaan ini? Entah apalagi yang akan kualami di hari-hari berikutnya
Rasa aneh mulai menguasai diriku, sudah 2 hari Rina maupun Bayu tidak datang ke kamar ini, villa terasa sepi tanpa suara-suara di dalam rumah.
"......eemmmmppphhhh!" αkΰ meronta-ronta mencoba melepaskan tali-tali yang mengikatku, ugh sulitnya...


Seharian αkΰ lelah meronta-ronta dan mulai lemas akibat menahan lapar karena sudah 2 hari αkΰ tidak diberi makan...
"Klek,.. Klek,..." Ada seseorang membuka pintu kamar di mana αkΰ berada
"......eemmmmppphhhh! Mbak Rina....?" benakku bertanya
Masuklah seorang lelaki tinggi, tak lama αkΰ masuk dalam pandangannya....
"......eemmmmppphhhh!"
"Lho....!? Mbak kenapa ?" sambil melepas sumpalan di mulutku.
"Iya,.... Eh terima kasih Mas,...." jawabku dengan tangan dan kaki masih terikat
"Saya Melany, kami tadi lagi shooting/pemotretan, mas Bayu mana?" tanyaku
"Oh iya, αkΰ bermaksud menjemputmu" kata orang yang mengaku bernama Jacky itu.
"Ayo ikut saya ke mobil...." katanya sambil membantuku duduk di kursi menejer yang beroda dan membawa tasku.
"Αkΰ gak dilepasin saja...?" tanyaku
"Ketemu mas Bayu dulu" jawab Jacky
Lalu kursi dimana αkΰ duduk terikat di dorongnya ke garasi, lalu tubuhku diangkatnya masuk mobil dan dibaringkan di kursi belakang.
"Urgh...."
Mobil melaju dan berjam-jam meluncur hingga tiba di sebuah rumah mewah.
"Nah kita sudah sampai di Jember, sebentar lagi Melany bisa ketemu Bayu" ujarnya sambil membopongku dipundaknya, dan masuk ke rumah mewah serta membawaku ke kamar di lantai 2.
Lalu sumpalan mulut yang berbentuk lakban diganti dengan sumpalan ballgag yang dipasangkan ke mulut dan tengkukku.
"......eemmmmppphhhh??!" benakku bertanya.
Ditinggalkannya αkΰ terbaring dan terikat erat di tempat tidur itu, tak lama kemudian Jacky datang dengan dua perempuan, kelihatannya mereka pembantunya.
"Mel, kenalkan ini Minah, dan itu Dewi yang akan melayanimu selama disini...." kata Jacky
"......eemmmmppphhhh??!!" melayaniku selama αkΰ disini? Bukannya Bayu akan membebaskanku? Rasa penasaran menguasai diriku.
"Αkΰ beli makan dulu, belum makan siang khan?" seraya meninggalkanku sendiri, siang sudah larut jelang sore. Sejam kira-kira Jacky kembali, menyiapkan makanan buatku lalu
"Maksudnya tadi apa Jacky?" tanyaku setelah mulutku bebas sumpalan.
Jacky belum menjawab sambil menyuapi αkΰ dengan makanan.
"Pertama melihatmu αkΰ tertarik dengan kecantikanmu, jika αkΰ tidak tertarik αkΰ mungkin akan meninggalkanmu begitu saja, tapi kurasa kamu bisa jadi istriku, jadi kuputuskan memeliharamu di rumah, jika setelah tiga bulan perasaanku ini semakin suka, maka αkΰ akan menikahimu Mel, sementara kamu disini αkΰ akan terapkan pengamanan maksimal."
"Dan maaf" lanjutnya

"karena kesanku kamu agak nakal, sehingga bisa kutemukan terikat dan terkunci di sebuah kamar di Villa di Batu Malang. Akΰ sekarang punya cukup waktu untuk mengenalmu lebih dalam, kamu akan dilayani disini dengan baik" ungkap Jacky yang mengejutkanku,
Jadi αkΰ diculik lagi? Bahkan disekap di Jember, batinku sambil mengunyah....
Selesai makan, mulutku disumpal lagi kali ini pakai lakban, namun penyumpal berbentuk bola kecil masih tergantung di leherku. Kemudian Jacky mendekat membawa borgol dan dipasangkan di kedua tanganku yang terikat. Beberapa saat kemudian tali yang mengikat tanganku dilepas, cukup lega tanganku karena diganti borgol. Lalu Jacky keluar kamar meninggalkanku sendiri.
Tak lama datanglah Dewi si pembantu, membasuh wajah dan tubuh ini dengan handuk wajah (facetowel), memberi kesegaran pada diriku.
Hari sudah lepas magrib, ketika Jacky masuk kekamar dimana αkΰ disekap.
Dia duduk dan kemudian mengelus elus pahaku sampai ke pergelangan kaki yang terikat dan punggung kakiku yang tetap bersepatu dielusnya, kemudian tangannya membelai rambutku sambil berujar "Kamu memang cantik Mel, mirip Risty Tagor pemain sinetron itu..."
"......eemmmmppphhhh!" akΰ hanya bisa melenguh.
"Kamu akan kutawan disini sampai αkΰ yakin dan suka sehingga αkΰ bisa mempersuntingmu menjadi istriku...." lanjutnya
"Nanti malam kamu akan menyetujui sebuah peraturan/kesepakatan ya...." katanya.
Kembali tubuhku yang terbelenggu dengan borgol tangan diraba-raba dan dielusnya,
"......eemmmmppphhhh!" sungguh geli yang αkΰ rasa.
"Oh ya, sudah lapar ya, αkΰ belikan makanan dulu yaa ?" Jacky beranjak meninggalkan αkΰ yang berbaring terikat di tempat tidur. Satu jam lebih menunggu akhirnya pintu di buka,

"Waktunya makan... Melany!" sapa Jacky masuk dengan baki berisi sepiring makanan dan segelas minuman"
"......eemmmmppphhhh!" sambutku
"Laparr...." sahutku ketika sumpalan ku dilepas
"Ikatanku gak dilepas? Nanti khan bisa diikat lagi?" tanyaku.
"Enggak Mel belum waktunya..." tolak Jacky
"Aaa...." aba-aba darinya menjelang sendok dimasukkan ke mulutku dan akupun mengucah dengan lahapnya akibat perut ini lapar.
Begitupun seterusnya dan diselingi gelas minuman disodorkan padaku.
"Sebentar ya" kata Jacky yang beranjak meninggalkan kamar tempat αkΰ ditawan.
"Mel, selama kamu disini, ada kesepakatan yang harus kita junjung tinggi. Dengar ya...." Kata Jacky setelah masuk ke kamar di mana αkΰ disekap.
"Pasal Pertama : Pakaian selama disini hanya memakai Bra, Celana Pendek, dan Sepatu
Pasal Kedua : Bersedia dikenakan pengamanan maksimum yaitu tangan di borgol atau diikat kebelakang atau memakai straight jacket selama di sini.
Pasal Ketiga : Waktu olahraga diberikan selama 2 jam setiap hari, jadi kamu hanya terikat selama 21 jam, tidak termasuk waktu mandi, buang hajat dan olahraga.
Pasal Keempat : Dijamin tidak akan mengalami pemerkosaan atau tindakan seksual kecuali atas permintaan tawanan.
Pasal Kelima : Bila pasal 1 sampai 3 dilanggar akan dihukum.
Pasal Keenam : Bentuk hukuman adalah penyambukan, tidak diberikan waktu olahraga dan makan, berlaku 12 jam" lanjutnya kemudian meletakkan kertas bertuliskan Kesepakatan di depanku.
Αkΰ tercenung, membaca pasal demi pasal peraturan yang disodorkan dan aku berpikir panjang, karena kalau yang menemukanku seorang psycho gawat pikirnya, ini cuma diiket meski lama, dan Jacky cukup lembut memperlakukan αkΰ, pikirku
"Nah Mel...sekarang tanda tangan. Kamu gak punya pilihan lain sambil menyodorkan surat bermeterai"
"Bagaimana mau tanda tangan dengan tangan terborgol kebelakang?" αkΰ mengingatkan, lalu segera borgol ditanganku dilepasnya.
Aku masih menimbang nimbang sambil memegang pena, kakiku tetap terikat....
Melany juga sebenarnya mulai tertarik sama cowo ini....
"Untung αkΰ ditemui dia, bukan orang lain, walau αkΰ tetap diculik, dia perlakukan αkΰ sebagai Ratu baginya, walau diiket terus" dalam hati.
"Ayo Melany...tunggu apa lagi?" kata Jacky
"Coba kalau αkΰ ditemukan orang lain lalu di perkosa?" Melany merinding membayangkannya
"Memang gak ada pilihan ya?" ujarku
"Ga ada Mel...kalau pun kamu menolak tanda tangan, aku akan memaksa kamu untuk tanda tangan atau dengan menggunakan cap jempol"
Akhirnya terpaksa αkΰ membubuhkan tanda tanganku diatas meterai....
"Nah beres, sekarang kamu resmi jadi tawananku"
"Tindakanku ini sekarang legal dan ga bisa dikenakan pidana." katanya
"Αkΰ jangan diiket dulu dong pliiss...." pintaku
"Tidak bisa Mel, kamu sudah waktunya istirahat sudah jam 9 lewat. Mulai besok malam, kamu akan tidur di kamarku" kata Jacky
Αkΰ meronta kecil ketika kedua pergelangan tanganku kembali di satukan dan tali mulai erat meliliti kedua pergelangan tanganku yang menyilang.
"Nah selesai deh Mel, dan waktunya tidur" Jacky menenangkan diriku sambil menggendong  tubuhku yang terikat dan meletakkan perlahan di tempat tidur. Lalu memasang ballgag di mulutku.
"......eemmmmppphhhh!"
Ada gairah tersendiri dirasakan ketika tubuhku di gendong ke ranjang dalam keadaan terikat
Terbaringlah aku dengan tangan terikat erat dibelakang dan kaki yang masih bersepatu pun diikat dan mulut yang tersumpal.
"Memang gak ada pilihan" αkΰ berusaha menghibur diri dan perlahan αkΰpun terlelap.



*****
Pagi datang, αkΰ terbangun tak berdaya seperti hari-hari sebelumnya tak bisa apa apa, bahkan untuk bersuara sekalipun. Jacky masuk dan menyapaku
"Selamat Pagi Melany..."
Dan tentunya αkΰ tidak bisa menjawabnya, hanya lenguhan
"......eemmmmppphhhh!"
Jacky melepaskan sumpalan mulutku kemudian dia memborgol kedua tangan yang memang sudah terikat.
"Apa ini mas....?" tanyaku
Lalu dia melepaskan simpul simpul yang mengikat erat tanganku kebelakang. Namun tanganku masih terbelenggu dengan borgol yang dipasangnya barusan. Kemudian tangannya menggerayangi pahaku rupanya ia hendak melepaskan ikatanku yang melilit di atas lututku dan kemudian ke pergelangan kakiku. Namun kali ini αkΰ tidak mampu melangkah.
"Ayo mandi dulu,......" Jacky menuntunku ke kamar mandi. Namun karena kaki ini tidak bisa melangkah, tubuhku terangkat olehnya, Lalu berjalan mendekat ke kamar mandi, lalu diturunkannya αkΰ, kemudian borgol yang terpakai di kedua pergelangan tanganku dilepasnya.
"Mas, tolong isi baknya dong" manjaku
"Ok αkΰ isiin yaa" jawabnya.
Αkΰ bersiap untuk mandi, kulepaskan sepatuku yang kupakai, blus dan rokku mau kulepas namun αkΰ agak ragu... Sementara air hangat sedang terkumpul di bak
"Nah silahkan kalau mau berendam" kata Jacky sambil keluar dari kamar mandi lalu mengunciku didalamnya.  Kemudian αkΰ melepaskan kancing per kancing blus shanghai yang kupakai, kemudian rok, lalu bra dan cdku. Meraba air yang terkumpul di bak, αkΰpun bertahap masuk kedalamnya dan berendam. Perlahan tapi pasti daya di kaki dan tanganku kembali. Hampir sejam lamanya αkΰ berendam air hangat, setelah mengeringkan tubuhku, αkΰ kembali memakai pakaianku sementar suara Jacky terdengar
"Sudah Mel..."
"Buka saja" jawabku yang telah selesai berpakaian
"Eh... Itu tidak sesuai dengan kesepakatan.." kata Jacky memasuki kamar mandi dan menghalangi tanganku yang mulai mengancingi blus shanghaiku.
"Pakai ini" Jacky memberikan kaus dan celana pendek serta sepatu olahraga, "kita langsung ke ruang fitness" lanjutnya. Setelah kaus dan celana terpakai, lenganku digamitnya dan segera memasuki sebuah ruangan yang terlihat luas karena berdindingkan cermin. Ada treadmill dan paket latihan beban dan sit up. Segera αkΰ memulai latihan sit up, beban, kemudian treadmill. Setelah usai Jacky menyuruh αkΰ shower dulu sebelum sarapan. Αkΰ membasuh tubuhku dari keringat dan shower air hangat setelah siap, baru memakai bra dan celana dalam mbak Dewi pembantu Jacky memakaikan borgol di pergelangan tangan kananku kemudian ditariknya kebelakang dan disambungkan dengan pergelangan tangan kiriku. Lalu αkΰ dituntunnya kembali ke kamar. Dewi kemudian memakaikan sepatu model mary janeku. Ia menyelesaikan tugasnya dengan kembali menyatukan kedua pergelangan kakiku lalu mengikatnya. Tak lama Jacky masuk membawa sepiring nasi uduk dan susu lalu menyuapiku.
Begitulah hari-hari kujalani dalam masa penawanan ini, kecuali tangan dan kaki ini αkΰ merasa diperlakukan seperti Ratu di sini jika tidak diikat dengan tali, maka borgollah yang akan berada di pergelangan tanganku. Pernah beberapa minggu αkΰ hanya dipakaikan jacket yang telapak tangannya tidak keluar lagi. Jacket yang suka dipakaikan pada pasien rumah sakit jiwa. Hanya ketika dipakaikan padaku, dipakai seperti jacket biasa dipunggung dan tanganku tertarik kebelakang.
***
Sudah dua bulan lebih αkΰ disini, mengulangi kehidupan ditawan dalam waktu yang tak tentu, teringat αkΰ akan Erick, pria yang cukup dekat denganku dan sempat 'menembak' αkΰ sehari sebelum αkΰ berangkat modelling ke Batu. Αkΰ memang belum mengatakan apa apa padanya.
Sementara tadi pagi setelah selesai olahraga dan shower, ketika mulai membelengguku seperti biasa dengan tali-tali di pergelangan kaki dan tanganku. Sebelum menyumpal mulut, Jacky menyatakan lamaran padaku, namun αkΰ masih akan mempertimbangkannya, karena αkΰ masih rindu pada Erick.
Suatu hari jacky mengajakku menonton DVD bersama, tentang sinetron Putri yang Tertukar yang dibintangi Nikita Willy, adegan Nikita yang berperan sebagai Amira, datang kesebuah klub malam, bergaul sampai mabuk dan akhirnya diperdaya, ketika sadar tangan dan kakinya terikat, konon Amira (Nikita Willy) akan dijual.
Gambar menunjukkan Amira yang terikat dan mulutnya disumpal, dimasukkan ke bagasi sebuah sedan. Αkΰ merasa seperti senasib dengan Nikita Willy cuma nasibku lebih baik dengan Jacky. Karena tidak untuk dijual.
Seperti pagi ini, selesai dengan rutinitas berendam, olahraga dan shower, tubuhku kembali diikat sesuai yang pernah disepakati, hanya memakai bra dan celana dalam kemudian tetap bersepatu mary jane hills. Pergelangan kaki dan diatas lutut sudah terikat, pergelangan tangan dan tali sudah melilit di bagian atas dan bagian bawah payudaraku. Sebelum menyumpal mulutku (kali ini dengan lakban, biasanya ballgag) Jacky menanyakan kesediaanku.
"Maaf Jacky, αkΰ belum yakin..."
"Apapun jawabanmu, kamu pasti berakhir dengan jadi istriku Mel,.." jawab Jacky sambil menempelkan dua lapis lakban ke bibirku.
"Pertanyaan ini sebenarnya untuk kebaikanmu, tapi kalau kamu belum memutuskan, maka kamu akan menikah dalam keadaan seperti ini" lanjut Jacky

"......eemmmmppphhhh!" sahutku pasrah.
Hari-hari berlalu dalam rutinitas dan ketidak berdayaan, pagi terikat erat, berendam air panas, fitnes, shower, diborgol, sarapan, tidur, makan siang, dan makan malam dalam keadaan terikat erat sudah menjadi agenda deritaku. Sampai suatu kesempatan setelah Minah dan Dewi kembali mengikatku selesai shower...

 Αkΰ dikenakan baju kurung seperti jubah yang tak bertangan, kepalaku di balut dengan jilbab bercadar berwarna putih, maka lakban yang menyumpal mulutkupun tertutup cadar, dengan keadaan tangan dan kaki terikat tak berdaya, αkΰ didudukkan di kursi roda. Diruang tamu terlihat ramai, ada tamu2nya Jacky. Αkΰ didandani Minah dan Dewi di kamar bawah dekat ruang fitnes. Ada apa gerangan, dengan banyak tamu. Tak lama αkΰ didorong ke ruang tamu kudengar Jacky baru saja mengucapkan ijab kabul namun tidak adanya perempuan disebelah Jacky, pertanyaan terjawab ketika Jacky memperkenalkan αkΰ sebagai mempelainya.
"......eemmmmppphhhh??" Αkΰ cukup terkejut dengan cara Jacky memperkenalkan αkΰ.
Αkΰ telah dijadikan istri oleh laki laki yang menahanku. (Tamat)

Jumat, 17 Januari 2014

Casting

Pagi itu Melanie bangun dengan gugup dan sedikit semangat. hari ini ia akan dipanggil casting oleh sebuah rumah produksi ternama di Indonesia. Mau diajak shooting di Filipina, dia sangat bersemangat karena memang sedari dulu ia bercita cita menjadi seorang artis terkenal, sungguh tak disangka rumah produksi ini mau memanggilnya meski hanya untuk casting, siapa tahu ini bisa menjadi batu loncatan bisa shooting di Manila. Mandi pagi telah membuat tubuh gadis itu segar, ia segera berdandan seperlunya dan secantik mungkin. Melanie bertekad akan membuat para pengcastingnya terkagum kagum , apalagi katanya ada produser yang mau datang.
Melanie bercermin dan membanggakan tubuhnya yang memang ideal, kaki panjang dan buah dada 34C , cukup untuk membuat para pria tak berkedip menatapnya. pakaian pun ia memilih yang anggun dan sexy dengan rok mininya , ditambah assesoris gelang dan kalung, yang membuat kecantikan gadis muda ini terpancar sempurna. yakin telah berdandan cantik , memakai sepatu model mary jane, sejenis pantofel yang ada ban melintang diatas punggungnya, dengan percaya diri ia pun pergi ke tempat casting dengan hati riang membawa paspor seperti yang disyaratkan. Tempat castingnya ternyata adalah sebuah rumah besar dimana sebagian ruangannya telah dirombak menjadi sebuah studio untuk keperluan shooting. Melanie sangat mengenal rumah ini, tempat ini selalu dipakai sebagai setting sinetron sinetron yang banyak tayang di televisi. Jantung Melanie semakin berdebar debar melihat banyak orang orang penting disana, ada aktor muda terkenal Hengky , sutradara Jati , bahkan ia sempat melihat Punjab dan Ramesh, boss rumah produksi ini. Melanie segera mendekati Jati dan memperkenalkan diri sebagai calon artis yg akan diaudisi. Jati memandangi Melanie dari atas kebawah, dan ia pun tersenyum senang, gadis cantik yang sempurna. Wajahnya mengingatkan akan art “baik..Mel….ini ada script..coba kamu baca…..dan kamu mainkan…” kata Jati sambil memberi sebuah draft naskah. “bbaik..pak..eh..mas..eh…” Melanie sedikit gugup karena saking semangatnya. “santai aja….jangan takut…..” kata Jati menenangkan.
Melanie membaca naskah itu dan ia terkesiap dan terkejut, ini cerita tentang pemerkosaan.
"wah aku mau diikat dan diperkosa nich..." batinnya.
Jati bisa melihat keterkejutan itu, bahkan ia sudah menduga maka ia segera berkata,
“Kamu masuk dalam frame yang ceritanya kamu baru saja diculik dan diperkosa, jadi nanti kamu diikat di ranjang sebelah sana. nah adegan di mulai saat nanti Hengky masuk untuk membebaskan kamu, nah…kamu sesuai dialog menangis dan memohon untuk diselamatkan, dan bicara kalo kamu baru diperkosa, paham…?” Melanie sebenarnya ragu dengan adegan seperti ini, ia memang sudah mempersiapkan diri namun ia tak menyangka jika test castingnya langsung adegan yang berat seperti ini, gadis ini termenung sejenak. “bagaimana, Mel..siap…?” tanya Jati sang sutradara tak sabar. cukup lama Melanie berpikir sampai ia akhirnya mengangguk setuju. Melanie kemudian berbaring di tempat tidur yang disediakan , sementara kru yang lain segera mengikat erat tangan dan kaki Melanie ke ujung tempat tidur membentuk huruf X. wajahnya terlihat cemas dan ketakutan saat kemudian mulutnya disumpal.
“jangan takut dan gugup….cuma sebentar kok….saya yakin begitu kamera rolling kamu akan enjoy….jadi coba relax ..ok..? ” Jati berusaha menenangkan.
"eemmmpphhhh" Melanie mengangguk, ia mulai sedikit tenang. Adegan dimulai, Hengky memasuki set, mendekati Melanie dan membuka sumpal mulut gadis itu,
“Ya Tuhan..apa yang terjadi sama kamu….siapa yang melakukan ini……?” Melanie mulai berakting menangis dan menceritakan bahwa ia baru saja diperkosa.
“cuuttttt!!!!……jelek….sangat jelek..ulangi lagi, soulnya gak masuk kurang penghayatan!!!” Teriak Jati tak puas dengan adegan itu. mulut Melanie pun kembali disumpal dan adegan diulang.
“cuutt…..!!!! ya ampun Mel…kamu bisa akting ga sih…ulang!!!” Jati masih tak puas, sementara Melanie mulai tak nyaman dengan semua ini , jika sekali lagi gagal , ia berpikir untuk pulang. adegan kembali diulang , Melanie menunggu Hengky untuk masuk, namun ia kali ini sangat terkejut. Yang masuk ke set kali ini ternyata tak hanya Hengky , tapi beberapa orang berwajah seram yang biasanya bermain sebagai penjahat atau preman di sinetron. Melanie menatap sutradara dengan ketakutan, namun sutradara hanya terdiam dan sibuk dengan monitornya. Melanie sadar dalam adegan ini ia kan betul betul diperkosa, maka ia pun berontak dan meronta ronta , namun ikatan tangan dan kakinya terlalu erat, merasa kalah air mata mulai meleleh membasahi pipi.
"eemmmpphhhh..." salah seorang pria naik ke ranjang , mengelus elus paha mulus Melanie, kemudian terus naik ke atas dan dengan gemas meremas vagina , celana dalam Melanie pun ia turunkan sampai bawah , sehingga jarinya leluasa menyusuri vagina gadis itu. lelaki yang lain membuka pakaian atas Melanie, menarik lepas branya , sehingga buah dada ranum gadis itu terbuka bebas. Melanie menangis tertahan saat buah dadanya diremas remas oleh beberapa orang,
sementara yang lain membuka sisa pakaian yang menempel di tubuh Melanie, sehingga gadis ini telanjang bulat. Untuk beberapa lama tubuh indah Melanie menjadi hiburan yg mengasyikkan, buah dadanya di remas dan dijilati begitu juga vaginanya, tak ada bagian tubuh Melanie yang tak dijamah, air mata gadis ini makin mengalir deras, ia tak menyangka untuk menjadi artis harus berkorban sejauh ini. Kegiatan mereka di tubuh Melanie berhenti sejenak , para lelaki itu kemudian membuka pakaian masing masing, membuat mata Melanie terbeliak ketakutan melihat penis penis para preman itu yang akan segera menembus tubuhnya, rontaannya makin kuat, namun sia sia. Seorang pria naik ke tengah tengah kaki Melanie, dan sambil tertawa mengosok gosokan penisnya ke bibir vagina sambil menikmati ekspresi ketakutan gadis itu. Melanie belum pernah mengalami hal ini , ia masih perawan, bahkan dengan pacarnya sendiri pun ia baru sebatas bercumbu. "eemmmpphhhh....eemmmpphhhh!!!" Melanie menjerit tertahan dibalik sumpal mulutnya ketika akhirnya penis itu memasuki vaginanya dan merobek keperawanannya , ia menggeleng geleng kepalanya dengan frustasi saat penis itu bergerak maju mundur di vaginanya, rasa sakit , malu , marah dan menyesal bercampur di dadanya. Semua teriakan, tangisan dan rontaannya malah makin membuat pria itu semakin brutal mendorong masuk penisnya, sehingga tubuh gadis itu terguncang guncang di ranjang. Pria yang lain membuka sumpal mulut Melanie, dan tanpa basa basi pria itu memasukan penisnya yg hitam dan bau ke mulut gadis itu. “kulum…awas berani gigit !!!” ancam orang itu. Penis yang panas, asin dan besar itu memenuhi mulut mungil Melanie, membuat gadis itu tersedak saat penis itu mencapai tenggorokannya , menghalangi jalan masuk udara , belum lagi rasa sakit karena pria itu sambil memaju mundurkan penisnya di mulut gadis itu, ia juga dengan kasar menjambak rambut gadis itu. Gadis itu hampir saja kehabisan nafas, beruntung sekali penis di mulutnya tak terlalu lama kemudian telah menyemburkan isinya, cairan putih dan hangat mengisi langsung mulut dan tenggorokannya membuat Melanie merasa jijik, namun akhirnya ia bisa bernafas lega saat penis itu dicabut dari mulutnya. Baru beberapa detik Melanie menghirup nafas lega, seorang gendut kini ganti memaksakan masuk penisnya ke mulutnya.
“engggakk…gak….mau…ga mau…….” Melanie berontak dan berusaha menutup rapat mulutnya , saat penis si gendut berusaha keras memasuki mulutnya seolah membantu kawannya, penis di vagina di dorong semakin keras sehingga gadis ini berteriak dan memberi jalan penis si gendut untuk masuk. Tak berapa lama Melanie bisa merasakan cairan hangat mengalir memenuhi vaginanya, tubuhnya semakin melemas , ia merasa masa depannya sudah tak bisa diharapkan lagi. Penis berikutnya yang memasuki vagina Melanie tak sebesar yang sebelumnya, namun lelaki satu ini lebih brutal. sambil menggenjot tubuh Melanie, ia dengan kasar meremas dan mencubiti buah dada gadis itu, smentara untuk berteriak ia tak bisa karena mulutnya tersumpal penis si gendut. Untuk beberapa kali mulut dan vagina Melanie dimasuki dan disiram dengan sperma secara bergantian, membuat seluruh tubuh gadis itu terasa lemas dan sakit, vaginanya terasa panas , karena terus menerus dihantam. Saat semuanya kemudian berhenti dan menjauh, Melanie pikir semua sudah berakhir, ternyata dugaanya salah. Kali ini muncul seseorang dengan penis paling besar diantara yg lain,ketakutan makin berlipat lipat di diri gadis itu, dalam keadaan normal saja ia tak akan sanggup menghadapi penis sebesar itu , apalagi saat ini , ketika vaginanya telah ditembus beberapa kali dengan brutal. “jjjaa..ngan….ampuuun….lepasin…lee…pasinn ..saya…..ga mau….” Melanie memohon dan menangis. Permohonan gadis itu hanya ditanggapi dengan tertawa oleh semua yang ada disana. Ketika kemudian ikatan Melanie dilepas , ia sempat lega karena berpikir akan dibiarkan pergi , namun ternyata tangannya diikatkan kebelakang dengan erat dan ia akan diperkosa lebih brutal lagi, saat kemudian penis memasuki vaginanya , ia tiba tiba merasakan ada penis yang memaksa masuk dari belakang.
“oohhhh..!!!! tidak…..jangaaaan….!!!!!” Melanie berteriak histeris dan berusaha meronta , namun ia dipegang erat oleh pemerkosanya.
“AAAAAAAAAAAHHHHHHH……….” Melanie hanya mampu berteriak saat penis lain berhasil menerobos pantatnya. dua penis itu menggenjot vagina dan pantat Melanie bersamaan , dan selama itu pula kegiatan mereka diiringi oléh tangisan dan jeritan kesakitan dari gadis malang ini. Jeritan dan tangisan gadis itu tetap terdengar sampai beberapa jam kemudian , Jati sang sutradara telah berganti beberapa kali roll film , merekam tiap expresi kesakitan dan keputus asaan calon bintang ini. Setelah kejadian itu, Melanie
juga harus menjadi budak seks para petinggi rumah produksi dalam keadaan tangan terikat sebelum akhirnya ia akan diproyeksikan menjadi the next star, sayang sekali ternyata gadis itu merasa tak terima ia diperlakukan seperti itu dan bermaksud akan melaporkan semua kejadian ini. Pihak rumah produksi ternyata lebih cepat bereaksi untuk menjaga nama baik mereka, dengan sangat rapi dan tidak mencurigakan , sebelum Melanie buka mulut, gadis itu diikat tangannya kebelakang dan langsung dibawa dengan jet pribadi ke Philipina dan ditawarkan kepada rekanan rumah produksi itu yang biasa memproduksi film porno. Begitulah akhir dari kisah Melanie yang malang, bukannya menjadi bintang tenar, ia malah menjadi pemain film porno di Philipina, Hari-hari tanpa shooting dilaluinya dengan tangan terborgol kebelakang dan tidur di sebuah sel seperti peliharaan dan yang lebih menyiksa dirinya adalah , ternyata kecantikan dan eksotisme wajahnya membuat produser merasa cocok memberi peran yang sama pada gadis ini…peran dan adegan pemerkosaan dan selalu diikat.

Penyambutan

Aku ganti baju shanghai kantorku dengan baju yang dibeli mas Dandy, blus shanghai tanpa lengan, kembali memakai rok miniku (tanpa celana dalam) dan memakai sepatu kaya di profileku yang berwarna kuning seirama bajuku... Lalu aku mengikat kedua kakiku di pergelangan kaki dan diatas lutut... Agak lama, aku menunggunya dengan kaki terikat ditambah mulut ku tempelin lakban sambil membaca majalah....Ketika pintu depan terbuka, aku dengar mbak Minah menjawab, ibu sedang istirahat di kamar. Mas Dandy gak langsung masuk kamar tapi malah ngopi dulu. Aku menunggu saja dengan kaki terikat dan mulut tersumpal tetap baca majalah....di bagian atas payudara dan bagian bawahnya sudah dililit tali, tinggal pergelangan tangan yang belum....Gak lama mas Dandy masuk kamar dan dia terkejut ketika majalah aku lepas dan tersenyum girang memahami caraku menyambutnya, sambil mengunci pintu kamar.... "Kog gak selesai...." Katanya sambil mengambil tali yang tergantung dari lengan dan dada. "Tengkurap..." Perintahnya "Eemmmpphhhh....!' Jawabku Dengan cepat tali2 melilit di pergelangan tanganku setelah aku terikat, mas
Dandy membopongku di pundaknya lalu membuka pintu Aku khawatir "apa mbak Minah lihat jangan jangan..." Seolah tahu yang aku khawatirkan, mas Dandy memberitahuku mbak Minah sudah pamit pulang tadi Mas Dandy berjalan sambil membopongku ke dapur (memastikan mbak Minah sudah pulang) Lalu melangkahkan kaki lagi ke kamar kerjanya lalu diletakkannya aku di kursi kerjanya yang berroda diambilnya tali dari kamarnya, kemudian tubuhku diikat ke kursi dimana aku diletakkan....tubuh dan kakiku. Mas Dandy keluar dari kamar kerjanya,rupanya mau ambil kopinya yang belum habis. Lalu dia assyik baca koran sambil menonton TV One di ruangannya sambil sesekali melirik padaku yang terikat Begitulah yang dilakukan sampai magrib tiba. Sekitar jam 7 malam kursi dimana aku terikat ditariknya keluar, mas Dandy menyalakan lampu ruang keluarga yang belum menyala dan membawa aku yang duduk terikat ke meja makan, mas Dandy mengambil piring makanan dan memasukkannya ke microwave... Setelah panas, makanan dikeluarkan dan lakban yang menempel di mulutkupun dilepas... Lalu aku disuapinya makanan yang sudah dipanasinya, kita makan bersama; seusai makan, mas Dandy mencuci piring yang kita pakai sambil disaksikan aku yang duduk terikat di kursi, lalu kursi dimana aku duduk terikat ditariknya ke ruang TV mas Dandy menonton TV kemudian aku berkata, "Mas, bagaimana perjalananmu?" tanyaku "Baik, tadi di pesawat ada Menpora numpang ke Jakarta..." ceritanya kami berbincang2 selama 2 jam dan terputus karena mas Dandy terus menguap agaknya kecapaian TVpun di matikan, aku dan kursi dimana aku terikat ditariknya ke kamar kami. Tak kusadari dia menutup mulutku kembali dengan lakban....eemmmmpphhhh! Lalu dia naik ke tempat tidur gak lama langsung lelap. Meninggalkan aku yang duduk terikat erat "eemmmpphhhh...eemmmpphhhh......." keluhku Kira kira jam 12 malam mas Dandy terbangun, sadar karena aku tidak ada disisinya Dia melepaskan tali ekstra yang melilit di tubuh dan kakiku, lalu menggendongku meletakkan aku di tempat tidur dalam keadaan tangan masih terikat. Kami berhubungan layaknya suami istri sepanjang malam baru benar2 pulas jam 3.30an kami berdua baru terbangun jam 7 pagi Serta merta mas Dandy melepaskan semua tali yang mengikatku terutama tanganku karena kakiku sudah dibukanya lebih dahulu. somebody help me

Sabtu, 18 Februari 2012

Pesta Valentine yang tak terlupakan

Undangan Terbuka
PESTA VALENTINE YANG TAK TERLUPAKAN
Jika anda masih jomblo,
mungkin sang Pangeran
impian menantimu di sana.
Datang yuk !
FREE ENTRY FREE DRINK
untuk
mojang dan bujang
yang masih jomblo

Aku, Virna, Lina, dan Angelia serentak menerima undangan event tersebut di facebook page kami masing-masing. Kamipun menggunjingkannya di kampus dan sepakat datang bersama-sama. Kami berempat berlomba-lomba mendandani diri secantik dan seseksi mungkin. Aku memakai gaun ala cinderella putih dengan tali pita pinggang berwara pink, memakai mahkota imitasi kecil di kepalaku. Kakiku berbalut stocking putih dan kupadukan dengan sepatu jenis pantofel yang ada sabuk yang melintas di punggung kakiku seolah menghubungkan dengan kedua mata kakiku di kiri dan kanan kakiku. (seperti photo ini) Aku sudah berdandan penuh, bermake up tipis bermodalkan foundation dan sedikit bedak dan berlipstik merah merona namun elegan yang kurasa, karena aku tidak suka make up tebal-tebal serasa memakai topeng jadinya. 3 hari yang lalu beghel di gigiku di cabut. Aku merasa sempurna menjadi perempuan muda yang cantik dan sempurna. Oh iya, namaku Silvana, atau panggil saja Anna usiaku 21 tahun. Aku baru memasuki semester ke dua di sebuah universitas swasta terkemuka di ibukota.
“Bim....Biimm....!!”suara klason mobil kudengar, rupanya taxi berwarna putih menjemputku yang di dalamnya sudah gaduh dengan suara ke tiga sahabatku itu.
“tok...tok...tok...!” pintuku di ketuk
“masuk...” jawabku
Angelia masuk, lalu
“Ce ileee.... cantik sekali nona Anna malam ini..”
“Persis seperti cinderella!” komentarnya. Bayangan Angelia kutatap dari pantulan cermin, memakai tank top dress warna hitam dipadukan dengan sepatu yang serupa denganku namun berwarna pink di padukan dengan stocking hitam.
“Waw,.... cantik banget lu Angel” kagumku melihat penampilannya dan rambut panjangnya diurai begitu cantik
“Ah Anna, kamu lebih cantik lho...Yuk kita berangkat!” ajaknya
Setelah menyemprotkan parfum ke pergelangan tanganku dan belakang telinga akupun beranjak meninggalkan meja riasku mengambil tas pesta warna putih yang serasi lalu melangkah meninggalkan kamarku. Aku pamit kepada mbok Darmi yang mengasuhku.
“Mbok,..... aku pergi dulu yach!”
“Iya tapi jangan terlalu larut yach” mbok Darmi mengingatkanku
“Baik mbok,...!” sahutku pergi. Ayahku seorang pengusaha lagi melakukan perjalanan bisnis ke Jepang, mengajak ibuku untuk 2 minggu. Aku anak tunggal di titipi oleh mbok Darmi yang mengasuhku sejak kecil dan ini bukan yang pertama aku ditinggal keluar negeri oleh kedua orang tuaku.

Di dalam taxi Lina dan Virna juga terlihat cantik mereka berdua memakai rok mini dengan blus yang agak tertutup namun cukup seksi kelihatannya. Taxipun meluncur, Aku Angelia dan Lina duduk di belakang, sementara Virna duduk di samping supir taxi. Waktu di dalam taxi menunjukkan pukul 18.36, dan taxipun meluncur. 50 menit kemudian kami berempat tiba di tempat pesta dengan agak ragu-ragu kami bertanya kepada penjaga pintu, bahwa kami terima undangan lewat facebook. Tak diduga penjaga itu dengan ramah mempersilahkan kami masuk dan berpartisipasi dalam pesta yang terlihat meriah itu. Tepat acara baru di mulai dengan roll call yaitu pemanggilan undangan pesta berdasarkan asal sekolah atau kampus kami. Setelah usai perkenalan, kami secara tidak sengaja terpisah. Aku masih bersama Angelia sementara Virna dan Lina terlihat di jarak yang cukup jauh, sedang mengenalkan diri dengan pria-pria seksi dari kampus lain yang mungkin juga masih jomblo seperti yang kami berdua lakukan.
Malam sudah semakin larut, ku lihat di arlojiku sudah menunjukkan pukul 22.15 malam namun aku berhasil berkenalan dengan Frans, pria oriental yang tidak terlalu ganteng tapi tapi atletis dan sangat simpatik dalam memperlakukan perempuan. Cukup gagah dan terpelajar. Rupanya dia kakak kelasku di kampus yang sama namun beda jurusan. Kamipun mulai merasa ketertarikan satu dengan yang lain, aku melihat ke arah Angelia yang sudah nempel dengan cowok tinggi gagah dan ganteng berwajah timur-tengah tak jauh dari tempatku berkenalan dengan Frans sementara Virna dan Lina mungkin sudah mendapatkan pasangannya di kejauhan.
Kamipun mengambil minum, dan Frans mengambilkan segelas Martini untukku kami bersulang lalu meminumnya. Kami tertawa-tawa mengingat kelakuan masing-masing yang datang ke pesta ini untuk mencari pasangan.
Tiba-tiba kepalaku pusing dan pandanganku berkunang-kunang dan aku tak sadarkan diri.
****
Ketika aku sadarkan diri, aku tidak mendapatkan diri berada di sebuah pesta, melainkan di sebuah kamar apartemen dugaanku dan aku terduduk. Aku berusaha bangkit berdiri mengetahui lebih lanjut di mana aku berada, ough! tidak bisa. Tanganku terikat tertekuk erat ke belakang. Ku lihat tali-tali berwarna merah meliliti tubuhku di atas dan tepat di bawah payudaraku. Kakiku yang berstocking putih dan sepatu pantofel hitam yang bersabuk melintas dipunggung kaki itu terikat juga dengan tali merah di pergelangan kakiku menyatu serta di bagian atas dan bawah lututku.
“eemmmpphhhhh... eemmmmppphhhhh....!!!” aku mencoba berteriak minta tolong namun suara itu yang kudengar.
Apa yang terjadi dengan diriku, aku diculik! Bagaimana dengan nasib teman-temanku Lina, Virna, dan Angelia. Kecemasan itu membelengguku sedemikian rupa. Namun malam itu tidak ada yang dapat kulakukan selain meronta-ronta berusaha melepaskan tali-tali merah yang membuatku tidak berdaya. Malam itu kulalui dengan ketidak berdayaanku dan aku tertidur dalam keadaan terikat di kursi.
Aku terjaga dari ketidak berdayaanku kira-kira pukul 10 pagi. Aku tidak mendapatkan diriku terikat ke kursi lagi melainkan dalam keadaan telungkup di suatu ranjang. Aku merasa kakiku tertekuk ke belakang dan tumit sepatuku dapat ku raba dengan tanganku yang terikat erat kebelakang. Aku menyesuaikan pemandanganku dan betapa terkejutnya aku melihat sekelilingku. Ku lihat sosok seperti Lina yang kukenal dari bajunya, dia terikat erat kaki dan tangannya. Mulutnya pun disumpal dan diikat dengan sapu tangan. Matanya tidak bisa kulihat karena kepalanya tertutup dengan sarung seperti sarung bantal. Di sudut lain aku lihat Virna yang kukenal dari tank top dress hitam dan sepatu putihnya, terikat tak berdaya di sebuah pilar di kamar itu. Tangannya terikat kebelakang, begitu juga dengan kakinya diikat menyatu ke pilar dan matanya tertutup dengan kain hitam, tak bisa melihat. Lalu Angelia kulihat terikat erat di sebuah kaki tempat tidur. Tak bisa kulihat wajahnya karena dipakaikan penutup kepala, mungkin juga mulutnya tersumpal tidak berbeda dengan keadaan aku dan teman-temanku yang lain, namun pakaian yang dipakainya membuat aku mengenali mereka.
“eemmmpphhhhh... eemmmmppphhhhh....!!!” aku mencoba berkomunikasi dengan mereka, tidak ada jawaban yang serupa karena mungkin mereka belum siuman. Dan upayaku untuk berkomunikasi dengan mereka tertutup setelah mataku ditutup diikat dengan kain merah. Aku yang dalam keadaan hogtie kini tidak dapat menggunakan mataku untuk melihat. Dalam keadaan tidak berdaya dan tak mampu melihat aku hanya bisa sesekali meronta-ronta mencoba melepaskan tali-tali merah yang membatasi dayaku. Aku tidak tahu apa yang terjadi untuk beberapa waktu lamanya karena hanya
“eemmmpphhhhh.....!!”
“eemmmpphhhhh.....!!” yang kudengar bersahut-sahutan di ruangan itu.
Suasana ketidak pastian berubah ketika kudengar seorang ibu dan seorang bapak masuk ke ruangan tempat kami di sekap. Mereka berbincang setengah berbisik tentang nasib kami yang kusimak adalah
“Semua ada 4 orang, masih muda, cantik dan sexy, Pak Haris” suara laki yang kemudian kukenal itu suaranya Frans
“Ini photo mereka berempat...” lanjutnya
“Wah... sejak kapan mereka memiliki photo kami berempat” batinku mencoba menguak misteri yang ku hadapi.
“Cantik juga mereka.....” suara laki-laki lain yang rupanya tadi di panggil Pak Haris
“Bawa aja sekarang, Pa!” suara perempuan menjawab
“Sabar Marina, mereka pasti akan kita bawa semua” ujar Haris
“Selanjutnya saya tunggu transferannya Pak Haris, Ibu Marina...” kembali suara Frans menjawab.
“Siapakah mereka ini, apakah mereka menjebak kami dalam pesta Valentine yang berkedok kriminal, mau di bawa kemana kami berempat ? akankah kami dibebaskan ??” berjuta tanya tanpa jawab memenuhi pikiranku dan mungkin juga memenuhi pikiran teman-temanku yang di culik jika mereka mendengarkan percakapan tadi.
Hening di ruangan tempat kami di sekap, aku tidak tahu apakah ketiga temanku masih bersamaku di ruangan ini. Lelah meronta-ronta dan tubuhku lemas dan akupun tertidur pasrah dalam kecemasan.
****
Lama rupanya aku tertidur, karena sudah jelang malam dan aku merasa tidak berada di tempat semula. Kini aku berada di sebuah lantai yang terdiri dari 4-5 sel seperti ruang tahanan kepolisian di mana di dalamnya ada beberapa perempuan duduk dalam keadaan terikat. Baru kusadari mata dan mulutku tidak di tutup, aku melihat perempuan berambut panjang di sebelahku yang terikat erat di kursi, dia adalah Angelia sahabatku, dengan pakaian tanktop dress hitam stoking hitam dan sepatu berwarna pink. Mulutnya tersumpal lakban 3 lapis dan kepala masih tertunduk, tanda belum sadarkan diri. Di sel sebelah, kulihat Lina dan Virma juga duduk terikat dengan mata dan mulut yang disumpal. Di sel lainnya kulihat 5 orang perempuan berpakaian pesta dalam keadaan yang tidak berbeda dengan Lina dan Virna. Namun di dalam sel seberang ada sel khusus yang ditempati seorang perempuan yang diikat berdiri dan terikat ke jeruji besi sel. Di mana ini, apa yang terjadi dengan kita ? Aku tahu kalau rupanya si Frans memperdagangkan kami ke pada Pak Haris. Hanya itu yang kuketahui. Dalam sel tempatku di sekap ada perempuan cantik dan putih, dalam keadaan terikat erat penuh dengan lilitan tali, juga duduk di kursi memakai pakaian lusuh seperti gadis desa mata dan mulutnya pun tidak ditutup. Aku mencoba menyapanya,
“Mbak,....Kenapa mbak ada di sini ?” tanyaku
“Kamu siapa dik,... aku Annisa detektif swasta” jelasnya
“Aku Silvana mbak, mahasiswi.” Jawabku sambil menyebutkan tempat kuliahku
“Bagaimana kamu ada disini ?” tanyanya
“Kami menerima undangan pesta Valentine, dan tahu tahu sudah ada disini, diculik”
“Kami sedang menyelidiki sindikat perdagangan perempuan oleh residivis bernama Haris, aku menyamar masuk ke dalam tapi kami tertangkap oleh mereka dan dijadikan budak nafsu” jelas Annisa singkat
“Kami.... siapa lagi selain mbak Annisa ?” tanyaku
“Itu di sel ujung, mbak Lalita mitra penyidikku yang juga disekap...” mata Annisa seolah menunjuk ke seberang sel kami. Ada perempuan yang tampil seksi dan cantik. Memakai blouse hitam dengan rok mini berwarna hitam terikat berdiri di teralis sel dan banyak tali tali meliliti tubuhnya berikut rantai kecil seperti untuk peliharaan juga meliliti tubuhnya. Rambutnya cukup panjang dengan mulut yang disumpal lakban, tidak mengurangi kecantikannya.
“Dia berhasil menyelinap masuk tetapi pas dia temukan aku di kamar tempat aku di sekap, dia berhasil dilumpuhkan!” cerita Annisa kembali. Aku merenung sambil menatap detektif Annisa yang mirip sekali wajahnya dengan penyanyi anggota Cherry Belle yang sangat ku kagumi.
“Mbak sudah lama di sini ?” tanyaku penasaran
“Hampir seminggu Silvana...” jawabnya sedih
“Mbak Annisa, mirip sekali sama Annisa yang di Cherry Belle” pujiku kagum
“Hmm dia memang adik kembaranku, nama kami cuma dibedakan dengan istilah bunga yang samai aja kog. Aku Annisa Rosmaria, dia Annisa Mawarsari” jelasnya tersenyum pahit,.
“eemmmpphhhh..........” rupanya Angelia siuman, menoleh kepadaku dan detektif Annisa
“eemmmpphhhh.........eemmmpphhhh..........” Angelia meronta-ronta sembari berteriak
“Sabar, sabar dik ! Tim kami akan segera membebaskan kita” jelas detektif Annisa kepada Angelia.
“Angel, dia detektif Annisa yang ikut tertawan di sini. Nanti tim penyelamatnya pasti akan membebaskan kita” ujarku menenangkan Angelia. Pintu ruangan di mana sel-sel ini disimpan terbuka. Masuklah Pak Haris dikawal 2 orang kekar mereka berhenti didepan sel di mana kami disekap. Kedua pengawalnya masuk kedalam sel, lalu membopong detektif Annisa yang meronta-ronta begitu hebat.
“Hey,... mau dibawa kemana dia !!” hardikku
“eemmmpphhhh.........eemmmpphhhh..........” mbak Lalita yang diikat di sel seberangpun meronta-ronta dan protes. Salah satu dari pengawalnya Pak Haris mendekatiku dan kemudian melepaskan tali yang mengikatku ke kursi kemudian mengangkatku
“Jahanam,...!! Lepaskan aku....!! Lepaskan !!!” aku berteriak memberontak sebelum sapu tangan dengan bau yang melemahkan syaraf ku rasakan dan aku tak sadarkan diri sementara sayup-sayup kudengar
“eemmmpphhhhh.....!!”
“eemmmpphhhhh.....!!” yang kudengar bersahut-sahutan dari Angelia dan mbak Lalita, lalu pelan pelan aku tidak ingat apa apa.
Ketika aku sadar, aku seperti berada di dalam sebuah salon dalam keadaan terikat tangan dan kaki, tak kulihat detektif Annisa di sana.
“Uffh...” kurasakan bedak di wajahku
“Ini apaan !?” tanyaku. Seorang pengawal yang mendampingi aku di rias di salon ini menjawab
“Ini perintah ibu Marina,... Kamu harus di make over biar lebih cantik untuk pelanggan VIP kami. Sudah kamu diam saja atau saya sumpal lagi mulutmu !!” jelasnya penuh ancaman.
Aku tidak mengerti, diculik dan diikat lalu didandani, dalam cerita action yang kugemari, begitu di culik kemudian diikat lalu menunggu dibebaskan. Memang kenyataan berbeda dengan cerita action. Aku yang di culik mendapatkan creambath walau mulut kembali di sumpal, rupanya hanya ketika di make up saja aku bisa berkomentar selebihnya adalah tawanan yang tidak berdaya mendapatkan perawatan kecantikan.
Namun aku berusaha menikmat creambath dan pijatan-pijatan yang kuterima dari ‘salon’ itu cukup meringankan pegal akibat diikat dan meringankan lelah walau dilakukan dalam keadaan terikat erat dan diawasi oleh pengawal.
Selesai dengan perawatan kecantikan, aku didudukkan di kursi roda, kemudian didorong keluar melewati lorong dan masuk kedalam sebuah ruangan dingin, menghadap ke sebuah jendela gelap dan aku di dudukkan di kursi bernomor 7. Ada 15 orang perempuan di sana termasukku; tak ada yang kukenal, mereka semua cantik dan berdandan manis duduk dalam keadaan tangan dan kaki terikat erat dan mulut yang di sumpal. Ternyata aku sedang di dalam ‘akuarium’ atau ‘showcase’ bersama 14 perempuan lain di sana. Dekat kakiku yang terikat ada tulisan SILVANA tertulis tebal dengan sebuah karton berbentuk segitiga.
“Ya Tuhan, lindungi aku. Jangan sampai terjadi padaku.....!” batinku berharap sambil menundukkan kepala namun sesekali mengangkat kepala akibat penasaran. Hari itu aku hanya duduk terikat erat tanpa mendapatkan penunjukkan dari laki-laki hidung belang. Malam rupanya sudah semakin larut, Dalam ‘akuarium’ tinggal aku dan enam gadis lainnya. Lampupun diredupkan dan aku tidak dikembalikan ke selku namun di simpan di sebuah kamaryang dekat, teman kamarku yang sudah berada di dalam adalah detektif Annisa. Perasaan ini lega namun tetap takut, aku senang bertemu dengan detektif cantik itu kendati kami tidak bisa berkomunikasi akibat mulut kami masing-masing yang di sumpal ini. Namun hati merasa sedikit tenang bersama detektif cantik yang sudah tidak mengenakan pakaian lusuhnya seperti tadi. Dia semakin anggun dengan dandanannya dan juga pakaian yang di kenakan. Pakaian bernuansa Tionghoa.
“eemmmpphhhhh.....!!” panggilku
“mmmmppphhhhh.....!!!” jawab detektif Annisa
Dan kamipun tertidur lelah.
Pagi datang, jika aku tidak salah, ini adalah hari kelima aku diculik setelah pesta Valentine dan kini berada di dalam tawanan sindikat perdagangan perempuan milik Haris. Kami sudah di suapi sarapan oleh perempuan yang disiapkan untuk melayani kami
“Dik Sil,... Dik Silvana...!!” panggil detektif Annisa
“Mbak, panggil saja Anna mbak,....” jawabku
“Kemarin kamu di apain dik?” tanyanya
“Kemarin aku cuma di creambath, lalu di make up ulang dan duduk di ruangan berjendela hitam sampai ngantuk” ceritaku
“Aku kemarin diperkosa lagi” Annisa menahan tangis “sudah lima kali sejak aku disini” kulihat mata detektif Annisa berkaca-kaca. Aku terdiam tak bisa berkata-kata sambil membayangkan itu juga akan terjadi padaku, cepat atau lambat tak terasa mataku berair.
“Mbak,... yang sabar ya, bukankah nanti teman-teman dari kantor akan membebaskan mbak. juga mbak Lalita ?” entah kata-kataku itu tepat atau tidak untuk menghiburnya.
“Harusnya mereka sudah tahu, karena kami tidak bisa berkomunikasi lagi....” sesal detektif Annisa
“Nanti mereka pasti datang dan membebaskan mbak, mbak Lalita dan kami berempat.” Yakinku pada detektif Annisa.
“Pasti,... harus !” detektif Annisa menguatkan diri.
Pintu terbuka, seorang pengawal masuk langsung mengangkat tubuhku ke punggungnya dan melangkah keluar
“Mau di bawa kemana dia !!?? Lepaskan dia...!!!!” teriak Annisa sementara aku hanya bisa meronta-ronta namun takut jatuh dari punggung pengawal itu.
Aku dimasukkan di kamar sebelah, tidak jauh dari kamar tempat detektif Annisa dan aku ditempatkan dari tadi malam. Aku dibaringkan dengan tangan terikat kebelakang di sebuah ranjang. Tali-tali yang mengikat kakiku dilepas namun dengan genggaman kuat, mereka membuka kakiku dan mengikatnya ke ujung bawah tempat tidur. Mulutku kembali di sumpal dan di lakban.
“eemmmpphhhhh.....!!”
Kemudian mereka beranjak meninggalkan aku di kamar itu, sunyi untuk beberapa waktu hingga seorang masuk
“Frans....?” aku ingin menyapa orang yang masuk kekamarku tapi suaraku tidak keluar
“Anna yang cantik, sekarang kamu milikku” katanya sambil membuka celana jinsnya.
“eemmmpphhhhh.....!!” aku menolak dan meronta begitu hebat mengetahui apa yang akan dilakukannya padaku, ketika mataku ditutupnya dengan kain hitam.
Aku merasakan pakaian cinderalaku di lucuti, kemudian kurasakan mulut yang berbau rokok itu mengulum-ngulum dan menjilati payudaraku
“eemmmpphhhhh.....!!” aku menolak dalam kenikmatan
Leherku di cumbunya sesekali di cupangnya, aku menolak namun tak berdaya dalam rangsangannya. Kemudian kurasakan celana dalamku di sobek paksa dan benda yang tak pernah kuundangpun masuk memecahkan selaput daraku .
““eemmmpphhhhh......eemmmpphhhhh.....!!”
Lalu kudengar nafasnya tersenggal senggal ketika penisnya berhasil memasuki Miss V ku yang sempit. Aku menangis sedih merasakan perkosaan ini. Rasa sakit dan ngilu menguasaiku ditengah terkaman Frans penuh nafsu memperkosaku. Rasa sakt yang hebat itu membuatku tak sadarkan diri.
****
Aku sadarkan diri, mendapati tubuhku kembali berada dalam sel, bersama mbak Annisa, namun aku tidak melihat Angelia juga Virna yang disekap di sel lain. Hanya Lina yang masih terlihat duduk dalam kondisi terikat dan mbak Lalita yang ditawan di sel tersendiri dalam kondisi yang mengenaskan.
Aku tak bisa bersuara, hanya tangis dan airmataku yang terus mengalir, membasahi pipiku. Mbak Annisa pun diam dan seolah tidak ingin menggangguku dalam kesedihan.
“Aku baru diperkosa sama yang menculikku mbak....” tangisku rupanya lakban yang menyumpal mulutku terlepas akibat basah terkena airmataku.
“Aku bisa memahami perasaanmu dik Anna” hiburnya.
Aku mulai paham, rupanya Angelia, juga Virna mungkin sedang mengalami nasib yang serupa.
Entah sampai kapan aku dan teman-teman disekap dan menjadi budak nafsu di sini. Aku harus bebas, kita semua yang ditawan harus bebas! Tidak adakah yang bisa membebaskan kami? Kapan teman-teman detektif Lalita dan Annisa datang membebaskan kami.

TAMAT