Mila Istri Pilot yang kesepian

Foto Saya
Kenalkan namaku Ika Tantri Mila Verania. Teman-teman memanggilku Mila. Banyak yang bertanya, bagaimana rasanya jadi slave? Manusia mana sih yang benar-benar suka atau terlahir untuk diikat? Untuk hal tersebut di atas sebenarnya aku 'menderita', namun sesuatu yang menghiburku adalah ketika aku dalam keadaan seperti itu, memang sakit pegal dan tidak bisa bergerak yang secara fisik kurasakan Namun ada kenikmatan terselubung, dalam ketika berdayaanku yang tangan kaki terikat dan mulut tersumpal, kurasa kenikmatan adalah aku merasa bagai ratu. Karena sang pengikatlah yang harus repot melayani aku. Ketika aku hendak buang air kecil, dibopongnya aku dan diceboknya. Ketika ingin makan aku di suapnya (tidak temasuk kalau dia mesti memasakkan aku sesuatu), dan karena 'derita' ini dilakukan karena ada cinta setidaknya dilakukan dengan suka. Tentunya berbeda jika yang dialami itu penculikan....

Kamis, 13 Februari 2014

Model

Kisah ini terjadi pada diriku tiga bulan sebelum αkΰ mendapatkan panggilan casting dari sebuah rumah produksi terkenal dalam upaya shooting FTV. (cerita berjudul Casting)
"Melany, besok harap datang di Villa Bunga di Batu Malang untuk sesi pemotretan khusus" demikian bunyi BBM yang kuterima dari teman chatku Bayu.
Namaku Melany mendapatkan panggilan untuk photo model dari sebuah majalah Pria. Profil ku menarik perhatian photografer Bayu Trinadi yang terkenal itu. Konon mereka mendapatkan photo wajahku melalui suatu acara yang pernah αkΰ datangi. Katanya wajahku serupa dengan artis Risty Tagor pemain sinetron cantik itu yang kini berhijab itu. Αkΰ diminta datang agak sore untuk percakapan awal dan esok paginya mengikuti sesi pemotretan dan disediakan kamar penginapan selama sesi pemotretan berlangsung. Tanpa rasa curiga, αkΰ menyanggupi dan mengatur proses kedatanganku ke lokasi di sebuah villa di kawasan Batu Malang. Dengan mengenakan blouse shanghai berwara pink tanpa lengan dengan rok yang berwarna putih dan sepatu Mary Jane sewarna dengan blouseku, αkΰ menyewa taxi jam jaman dan cukup untuk menjangkau lokasi pemotretan di villa tersebut. Setelah sempat mampir di rest area untuk makan. Sampailah αkΰ di villa yang dimaksud. Αkΰ dipersilahkan beristirahat dulu di sebuah kamar yang disiapkan untuk itu. Belum melepas sepatu, berbaring-baringlah αkΰ di kamar bersandar di bantal, hingga saking lelahnya tanpa terasa αkΰ tertidur.
 ****
Αkΰ terbangun dari lelapku, kudapati αkΰ sedang tidak di tempatku tertidur. Tubuh ini kudapati dalam keadaan terduduk tidak dapat kugerakkan, tali tali terlilit di tubuh ini. Kucari tanganku, kurasakan tangan ini terikat erat kebelakang. Kakikupun tak dapat kugerakkan, rupanya terikat menyatu dengan sepatu yang masih terpakai. Ugh,...!! Mengapa keadaanku seperti ini terduduk dan terikat erat?
"......eemmmmppphhhh!" suaraku minta tolong yang terkendala akibat mulut ini disumpal lakban, dan rasanya dalam rongga mulut ini ada kain yang membatasi upaya lidahku. Sementara αkΰ sibuk meronta-ronta atas keberadaanku... "Sesi pemotretan akan segera dimulai, kamu sudah siap Mel....." suara Bayu terdengar menyapaku.
"......eemmmmppphhhh!" keluhku
Αkΰ sungguh tidak mengira kalau αkΰ akan mengikuti sesi pemotretan berlangsung dengan kondisi (gaya =red) seperti ini. Waktu menunjukkan 19.20 malam
"Lama juga αkΰ tertidur" benakku Kamera membidik, tubuh ini seperti bermandikan sinar blitz dan beberapa photopun, yang sebenarnya tak seizinku, terambil dari berbagai sudut dan αkΰ duduk terikat, sesekali kursi diambil dan αkΰ terduduk di lantai, lalu telungkup dengan ikatan ditanganku disambungkan dengan tali yang meliliti dan mengikat kakiku. Kembali kamera membidik, tubuh ini seperti bermandikan sinar blitz dan beberapa photo terambil.
"......eemmmmppphhhh!" akΰ bukan model seperti ini keluhku.
"Ok sesi pertama malam ini selesai, kita lanjut besok pagi.." ujar Bayu mengakhiri sesi ini.
"Ugh! Tenang hati ini, sebentar lagi tali-tali yang meliliti tubuh ini mengikat tangan kakiku akan bebas...." pikirku kemudian kursi menejer yang digunakan untuk sesi pemotretan dimana αkΰ terduduk terikat, didorong, dan masuk ke kamar dimana αkΰ beristirahat tadi. Kursi dihadapkan ke jendela villa yang terbuka tirainya sesampainya di kamar, lalu orang yang mendorong kursi keluar dan menutup pintu meninggalkan αkΰ sendiri duduk terikat.
"......eemmmmppphhhh!...eemmmmppphhhh!!" αkΰ meronta seolah memanggil-manggil, minta dilepaskan tali-tali yang mengikat tubuhku. Lama αkΰ memanggil-manggil tak ada yang kunjung datang. Kemudian, masuklah Bayu kekamar dimana αkΰ berada, duduk terikat di kursi menghadap jendela.
"Apa apa, memanggil?"tanya Bayu
"......eemmmmppphhhh!" jawabku
 "Nggak ngerti.....!"sahut Bayu lagi
"...eemmmmppphhhh...eemmmmppphhhh!!!" αkΰ meronta-ronta Bayu mendekat sepertinya ingin melepaskan ikatan di tubuhku, ternyata payudaraku diraba-rabanya dan kemudian diremasnya, lalu tangannya mengelus elus pipiku, kemudian pahaku dan tubuhku yang terikat tak berdaya ini digerayanginya. "......eemmmmppphhhh!!!" kembali αkΰ meronta-ronta geli yang kurasa. Setengah jam lamanya Bayu membuatku geli, lalu diangkatnya tubuhku dan diletakkannya di tempat tidur, membaringkan αkΰ lalu meninggalkan αkΰ dikamar tempat αkΰ tersekap. Lelah αkΰ meronta-ronta dan tertidurlah αkΰ dalam ketidak berdayaan.
 ******
Teriknya sinar matahari membuatku terbangun di pagi itu dan menyadari tubuh masih terikat erat seperti kondisi kemarin.
"Ternyata αkΰ masih terikat erat begini, pagi ini" benakku
Tidak ada yang bisa kulakukan tentu dalam keadaan seperti ini di pagi hari, pikiranku menerawang. Masuklah salah satu kru Bayu, Rina ke kamar ini, lalu melepaskan lakban yang merekat erat di mulut/bibirku,
"Bolehkah αkΰ dilepaskan mbak Rina? Sakit nich...." αkΰ memohon padanya
"Mas Bayu bilang tidak boleh dilepas hingga seluruh sesi pemotretan selesai" ucapan Rina mengejutkanku Kemudian Rina menyuapi αkΰ dengan sepiring sarapan yang disiapkannya, αkΰ menyantapnya karena perut ini terasa lapar, sejak tadi malam belum makan.
"Bagaimana kalau αkΰ mau ke kamar mandi, mbak Rina?" tanyaku
"Biar saya bantu, Mbak Melany" jawabnya
Seusai makan, αkΰ dituntun duduk kembali di kursi menejer kemudian αkΰ didorong menuju kamar mandi. Dituntunnya tubuh terikatku dan didudukkan di ranjang, ketika celana dalamku sudah dilepasnya. Seusainya αkΰ buang air kecil dan air besar, di semprotnya vagina dan anusku dengan air sprinkler yang cukup membasuhku. Lalu αkΰ berdiri dan melompat kecil ke kursi menejer dan didudukan oleh Rina. Di kamar, αkΰ yang masih terikat erat dirias di dandan dengan foundation, bedak, eye shadow, blush on, maskara dan lipstick. Mulut yang tadinya terlakban diganti dan dipakaikan sumpalan, belakangan kuketahui namanya ballgag. Selesai dan rapih setelah disemprotin parfum kursi yang kududuki di dorong keluar ke taman dalam villa itu yang sudah tersetting seperti studio. Tubuhku diangkat ke sebuah pohon dan ada tali tali lagi yang meliliti tubuhku ke pohon itu di kaki dan di tubuhku bagian atas,
Cklik......cklik...... beberapa pose pun diambil, αkΰ terikat di pohon itu. Kemudian Bayu sang photographer, datang mendekat, pelan tapi pasti kancing blouse shanghaiku di lepasnya satu persatu, αkΰ bereaksi dan meronta-ronta, menunjukkan tanda tidak setuju dilepasnya semua busana yang kupakai "......eemmmmppphhhh!" seruku
Dalam sekejab tubuhku hanya dibaluti bra panties dan sepatu Mary Jane yang masih setia menempel di tubuh ini
Cklik......Cklik...... kembali tubuh tak berdaya dan tak berbusana ini diabadikan dengan lensa. Bayu datang kembali lalu mencabut tali bra yang melewati pundakku, sehingga payudaraku terlihat membusung menantang.
"......eemmmmppphhhh!"
"......eemmmmppphhhh!" reaksiku
"tenang Mel, bayaranmu αkΰ naikkan tiga kali lipat deh........" ujar Bayu kemudian kembali menatapku melalui lensa kameranya Cklik.....! Sesi berikutnya membuatku terkejut, tiba-tiba ada selang air hangat yang menyemprot tubuhku, dari kepala dan juga membasahi kakiku, Cklik......Cklik......sementara tubuh terikatku basah kuyup di siram air laksana menyiram pohon, αkΰ merasakan kedinginan akibat terguyur air yang disemprotkan ke tubuhku.
"......eemmmmppphhhh!" αkΰ bereaksi sekenanya.
Cklik......Cklik......rambutku sudah basah kuyup, namun make upku konon tidak luntur karenanya, Bayu terlihat puas dengan hasil bidikannya. Sesi pemotretan pagi itu dinyatakan selesai, lega αkΰ rasanya, karena paling tidak sekarang αkΰ pasti dilepaskan, akibat kondisi tubuhku yang tak berbusana dan terikat erat. Rinapun serta merta mendekat mengeringkan tubuhku dengan handuk dan memakaikan kimono mandi/bathrobe di tubuhku yang terikat. Sambil melompat-lompat kecil karena kaki ini terikat dengan memakai Mary Jane highheel, αkΰpun di dudukkan di kursi menejer kembali. Kemudian kurasakan kursi itu didorong, sampai masuk ke kamar.
"Mbak Rina lepasin dong? sudah mulai pegal nich...." lagi lagi αkΰ memohon padanya sesaat setelah ballgag yang menyumpal mulutku dilepas untuk makan siang.
"kata Mas Bayu belum boleh dilepas mbak.." ucapan Rina
Hati serasa pasrah dengan keadaan seperti ini, memang bukan kehendakku menjadi bondage photo model bahkan keadaan seperti ini tidak pernah kuduga sebelumnya. Teringat beberapa bulan lalu dalam chatting di sosial media, dia tawarkan αkΰ sekali-sekali bersedia jadi model khusus untuk photo majalah Pria, baginya, lama sekali αkΰ tidak menjawab baru akhirnya pertemuan di sini di Batu Malang terlaksana.
"Kog αkΰ diphoto dalam keadaan begini ya mbak?" tanyaku sambil disuapi makanan.
"Lho bukankan mbak sudah tahu?" jawaban Rina mengejutkanku.
"Mas Bayu pernah bilang kalau dia akhirnya mendapatkan model untuk project ini, lalu kami mencari lokasi" lanjut Rina
"Owh.....!" jawabku merasa terperangkap
"Sudah selesai, αkΰ mesti menyiapkanmu untuk sesi pemotretan berikut, " lalu Rina mengambil satu stel blouse dan rok panjang serta sebuah pasmina. Rina dibantu 2 orang perempuan kemudian melepas tali yang mengikat tubuhku bagian atas, selesai dan kedua rekan Rina memakaikan blouse tadi padaku. Rupanya kedua pergelangan tanganku masih terliliti dengan tali tapi tangan ini tidak menyatu dan setiap ujung tali dipegangi sambil dipakaikan blouse. Blouse terpakai dan Rina mengancing blouse itu didepanku, sebuah blouse tanpa kerah dengan kancing bungkus dari atas kebawah, serupa dengan pakaian pramugari Thai Airways yang pernah kulihat di internet. Usai memakai blouse itu kedua rekan Rina menyatukan kembali kedua ujung tali dari kedua tanganku, dari kiri dan kanan. Tanganku disilangnya berbentuk x kemudian tali-tali itu kembali membelenggu kedua tangan ini. Kemudian dengan mudahnya rok panjang itu dipakaikan karena kakiku masih terikat erat. Jadilah αkΰ laksana pramugari Thai Airways berpakaian dan berselempang, dengan posisi tangan terikat kebelakang dan kaki yang terikat menyatu dengan mulut yang tersumpal ballgag siap dijadikan model photography oleh Bayu sang kamerawan. Tak terasa dilangit-langit kamar ini tergantung sejenis roda yang biasa dipakai untuk menimba air sumur yang dalam. Αkΰ belum paham fungsinya. Tak lama Bayu mendatangi αkΰ dan memberi instruksi kepada Rina dan 2 rekanannya untuk mempersiapkan sesi berikutnya. Roda yang menempel di langit-langit kamar di kaitkan dengan sebuah tambang dengan 3 ujung tambang. Ujung pertama tambang itu terkait dengan tali yang mengikat payudaraku, meliliti di atas dan bawah payudara. Ujung yang kedua terkaitkan dengan tali yang melilit dan mengikat kedua lututku. Ujung keyiga berada di tangan Bayu. Perlahan-lahan tubuhku terangkat ke atas dan semakin mendekat dengan langit-langit kamar, berarti pandanganku semakin jauh dengan lantai yang seyogyanya kakiku berpijak.
"......eemmmmppphhhh!" posisi apa lagi yang menjadi materi di majalah itu, pikirku melihat tubuh ini perlahan tergantung di atas. Αkΰ meronta-ronta takut dan terayun-ayun karenanya.
"Jangan bergerak Mel...." Bayu tengah berrsiap dan mengarahkan lensanya membidik tubuhku.
Cklik... Cklik..Cklik... Cklik..... Bunyi itu kembali mendominasi suasana sesi pemotretan.
"Pramugari Thai Airways, terbang...." gumam Bayu seraya membidik tubuhku berkali-kali. Semalaman αkΰ tergantung dia langit langit kamar yang disiapkan untukku. Malam berganti pagi dan selanjutnya berulang dan hari berganti hari, tak ada lagi sesi entah apa yang terjadi dengan mereka tim photographer, apakah mereka melupakan keberadaanku? apakah aku ditinggal sendiri di villa ini dalam keadaan ini? Entah apalagi yang akan kualami di hari-hari berikutnya.

Jumat, 17 Januari 2014

Hari Ulang Tahunku

Aku bersyukur di hari ulang tahunku, setelah mengucap syukur di rumah dengan suami aku berangkat ke kantor dan bekerja seperti biasa. Jam 16 aku dipanggil keluar oleh bossku lalu...... dalam seketika tubuhku sudah terikat tak berdaya di sebuah tiang listrik di parkiran, mataku tertutup, tangan terikat erat di balik tiang, kakiku terikat jadi satu ke tiang, ada tali lagi yang meliliti tubuhku ke tiang. Aku berteriak gaduh memberontak sampai mulutku juga akhirnya di bungkam. eemmmpphhhh.........!! Apa yang terjadi kemudian? Ternyata terjadi lomba melempar telor ke tubuhku bossku menghadiahkan, dengan sasaran wajah dapat Rp 100.000,- sasaran dada/tubuh dapat Rp 50.000,- dan sasaran kepala mengenai rambut dapat Rp 75.000,- yang disponsori oleh bossku seorang Chief Representative Perusahaanku. Dengan penuh semangat karyawan kantor yang hanya 15 orang menimpukku, Owh! Ternyata terdengar suara Vita assisten sekretaris melempar tepat sasaran aduh! mengenai wajahku! Selain tubuhku, kepalaku juga penuh dilumuri telor. Jam usai kantor tiba, lemparan itu terhenti. Rupanya mereka sudah bubar namun tubuh ini masih terikat erat tak berdaya di tiang, tidak ada yang melepaskan. Aku sibuk meronta-ronta tapi sia-sia. Hari semakin terasa gelap. Aku takut dan cemas dalam keadaan terikat! Jam 8 ? Saat bossku akan pulang dilepaskannya kaki dan tanganku, sambil diucapkannya "Selamat Ulang Tahun Mila!" Aku pun pulang dalam keadaan bau telor dan bergegas mandi. Sebuah hari yang sangat melelahkan namun mengesankan.

Casting

Pagi itu Melanie bangun dengan gugup dan sedikit semangat. hari ini ia akan dipanggil casting oleh sebuah rumah produksi ternama di Indonesia. Mau diajak shooting di Filipina, dia sangat bersemangat karena memang sedari dulu ia bercita cita menjadi seorang artis terkenal, sungguh tak disangka rumah produksi ini mau memanggilnya meski hanya untuk casting, siapa tahu ini bisa menjadi batu loncatan bisa shooting di Manila. Mandi pagi telah membuat tubuh gadis itu segar, ia segera berdandan seperlunya dan secantik mungkin. Melanie bertekad akan membuat para pengcastingnya terkagum kagum , apalagi katanya ada produser yang mau datang. Melanie bercermin dan membanggakan tubuhnya yang memang ideal, kaki panjang dan buah dada 34C , cukup untuk membuat para pria tak berkedip menatapnya. pakaian pun ia memilih yang anggun dan sexy dengan rok mininya , ditambah assesoris gelang dan kalung, yang membuat kecantikan gadis muda ini terpancar sempurna. yakin telah berdandan cantik , memakai sepatu ankle straps ia pun pergi ke tempat casting dengan hati riang membawa paspor seperti yang disyaratkan. Tempat castingnya ternyata adalah sebuah rumah besar dimana sebagian ruangannya telah dirombak menjadi sebuah studio untuk keperluan shooting. Melanie sangat mengenal rumah ini, tempat ini selalu dipakai sebagai setting sinetron sinetron yang banyak tayang di televisi. Jantung Melanie semakin berdebar debar melihat banyak orang orang penting disana, ada aktor muda terkenal Hengky , sutradara Jati , bahkan ia sempat melihat Punjab dan Ramesh, boss rumah produksi ini. Melanie segera mendekati Jati dan memperkenalkan diri sebagai calon artis yg akan diaudisi. Jati memandangi Melanie dari atas kebawah, dan ia pun tersenyum senang, gadis cantik yang sempurna. Wajahnya mengingatkan akan art “baik..Mel….ini ada script..coba kamu baca…..dan kamu mainkan…” kata Jati sambil memberi sebuah draft naskah. “bbaik..pak..eh..mas..eh…” Melanie sedikit gugup karena saking semangatnya. “santai aja….jangan takut…..” kata Jati menenangkan. Melanie membaca naskah itu dan ia terkesiap dan terkejut, ini cerita tentang pemerkosaan. Jati bisa melihat keterkejutan itu , bahkan ia sudah menduga maka ia segera berkata, “Kamu masuk dalam frame yang ceritanya kamu baru saja diculik dan diperkosa, jadi nanti kamu diikat di ranjang sebelah sana. nah adegan di mulai saat nanti Hengky masuk untuk membebaskan kamu, nah…kamu sesuai dialog menangis dan memohon untuk diselamatkan, dan bicara kalo kamu baru diperkosa, paham…?” Melanie sebenarnya ragu dengan adegan seperti ini, ia memang sudah mempersiapkan diri namun ia tak menyangka jika test castingnya langsung adegan yang berat seperti ini, gadis ini termenung sejenak. “bagaimana, Mel..siap…?” tanya Jati sang sutradara tak sabar. cukup lama Melanie berpikir sampai ia akhirnya mengangguk setuju. Melanie kemudian berbaring di tempat tidur yang disediakan , sementara kru yang lain segera mengikat erat tangan dan kaki Melanie ke ujung tempat tidur membentuk huruf X. wajahnya terlihat cemas dan ketakutan saat kemudian mulutnya disumpal. “jangan takut dan gugup….cuma sebentar kok….saya yakin begitu kamera rolling kamu akan enjoy….jadi coba relax ..ok..? ” Jati berusaha menenangkan. "eemmmpphhhh" Melanie mengangguk, ia mulai sedikit tenang. Adegan dimulai, Hengky memasuki set, mendekati Melanie dan membuka sumpal mulut gadis itu , “Ya Tuhan..apa yang terjadi sama kamu….siapa yang melakukan ini……?” Melanie mulai berakting menangis dan menceritakan bahwa ia baru saja diperkosa. “cuuttttt!!!!……jelek….sangat jelek..ulangi lagi, soulnya gak masuk kurang penghayatan!!!” Teriak Jati tak puas dengan adegan itu. mulut Melanie pun kembali disumpal dan adegan diulang. “cuutt…..!!!! ya ampun Mel…kamu bisa akting ga sih…ulang!!!” Jati masih tak puas, sementara Melanie mulai tak nyaman dengan semua ini , jika sekali lagi gagal , ia berpikir untuk pulang. adegan kembali diulang , Melanie menunggu Hengky untuk masuk, namun ia kali ini sangat terkejut. Yang masuk ke set kali ini ternyata tak hanya Hengky , tapi beberapa orang berwajah seram yang biasanya bermain sebagai penjahat atau preman di sinetron. Melanie menatap sutradara dengan ketakutan, namun sutradara hanya terdiam dan sibuk dengan monitornya. Melanie sadar dalam adegan ini ia kan betul betul diperkosa, maka ia pun berontak dan meronta ronta , namun ikatan tangan dan kakinya terlalu erat, merasa kalah air mata mulai meleleh membasahi pipi. "eemmmpphhhh..." salah seorang pria naik ke ranjang , mengelus elus paha mulus Melanie, kemudian terus naik ke atas dan dengan gemas meremas vagina , celana dalam Melanie pun ia turunkan sampai bawah , sehingga jarinya leluasa menyusuri vagina gadis itu. lelaki yang lain membuka pakaian atas Melanie, menarik lepas branya , sehingga buah dada ranum gadis itu terbuka bebas. Melanie menangis tertahan saat buah dadanya diremas remas oleh beberapa orang, sementara yang lain membuka sisa pakaian yang menempel di tubuh Melanie, sehingga gadis ini telanjang bulat. Untuk beberapa lama tubuh indah Melanie menjadi hiburan yg mengasyikkan, buah dadanya di remas dan dijilati begitu juga vaginanya, tak ada bagian tubuh Melanie yang tak dijamah, air mata gadis ini makin mengalir deras, ia tak menyangka untuk menjadi artis harus berkorban sejauh ini. Kegiatan mereka di tubuh Melanie berhenti sejenak , para lelaki itu kemudian membuka pakaian masing masing, membuat mata Melanie terbeliak ketakutan melihat penis penis para preman itu yang akan segera menembus tubuhnya, rontaannya makin kuat, namun sia sia. Seorang pria naik ke tengah tengah kaki Melanie, dan sambil tertawa mengosok gosokan penisnya ke bibir vagina sambil menikmati ekspresi ketakutan gadis itu. Melanie belum pernah mengalami hal ini , ia masih perawan, bahkan dengan pacarnya sendiri pun ia baru sebatas bercumbu. "eemmmpphhhh....eemmmpphhhh!!!" Melanie menjerit tertahan dibalik sumpal mulutnya ketika akhirnya penis itu memasuki vaginanya dan merobek keperawanannya , ia menggeleng geleng kepalanya dengan frustasi saat penis itu bergerak maju mundur di vaginanya, rasa sakit , malu , marah dan menyesal bercampur di dadanya. Semua teriakan, tangisan dan rontaannya malah makin membuat pria itu semakin brutal mendorong masuk penisnya, sehingga tubuh gadis itu terguncang guncang di ranjang. Pria yang lain membuka sumpal mulut Melanie, dan tanpa basa basi pria itu memasukan penisnya yg hitam dan bau ke mulut gadis itu. “kulum…awas berani gigit !!!” ancam orang itu. Penis yang panas, asin dan besar itu memenuhi mulut mungil Melanie, membuat gadis itu tersedak saat penis itu mencapai tenggorokannya , menghalangi jalan masuk udara , belum lagi rasa sakit karena pria itu sambil memaju mundurkan penisnya di mulut gadis itu, ia juga dengan kasar menjambak rambut gadis itu. Gadis itu hampir saja kehabisan nafas, beruntung sekali penis di mulutnya tak terlalu lama kemudian telah menyemburkan isinya, cairan putih dan hangat mengisi langsung mulut dan tenggorokannya membuat Melanie merasa jijik, namun akhirnya ia bisa bernafas lega saat penis itu dicabut dari mulutnya. Baru beberapa detik Melanie menghirup nafas lega, seorang gendut kini ganti memaksakan masuk penisnya ke mulutnya. “engggakk…gak….mau…ga mau…….” Melanie berontak dan berusaha menutup rapat mulutnya , saat penis si gendut berusaha keras memasuki mulutnya seolah membantu kawannya, penis di vagina di dorong semakin keras sehingga gadis ini berteriak dan memberi jalan penis si gendut untuk masuk. Tak berapa lama Melanie bisa merasakan cairan hangat mengalir memenuhi vaginanya, tubuhnya semakin melemas , ia merasa masa depannya sudah tak bisa diharapkan lagi. Penis berikutnya yang memasuki vagina Melanie tak sebesar yang sebelumnya, namun lelaki satu ini lebih brutal. sambil menggenjot tubuh Melanie, ia dengan kasar meremas dan mencubiti buah dada gadis itu, smentara untuk berteriak ia tak bisa karena mulutnya tersumpal penis si gendut. Untuk beberapa kali mulut dan vagina Melanie dimasuki dan disiram dengan sperma secara bergantian, membuat seluruh tubuh gadis itu terasa lemas dan sakit, vaginanya terasa panas , karena terus menerus dihantam. Saat semuanya kemudian berhenti dan menjauh, Melanie pikir semua sudah berakhir, ternyata dugaanya salah. Kali ini muncul seseorang dengan penis paling besar diantara yg lain,ketakutan makin berlipat lipat di diri gadis itu, dalam keadaan normal saja ia tak akan sanggup menghadapi penis sebesar itu , apalagi saat ini , ketika vaginanya telah ditembus beberapa kali dengan brutal. “jjjaa..ngan….ampuuun….lepasin…lee…pasinn ..saya…..ga mau….” Melanie memohon dan menangis. Permohonan gadis itu hanya ditanggapi dengan tertawa oleh semua yang ada disana. Ketika kemudian ikatan Melanie dilepas , ia sempat lega karena berpikir akan dibiarkan pergi , namun ternyata tangannya diikatkan kebelakang dengan erat dan ia akan diperkosa lebih brutal lagi, saat kemudian penis memasuki vaginanya , ia tiba tiba merasakan ada penis yang memaksa masuk dari belakang. “oohhhh..!!!! tidak…..jangaaaan….!!!!!” Melanie berteriak histeris dan berusaha meronta , namun ia dipegang erat oleh pemerkosanya. “AAAAAAAAAAAHHHHHHH……….” Melanie hanya mampu berteriak saat penis lain berhasil menerobos pantatnya. dua penis itu menggenjot vagina dan pantat Melanie bersamaan , dan selama itu pula kegiatan mereka diiringi oléh tangisan dan jeritan kesakitan dari gadis malang ini. Jeritan dan tangisan gadis itu tetap terdengar sampai beberapa jam kemudian , Jati sang sutradara telah berganti beberapa kali roll film , merekam tiap expresi kesakitan dan keputus asaan calon bintang ini. Setelah kejadian itu, Melanie
juga harus menjadi budak seks para petinggi rumah produksi dalam keadaan tangan terikat sebelum akhirnya ia akan diproyeksikan menjadi the next star, sayang sekali ternyata gadis itu merasa tak terima ia diperlakukan seperti itu dan bermaksud akan melaporkan semua kejadian ini. Pihak rumah produksi ternyata lebih cepat bereaksi untuk menjaga nama baik mereka, dengan sangat rapi dan tidak mencurigakan , sebelum Melanie buka mulut, gadis itu diikat tangannya kebelakang dan langsung dibawa dengan jet pribadi ke Philipina dan ditawarkan kepada rekanan rumah produksi itu yang biasa memproduksi film porno. Begitulah akhir dari kisah Melanie yang malang, bukannya menjadi bintang tenar, ia malah menjadi pemain film porno di Philipina, Hari-hari tanpa shooting dilaluinya dengan tangan terborgol kebelakang dan tidur di sebuah sel seperti peliharaan dan yang lebih menyiksa dirinya adalah , ternyata kecantikan dan eksotisme wajahnya membuat produser merasa cocok memberi peran yang sama pada gadis ini…peran dan adegan pemerkosaan dan selalu diikat.

Penyambutan

Aku ganti baju shanghai kantorku dengan baju yang dibeli mas Dandy, blus shanghai tanpa lengan, kembali memakai rok miniku (tanpa celana dalam) dan memakai sepatu kaya di profileku yang berwarna kuning seirama bajuku... Lalu aku mengikat kedua kakiku di pergelangan kaki dan diatas lutut... Agak lama, aku menunggunya dengan kaki terikat ditambah mulut ku tempelin lakban sambil membaca majalah....Ketika pintu depan terbuka, aku dengar mbak Minah menjawab, ibu sedang istirahat di kamar. Mas Dandy gak langsung masuk kamar tapi malah ngopi dulu. Aku menunggu saja dengan kaki terikat dan mulut tersumpal tetap baca majalah....di bagian atas payudara dan bagian bawahnya sudah dililit tali, tinggal pergelangan tangan yang belum....Gak lama mas Dandy masuk kamar dan dia terkejut ketika majalah aku lepas dan tersenyum girang memahami caraku menyambutnya, sambil mengunci pintu kamar.... "Kog gak selesai...." Katanya sambil mengambil tali yang tergantung dari lengan dan dada. "Tengkurap..." Perintahnya "Eemmmpphhhh....!' Jawabku Dengan cepat tali2 melilit di pergelangan tanganku setelah aku terikat, mas Dandy membopongku di pundaknya lalu membuka pintu Aku khawatir "apa mbak Minah lihat jangan jangan..." Seolah tahu yang aku khawatirkan, mas Dandy memberitahuku mbak Minah sudah pamit pulang tadi Mas Dandy berjalan sambil membopongku ke dapur (memastikan mbak Minah sudah pulang) Lalu melangkahkan kaki lagi ke kamar kerjanya lalu diletakkannya aku di kursi kerjanya yang berroda diambilnya tali dari kamarnya, kemudian tubuhku diikat ke kursi dimana aku diletakkan....tubuh dan kakiku. Mas Dandy keluar dari kamar kerjanya,rupanya mau ambil kopinya yang belum habis. Lalu dia assyik baca koran sambil menonton TV One di ruangannya sambil sesekali melirik padaku yang terikat Begitulah yang dilakukan sampai magrib tiba. Sekitar jam 7 malam kursi dimana aku terikat ditariknya keluar, mas Dandy menyalakan lampu ruang keluarga yang belum menyala dan membawa aku yang duduk terikat ke meja makan, mas Dandy mengambil piring makanan dan memasukkannya ke microwave... Setelah panas, makanan dikeluarkan dan lakban yang menempel di mulutkupun dilepas... Lalu aku disuapinya makanan yang sudah dipanasinya, kita makan bersama; seusai makan, mas Dandy mencuci piring yang kita pakai sambil disaksikan aku yang duduk terikat di kursi, lalu kursi dimana aku duduk terikat ditariknya ke ruang TV mas Dandy menonton TV kemudian aku berkata, "Mas, bagaimana perjalananmu?" tanyaku "Baik, tadi di pesawat ada Menpora numpang ke Jakarta..." ceritanya kami berbincang2 selama 2 jam dan terputus karena mas Dandy terus menguap agaknya kecapaian TVpun di matikan, aku dan kursi dimana aku terikat ditariknya ke kamar kami. Tak kusadari dia menutup mulutku kembali dengan lakban....eemmmmpphhhh! Lalu dia naik ke tempat tidur gak lama langsung lelap. Meninggalkan aku yang duduk terikat erat "eemmmpphhhh...eemmmpphhhh......." keluhku Kira kira jam 12 malam mas Dandy terbangun, sadar karena aku tidak ada disisinya Dia melepaskan tali ekstra yang melilit di tubuh dan kakiku, lalu menggendongku meletakkan aku di tempat tidur dalam keadaan tangan masih terikat. Kami berhubungan layaknya suami istri sepanjang malam baru benar2 pulas jam 3.30an kami berdua baru terbangun jam 7 pagi Serta merta mas Dandy melepaskan semua tali yang mengikatku terutama tanganku karena kakiku sudah dibukanya lebih dahulu. somebody help me

Sabtu, 18 Februari 2012

Pesta Valentine yang tak terlupakan

Undangan Terbuka
PESTA VALENTINE YANG TAK TERLUPAKAN
Jika anda masih jomblo,
mungkin sang Pangeran
impian menantimu di sana.
Datang yuk !
FREE ENTRY FREE DRINK
untuk
mojang dan bujang
yang masih jomblo

Aku, Virna, Lina, dan Angelia serentak menerima undangan event tersebut di facebook page kami masing-masing. Kamipun menggunjingkannya di kampus dan sepakat datang bersama-sama. Kami berempat berlomba-lomba mendandani diri secantik dan seseksi mungkin. Aku memakai gaun ala cinderella putih dengan tali pita pinggang berwara pink, memakai mahkota imitasi kecil di kepalaku. Kakiku berbalut stocking putih dan kupadukan dengan sepatu jenis pantofel yang ada sabuk yang melintas di punggung kakiku seolah menghubungkan dengan kedua mata kakiku di kiri dan kanan kakiku. (seperti photo ini) Aku sudah berdandan penuh, bermake up tipis bermodalkan foundation dan sedikit bedak dan berlipstik merah merona namun elegan yang kurasa, karena aku tidak suka make up tebal-tebal serasa memakai topeng jadinya. 3 hari yang lalu beghel di gigiku di cabut. Aku merasa sempurna menjadi perempuan muda yang cantik dan sempurna. Oh iya, namaku Silvana, atau panggil saja Anna usiaku 21 tahun. Aku baru memasuki semester ke dua di sebuah universitas swasta terkemuka di ibukota.
“Bim....Biimm....!!”suara klason mobil kudengar, rupanya taxi berwarna putih menjemputku yang di dalamnya sudah gaduh dengan suara ke tiga sahabatku itu.
“tok...tok...tok...!” pintuku di ketuk
“masuk...” jawabku
Angelia masuk, lalu
“Ce ileee.... cantik sekali nona Anna malam ini..”
“Persis seperti cinderella!” komentarnya. Bayangan Angelia kutatap dari pantulan cermin, memakai tank top dress warna hitam dipadukan dengan sepatu yang serupa denganku namun berwarna pink di padukan dengan stocking hitam.
“Waw,.... cantik banget lu Angel” kagumku melihat penampilannya dan rambut panjangnya diurai begitu cantik
“Ah Anna, kamu lebih cantik lho...Yuk kita berangkat!” ajaknya
Setelah menyemprotkan parfum ke pergelangan tanganku dan belakang telinga akupun beranjak meninggalkan meja riasku mengambil tas pesta warna putih yang serasi lalu melangkah meninggalkan kamarku. Aku pamit kepada mbok Darmi yang mengasuhku.
“Mbok,..... aku pergi dulu yach!”
“Iya tapi jangan terlalu larut yach” mbok Darmi mengingatkanku
“Baik mbok,...!” sahutku pergi. Ayahku seorang pengusaha lagi melakukan perjalanan bisnis ke Jepang, mengajak ibuku untuk 2 minggu. Aku anak tunggal di titipi oleh mbok Darmi yang mengasuhku sejak kecil dan ini bukan yang pertama aku ditinggal keluar negeri oleh kedua orang tuaku.

Di dalam taxi Lina dan Virna juga terlihat cantik mereka berdua memakai rok mini dengan blus yang agak tertutup namun cukup seksi kelihatannya. Taxipun meluncur, Aku Angelia dan Lina duduk di belakang, sementara Virna duduk di samping supir taxi. Waktu di dalam taxi menunjukkan pukul 18.36, dan taxipun meluncur. 50 menit kemudian kami berempat tiba di tempat pesta dengan agak ragu-ragu kami bertanya kepada penjaga pintu, bahwa kami terima undangan lewat facebook. Tak diduga penjaga itu dengan ramah mempersilahkan kami masuk dan berpartisipasi dalam pesta yang terlihat meriah itu. Tepat acara baru di mulai dengan roll call yaitu pemanggilan undangan pesta berdasarkan asal sekolah atau kampus kami. Setelah usai perkenalan, kami secara tidak sengaja terpisah. Aku masih bersama Angelia sementara Virna dan Lina terlihat di jarak yang cukup jauh, sedang mengenalkan diri dengan pria-pria seksi dari kampus lain yang mungkin juga masih jomblo seperti yang kami berdua lakukan.
Malam sudah semakin larut, ku lihat di arlojiku sudah menunjukkan pukul 22.15 malam namun aku berhasil berkenalan dengan Frans, pria oriental yang tidak terlalu ganteng tapi tapi atletis dan sangat simpatik dalam memperlakukan perempuan. Cukup gagah dan terpelajar. Rupanya dia kakak kelasku di kampus yang sama namun beda jurusan. Kamipun mulai merasa ketertarikan satu dengan yang lain, aku melihat ke arah Angelia yang sudah nempel dengan cowok tinggi gagah dan ganteng berwajah timur-tengah tak jauh dari tempatku berkenalan dengan Frans sementara Virna dan Lina mungkin sudah mendapatkan pasangannya di kejauhan.
Kamipun mengambil minum, dan Frans mengambilkan segelas Martini untukku kami bersulang lalu meminumnya. Kami tertawa-tawa mengingat kelakuan masing-masing yang datang ke pesta ini untuk mencari pasangan.
Tiba-tiba kepalaku pusing dan pandanganku berkunang-kunang dan aku tak sadarkan diri.
****
Ketika aku sadarkan diri, aku tidak mendapatkan diri berada di sebuah pesta, melainkan di sebuah kamar apartemen dugaanku dan aku terduduk. Aku berusaha bangkit berdiri mengetahui lebih lanjut di mana aku berada, ough! tidak bisa. Tanganku terikat tertekuk erat ke belakang. Ku lihat tali-tali berwarna merah meliliti tubuhku di atas dan tepat di bawah payudaraku. Kakiku yang berstocking putih dan sepatu pantofel hitam yang bersabuk melintas dipunggung kaki itu terikat juga dengan tali merah di pergelangan kakiku menyatu serta di bagian atas dan bawah lututku.
“eemmmpphhhhh... eemmmmppphhhhh....!!!” aku mencoba berteriak minta tolong namun suara itu yang kudengar.
Apa yang terjadi dengan diriku, aku diculik! Bagaimana dengan nasib teman-temanku Lina, Virna, dan Angelia. Kecemasan itu membelengguku sedemikian rupa. Namun malam itu tidak ada yang dapat kulakukan selain meronta-ronta berusaha melepaskan tali-tali merah yang membuatku tidak berdaya. Malam itu kulalui dengan ketidak berdayaanku dan aku tertidur dalam keadaan terikat di kursi.
Aku terjaga dari ketidak berdayaanku kira-kira pukul 10 pagi. Aku tidak mendapatkan diriku terikat ke kursi lagi melainkan dalam keadaan telungkup di suatu ranjang. Aku merasa kakiku tertekuk ke belakang dan tumit sepatuku dapat ku raba dengan tanganku yang terikat erat kebelakang. Aku menyesuaikan pemandanganku dan betapa terkejutnya aku melihat sekelilingku. Ku lihat sosok seperti Lina yang kukenal dari bajunya, dia terikat erat kaki dan tangannya. Mulutnya pun disumpal dan diikat dengan sapu tangan. Matanya tidak bisa kulihat karena kepalanya tertutup dengan sarung seperti sarung bantal. Di sudut lain aku lihat Virna yang kukenal dari tank top dress hitam dan sepatu putihnya, terikat tak berdaya di sebuah pilar di kamar itu. Tangannya terikat kebelakang, begitu juga dengan kakinya diikat menyatu ke pilar dan matanya tertutup dengan kain hitam, tak bisa melihat. Lalu Angelia kulihat terikat erat di sebuah kaki tempat tidur. Tak bisa kulihat wajahnya karena dipakaikan penutup kepala, mungkin juga mulutnya tersumpal tidak berbeda dengan keadaan aku dan teman-temanku yang lain, namun pakaian yang dipakainya membuat aku mengenali mereka.
“eemmmpphhhhh... eemmmmppphhhhh....!!!” aku mencoba berkomunikasi dengan mereka, tidak ada jawaban yang serupa karena mungkin mereka belum siuman. Dan upayaku untuk berkomunikasi dengan mereka tertutup setelah mataku ditutup diikat dengan kain merah. Aku yang dalam keadaan hogtie kini tidak dapat menggunakan mataku untuk melihat. Dalam keadaan tidak berdaya dan tak mampu melihat aku hanya bisa sesekali meronta-ronta mencoba melepaskan tali-tali merah yang membatasi dayaku. Aku tidak tahu apa yang terjadi untuk beberapa waktu lamanya karena hanya
“eemmmpphhhhh.....!!”
“eemmmpphhhhh.....!!” yang kudengar bersahut-sahutan di ruangan itu.
Suasana ketidak pastian berubah ketika kudengar seorang ibu dan seorang bapak masuk ke ruangan tempat kami di sekap. Mereka berbincang setengah berbisik tentang nasib kami yang kusimak adalah
“Semua ada 4 orang, masih muda, cantik dan sexy, Pak Haris” suara laki yang kemudian kukenal itu suaranya Frans
“Ini photo mereka berempat...” lanjutnya
“Wah... sejak kapan mereka memiliki photo kami berempat” batinku mencoba menguak misteri yang ku hadapi.
“Cantik juga mereka.....” suara laki-laki lain yang rupanya tadi di panggil Pak Haris
“Bawa aja sekarang, Pa!” suara perempuan menjawab
“Sabar Marina, mereka pasti akan kita bawa semua” ujar Haris
“Selanjutnya saya tunggu transferannya Pak Haris, Ibu Marina...” kembali suara Frans menjawab.
“Siapakah mereka ini, apakah mereka menjebak kami dalam pesta Valentine yang berkedok kriminal, mau di bawa kemana kami berempat ? akankah kami dibebaskan ??” berjuta tanya tanpa jawab memenuhi pikiranku dan mungkin juga memenuhi pikiran teman-temanku yang di culik jika mereka mendengarkan percakapan tadi.
Hening di ruangan tempat kami di sekap, aku tidak tahu apakah ketiga temanku masih bersamaku di ruangan ini. Lelah meronta-ronta dan tubuhku lemas dan akupun tertidur pasrah dalam kecemasan.
****
Lama rupanya aku tertidur, karena sudah jelang malam dan aku merasa tidak berada di tempat semula. Kini aku berada di sebuah lantai yang terdiri dari 4-5 sel seperti ruang tahanan kepolisian di mana di dalamnya ada beberapa perempuan duduk dalam keadaan terikat. Baru kusadari mata dan mulutku tidak di tutup, aku melihat perempuan berambut panjang di sebelahku yang terikat erat di kursi, dia adalah Angelia sahabatku, dengan pakaian tanktop dress hitam stoking hitam dan sepatu berwarna pink. Mulutnya tersumpal lakban 3 lapis dan kepala masih tertunduk, tanda belum sadarkan diri. Di sel sebelah, kulihat Lina dan Virma juga duduk terikat dengan mata dan mulut yang disumpal. Di sel lainnya kulihat 5 orang perempuan berpakaian pesta dalam keadaan yang tidak berbeda dengan Lina dan Virna. Namun di dalam sel seberang ada sel khusus yang ditempati seorang perempuan yang diikat berdiri dan terikat ke jeruji besi sel. Di mana ini, apa yang terjadi dengan kita ? Aku tahu kalau rupanya si Frans memperdagangkan kami ke pada Pak Haris. Hanya itu yang kuketahui. Dalam sel tempatku di sekap ada perempuan cantik dan putih, dalam keadaan terikat erat penuh dengan lilitan tali, juga duduk di kursi memakai pakaian lusuh seperti gadis desa mata dan mulutnya pun tidak ditutup. Aku mencoba menyapanya,
“Mbak,....Kenapa mbak ada di sini ?” tanyaku
“Kamu siapa dik,... aku Annisa detektif swasta” jelasnya
“Aku Silvana mbak, mahasiswi.” Jawabku sambil menyebutkan tempat kuliahku
“Bagaimana kamu ada disini ?” tanyanya
“Kami menerima undangan pesta Valentine, dan tahu tahu sudah ada disini, diculik”
“Kami sedang menyelidiki sindikat perdagangan perempuan oleh residivis bernama Haris, aku menyamar masuk ke dalam tapi kami tertangkap oleh mereka dan dijadikan budak nafsu” jelas Annisa singkat
“Kami.... siapa lagi selain mbak Annisa ?” tanyaku
“Itu di sel ujung, mbak Lalita mitra penyidikku yang juga disekap...” mata Annisa seolah menunjuk ke seberang sel kami. Ada perempuan yang tampil seksi dan cantik. Memakai blouse hitam dengan rok mini berwarna hitam terikat berdiri di teralis sel dan banyak tali tali meliliti tubuhnya berikut rantai kecil seperti untuk peliharaan juga meliliti tubuhnya. Rambutnya cukup panjang dengan mulut yang disumpal lakban, tidak mengurangi kecantikannya.
“Dia berhasil menyelinap masuk tetapi pas dia temukan aku di kamar tempat aku di sekap, dia berhasil dilumpuhkan!” cerita Annisa kembali. Aku merenung sambil menatap detektif Annisa yang mirip sekali wajahnya dengan penyanyi anggota Cherry Belle yang sangat ku kagumi.
“Mbak sudah lama di sini ?” tanyaku penasaran
“Hampir seminggu Silvana...” jawabnya sedih
“Mbak Annisa, mirip sekali sama Annisa yang di Cherry Belle” pujiku kagum
“Hmm dia memang adik kembaranku, nama kami cuma dibedakan dengan istilah bunga yang samai aja kog. Aku Annisa Rosmaria, dia Annisa Mawarsari” jelasnya tersenyum pahit,.
“eemmmpphhhh..........” rupanya Angelia siuman, menoleh kepadaku dan detektif Annisa
“eemmmpphhhh.........eemmmpphhhh..........” Angelia meronta-ronta sembari berteriak
“Sabar, sabar dik ! Tim kami akan segera membebaskan kita” jelas detektif Annisa kepada Angelia.
“Angel, dia detektif Annisa yang ikut tertawan di sini. Nanti tim penyelamatnya pasti akan membebaskan kita” ujarku menenangkan Angelia. Pintu ruangan di mana sel-sel ini disimpan terbuka. Masuklah Pak Haris dikawal 2 orang kekar mereka berhenti didepan sel di mana kami disekap. Kedua pengawalnya masuk kedalam sel, lalu membopong detektif Annisa yang meronta-ronta begitu hebat.
“Hey,... mau dibawa kemana dia !!” hardikku
“eemmmpphhhh.........eemmmpphhhh..........” mbak Lalita yang diikat di sel seberangpun meronta-ronta dan protes. Salah satu dari pengawalnya Pak Haris mendekatiku dan kemudian melepaskan tali yang mengikatku ke kursi kemudian mengangkatku
“Jahanam,...!! Lepaskan aku....!! Lepaskan !!!” aku berteriak memberontak sebelum sapu tangan dengan bau yang melemahkan syaraf ku rasakan dan aku tak sadarkan diri sementara sayup-sayup kudengar
“eemmmpphhhhh.....!!”
“eemmmpphhhhh.....!!” yang kudengar bersahut-sahutan dari Angelia dan mbak Lalita, lalu pelan pelan aku tidak ingat apa apa.
Ketika aku sadar, aku seperti berada di dalam sebuah salon dalam keadaan terikat tangan dan kaki, tak kulihat detektif Annisa di sana.
“Uffh...” kurasakan bedak di wajahku
“Ini apaan !?” tanyaku. Seorang pengawal yang mendampingi aku di rias di salon ini menjawab
“Ini perintah ibu Marina,... Kamu harus di make over biar lebih cantik untuk pelanggan VIP kami. Sudah kamu diam saja atau saya sumpal lagi mulutmu !!” jelasnya penuh ancaman.
Aku tidak mengerti, diculik dan diikat lalu didandani, dalam cerita action yang kugemari, begitu di culik kemudian diikat lalu menunggu dibebaskan. Memang kenyataan berbeda dengan cerita action. Aku yang di culik mendapatkan creambath walau mulut kembali di sumpal, rupanya hanya ketika di make up saja aku bisa berkomentar selebihnya adalah tawanan yang tidak berdaya mendapatkan perawatan kecantikan.
Namun aku berusaha menikmat creambath dan pijatan-pijatan yang kuterima dari ‘salon’ itu cukup meringankan pegal akibat diikat dan meringankan lelah walau dilakukan dalam keadaan terikat erat dan diawasi oleh pengawal.
Selesai dengan perawatan kecantikan, aku didudukkan di kursi roda, kemudian didorong keluar melewati lorong dan masuk kedalam sebuah ruangan dingin, menghadap ke sebuah jendela gelap dan aku di dudukkan di kursi bernomor 7. Ada 15 orang perempuan di sana termasukku; tak ada yang kukenal, mereka semua cantik dan berdandan manis duduk dalam keadaan tangan dan kaki terikat erat dan mulut yang di sumpal. Ternyata aku sedang di dalam ‘akuarium’ atau ‘showcase’ bersama 14 perempuan lain di sana. Dekat kakiku yang terikat ada tulisan SILVANA tertulis tebal dengan sebuah karton berbentuk segitiga.
“Ya Tuhan, lindungi aku. Jangan sampai terjadi padaku.....!” batinku berharap sambil menundukkan kepala namun sesekali mengangkat kepala akibat penasaran. Hari itu aku hanya duduk terikat erat tanpa mendapatkan penunjukkan dari laki-laki hidung belang. Malam rupanya sudah semakin larut, Dalam ‘akuarium’ tinggal aku dan enam gadis lainnya. Lampupun diredupkan dan aku tidak dikembalikan ke selku namun di simpan di sebuah kamaryang dekat, teman kamarku yang sudah berada di dalam adalah detektif Annisa. Perasaan ini lega namun tetap takut, aku senang bertemu dengan detektif cantik itu kendati kami tidak bisa berkomunikasi akibat mulut kami masing-masing yang di sumpal ini. Namun hati merasa sedikit tenang bersama detektif cantik yang sudah tidak mengenakan pakaian lusuhnya seperti tadi. Dia semakin anggun dengan dandanannya dan juga pakaian yang di kenakan. Pakaian bernuansa Tionghoa.
“eemmmpphhhhh.....!!” panggilku
“mmmmppphhhhh.....!!!” jawab detektif Annisa
Dan kamipun tertidur lelah.
Pagi datang, jika aku tidak salah, ini adalah hari kelima aku diculik setelah pesta Valentine dan kini berada di dalam tawanan sindikat perdagangan perempuan milik Haris. Kami sudah di suapi sarapan oleh perempuan yang disiapkan untuk melayani kami
“Dik Sil,... Dik Silvana...!!” panggil detektif Annisa
“Mbak, panggil saja Anna mbak,....” jawabku
“Kemarin kamu di apain dik?” tanyanya
“Kemarin aku cuma di creambath, lalu di make up ulang dan duduk di ruangan berjendela hitam sampai ngantuk” ceritaku
“Aku kemarin diperkosa lagi” Annisa menahan tangis “sudah lima kali sejak aku disini” kulihat mata detektif Annisa berkaca-kaca. Aku terdiam tak bisa berkata-kata sambil membayangkan itu juga akan terjadi padaku, cepat atau lambat tak terasa mataku berair.
“Mbak,... yang sabar ya, bukankah nanti teman-teman dari kantor akan membebaskan mbak. juga mbak Lalita ?” entah kata-kataku itu tepat atau tidak untuk menghiburnya.
“Harusnya mereka sudah tahu, karena kami tidak bisa berkomunikasi lagi....” sesal detektif Annisa
“Nanti mereka pasti datang dan membebaskan mbak, mbak Lalita dan kami berempat.” Yakinku pada detektif Annisa.
“Pasti,... harus !” detektif Annisa menguatkan diri.
Pintu terbuka, seorang pengawal masuk langsung mengangkat tubuhku ke punggungnya dan melangkah keluar
“Mau di bawa kemana dia !!?? Lepaskan dia...!!!!” teriak Annisa sementara aku hanya bisa meronta-ronta namun takut jatuh dari punggung pengawal itu.
Aku dimasukkan di kamar sebelah, tidak jauh dari kamar tempat detektif Annisa dan aku ditempatkan dari tadi malam. Aku dibaringkan dengan tangan terikat kebelakang di sebuah ranjang. Tali-tali yang mengikat kakiku dilepas namun dengan genggaman kuat, mereka membuka kakiku dan mengikatnya ke ujung bawah tempat tidur. Mulutku kembali di sumpal dan di lakban.
“eemmmpphhhhh.....!!”
Kemudian mereka beranjak meninggalkan aku di kamar itu, sunyi untuk beberapa waktu hingga seorang masuk
“Frans....?” aku ingin menyapa orang yang masuk kekamarku tapi suaraku tidak keluar
“Anna yang cantik, sekarang kamu milikku” katanya sambil membuka celana jinsnya.
“eemmmpphhhhh.....!!” aku menolak dan meronta begitu hebat mengetahui apa yang akan dilakukannya padaku, ketika mataku ditutupnya dengan kain hitam.
Aku merasakan pakaian cinderalaku di lucuti, kemudian kurasakan mulut yang berbau rokok itu mengulum-ngulum dan menjilati payudaraku
“eemmmpphhhhh.....!!” aku menolak dalam kenikmatan
Leherku di cumbunya sesekali di cupangnya, aku menolak namun tak berdaya dalam rangsangannya. Kemudian kurasakan celana dalamku di sobek paksa dan benda yang tak pernah kuundangpun masuk memecahkan selaput daraku .
““eemmmpphhhhh......eemmmpphhhhh.....!!”
Lalu kudengar nafasnya tersenggal senggal ketika penisnya berhasil memasuki Miss V ku yang sempit. Aku menangis sedih merasakan perkosaan ini. Rasa sakit dan ngilu menguasaiku ditengah terkaman Frans penuh nafsu memperkosaku. Rasa sakt yang hebat itu membuatku tak sadarkan diri.
****
Aku sadarkan diri, mendapati tubuhku kembali berada dalam sel, bersama mbak Annisa, namun aku tidak melihat Angelia juga Virna yang disekap di sel lain. Hanya Lina yang masih terlihat duduk dalam kondisi terikat dan mbak Lalita yang ditawan di sel tersendiri dalam kondisi yang mengenaskan.
Aku tak bisa bersuara, hanya tangis dan airmataku yang terus mengalir, membasahi pipiku. Mbak Annisa pun diam dan seolah tidak ingin menggangguku dalam kesedihan.
“Aku baru diperkosa sama yang menculikku mbak....” tangisku rupanya lakban yang menyumpal mulutku terlepas akibat basah terkena airmataku.
“Aku bisa memahami perasaanmu dik Anna” hiburnya.
Aku mulai paham, rupanya Angelia, juga Virna mungkin sedang mengalami nasib yang serupa.
Entah sampai kapan aku dan teman-teman disekap dan menjadi budak nafsu di sini. Aku harus bebas, kita semua yang ditawan harus bebas! Tidak adakah yang bisa membebaskan kami? Kapan teman-teman detektif Lalita dan Annisa datang membebaskan kami.

TAMAT

Jumat, 03 Februari 2012

Pramugari Gina

Berulang kali terjadi, pencurian di atas sebuah penerbangan malam long haul ke Eropa, atau bahkan short haul yang tidak sampai tujuh jam seperti penerbangan ke Tokyo Jepang. Kali ini untuk kesekian kali penumpang melaporkan kehilangannya melalui e-mail ke manajemen maskapai penerbangan itu. Pihak manajemen merasa gerah dan waktunya bertindak setelah kesekian kalinya terjadi. Melihat di analisa jadwal penugasan terbang, kemudian mereka menaruh curiga kepada pramugari mapan Virginnia Tan yang akrab di sapa Gina berparas cantik dan oriental itu.

Si cantik Gina telah dipanggil ke kantor bosnya Senior Vice President Operation and Services di kantor pusat sebuah maskapai nasional, setelah bicara basa-basi bos lalu menuduhnya mencuri dari penumpang yang tertidur selama penerbangan long haul tengah malam dalam rute Eropa yang kebetulan Gina tengah bertugas di Kelas Utama. Laporan mencuri perhiasan, kartu kredit, dan uang tunai telah bergulir lalu bos mendekati Nona Virginnia, karena ia adalah satu-satunya pramugari yang selalu bekerja setiap penerbangan ketika pencurian terjadi. Gina bersikeras dan membantah tuduhan seperti yang diinterogasi. Bahkan ketika bukti yang diletakkan di hadapannya Gina tidak bergeming, masih protes mengatakan bahwa dia tidak bersalah.
Hari semakin sore tidak ada juga pengakuan dari bibir mungil Gina, akhirnya bosnya memberikan solusi mengatakan kepadanya satu-satunya cara agar dia bisa kembali bekerja seperti biasa serta menampik tuduhan terhadap dirinya adalah untuk bertemu dengan bosnya di rumahnya pukul 8 malam.
“Untuk apa?” Gina bertanya-tanya dalam protesnya tapi bosnya mengabaikan pertanyaannya dan memberitahunya bahwa Gina harus berada di sana jika dia ingin tetap bekerja.

Gina sangat ingin mempertahankan pekerjaannya, ia muncul tepat waktu memakai seragam pramugarinya lengkap dengan sepatu pantofel dengan ‘tali yang melintas di punggung kakinya seolah menghubungkan kedua mata kakinya. Lalu bosnya menemuinya dan memberikan beberapa utas tali katun putih.
"Ikat pergelangan kakimu dan lututmu, yang kencang ya!" perintahnya. Gina terpaksa melakukan perintah itu untuk mengikat pergelangan kaki dan lutut sendiri dengan tali katun putih. Gina yang sangat ingin mempertahankan karirnya di maskapai itu, melakukan perintah bosnya sambil terus mengeluh, di bantu dua pria tim keamanan perusahaan sejak tadi juga dipanggil bos untuk menyaksikan interogasi ini. Ketika dia selesai,
"Ikat kedua tangannya kebelakang!" perintah bos dan kedua pria dari keamanan langsung mendekati Gina serta merta menarik kedua tangannya kebelakang, menelikung kebelakang lalu mengikat pergelangan tangannya, tubuh bagian atas Gina kini penuh tali yang melilit "Urghh....!" sementara Gina masih berdiri dengan kaki yang sudah terikat erat. Limamenit kemudian Bos kembali memaksa dengan halus agar mengakui perbuatannya, agar tidak mengalami hal yang lebih parah. Merasa tidak melakukan perbuatan hina itu, Gina tentu menolak mentah-mentah tuduhan itu.
"Bawa dia ke kamar belakang!" perintah bosnya kepada dua pria tadi karena tidak puas. Gina membisu sementara tubuhnya yang terikat erat dibopong ke sebuah kamar di dekat dapur lalu diletakkannya di tempat tidur. Kedua pria itu kemudian menggelitik tubuhnya yang dibalut seragam. Gina menggeliat dan menggeliat dengan tawa namun masih menolak berkali-kali untuk mengaku.
Menggelitik ini menyiksa!
Menggelitik berlanjut sampai Gina hampir tidak bisa bernapas dan terengah-engah menggeliat. Dia kembali diminta mengakui kejahatan tapi dia tetap menolak. Suatu teror yang buruk dialami Pramugari Virginnia Tan.

Selanjutnya, Virginia diikat hogtied dan telapak tangannya di jepret lembut dengan karet gelang membuat dia menangis kesakitan. Beberapa diantara penyiksa Gina kembali menggelitik tubuhnya bergantian untuk mencari kebenaran.
“Aduuh ... Haaadduuhh.. sakiittt!!” jerit Gina.
Sekali lagi, Gina diperintahkan untuk mengakui apa yang telah dilakukan, tapi dia tetap tidak akan menjawab sesuai keinginan bosnya

Baju seragamnya dibuka kancing-kancingnya kemudian satu per satu payudaranya dijepit erat dengan penjepit jemuran, tak cukup penyiksaan diri itu, karena sikap menantang dia, tongkat kecil digunakan dan sesekali terbang di udara dan mendarat di pantatnya dan payudaranya. Hal ini cukup membuat pramugari Nona Virginnia menjerit. Meskipun ia telah mengalami banyak, dia tetap menolak mengaku. Setelah satu jam penuh dicambuk sampai dia menangis dan menjerit lemah akhirnya Gina terpaksa mengaku. Setelah pengakuan penuh dibuat, lalu mulutnya disumpal dengan segumpal kain merah terbungkus rapat dikemas erat kemudian lakban perak yang dikenal dengan sebutan duct tape itu ditempelkan pada mulutnya. Gina masih mendapatkan beberapa kelitikan sementara mulutnya tengah disumpal. Lalu Gina dibiarkan telungkup terikat dibiarkan berjuang meronta-ronta dan merenungkan kejahatannya. Malam itu Gina terpaksa menginap atau tepatnya disekap di sebuah kamar di rumah bossnya.

Pagi itu Gina bangun, Gina merasakan dirinya dilepaskan dari hogtie tetapi masih terikat tubuh bagian atas, tangan kebelakang, lutut, dan pergelangan kaki dan dipaksa untuk berdiri di satu tegel yang di siapkan di mana dia dibuat untuk berdiri di atas tutup botol bir yang diletakkan terbalik untuk menunggu hukuman yang lebih lagi.

Bersambung

Menurut pembaca apakah pengakuan Gina itu sungguh-sungguh di lakukannya? Benar-benar mencuri dalam penerbangan malam atau akibat tidak tahan oleh hukuman yang di timpakan kepadanya?
Berikan pendapat anda di bawah ini serta notifikasi ke ikatmila@gmail.com

Kamis, 02 Februari 2012

PET SHOP

Namaku Mila, 28 tahun. Aku sudah menikah dengan seorang pria berprofesi sebagai Penerbang dan penyayang binatang. Beberapa hari lagi mas Dandy suamiku pulang untuk 10 hari, dan dia akan merayakan ulang tahunnya bersamaku, aku bersemangat ingin membelikan hadiah, seekor binatang piaraan yang ekstrim karena mas Dandy pernah menyampaikan keinginannya memelihara binatang piaraan yang ekstrim. Segera kutelusuri Pet Shop di Yellow Pages.

Hari ini aku berencana mengunjungi Pet Shop sepulang kerja. Aku memakai seragamku blouse Shang Hai warna merah dengan kancing-kancing yang berbaris rapih, dan mengenakan rok pendek di atas lutut dengan sepatu pantovel yang ada bannya seolah menghubungkan kedua mata kakiku, yang biasa disebut mas Dandy ‘sepatu sexy’ . Tepat jam 17.30 aku tiba di Pet Shop ‘Boe Duck’ di ujung timur kota Surabaya, di drop oleh kendaraan kantor.
“Selamat sore Pak........” sapaku setibanya di depan counter
Seorang lelaki paruh baya bertubuh gemuk berkacamata dan berambut agak botak tengah menunggui tokonya sembari membaca koran.
“Selamat sore ibu, ada yang bisa di bantu.....?” jawabnya sopan
“Pak, saya mau lihat2 koleksi binatang peliharaan, anjing atau mungkin yang ekstrim ?’ujarku ingin mengetahui peliharaan apa aja yang tersedia.
“Ibu tertarik dengan binatang peliharaan yang ekstrim ?” jawabnya
Aku mengangguk ragu
“Ada Bu,... mari ikut saya !” bapak tua itu beranjak dari counternya seraya mengambil kunci-kunci.
Aku mengikutinya berjalan di belakangnya, memasuki sebuah pintu yang terkunci, menuruni sebuah tangga ke ruangan seperti bawah tanah
“Wah keren, anda simpan di bawah tanah ?” komentarku sambil menuruni tangga mengikuti bapak tua itu.
“Hanya sebuah kejutan, untuk pelanggan baru seperti Ibu...” sahutnya singkat tanpa kumengerti maksudnya.
Kami sampai di ruang bawah tanah, aku melihat sebuah kandang besar yang kosong sementara bapak tua itu mundur selangkah tidak ingin menghalangi pandanganku
“Kosong pak !?” tanyaku
“Ibu perhatikan baik-baik....”
“Tak kan lama lagi, muka mata lebar-lebar... “ sahutnya membuat rasa ingin tahuku semakin menjadi-jadi
“Mana Pak ?” tanyaku penasaran
“Di belakangmu, majulah !” jawabnya dan spontan kurasakan tangan memeras pantatku dan mendorong tubuhku melangkah ke depan
“Lepaskan tanganmu, jangan dorong aku Pak !” tegurku sopan atas tindakan pelecehan yang kurasakan sambil menoleh kebelakang, kearah bapak tua itu.
“Aku lepaskan jika Ibu sudah sampai di kandang...” jawabnya tenang
Lalu tanpa sadar tangan kiriku ditelikung ke belakang oleh bapak tua itu
“Jangan pegang-pegang !!!” spontan aku berbalik badan dan menampar pipi bapak tua itu dengan tangan kananku
“Berani melawan ??” balas bapak tua membalas menamparku aku terhuyung-huyung dan jatuh di atas lututku
“Elu mau becanda sama gue!!” bapak tua itu menjambak rambutku dengan tangan kirinya
“Aaauuuwwwhhh...........! jeritku kesakitan. Dengan cekatan, kedua tanganku di tarik kebelakang dan dalam waktu singkat kedua tanganku sudah terikat kebelakang dan kurasakan kaki bapak tua bersandar di punggungku.
“Adduuuhh toollloooonnggg..... anda menyakiti saya, lepaskan !!!” tak terasa airmata membasahi pipiku
“Dasar pelacur, perlu mendapatkan pelajaran disiplin... kamu si Ika Tantri yang di facebook itu khan !? saya tahu...” lanjut si bapak tua
“Kamu akan jadi piaraan yang baik disini!” tegasnya
Sejenak aku tak mengerti apa yang terjadi dengan diriku, kenapa dia tahu namaku? tahu facebookku padahal sudah berbulan bulan di blok?? Kenapa tiba-tiba aku terikat seperti ini?
Masih dalam keadaan terikat kurasakan kaki itu menendang/mendorong pantatku, dan aku jatuh telungkup ke dalam kandang itu dengan tangan yang terikat erat ke belakang.
“Mila, kamu butuh ini...” kata bapak tua itu memasangkan collar ke leherku lalu menyambungkannya dengan tali yang biasa dipakai untuk mengajak jalan-jalan seekor anjing, kemudian tali itu diikatkan ke salah satu jeruji besi di kandang itu.
Dia menyebut namaku, gawat!
“Tolong,... tooollllooooonnnngggg....!!!!!!” teriakku
“Berteriaklah sesukamu Mila, tidak ada yang bisa mendengar suaramu” tantang bapak tua itu.
“Tooollllooooonnnngggg...... “
“Lepaskan akuuuuu..........!!!”
“Simpan tenagamu Mila, sampai aku kembali aku mau tutup toko dulu” suara bapak tua itu seraya keluar dari kandang menguncinya dari luar, lalu meninggalkan aku yang tertawan. Kata-kata bapak tua itu terasa jadi ancaman buat keselamatanku.
Tinggal aku sendiri terikat erat di dalam kandang, rupanya bapak tua itu mengikat pergelangan tanganku dengan erat dan juga sikutku. Sungguh sulit untuk bergerak sedikitpun.
“Aduuhh saakit,... ...apa yang akan dia lakukan padaku?” gumamku
“Tolong.... aku di culik disini!” aku bersuara pelan meminta tolong dalam keadaan lemas
“Ya Tuhan... apa yang terjadi dengan diriku?Aku hanya ingin membeli kado buat mas Dandyku, aku terperangkap...!!”
“Sialnya...! keluhku kepalaku terunduk. Aku disekap terikat di kandang ini, ditinggal cukup lama oleh bapak tua itu
****
Adduuuhh... apa yang akan terjadi dengan diriku, aku datang ke toko ini bermaksud membeli binatang peliharaan untuk jadi kado ulang tahun mas Dandy, kog malah jadi begini ya, terikat tertawan di dalam kandang ini, Tuhan tolong....
Kira-kira 3 jam kemudian pintu terbuka namun tak kudengar karena aku hanyut dengan pikiranku, tiba-tiba pintu kandang yang menyekapku terbuka
“Bapak, tolong lepasin saya... Bapak butuh uang ? nanti segera saya siapkan” pikirku menebus sendiri penculikan yang terjadi pada diriku.
“Maaf Mila, tadi ada banyak customer yang harus saya layani....” ujar bapak tua itu seolah tidak menghiraukan penawaranku.
“Sudah cukup khan istirahatnya, buka baju dulu ya, gak pengap di sini? Lanjut bapak tua itu.
Bapak tua itu sedianya akan mencabik-cabik blouse Shang Haiku, namun urung dan melepaskan kancing-kancingnya dengan telaten.
“Paakk.... lepaaasiinnn... saakiiitt! keluhku, kulihat bapak tua itu mengeluarkan sapu tangan dan memasukkan pada mulutku
“eemmmmhh....!” lalu dengan sigap disobeknya sebuah lakban berwarna abu-abu CRREEETTT!! Di sumpalnya mulutku.
“eemmmppphhhhh.......!!” suaraku
Bapak tua melepaskan semua pakaiannya dan meletakkan sebuah bangku kayu kecil
“eemmmppphhhhh...... eemmmppphhhhh......!!!” melihat itu aku berteriak ketakutan di balik sumpalanku
“Training pendisiplinan akan ku mulai” tantang bapak tua itu
Tubuhku menungging, bagian perutku tersandar di bangku kayu kecil itu CTAARRR.... CTAARRR.... CTAARRR.... beberapa cambukan mendarat di pantatku
“eemmmppphhhhh...... eemmmppphhhhh......!!” aku mengaduh kesakitan
“Wah mengeras nich...” suara bapak tua kudengar aku masih telungkup bersandar di bangku kayu itu dalam keadaan tangan terikat kebelakang dan mulut di sumpal lakban
“Mila, pantat kenyalmu memerah, keren lho....” puji bapak tua itu
“eemmmppphhhhh...... eemmmppphhhhh......!! lenguhku
Kemudian kurasakan sakit tak terkira, karena kurasakan sejenis penis memaksa masuk ke dalam anusku
“eemmmppphhhhh...... eemmmppphhhhh......!!” aku mengaduh kesakitan kembali air mata mengucur deras di pipiku.
Penis itu berhasil masuk di lubang anusku yang sempit, kemudian
Masuk
Keluar......
Masuk
Keluar......
Masuk
Keluar...... hingga kudengar
“Aaaarrrggghhhh............!!” suara si bapak tua, aku sendiri tak dapat menahan rasa sakit sehebat ini, akupun tak sadarkan diri.
****
Ketika aku siuman,aku mendapati diriku masih terikat, tanganku dan sikut yang terikat kebelakang, mulut yang tersumpal lakban dan collar di leher yang terhubungkan dengan salah satu jeruji besi di kandang itu. Aku mendapati diriku terduduk dengan kaki yang memanjang lurus, tetap bersepatu dengan pergelangan kaki yang teikat oleh gulungan tali nylon. Blouse Shang Haiku kembali membalut rapi tubuhku yang terikat ini. Aku mengarahkan pandangan kesekeliling kandang, kulihat ada kertas tertempel tak jauh dariku, tulisannya kira-kira

MILA CANTIK,
TRAINING HARI INI CUKUP DULU, AKU PULANG YA
BESOK KITA LANJUTKAN SETELAH TOKO TUTUP
NANTIKAN SAJA
TERIMA KASIH UNTUK KENIKMATANNYA
TTD

Tubuhku seketika merinding membaca pesan itu, kembali aku mengarahkan pandangan kesekeliling kandang
“Jam 23.30 !!!??” ketika kutemukan jam dinding digital yang terlihat jelas.
“Bapak tua itu pulang,...? aku ditinggal sendirian, disekap di kerangkeng ini,....? aku harus bisa lolos dari sini,...! di mana tasku !? aku harus meminta tolong...!” aku meronta-ronta dengan hebat dengan seluruh tenagaku, SIA SIA! hingga aku kelelahahan, duduk terdiam meratapi keadaanku, waktu menunjukkan pukul 2.10 dini hari. Tanpa sadar kutemukan tasku tergeletak di depan pintu kandang, pasti jatuh ketika aku dipukul oleh bapak tua hingga terhuyung-huyung.
“Hmm,... handphoneku di dalam tas, terlalu jauh dan tidak mungkin mengharapkan pertolongan” batinku.
Putus asa menyelimuti sekujur tubuhku dan aku tertidur kelelahan.

Aku terbangun, setidaknya sudah pagi meski ruangan bawah tanah relatif temaram, namun jam digital di dinding sana cukup mengingatkanku, pukul 10.40 jelang siang. Dahaga dan Lapar saja yang menemaniku.
Kemudian sekitar pukul 13 bapak tua itu datang ke ruangan bawah tanah sambil membawa piring dan gelas aluminium.
“Selamat siang Mila,.... tidurnya nyenyak juga, sudah biasa yach ? ledeknya kepadaku
“eemmmppphhhhh...... eemmmppphhhhh......!!”
“Ha ha ha haa.... tersinggung yach, khan mantan balerina yang rajin berlatih Yoga...” ledeknya lagi
Aku terperanjat dengan pengetahuannya tentang diriku. Siapa bapak tua misterius ini ?? misteri yang tak terjawab. Bapak tua itu masuk ke dalam kandang,
“Ayo makan!” ujarnya seraya melepas lakban yang menyumpal mulutku dan
“Oweeekkk...!” saputangan dalam mulutku keluar
“Tolong Paakk.... lepaaasiinnn... saakiiitt!” keluhku tidak dihiraukannya, dan sesuap demi sesuap makanan masuk ke dalam mulutku,ku kunyah secepat mungkin
“Glek.... Glekk !! aku meminum minuman yang di bawa oleh bapak tua yang misterius ini. Segera setelah usai makan, mulutku kembali di sumpal sapu tangan dan lakban kembali membatasi suaraku. Lalu kurasakan collar yang melingkar dileherku dilepas oleh bapak tua, aku dibantu berdiri, rupanya tubuhku kembali dililit tali yang mengikat seluruh tubuhku di jeruji besi di belakangku tapi kakiku diikatnya terpisah dan membuka.
“eemmmppphhhhh...... eemmmppphhhhh......!!” aku meronta-ronta. Bapak tua itu kemudian beranjak dariku, mengunci kandang / kerangkeng tempatku di sekap dan berlalu menaiki tangga kembali ke tokonya. Waktu berjalan begitu lambat, aku tidak menunggu atau mengharapkan apa-apa kecuali kebebasanku sambil aku sibuk meronta-ronta.
“Aku harus segera pulang,... sebentar lagi mas Dandy pasti akan pulang, dan aku akan merayakan ulang tahunnya bersamanya” pikiran itu memenuhi benakku sambilku terus berusaha melepaskan diri dan meronta-ronta.
Sore itu bapak tua kembali ke kandang di mana aku disekap, dia memukulku dan kembali memecut payudaraku setelah kembali melepaskan kancing kancing baju Shang Haiku kemudian dia menarik celana dalamku kini dia memperkosaku memasukkan penisnya ke miss V ku
“Tiddaaakkkk.........!!!” seruku namun
“eemmmppphhhhh, mmmppphhhhh......!!“yang terdengar ditelingaku
“ mmmppphhhhh...... !!!!” aku menolak perlakuan ini
“eemmmppphhhhh...... mmmppphhhhh......!!” tangisku dalam sumpalan
Secara naluriah aku mengalami orgasme berkali-kali akibat pemerkosaan ini. Tubuhku tidak menolak perlakuan ini, karena sesungguhnya aku terbiasa berhubungan dengan kondisi seperti ini dalam suka sama suka dan dengan hasrat cinta. Hanya itu yang membedakan keberadaanku dengan suasana hati ini. Kembali aku tertidur kelelahan dalam kondisi tangan sikut dan kaki yang terikat erat.
Ketika aku terbangun aku tidak mendapatkan perubahaan pada kondisi tubuhku, tetap terikat erat tak berdaya ke jeruji besi, waktu yang ku tatap telah menunjukkan pukul 1.35 dini hari aku melanjutkan tidurku, tak ada yang bisa ku lakukan.

Setidaknya sudah pagi, ketika aku terbangun dan waktu menunjukkan pukul 9.05 pagi, kembali aku meronta-ronta sekuat tenaga, berharap tali-tali yang membelengguku bisa kendor bahkan terlepas.
“eemmmppphhhhh...... eemmmppphhhhh......!!”
Sejumlah misteri masih membelengguku, siapakah bapak tua itu ? Karena dari pengetahuannya tentang aku kelihatannya dia adalah salah satu teman facebookku yang kini telah terblokir?
Lalu berapa lama lagi aku merelakan diriku terikat erat seperti ini, disekap di sebuah kandang Pet Shop, dan diperlakukan sebadai budak nafsu ?

TAMAT

Senin, 30 Januari 2012

Tamu Yang Tak Di undang

Minggu siang di kawasan Dharmahusada Indah, Mila sendirian, suaminya Dandy sedang dinas terbang beberapa hari, pembantunya mpok Minah dan mang Dodi sengaja diliburkan Mila ingin santai seharian dirumahnya ketika bel berbunyi. Dilihatnya Otniel kenalannya, teman chattingnya datang.
“Otniel,.... kog tumben ? Ada perlu apa?”
“Boleh aku masuk?” tanya Otniel
“O.. oh,...silahkan,....” mata Mila sedikit menatap ragu, Otniel masuk ke dalam, sambil melihat sekeliling
“Silahkan duduk,... “ sapa Mila dengan ramah dan senyum khas
“Makasih...” Otniel tersenyum pada Mila dan duduk...
“Mau minum apa?” Mila beranjak bermaksud menyuguhi tamunya minum
“ehm... apa aja deh, yang penting enak...hehe” sahutnya
“Sebentar yaa........” Mila meninggalkan tamunya sendiri kemudian Otniel mulai mengambil 1 buah borgol dr dalam tas kemudian di masukkan ke saku celananya. Tak lama Mila kembali dari dapur membawa 2 gelas es teh manis....
“Silahkan.....” tawar Mila sementara KRIIINNGGG......!!!! telpon dirumahnya berbunyi
“Maaf bentar yaa...” pamit Mila
“Oh Silakan....” diam-diam Otniel mengambil sebungkus obat penenang dan dituangkannya kedalam es teh manis Mila, 10 menit terasa lama di telpon,dan akhirnya Mila kembali ke tamunya
“Maaf ya lama!“ lalu menyilakan minum sambil meneguk es teh miliknya
“Seger ya es teh nya, pas banget lagi panas begini....” ujar Otniel sambil menatap Mila
“Sorry yach cuma teh...”
“Oh gak apa apa kok...!” jawab Otniel sekejab Mila merasa pusing dikepalanya, terasa berat.....
“Kamu baik-baik aja Mil....?” tanya Otniel tak lama Mila tidak sadarkan diri
Dengan sigap Otniel menarik kedua tangan Mila kebelakang dan memborgol tangannya, kedua cuffnya dikencangkan untuk memastikan tangannya tidak dapat lolos dan langsung memakaikan borgol kaki dengan rantai hanya tiga itu ke kaki Mila

‘klek.... klek....’ tangan dan kaki Mila terborgol ‘criik...criik...’ bunyi borgol yang Otniel kencangkan kemudian pahanya yang cantik itu di elus sebentar dan kakinya dipakaikan sepatu berhak tinggi dengan tali melingkar agar dia terlihat lebih sexy...
Lalu Otniel membopong Mila ke dalam kamar dan dibaringkan di atas ranjang sembari menunggu Mila sadar. Dibelai2nya paha Mila yang terlihat akibat rok terusan daster yang dia gunakan begitu pendek dan sedikit tersingkap
“klik..klik...” suara foto yang digunakan Otniel untuk mengabadikan gambar Mila yang terikat tak berdaya serta sebuah handycam diletakkan juga disana untuk mengabadikan videonya lalu tanpa sungkan Otniel pergi ke dapur untuk mencarikan Mila makanan sekaligus memastikan tidak ada orang lain di rumah Mila. Makanan di bawa Otniel kedalam kamar, lengkap dengan minumannya.
Semua ruangan telah di cek, pintu dipastikan sudah terkunci, gorden tertutup semua oleh
Otniel kemudian kembali ke kamar dimana Mila ditahan.
“urgh.......!!” perlahan-lahan Mila siuman, didapatinya tubuhnya terbaring di kamarnya, ugh... tangannya diborgol ketat ke belakang,.... kakinya juga diborgol, dan dilihatnya bahwa kakinya bersepatu, Mila mulai panik namun dilihatnya tamunya Otniel di sudut kamarnya memegang kamera digital
“Niel, apa yang kamu lakukan padaku,...lepasin dong.... Niel !!” tegur Mila
“lepasin? enak banget? kamu lebih bagus gitu, kayak gitu aja ya?” tukas Otniel seraya tersenyum melihat ke arah Mila, sambil terus mengambil foto Mila hingga 2 sampai 3 pengambilan gambar lagi,
“Niel......” sapa Mila dengan sabar yang tidak digubris Otniel sembari menyelesaikan jepretan terakhir, secara alami Mila tersenyum ketika bidikan terakhir. Otniel langsung membereskan kameranya dan duduk disebelah Mila yang terborgol tak berdaya.
“Kenapa Mil...?” Otniel balik bertanya sembari mengelus2 rambut mila
“Lepasin aku Niel......”
“Kenapa aku harus lepasin kamu?” Otniel tersenyum, sembari terus mengelus2 kepala mila
“iyaaa lepaaasiiiinnn............uuuggghhh” rengek Mila
“adududuuh...jangan nangis, cantik...kenapa mau dilepasin sich?
“kayak gini kan lebih enak, mila aman kok, nggak akan aku sakitin.....”
‘udah ya, waktu bicara kamu sudah habis” Otniel langsung mengambil ballgag berukuran besar dan dimasukkan ke dalam mulut Mila, kemudian ballgag tersebut diikat erat dan di gembok bagian belakangnya untuk memastikan ballgag tetap di dalam mulut Mila
“eemmmppphhhhhh...........eemmmppphhhhhh...........!!” Mila meronta-ronta
“udah kamu tidur dulu ya sayang, tenang yach......” Otniel menenangkan hati Mila sambil mengelus2 paha mila yang terlihat begitu cantik
"Kenapa mulutku dibungkam yach?" batin Mila heran, serasa Otniel dapat membaca pikirannya,
“Penutup mulut ini aku pakaikan ke kamu agar kamu bisa lebih tenang, sori ya Mila, kamu harus aku beginikan, ini untuk kebaikan kamu juga kok...” sambil tangannya terus meraba2 paha Mila yang lembut
“eemmmppphhhhhh...........” keluh Mila
“sudah diam...atau mau aku bius?” Otniel mulai mengancam
“eemmmppphhhhhh...........!!!!” Mila memberontak
‘“eh ga ngerti juga ya....?” balas Otniel
“eemmmppphhhhhh...........!!!! eemmmppphhhhhh...........!!!!” Mila semakin melawan, kemudian Otniel mengambil sapu tangan dan menuangkan chloroform dan dibekapkan ke hidung Mila. Milapun tak sadarkan diri.
Otnielpun karena lelahnya berbaring dan tertidur disamping Mila, sembari memeluknya
(4 jam tertidur hingga jam 19 malam)
“eemmmppphhhhhh...........!!!! eemmmppphhhhhh...........!!!!” Mila tersadarkan diri, dia semakin tidak bisa bergerak dalam pelukan Otniel yang telah menawannya,sementara Otniel mulai terusik dengan suara jeritan Mila, perlahan2 terbangun dan menyesuaikan penglihatan setelah tidur
“Ada apa Mil...kok jerit2 begitu?”
“eemmmppphhhhhh...........!!” erang Mila
“eh kamu mau ngomong apa sih? yang jelas dong..” Otniel mengolok-olok Mila
“eemmmppphhhhhh...........!!!!” Mila melotot Otniel melihat Mila dengan tersenyum
“mau ngomong ya? ok2 aku lepasin” Otniel menurunkan ballgag dari mulut Mila.
“Niel,.... aku mau ke toilet nich kebelet....” (muka memelas memohon)
“Trus? Kalo aku tidak ijinin kamu ke toilet gimana Mil? godanya
Aaaarrgghhh,.... Niieeelll aku gak mungkin ngompol di tempat tidurkuuu” keluh Mila
“oke oke...!”kemudian Mila dia bopong kekamar mandi...di dudukan di toilet duduk dan roknya sedikit disingkap ke atas karna roknya memang sudah pendek dan celana dalamnya diturunkan ke bawah dan Otniel menunggu Mila selesai didepan pintu kamar mandi...
“aahhhh.....(lega) lalu Niel... udah..!” teriak Mila terdengar
‘oke manis...” Otnielpunmasuk ke dalam, kemudian aku dengan telaten membersihkan bagian kemaluan Mila di cebokin sampe bersih, Mila tersentak dan merasa risih dicebokin cowo, kendati dirinya sering juga pipis dalam keadaan diikat dan dicebok suaminya, kemudian Otniel mengambil handuk dan mengeringkan bagian tubuh Mila yang basah dan memakaikannya celana dalam lagi. Kemudian Mila dibopong ke ruang TV
“Mila duduk yach...”
“hati hati...” sahut Mila spontan didudukkan disebelah Otniel, Mila mulai pasrah dengan keadaannya terborgol
“Mila laper gak?” tanyanya
“eh,... boleh juga” Mila tersipu malu (dalam benaknya Mila ingat dia belum siapkan makan malam untuknya).
“Ya sudah aku tinggal dulu kamu ya beli makanan....” khawatir Mila berteriak minta tolong, mulutnya masukan kain dan disumpal lakban.
“eemmmppphhhhhh...........!!!!”
Otniel mengambil sapu tangan yang sudah diberi chloroform lalu dibekapkan ke mulut Mila
Setelah di bius, Mila terkapar tak sadarkan diri,lalu Otniel mengambil tali pramuka dari dalam tasku dan siku Mila diikat sampai hampir menyatu, dilepaskannya borgol di tangan dan di kaki Mila kemudian pergelangan tangannya diikat erat, dan lutut mila diikat menyatu, demikian pergelangan kakinya setelah itu Mila dibiarkan tergeletak di sofa, Otniel pergi untuk mencari makanan.
2 (dua) jam lamanya Otniel mencari makanan dan akhirnya pulang dan melihat Mila masih tak sadarkan diri di sofa, lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan yang tadi baru di beli
Mila sedang sibuk meronta ketika Niel kembali,... Mila bingung karena kini tubuhnya penuh dengan lilitan tali
“eh Mila, udah bangun?” sapa Otniel dari dapur
“ini aku bawain Mila makanan, kamu pasti laper ya?”
“oh iya, aku bukain dulu sumpelan mulut kamu”
“ah... terima kasih mas...” Mila mulai menjinak dalam tawanan
“kok manggil mas? panggil niel aja, Mila makan dulu ya? laper kan?” Mila mengangguk
Otniel tersenyum melihat Mila, mengelus pipinya sekali dan mulai menyuapinya makan
“Mila memang sering sendirian seperti ini ya?” tanyanya sambil menyuapi mila
“Niel,... berapa lama kamu mau sekap aku.... nanti suamiku pulang lho, dia habis terbang tuh” kata Mila
“emang kapan suami kamu pulang?”
"Minggu depan...." dasar Mila gak biasa bohong, seharusnya dia bilang malam ini atau besok pagi, ugh Mila yang polos...
“oh....kalo gitu kamu aku tahan sampe minggu depan aja, khan masih minggu depan
atau mau aku culik sekalian aja? aku bawa ke tempatku?”
“jangan dong Niel,... besok pasti pembantuku datang, apa kata orang?” tolak Mila sambil disuapi makanan.
“Kalo besok pembantumu datang, berarti aku tepaksa bawa kamu pergi dong, aku bakal rantai kamu untuk selamanya” Mila terdiam dengar ide Otniel yang terakhir itu, tawaran yang tidak mengandung pilihan bagi Mila
“Aku tulisin pesan aja ya kalo kamu bakal pergi keluar kota terus aku bakal nitipin rumah ke pembantu kamu itu....” Mila di belenggu kecemasan yang luar biasa
“Ya Mila...habis makan ini kita siap siap ya!”ajak Otniel sambil mengelus2 paha Mila
“Jangan Niel,... pleaseee!” Mila memohon
“loh tapi pembantu kamu mau dateng tuh...sori Nil, aku terpaksa giniin kamu” makanan habis, segelas air diteguknya lalu mulut Mila disumpal lakban lagi
“Kamu tenang aja yach di tempatku nanti...”
“eemmmpphhhhh....eemmmppphhhhhh...........!!!!” kemudian Otniel langsung bergegas, menyalakan mesin mobil dan memasukkan Mila ke dalam bagasi mobil dalam keadaan tetap di hogtied
“nah kamu disini aja ya” ujar Otniel lembut
“eemmmppphhhhhh...........!!!!” Mila ketakutan
“takut kelihatan orang nanti” Otniel juga khawatir
“eemmmppphhhhhh...........!!!!”Mila menolak BRAAKK pintu bagasi ditutup
Otniel langsung tancap gas menuju tempat peristirahatannya di daerah Batu Malang setelah beberapa jam, akhirnya sampai di tempat peristirahatannya' mobil dimasukkan mobil ke garasi
Mila digendong dari bagasi menuju sebuah kamar
“eemmmppphhhhhh...........!!!!”
“eemmmppphhhhhh...........!!!!” Mila terkejut melihat apa yang ada di kamar itu, disana sudah terdapat banyak set penahan, seperti borgol, straitjacket, tali, pasungan
“Nah kamu liat semua alat2 itu Mil? Mila melihat semua perlengkapan Otniel yang bukan sekadar dekorasi
“alat2 itu sudah ku persiapkan buat menawan kamu”
“sekarang coba kamu liat kesana, disana ada sel, tempat aku bakal mengurung kamu nanti...!”
“kalo kamu ga nakal aku biarin kamu tidur bareng aku dikasur, di kamarku, ngerti??” Otniel melepaskan tali yangmengikat menyambung antara kaki dan tangan Mila, memasukkannya kedalam sel dan mendudukkannya kemudian mengunci dengan gembok sel itu di dalam sel Mila terus meronta-ronta berusaha melepaskan tali2nya meskipun dia sadar ikatannya begitu kencang
Mila terus bersuara, meskipun tak jelas terdengar, yang terdengar hanya hmmmphhh saja
Kemudian Otniel beranjak hendak meninggalkan Mila sendirian di dalam sel...tanpa membiusnya
“eemmmppphhhhhh...........!!!!” Mila sibuk meronta, dia tahu kendati bisa lepas, tubuhnya terkurung dalam sel.
“Selamat tidur Mila...”
“Sia-sia saja Mila” pikir Otniel
“aku tinggal ya Mil...”
“eemmmppphhhhhh...........!!” Otniel pergi meninggalkan Mila sendirian di selnya, rasa khawatir dan takut membelenggu Mila, diculik ke suatu tempat yang dia tidak tahu, diikat, dikurung di sel, di tinggal, dalam sebuat ruangan di lantai atas. Mila menyesali kepolosannya yang mengatakan suaminya akan pulang minggu depan
"duuch.... kenapa sich aku begitu jujur...." sesal Mila dalam hati
Tiba-tiba Otniel kembali ke sel membawa gunting...
“Mil, sori yaach kayaknya pakaian kamu harus aku lepas” ujar Otniel sambil menggunting daster mila mulai dari bawah rok sampai atas dan langsung memasukkan bajunya ke tong sampah
“Kamu aku pakein ini ya Mil” sambil menunjukkan sebuah nipple clamp
“eemmmppphhhhhh...........!!!!” Otniel memasangkannya dengan telaten ke dada mila
“aauuwhh......” erang Mila dalam hati
“Kenapa Mil? masih kurang kencang ya, aku kencengin lagi ya?” Otniel mengencangkan nipple clampnya, sembari memberikan elusan terakhir di dada Mila
“eemmmppphhhhhh...........!!!!” keluh Mila kesakitan
“selamat tidur, sayang...”
“eemmmpphhhh...... eemmmpphhhh...!! jerit Mila kesakitan.

Senin, 23 Januari 2012

Testimony Iyend Reni

Berikut ini testimony yang masuk ke e-mailku. Selamat membaca!

Salam kenal kak,
Sebelum mengenal dunia maya aku kira aku ini aneh.. dari kecil aku suka sekali diikat, bahkan terkadang mencoba mengikat diri sendiri saat orang tua sedang tidak di rumah.
Kini sekarang aku tahu ternyata aku tidak sendirian,banyak juga orang sepertiku, senang sekali mengetahui hal itu.
Aku termasuk orang yang kuno, tidak pernah berhubungan dengan pacar, namun belakangan aku minta pacarku untuk mengikatku. Awalnya dia ragu, tapi diam2 dia mencari segala sesuatu tentang bondage, ternyata dia juga suka melihat wanita tidak berdaya dan katanya dia bisa lebih terangsang.

Mulailah aku suka bermain ikat2an dengan pacarku, pada saat episode pertama, saat itu ada teman sekamarku, tapi aku berhasil membujuk dia untuk tidak menginap di kamar kos malam ini, alasannya besok khan kuliah siang; akhirnya dia menurut, lalu datanglah pacarku ke kamar kost, kututup gorden kemudian aku kunci pintu khawatir ada yang masuk.
Setelah itu pacarku memutar film d laptopku, filmnya tidak ada hubungan dengan ikat2an sih, film knowing kalau tidak salah..tanpa sepengetahuanku ternyata dia sedang menyiapkan beberapa tali dan kain yang tidak terlalu lebar dan cukup panjang.

Tanpa menghiraukan aku yang masih kelelahan, karena menjemputnya didepan gang dengan jalan kaki dan cukup jauh, tiba2 dia memegangi tangan kanan ku dengan kuat aku mencoba menghindar, tapi genggamannya terlalu kuat.. akupun bertanya "Aa (panggilan kesayangan) ngapain sih??" Dia pun mmenjawab "udah nurut ajah,pokoknya neng lagi Aa culik,harus nurut semua kata Aa! Jangan berisik, nanti Aa lakban mulutnya!". Lalu dia pun mulai memegangi tangan kiriku dan meletakan kedua tanganku di punggung, lalu dia mengikatnya dengan sangat erat, aku kagum padahal dia baru mengenal bondage tapi dia begitu rajin menonton tutorial sehingga cukup mahir.
Setelah tanganku diikatnya kemudian dia membawa kain panjang lalu memegangi pergelangan kakiku, diikatnya pergelangan kakiku dengan erat juga dan jadilah aku tidak bisa bergerak. Hal yang selalu aku tanyakan pada pacarku saat mengikatku adalah,"Aa ngapain sih??" dan selalu dijawab dengan "udah,,neng nurut ajah, neng lagi Aa culik".

Setelah tangan dan kakiku diikatnya, akupun kembali melanjutkan menonton film, aku kira pacarku hanya melakukan itu, ternyata dugaanku salah. Dia mengambil tali dan keemudian memegangi kedua lenganku dan diikatnya lenganku dengan sangat kuat. Sehingga dadaku sedikit menyembul keluar, rasanya cukup sakit. Dalam keadaan terikat seperti itu, pacarku tak henti2nya menciumi ku, awalnya pipi,kemudian bibir sampai ke leherku. Untung saja pada saat itu aku tidak sedang memakai pakaian seksi sehingga yang dia lakukan hanya sampai menjilati leherku. Dan dia tidak berani untuk menggunting bajuku,,walopun selintas dia menanyakan gunting,,untung saja tidak jadi hehe...!

Karena aku begitu bawel dan tidak bisa diam, kemudian dia membuka tasnya dan mencari sesuatu di dalam tas tersebut, ternyata yg dia cari adalah lakban, lakban yg dibawa pacarku adalah lakban berwarna transparan dan cukup lebar, kukira itu tak cukup kuat, ternyata itu sangat kuat, tak hanya 1 lapis yang dia rekatkan di bibir ku. Ternyata sampai dua lapis,, itu cukup menghentikan kebawelanku, aku hanya dapat bersuara emmmpphhhh..... dan dia malah senang dengan keadaanku seperti itu..
Walaupun sakit sekali tapi rasanya begitu nikmat, apalagi saat dia memelukku dengan eerat, enak sekali rasanya 2 jam sudah aku diikat oleh pacarku, kemudian ia melepaskan satu per satu ikatanku, setelah semua ikatanku terlepas aku langsung mencium pacarku dengan hangat sebagai tanda terimakasih dan sebagai tanda bahwa aku menyukai hal itu, ia pun berjanji akan melakukannya lagi dengan intensitas waktu 2 minggu sekali. Dan sampai saat ini sudah 4 episode.. sungguh hal yang menyenangkan bisa bermain tali dengan pacarku.

Jumat, 13 Januari 2012

Di Umur 22

Namaku Annisa, hari ini aku bete banget. Bagaimana tidak, di Ulang Tahun yang ke 22, ini tanpa teman tanpa pacar. Anak-anak kost lagi pulang kampung. Sebenarnya banyak cowok yang mendekati tapi aku masih enggan untuk menerima mereka.
Tiba-tiba pintu kamarku diketuk. Dengan enggan aku buka, ternyata Astrid dan Ririn datang mau meminjam catatan. Menurut kabar yang beredar di kampus mereka itu pasangan lesbian.
"Eh, kalau tidak salah kamu hari ini ultah kan.. selamat ya!", kata Ririn.
"Makasih Rin", jawabku malas.
"Kok cemberut sih, harusnya kan hepi" Tanya Astrid.
"Terus yayangmu mana nih?".
Akhirnya aku ceritakan semua yang membuat hatiku sedih.
“Kasihan........ eh bagaimana kalo kamu ikut ke rumahku, kita bisa senang-senang di sana, benar nggak Rin?", ajak Astrid.

Tanpa pikir panjang aku ikut mereka. Baru kali ini aku ke rumah Astrid. Ternyata di rumah yang cukup mewah ini, Astrid tinggal berdua dengan Ririn. Orang tuanya berada di luar negeri. Kami lalu ngobrol dan saling becanda. Mereka ternyata asik buat becanda bahkan lebih gila. Astrid kemudian mengajak main kartu dengan hukuman bagi yang kalah melepas seluruh pakaian satu persatu dan harus menuruti apa yang diminta pemenang. Di akhir permainan, Astridlah pemenangnya, ia masih mengenakan BH dan celana dalam sedang aku hanya tinggal celana dalam, bahkan Ririn sudah telanjang. Mula-mula aku malu, tapi mereka tenang-tenang saja. Diam-diam aku tertarik juga melihat tubuh mereka yang indah, walau tubuhkupun sebenarnya tidak kalah seksi.

"Nah aku yang menang, sekarang kalian harus siap dihukum. Rin, ambil peralatannya!", kata Asrid.
Ririn lalu mengambil sebuah tas dan beberapa gulung tali dari dalam lemari.
"Untuk apa tali itu?", tanyaku bingung.
"Kita yang kalah akan diikat, kamu pernah belum Nis ?" kata Ririn.
Aku mengangkat bahu dan menggeleng.
"Kalau gitu ini akan jadi pengalaman pertamamu yang mengasikkan", lanjut Ririn.
"Sekarang bantu aku mengikat Ririn dulu", kata Astrid.
Kami lalu mengikat Ririn pada sebuah kursi. Astrid mengikat kedua tangan kebelakang juga mengikat tubuh Ririn ke sandaran kursi. Sedang aku mengikat kakinya pada masing-masing kaki kursi secara terpisah. Setelah itu Astrid membuka tas dan mengambil sebuah alat berbentuk bola kecil.
"Apa itu Trid?", tanyaku.
"Ini namanya ballgag Annisa, gunanya untuk membungkam mulut", jelas Astrid.
"Coba kamu pasangkan ke mulut Ririn".
"Ya, ayo bungkam mulutku, tak usah ragu Nis, yang erat sekalian", sahut Ririn ketika melihatku ragu.
Aku lalu memasangkan ke mulutnya dan mengekangnya dengan erat, hingga aku yakin Ririn tak dapat mengeluarkan suara lagi. Dalam keadaan telanjang dan terikat tak berdaya seperti itu, aku lihat Ririn tenang-tenang saja bahkan terlihat sangat menikmatinya.

"Sekarang giliranmu Nis, mau pakai borgol atau tali?" Tanya Astrid.
" Terserah kamu, aku menurut saja." ujarku pasrah dan bingung
Asrid mengambil beberapa gulung tali lagi lalu menyuruhku telungkup di kasur. Kemudian ia mengikat kedua tanganku ke belakang, lutut dan pergelangan kakiku juga diikat. Tidak juga itu, tanganku diikatkan lagi dengan kakiku hingga tertarik hampir menyentuh pergelangan kaki. Kata Astrid itu namanya hogtied.
"Gimana, sakit tidak?" tanyanya.
Aku menggeleng walau sebenarnya sedikit sakit karena ikatan yang sangat erat. Tidak tahu mengapa aku merasakan sesuatu yang aneh dan menyenangkan dalam keadaan tak berdaya begini.
"Aku sumbat mulutmu ya." Kata Astrid sambil mengambil sebuah bandana.
Akupun diam saja ketika ia membungkam mulutku dengan bandana tersebut.

Selesai mengikatku, Astrid kembali ke Ririn, lalu ia menciumi tubuh Ririn, menjilati kemaluannya dan meremas-remas payudaranya yang montok.

Ririn terlihat sangat terangsang dan menikmati permainan itu. Melihat mereka, tidak tahu mengapa aku ikut terangsang juga dan ingin diperlakukan sama seperti itu. Tubuhku menegang menahan gairah. Astrid yang mengetahui hal itu lalu menghampiriku sambil membawa alat suntik.
"Kamu tenang dulu, nanti ada permainan sendiri buatmu yang lebih mengasyikkan. mungkin sebaiknya kamu istirahat, simpan tenaga buat nanti."
Astrid menyuntikku dengan bius, aku sebenarnya tidak setuju tapi tidak berdaya menolaknya sehingga akhirnya aku tak sadarkan diri....

Ketika terbangun aku terkejut melihat ruang dipenuhi lilin. Juga tidak ada Ririn maupun Astrid. Sedangkan aku kini tidak terikat hogtied lagi tapi dalam posisi berdiri agak berganyung. Kedua tanganku terikat erat ke belakang, kedua kakiku diikat pada ujung-ujung sebuah tongkat besi hingga mengangkang posisinya. Lebih terkejut lagi ketika aku memperhatikan pakaianku yang aneh. BH yang kupakai pada bagian payudara berlubang hingga payudaraku kencang menyembul keluar juga celana dalamnya pada bagian kemaluan berlubang. Sedang tanganku memakai sarung tangan panjang kakiku telah memakai stocking. Semua pakaian terbuat dari kulit berwarna hitam. Karena bingung aku lalu mencoba memanggil Astrid dan Ririn.
“eemmmppphhhh........!!”
Aku ingin berbicara tapi suaraku tidak bisa keluar terhalang bola di mulut. Ternyata mulutku telah di bungkam dengan ballgag yang tadi digunakan untuk membungkam Ririn. Aku panik dan berusaha melepaskan diri tapi sia-sia, ikatannya terlalu erat tidak mungkin untuk membebaskan diri. Akhirnya pintu kamar terbuka. Astrid masuk.
"Wah.. sudah bangun, lapar ya?", katanya sambil membawa makanan.
"Mmpphhhh.. mmpphhhh.." jawabku sambil mengangguk.
Astrid lalu melepaskan ballgag yang membungkam mulutku.
"Kamu mau apa lagi Trid ? Tolong lepaskan aku dong..." pintaku pada Astrid.
"Belum waktunya Annisa, aku belum bermain-main sama kamu. Sekarang kamu makan dulu!".
Astrid lalu menyuapi makanan hingga aku kenyang. Setelah itu dia mengambil ballgag dan berniat untuk memasangkan lagi di mulutku.
"Tidak...... Astrid!! aku nggak mau memakai itu,.. tol.. mmpphh.. mmpphhh..".
Astrid tidak peduli dengan penolakanku dan tanpa kesulitan berarti dia berhasil kembali membungkam mulutku.
"Ririn akan aku bawa kesini, sementara itu kamu lihat film dulu. Ok!".
Sambil berkata, dia memutar sebuah film yang berisi adegan wanita-wanita yang diikat dan disiksa. Kali ini aku benar-benar takut membayangkan rasa sakit ketika disiksa seperti itu, ketika film itu habis....

Pintu kamar terbuka dan Astrid kembali masuk, kali ini bersama Ririn. Dengan pakaian hitam ketat, Astrid kelihatan sangat cantik, sedang Ririn telanjang hanya mengenakan sarung tangan, stocking dan topeng hitam seperti algojo dalam film itu. Kedua tangan Ririn diborgol dengan rantai panjang dan dilehernya juga terdapat rantai pengekang. Aku tidak tahu permainan apa lagi yang akan mereka mainkan. Ririn dibawa kearahku lalu leherku dipasang pengekang dan diikat dengan ujung satunya dari rantai yang mengekang leher Ririn. Kini leherku dan leher Ririn terikat rantai sepanjang 1 meter. Astrid mengambil cambuk dan mulai mencambuki punggung dan pantatku, sementara tangan Ririn bermain-main dengan payudaraku.
"eemmmpphhhhh...... emmpphhhh...... mmmpphhhh......!!!!".
Aku cuma bisa mengaduh, tidak tahu karena sakit dicambuk atau keenakan. Benar-benar suatu perasaan yang aneh tapi mengasyikkan. Aku merasakan suatu gairah yang baru pertama kali kurasakan. Selesai bermain-main dengan cambuk, Astrid menyuruh Ririn untuk duduk bersimpuh sehingga kepalanya tepat dihadapan kemaluanku.

Kemudian Astrid mengambil sebuah alat baru yang lebih aneh lagi dan memasangkan di mulut Ririn. Alat itu berbentuk penis, sehingga terlihat dari mulut Ririn keluar sebuah penis tersebut. Dan dengan mulutnya, penis itu dimasukkan ke kemaluanku. Oh.. sungguh nikmat sekali yang aku rasakan. Astrid lalu mengambil jepitan pakaian dan menjepitkan pada kedua payudaraku tepat di putingnya. Sakit rasanya. Kembali aku melotot memprotes tindakannya.
"eemmmpphhhhhh........ mmmpphhhhh......!!!" erangku.
Tapi Astrid malah tersenyum senang melihatku kesakitan. Tidak puas dengan itu, Astrid mengambil lilin yang ada di lantai dan meneteskan lelehan lilin panas itu ke tubuhku dan Ririn sambil tertawa-tawa. Sementara Ririn terus saja memainkan penis itu di kemaluanku. Entah berapa lama mereka akan menyiksaku seperti ini. Walaupun lama kelamaan aku bisa juga menikmati siksaan tersebut. Hingga akhirnya tidak kuat menahan rasa sakit dan gairah yang semakin memuncak, aku pingsan tidak sadarkan diri.

Sewaktu sadar, aku berada di kamar dengan ditemani oleh mereka. Namun tangan dan kakiku ,masih tetap terikat. Tubuhkupun telah mengenakan pakaian seperti ketika datang.
"Selamat pagi.." Ririn dan Astrid menyapaku sambil tersenyum.
Ternyata sudah pagi, jadi hampir semalaman aku telah diikat dan disiksa mereka.
"Bagaimana keadaanmu, sudah baikan?", tanya Ririn.
"Iya, kapan nich aku kalian lepasin.....? " sahutku seraya mengangguk,
“Mau dilepasin sekarang, Nis ?” tanya Astrid yang langsung melepaskan simpul tali yang mengikat di kaki dan tanganku.
Bangun dalam tubuh yang masih sedikit terasa lelah, ketika kuperhatikan tubuhku masih ada bekas cambukan juga di pergelangan kaki dan tangan masih terlihat guratan merah bekas ikatan tadi malam. Sebelum pulang, mereka menawarkan untuk melakukannya lagi di lain waktu.
"Bagaimana, kami tidak memaksa.. tapi jangan kamu sebarkan hal ini", Kata Astrid sambil menyerahkan kaset video.
Ternyata diam-diam mereka telah merekam semuanya. Sampai aku pulang, aku belum memberikan jawaban. Yang pasti kalau menginginkannya lagi aku yang akan menghubungi mereka.
Suatu malam tiba-tiba aku ingin melihat rekaman itu, melihat kejadian-kejadian ketika aku diikat dan disiksa, membuat gairahku muncul dan menginginkannya lagi. Kemudian aku ambil telepon genggamku dan mengetik sms :
"Astrid, Ririn...... kapan nich, kalian akan mengikat dan 'menyiksa'ku lagi..??".

TAMAT